Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT6: PAST FOR THE FUTURE - PROLOG



Saat ini, kesadaran Liu Xiu masih berada di sebuah ruangan, yang dikatakan Kei bahwa itu berada di dalam hati nya. Sementara itu, Yuan Yi dan anggota Black Eyes sedang mencari Liu Xiu, mengikuti jejak yang ditinggalkan Liu Xiu di setiap jalan.


Liu Xiu kehilangan kesadaran nya, saat menyentuh batu pilar itu.


Tapi, Liu Xiu sendiri tidak menyadari nya, karena dia memang menutup mata sambil menyentuh pilar permata, jadi dia tidak tahu ada perbedaan di sana.


Namun, Liu Xiu merasakan sebuah perasaan ringan di dalam tubuh nya, seperti dia sedang melayang di suatu tempat.


BRUK!!!


Sebuah suara keras terdengar, ketika Liu Xiu merasakan sakit di beberapa bagian tubuh nya. Itu aneh menurut Liu Xiu, karena dia cukup yakin dengan daya tahan tubuhnya. Apalagi hanya terjatuh dengan ketinggian yang tidak terlalu cepat, Liu Xiu merasa tubuhnya tidak harus se-sakit ini.


"Adu du du duh..." bisik Liu Xiu pelan, mengaduh kesakitan.


Dia lantas berusaha bangun, tapi dia sedikit terkejut, ketika menyadari bahwa rasa sakit itu menghilang, dan bahkan dia merasa itu tidak pernah ada.


Perlahan, Liu Xiu membuka matanya. Tapi ada terlalu banyak cahaya yang masuk ke matanya, membuat Liu Xiu kembali menutup matanya, menunggu sesaat agar matanya terbiasa, dan baru membuka nya lagi.


("Tapi aneh. Aku sepertinya berada di sebuah tempat yang gelap tadi, tapi cahaya yang aku lihat terlalu terang untuk tempat tadi.") tanya Liu Xiu dalam hati, kebingungan.


("Berarti bisa aku simpulkan, aku dibawa ke tempat lain, kah?") yakin Liu Xiu, sambil perlahan membuka mata nya.


Dia segera membuka mata nya dan sudah bersiap untuk sesuatu yang mengejutkan, tapi yang muncul di bidang pandang nya justru mengejutkannya.


Pohon rindang, awan putih yang berarak, dan langit biru yang luas terlihat indah saat dia membuka mata nya.


Tidak percaya, Liu Xiu terbangun, mengubah posisi nya ke duduk. Dia pantas melihat sebuah padang rumput luas. Memang tidak terlalu luas, tapi bisa dibilang itu benar benar indah.


"Ini, aku sepertinya mengenal nya." bisik Liu Xiu pelan, sambil mulai berdiri, menengok sekeliling.


Tapi bagaimanapun, dia merasakan keanehan saat berdiri. Perasaan ini, seperti dia menjadi kecil?


"Badan ku?" kembali, Liu Xiu keheranan ketika dia melihat tubuh nya yang berbeda. Bisa dibilang, tingginya berubah, walau tidak terlalu signifikan. Tapi otot di tangan serta tubuh nya berkurang, tapi aneh nya dia merasa penuh dengan kekuatan.


Liu Xiu terdiam cukup lama. Dia sedang menelaah sekeliling, sekaligus mencoba memahami apa yang terjadi sekarang.


"Aku tidak mengerti, tapi seperti nya ini tubuh ku, tapi ini tubuh ku yang dulu." kata Liu Xiu setelah menganalisis tubuh nya sendiri.


Ya. Liu Xiu menyadari nya.


Ini adalah tubuh saat Liu Xiu masih menggunakan nama Ren Larvest. Dengan kata lain, dia kembali ke saat dimana dia masih berumur sekitar 10. Sedikit aneh, memang. Tapi itu yang dia yakini saat dia melihat sekeliling sekali lagi.


Dia sedikit penasaran apakah dia bisa menggunakan sihir saat ini, tapi dia mengurungkan niat nya karena ingat, saat kecil kapasitas sihirnya terlalu besar, hingga merusak tubuh nya sendiri.


Dia berjalan, menemukan pohon besar yang rindang, dimana dia tertidur di bawah pohon ini tadi.


Liu Xiu menyentuh pohon itu, merasakan perasaan biasa yang ada di tangannya. Tidak hanya itu, entah kenapa dia merasa nostalgia.


"Humm. Dari perasaan aku menyentuh pohon ini, semua terasa sangat nyata. Aku mencoba mencubit pipiku, dan juga terasa sakit. Aku belum mencoba melukai diriku sendiri, tapi aku yakin aku juga bisa terluka. Akan merepotkan untuk menyembuhkan nya nanti, jadi tidak akan aku lakukan itu." kata Liu Xiu panjang lebar.


