
"Woooo!!!"
"Yaaaa!!!"
"Rian! Rian! Rian! Rian!!"
Suara gema terdengar di arena itu. Penontonnya sangat banyak untuk dihitung sebagai pertarungan tidak resmi.
Bahkan Arena 3 yang merupakan arena kecil terlihat tidak cukup besar untuk menampung para penonton disini.
Semua teriakan itu bertujuan untuk Rian, yang namanya sudha dikenal di sekolah ini.
Tidak ada yang tahu lawannya siapa, yang jelas itu hanyalah manusia.
Itu yang mereka pikirkan.
Mereka semua entah kenapa tertarik karena ada topik bahwa yang akan melawan Rian adalah manusia. Apa yang membuatnya menarik?
"Aku dengar lawannya adalah manusia lho!"
"Aku penasaran apa yang akan terjadi pada manusia itu!"
"Itu pasti akan menjadi pembantaian besar!"
Ya. Itu yang membuat mereka tertarik. Entah kenapa mereka sangat suka untuk melihat sebuah manusia terluka.
Suzu berada di keramaian itu, menuju sebuah kursi yang kosong di bagian depan, bersama Dyas. Mendengar itu semua membuatnya merasa sedih. Dia tahu, yang dihina adalah kakaknya.
("Bukan! Kalian hanya tidak tahu! Ren adalah orang yang kuat!") Batin Suzu berteriak, berusaha melawan hiruk pikuk arena itu.
Arena yang kecil, jika dihitung sebagai arena pertempuran resmi. Oleh karena itu, arena ini cukup, tidak. Dibilang kecil dibandingkan dengan yang lain.
Jadi, penonton yang tidak hanya berasal dari akademi yang menonton membuat arena ini penuh.
Selain itu, ini adalah pertarungan Rian, orang yang menjadi salah satu teman dari Dyos. Dyos adalah anak salah seorang jenderal di Kerajaan Kin. Dia adalah orang yang disiplin dan selalu menggembleng anaknya untuk menjadi orang yang jujur dan kuat.
Entah kenapa anaknya justru menyeleweng jauh tidak seperti ayahnya.
Dan Rian sendiri, adalah seorang Beast yang maniak pertempuran. Seperti biasa, dia menyelesaikan semuanya dengan pertempuran. Karena menyenangkan, katanya.
Disana, Ren menjadi merasa kecil dengan atmosfer yang datang.
Bukannya dia minder atau apapun, dia hanya tidak menyangka akan sebanyak ini yang menonton pertandingan kecil dan tidak resmi ini.
"Aduh aduh. Ini sangat ramai, ya?" Ren menggeleng-gelengkan kepala, sebenarnya senang. Ya dia sangat senang!
Selama ini dia selalu berlatih tanpa ada lawan tanding, jadi kali ini memiliki lawan tanding jelas membuatnya senang.
Ren berjalan dibawah teriakan teriakan yang cukup tidak mengenakkan, menuju Rian yang menunggu di sana.
"Terima kasih atas sambutannya. Saya merasa tidak cocok untuk itu. Jadi bisakah langsung ke intinya. Maksud saya, apa yang harus saya lakukan untuk bisa anda sekalian maafkan?" Jawab Ren sambil membungkukkan kepalanya.
Rian mengangkat tangannya, memberi isyarat pada para penonton untuk diam.
Cukup tidak bisa dimengerti, tapi entah kenapa lara penonton diam setelah melihat itu. Ren melihat itu harus bingung.
"Kau hanya perlu bertahan di sini 3 menit. Yah, beda cerita jika kau bisa mengalahkanku. Kau bisa langsung pergi." Jelas Rian dengan sombong.
Semua yang ada di arena tertawa dengan itu, mungkin mengira itu adalah sebuah lelucon.
"Hoo! Aku hanya perlu mengalahkanmu? Kalau begitu itu mudah!" Jawab Ren tidak disangka oleh semua orang yang ada di sana.
Semua orang terdiam seketika, ketika mendengar jawaban Ren. Mereka semua merasa itu hanyalah lelucon, tapi dari lubuk hati mereka mengatakan bahwa itu mungkin.
"A-apa?! Jaga bicaramu, dasar manusia! Bercandamu tidak memiliki batas!" Teriak Rian marah. Wajahnya merah padam dengan itu, menandakan betapa marah dan malunya dia sekarang.
Ren tertawa senang. Untuk sebuah pertandingan seperti ini, emosi adalah sesuatu yang penting. Dan jelas, Ren memancing dan mempermainkan emosi lawannya.
("Hmm, sepertinya nama Suzu terkenal disini. Mungkin aku akan menggunakannya sedikit? Suzu, maafkan aku!") Ren terdiam sambil menutup matanya, mencoba memeriahkan lagi suasana.
"Ya. Oh ya. Aku belum memperkenalkan diri ya? Perkenalkan. Aku adalah Ren Larvest. Dan saya ke akademi ini sendiri untuk mengunjungi adikku, Suzu Larvest." Ren menunduk sopan ke tengah arena.
Itu membuat banyak orang yang terkejut. Orang orang berbisik ke tengah lapangan dan menatap tajam ke arah Ren.
Ren paham akan itu, dan mencoba melambai pada Suzu yang ada di pinggir arena. Suzu yang kaget tidak bisa merespons apapun selain balas melambai.
("Dia? Dia adalah kakak Suzu? Selain itu, keluarga Larvest? Bagaimana mungkin?! Bahkan dia berangkat dari Eldergale sendiri! Bukankah jalan dari Eldergale ke Furyuun ini sangat jauh dan berbahaya?") Rian terbelalak mendengar itu.
Sebenarnya benar kata Rian. Jalan dari Eldergale ke Furyuun dipenuhi monster. Tapi bahkan Ren sudah menghabisi mereka semua sebelum mendekat, jadi perjalanan mereka aman.
("Sepertinya semakin mempermainkan emosinya akan lebih baik?") Ren seperti sedang memikirkan sesuatu yang lebih aneh.
"Hei, apa anda tahu? Saya diurus dengan keras di keluarga Larvest, agar tidak memalukan nama ini jika keluar. Saya yakin saya sangat cukup untuk mengurus anda." Ren tersenyum menyiapkan pedangnya.
Rian yang mendengarnya jelas merasa sangat marah.
Memang benar bahwa keluarga Larvest di akademi ini sangat ditakuti, dengan adanya Suzu yang bersekolah di sini.
("Cih! Aku diremehkan manusia!")
"Bagus juga nyalimu. Aku pasti akan menghancurkanmu! Aku tidak akan takut walau kau keluarga Larvest! Apapun itu, kau hanyalah manusia! Jangan sombong! Kau hanya mengikut dalam nama keluar-" Rian berteriak tidak, ketika Ren memotongnya seketika.
"Kalau begitu, wasit!" Ren menyela dan menatap ke arah wasit, seorang guru bela diri di Akademi itu. Dia mengangguk tanda mengerti.
"Baiklah. Kalau begitu, pertandingannya dimulai!" Wasit itu menggerakkan tangannya maju.