Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 2: Bab 11 - Yang Benar Saja!



"Ahh, dimana Ren?! Kenapa dia menghilang di saat seperti ini?!" Ruly sedang mengobrak-abrik isi rumah ketika mencari Ren. Ini adalah saat yang sama ketika Ren berlari ke air terjun untuk mencari Azantium.


Saat ini keluarga mereka sedang mencarinya setengah mati, karena pertemuan dengan keluarga Royze akan segera dimulai.


Tentu saja, tentang Ren dan Syila.


Mereka bisa dibilang mempersiapkan semuanya, dan ini sebenarnya masih terlalu lama. Tapi mereka terlalu terburu buru.


Bukan mereka sebenarnya, tapi hanya Ruly yang terlalu ribet.


"Sudahlah, kak. Ren sendiri pasti tahu dan dia akan datang tepat waktu. Dia pasti sudah memperhitungkan semua ini." Suzu berusaha menghibur Ruly sambil berpikir Realistis.


"Kau benar. Tapi, aku benar benar tidak bisa tidak khawatir!" Ruly berteriak sambil berlari keluar rumah. Suzu yang melihat itu hanya tersenyum.


"Pertunangan? Ren? Semua itu akan diputuskan hari ini, ya?" Suzu terlihat sedikit tidak bersemangat.


"Lagian beberapa hari lagi, aku akan pergi juga." Suzu berbisik pelan. Ekspresinya semakin jatuh lama kelamaan. Semakin terlihat dia benar benar sedih.


("Aku kagum dengan kak Edna, melihat perkembangannya akhir akhir ini. Aku melihat bahwa akhir akhir ini, perkembangan kak Edna sangat cepat. Bahkan dia bisa mengubah pandangan orang orang padanya.") Suzu berjalan sambil menunduk, mencari tempat untuk duduk.


"Uh!?" Suzu menabrak seseorang ketika berjalan. Itu setidaknya salahnya karena tidak memperhatikan jalan ketika menunduk.


"Ah, eh! Maafkan aku! Aku tidak memperhatikan jalan tadi. Eh, Syila?!" Suzu hampir menjerit ketika melihat siapa yang berada di depannya.


Itu Syila yang sedang menggunakan pakaian biasa dan topi lebar, untuk menutupi jati dirinya.


"Ya ampun, Suzu! Jangan berisik!" Syila segera berlari menarik Suzu ke luar, mencari tempat yang cukup sepi.


"Whoaaah?!" Suzu hanya menurut, ketika mereka sampai di sebuah taman dengan kolam yang menenangkan, walau dalam keadaan terengah-engah.


"Jadi, ada apa?" Suzu mengawali percakapan ketika mereka berdua sudah cukup bisa mengatur nafas.


"Ya, s-seperti yang kamu t-tahu, alasan hari ini keluarga kita berkumpul adalah untuk me-mebahas tentang..." Rasanya Syila memerah ketika akan mengatakan itu, dan dia dengan cepat menepuk wajahnya.


"Ya! Pokoknya tentang itu! Jadi, aku ingin melihat seperti apa orang Ren ini. Aku agak penasaran." Syila mengatakannya sambil menyatukan kedua telunjuknya, melihat ke bawah sambil menyembunyikan wajah malunya.


Melihat itu, rasa sedih Suzu berubah, karena dia jarang melihat ekspresi Syila yang seperti itu. Dia menganggapnya itu lucu.


Suzu menertawakan Syila cukup lama, sepertinya sampai dia puas.


"Santai saja, Syila. Tenang dan rileks. Aku tidak pernah melihatmu dengan ekspresi seperti itu! Itu membuatku tertawa. Selain itu, kau terlihat sangat imut jika kau berpose seperti itu!" Kata Suzu jujur sambil masih sedikit tertawa.


"Benarkah? Eh, bukan itu!" Syila berteriak dengan pipi menggembung marah.