Apapun itu, dia menyimpulkan ini adalah dunia mimpi. Tapi, Liu Xiu tidak mengerti bagaimana bisa mimpi ini terasa sangat nyata.


"Lalu, kenapa aku bisa berada di sini? Bukankah tadi aku akan masuk ke dalam sebuah Dungeon?" tanya Liu Xiu.


Dia terdiam sesaat, sambil bersandar di pohon itu, termenung.


Angin bertiup pelan, seperti mengelus pipi Liu Xiu dengan lembut. Itu juga mengibaskan rambut Liu Xiu sedikit, juga menggerakkan dedaunan pohon, membentuk sebuah musik alami yang indah.


"Sudah lama aku tidak mendengar ini, setidaknya aku menikmatinya saja lebih dulu." kata Liu Xiu dengan senyum.


Dia lantas menutup mata, merasakan setiap perasaan yang mengalir di tubuh nya.


??


Liu Xiu merasakan kehadiran orang yang berjalan ke arah sini. Tapi, dia tidak merasakan hawa permusuhan dari orang ini, justru hawa kegembiraan datang dari nya. Tapi yang membuat khawatir Liu Xiu bukan itu.


"Ugh.... Sepertinya pendeteksi ku masih terlalu kecil saat ini." bisik Liu Xiu pelan, mengeluh kecil.


Karena ini adalah tubuh nya saat dia belum berlatih cukup keras, bisa dibilang Liu Xiu belum terlalu berkembang. Tidak, sebenarnya dia yang sekarang, Ren lebih kuat dari Liu Xiu di masa saat Liu Xiu masuk ke dungeon.


Hanya, Ren sekarang lebih kuat hanya karena sihir nya saja.


Dia lantas duduk, dan kembali ke posisi tertidur seperti awal dia datang kemari. Menurutnya, mengembalikan semua seperti semula adalah hal yang baik.


Sementara itu, suara langkah kaki semakin lama semakin jelas, juga suara nafas cepat seseorang yang datang juga semakin dekat.


Dari suaranya, dia adalah seorang wanita, dengan umur yang tidak beda jauh dengan Liu Xiu di umur ini, 8-10 tahun.


("Aku tidak tahu siapa itu, tapi aku harus tetap waspada.") Liu Xiu berusaha meyakinkan hatinya.


Sampai akhirnya orang itu sampai di sebelah Liu Xiu, dengan nafas yang sedikit tersengal sengal. Tapi setelah melihat Liu Xiu yang terbaring tenang, Liu Xiu bisa mendengar suara lega orang itu.


"Ternyata kau disini, Ren!" kata orang itu pelan, sambil mulai duduk di sebelah Liu Xiu.


?!


("Yahh, untuk tubuh ini, aku yakin aku adalah Ren Larvest. Jadi aku harus menjadi diriku di masa lalu?") tanya Liu Xiu, yang sekarang kembali menjadi Ren dalam hati.


Ren tidak menjawab pertanyaan orang barusan, karena dia memang sedang terbaring, terlihat tidur.


Dia bisa mendengar kasak kusuk orang yang memanggil nya tadi, seperti nya sedang duduk di sebelah Ren, sedikit membelai rambut nya.


("Sentuhan ini....") Ren mengingat sesuatu, yang membuat nya ingin segera membuka mata nya.


Tapi Ren tahu, itu tidak boleh dia lakukan. Namun, dia berusaha untuk bangun se natural mungkin, agar orang yang mengelus kepala nya tadi tidak curiga.


"Mmmh...." Ren bergerak sedikit mulai membuka mata nya.


"Ahh, kau bangun." suara lembut tadi terdengar lagi, mengangkat tangan kecil nya dari kepala Ren.


Ren mengalihkan pandang nya sesaat, seperti nya mencoba menyiapkan diri. Pasalnya, hanya ada satu orang yang berkata seperti itu saat dia tidak sengaja membangunkan Ren.


("Ini tidak mungkin, bukan?!!") teriak Ren dalam hati.


Walau tidak percaya, Ren mencoba membalikkan tubuh, melihat lawan bicaranya.


"Maafkan aku, aku membangunkan mu, ya?" tanya sosok itu.


Seorang Elf dengan rambut pirang yang menenangkan dan tubuh kecilnya yang indah. Wajahnya yang imut, dengan pakaian yang lucu membuatnya benar benar menawan.


Dan hanya ada satu orang yang memiliki deskripsi seperti itu.


Itu adalah orang yang Ren kenal dengan sangat. Orang yang sudah sangat dekat dengan nya, bahkan dia pernah berencana untuk hidup bersama nya, dan beberapa hal lain nya.