"Baiklah baiklah." Suzu mengangguk. "Aku akan menceritakan sedikit tentang Ren. Tapi ngomong ngomong, bagaimana pendapat Ayahmu tentangnya? Kenapa dia tiba tiba mengajukan permintaan pertunangan ini?" Suzu bertanya sambil memiringkan kepalanya.


"Ugh. Pandangan ayah padanya sangat baik, dan bahkan dia dengan pasti mengatakan bahwa kau tidak akan menyesalinya. Katanya, Ren adalah orang baik yang memiliki ras humor tinggi, perilaku yang baik, dan sangat pintar."


"Dan dia bahkan sudah mengatakan bahwa dia manusia biasa. Dan anehnya, dia menekankan ke kata biasa itu berulang-ulang. Walaupun aku tidak masalah dengan manusia sih..." Syila semakin memelan dan menunduk ketika wajahnya semakin merah lama kelamaan.


"Dan jujur saja, ketika ayahku menekankan ya, aku merasa Ren semakin lama menjauh dari kata kata "biasa", karena jarang ayahku mengatakan hal seperti itu."


"Yah, kalau paman Childe mengatakan hal itu, dia memang tidak salah. Terutama di bagian "biasa" itu. Karena Ren memang sebenarnya luar biasa." Suzu tersenyum lembut, sambil memandang Syila yang masih menutup wajahnya.


***


"Hachoo!" Ugh. Aku bersin.


Aku tidak tahu kenapa aku bersin, mungkin saja ada orang yang sedang membicarakan ku? Ya. Itu hal yang paling mungkin. Karena memang aku jarang sekali bersin akhir akhir ini.


"Tapi, ini benar benar gua yang terjal, ya?" Aku mengangguk pada diriku untuk menjawabnya.


Gua ini memiliki pintu cukup sempit, tapi setelah melewati sekitar 100 meter kemudian, ini mulai melebar.


Untuk kontur jalannya, memang sebelumnya masih sangat terjal, tapi aku memperbaikinya sedikit sehingga jika aku ingin melewatinya aku akan mudah datang kemari.


Dan monster, ada beberapa tempat yang memiliki banyak monster, dan itu biasanya gerombolan yang besar, jadi cukup sulit untukku membunuh mereka satu persatu.


Monster yang ada pun bermacam macam. Ada monster yang benar benar monster dan hanya meninggalkan batu sihir, dan ada juga monster hewan yang tidak menghilang.


Monster ini bisa dibilang sangat kuat jika dibandingkan dengan orang orang di dunia ini. Aku penasaran, kenapa dunber monster sebesar ini tidak diketahui sebelumnya.


Dari awal, monster yang ada di permukaan atau di luar Dungeon sejatinya adalah monster dungeon.


Ahh, ini teoriku.


Aku berpikir bahwa di seluruh dunia ini terhubung oleh garis garis. Itu semua saling melewati satu sama lain, tapi tidak sebidang.


Dan karena suatu alasan terkadang aliran itu menjadi sebidang, jadi mirip persimpangan. Nah, pertemuan ini lah yang menyebabkan lahirnya sebuah Dungeon.


Mana yang berlebih menyebabkan hal buruk, yang bisa mempengaruhi makhluk hidup yang ada di sekitar. Dan juga, membentuk sebuah lubang di tanah yang entah bagaimana bisa terhubung ke tempat aneh yang lain.


Monster yang mendiami juga berbeda beda, tergantung makhluk hidup yang dipengaruhi oleh mana itu.


Tapi yang paling cepat berkembang biak adalah orc. Itulah kenapa mereka banyak berkeliaran di dunia ini. Ada banyak jenis selain ini, tapi aku sedikit mempelajari buku tentang monster. Ugh. Ini salahku.


"Tapi, semakin aku mendekat ke dalam, semakin banyak monster hewan, dan batu sihir disini. Aku agak senang sekaligus khawatir." Aku mulai sedikit berpikir.