Tapi, Ren justru bergetar melihat sosok itu. Bukan nya takut, dia hanya bingung. Sampai sampai tubuh nya bergetar, dan bahkan air mata nya mengalir dari sudut wajahnya.


"Eh, Ren? Kenapa kamu menangis? Apa kah melihat sebuah mimpi buruk?" tanya sosok itu dengan wajah yang bermasalah.


Mendengar itu, Ren tidak kuasa menahan tangisnya. Mulut nya masih bergetar, tapi sudah bisa mengatakan beberapa kata.


"K-k-kau... S-Syi-Syila??" tanya Ren pelan, tergagap.


"Ehh, apa yang kau bicarakan? Apa kau bermain pura pura lupa ingatan seperti itu? Ya. Ini Syila. Syila Royze, anak dari Childe Royze, kau tahu?" kata sosok itu, Syila aambilt berkacak pinggang.


Tampaknya, dia bermain main dengan Ren, seperti mengikuti sandiwara yang Ren mainkan.


Mendengar itu, Ren benar benar tidak bisa menahan diri lagi.


Dia menundukkan wajah nya, menghadap bawah. Dia berusaha menutupi wajah nya yang penuh dengan air mata, karena dia menangis benar benar keras kali ini.


"Heh, Ren? Kenapa?" tanya Syila masih bingung.


"S-Syila!!!" ucap Ren pelan, sambil bergerak, sedikit melompat ke Syila yang sedang terduduk, menatap Ren dengan bingung.


"Aku sangat merindukanmu!!" kata Ren, setelah melompat dan memeluk Syila sekuat tenaga, memeluk nya seperti tidak akan melepaskan nya lagi. Tentu, Syila yang dipeluk seperti itu bingung, karena merasa Ren tidak seperti biasanya.


"Aa-ahh!! Ren! A-a-a apa yang kau lakukan? Kenapa kau tiba tiba menjadi sangat berani? Ahh, bukan itu maksudku. Apa yang kau lakukan?" tanya Syila dengan terkejut.


Bicara nya menjadi gagap, dan wajah nya juga menjadi merah cerah, menerima Ren yang tiba tiba melompat dan memeluk nya!


Tapi, Ren tidak kunjung melepaskan Syila, justru memeluk nya semakin erat.


Syila segera paham, dan tidak bergerak gerak lagi. Dia sedikit mengerti, dan balas memeluk Ren, sambil sedikit mengelus punggung Ren dengan lembut.


"Ya. Ini aku, Syila. Jangan khawatir, aku ada di sini. Yosh yosh! Anak baik anak baik." kata Syila sedikit mempermainkan Ren. Tapi Ren yang masih memeluk Syila tidak memperdulikan nya, justru memeluk Syila lebih erat.


Cukup lama mereka dalam posisi itu, setidaknya hingga tangisan Ren mereda, dan mulai melepaskan pelukannya pada Syila.


Syila sedikit kehilangan saat itu, tapi mengingat dia memikirkan hal aneh seperti itu membuat wajahnya memerah, dan dia menggelengkan kepala cepat.


Dia melihat ke arah Ren yang masih berusaha mengendalikan diri nya, sambil masih memegang kedua tangan Syila.


"Ren..." bisik Syila pelan.


Tapi, Ren tampak kehilangan fokusnya, dan menggenggam dan mengelus tangan Syila, seperti sudah lama ingin melakukannya. Walaupun memang kenyataan nya Ren sudah lama tidak melakukan nya, itu tetap membingungkan Syila.


Tapi melihat itu, Syila sedikit mengerti. Dia sudah mengenal Ren sangat lama. Dia tahu, Ren benar benar menjaga image nya saat berada di depan Syila, jadi tidak mungkin untuk Ren tiba tiba menangis keras di pelukannya seperti tadi.


Syila tahu, sepertinya terjadi sesuatu pada Ren, dan mengelus pergelangan tangan nya.


"Ada apa, Ren? Apa yang terjadi? Apa kau bermimpi buruk?" tanya Syila dengan perhatian.


Ren yang masih melihat tangan nya, yang digenggam erat oleh Syila sedikit terkejut dan sadar. Dia lantas mengambil nafas sesaat, mengumpulkan kekuatan untuk melihat wajah Syila.


"Mimpi buruk?" tanya Ren pelan, diikuti wajah penuh tanya dari Syila.


Ren segera mengingat, kejadian kejadian mengerikan yang terjadi, saat dia pergi ke Furyuun. Dan kejadian yang membuat dia menangis dan memeluk Syila sangat lama seperti tadi. Tidak akan salah jika Ren menyebut itu semua mimpi buruk.


"Ya. Aku memiliki mimpi yang sangat mengerikan. Sangat mengerikan nya, aku kira aku bisa mati ketakutan karena itu." kata Ren, sambil tersenyum lembut.