Banyaknya monster berarti ada Dungeon tidak terurus di bawah sana. Dan untuk Orc sendiri, aku sudah tidak bisa menghitung lagi berapa banyak aku mengalahkan mereka.


Bahkan aku sekarang bisa naik 1 level lagi, hanya karena membunuh semua Orc sampai sekarang.


Walaupun banyaknya tidak bisa dibandingkan dengan secuil orang yang kubunuh waktu itu, tapi ini hanya satu tempat.


"Ini adalah tempat yang bagus untuk menambang, tapi juga tempat yang mengerikan. Aku harus membersihkannya dahulu sebelum menambang disini." Aku kembali berjalan.


Aku sempat menemukan batu mesofit yang berserakan di jalan.


Dengan ini, aku mendapat bahan yang cukup untuk membuat senjata yang aku inginkan.


Jujur saja, aku tidak tahu berapa lama aku berada di sini. Dan tentu, aku tidak tahu sampai kapan aku bisa berada di sini.


Aku akan kembali, jika lorong alam ini tidak memiliki ujung hingga waktu yang sudah kuperhitungkan. Karena memang aku memiliki urusan tersendiri, bukan?


"Selain itu, pedang ini benar benar luar biasa! Kekuatannya dan ketajamannya! Benar benar pedang yang terbuat dari azantium!" Aku berteriak kegirangan sambil mengibaskan pedang di tangan kananku ini.


Pedang berwarna perak dengan bilah selebar 7 cm dan panjang bilah 75 cm ini sangat cocok di tanganku, selain karena ringan, bentuknya juga sesuai dengan yang aku inginkan, karena aku mencurahkan semua imajinasimu pada pedang ini.


Silahkan hina aku pengahayal handal, tapi aku bangga karena itu sekarang!


Pedang ini meningkatkan keefektifan ku dalam membunuh monster dengan sangat cepat.


".."


Aku merasakan kembali aura kuat itu. Ini memang bukan mode terkuatku, tapi aku tetap bisa merasakannya dengan jelas.


"Sepertinya kita sudah dekat." Aku merasa gugup kali ini. Entah kenapa, auranya membuatku gemetar hanya dengan sekali sentak.


Walau begitu, ini adalah pertama kalinya aku merinding. Aku sangat menantikan musuh yang ada di dalam!


Aku bersiaga dengan pedang di belakang yang siap kapan saja menebas musuh dari depan. Mataku awas akan gerakan sekecil apapun, dan telingaku juga kumaksimalkan untuk mendengar suara sepelan apapun.


Aku melihat sebuah celah besar, seukuran setengah lingkaran dengan jari jari 15 meter. Sebuah ukuran yang sangat besar untuk sebuah gua alam yang misterius.


?!


Ada sebuah suara di belakangku. Aku refleks melompat mundur menuju tepi sambil melemparkan beberapa Wind Slash dengan pedangku, yang segera mengirim penyebab suara itu menghilang menjadi abu yang terbakar.


"Apa? Hanya Orc lagi?!" Aku sedikit kesal, merasa sediit aneh dengan kakiku, ketika aku tergelincir dan jatuh menggelinding ke dasar dengan suara berdebam.


"Ugh.. kenapa hal ini selalu terjadi pada-" aku tidak bisa melanjutkan kalimatku, karena sebuah geraman dalam mengganggunya.


?!


Lagi lagi, perasaan ini. Ini jauh lebih kuat dari sebelumnya. Karena mungkin memang pemiliknya ada di belakangku.


"Khu hu hu! Ini adalah ***** membunuh yang kuat!" Aku terkekeh perlahan memantapkan hati untuk berbalik, menatap sosok yang menghantarkan perasaannya sedari tadi.


Itu membuatku terkejut.


Pedang di tangan kananku jatuh.


"Oi oi. Yang benar saja?!"