Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 6: Interlude 1 - Hanya Sebuah Gosip



Pelayan yang ada di dalam kereta itu mengangguk, sambil menuangkan teh untuk Ruly dengan asap yang masih mengepul. Terlihat teh yang berkualitas tinggi sedang dituangkan, membuat wajah murung Ruly berubah menjadi cerah.


"Oh ya. Saat membicarakan Tuan Muda, saya mengingat sesuatu." sang pelayan terlihat sedikit terkejut, karena melupakan hal itu.


Ruly yang tidak mengerti, hanya mulai menyesap teh nya seraya mengamati si pelayan yang menaruh teko teh nya dan sibuk mencari sesuatu. Pada akhirnya, dia menemukan benda yang dia cari saat mencoba merogoh saku yang terdapat di punggung nya.


Itu adalah sebuah surat, yang terbungkus rapi tanpa bercak sedikit pun. Ruly sedikit bingung melihat bagaimana pelayan nya bisa menjaga itu tetap bagus tanpa kusut, padahal dia menaruh di tempat yang bahkan Ruly sendiri tidak tahu itu dimana.


Tapi Ruly tak menghiraukan itu, hanya menerima sebuah kertas yang merupakan surat dengan kertas warna putih kecoklatan.


"Surat? Dari Ren? Kenapa dia menggunakan surat?" tanya Ruly sambil perlahan membuka surat itu.


"Saya menerima itu dari Carla, pelayan pribadi Tuan Muda. Katanya, ketika dia ingin mengecek keadaan Tuan Muda Ren, dia menemukan surat itu di atas meja tulis nya." pelayan itu mulai bercerita.


"Di atas pesan itu ada tulisan agar mengantarkan surat itu pada Nona. Oleh karena itu, Carla mengantarkan surat itu pada saya." kata pelayan itu sambil menunduk.


Ruly mengangguk tanda mengerti, dan berhasil perlahan membuka surat itu.


"Kerja bagus, Lulu. Kau menjaga kerahasia an surat ini. Bagaimana pun, ada catatan yang mengatakan bahwa surat ini hanya boleh dibaca oleh ku, dan harus dibuka setelah aku meninggal kan wilayah Larvest, bukan?" tanya Ruly sedikit menarik nafas.


"Seperti yang Anda katakan, Nona." jawab pelayan itu, yang belakangan diketahui nama nya Lulu.


Setelah Lulu menarik diri, Ruly mulai membaca surat itu. Matanya bergerak cepat, ke kanan dan kiri menganalisis isi surat yang ada, sampai dia akhirnya berhenti pada satu titik.


Tidak hanya itu, mulut nya juga menganga, tanda tidak percaya.


Justru karena tidak percaya, Ruly menggelengkan kepala nya, dan mengulangi membaca surat itu. Tapi tetap, apa yang dia baca tidak berubah.


Segera, Ruly menarik nafas panjang, dan menaruh kertas itu di pangkuan nya.


"Penuh cinta dan kasih, Ren Larvest, kah?" tanya Ruly sedikit gemetar karena geram.


Lulu sedikit tidak bisa mengerti apa yang terjadi dengan Ruly, terutama saat Ruly bergetar tampak marah, sambil menggumam kan kata kata yang terdengar manis.


"Saya tidak mengerti apa yang Tuan Muda tulis, tapi saya mohon tenangkan diri Anda, Nona! Kita sedang berada di dalam kereta, akan berbahaya jika Nona bergerak dengan kekuatan Nona sedikit saja!" kata Lulu memperingatkan Ruly, sambil berusaha menenangkan nya.


Tergambar ekspresi panik di wajah Lulu, karena Lulu tahu bagaimana Ruly biasa nya bertindak.


Maklum, umur Lulu tidak jauh dari Ruly, dan hanya lebih tua beberapa tahun. Juga, Ruly dapat dibilang sebagai teman jauh nya dalam Akademi dan latihan berpedang. Itu membuat Lulu hafal tabiat Ruly.


Dan hal itu juga yang membuat Lulu dipilih sebagai pelayan pribadi Ruly.


"Humm. Kau benar, Lulu. Aku seharus nya tenang. Tapi, apakah aku bisa tenang setelah membaca ini?" tanya Ruly sambil menyodorkan kertas itu ke arah Lulu.


"Boleh kah saya?" tanya Lulu pelan.


"Yahh, aku yang menawarkan nya pada mu." paksa Ruly.


Dengan begitu, Lulu bergerak cepat dan menerima surat itu dan segera membacanya. Dan dengan segera ekspresi aneh yang tidak bisa digambarkan muncul dj wajah Lulu.


"Ahh, umm. Apakah ini benar, Nona?" tanya Lulu sedikit tidak percaya.


Ruly yang mendengar itu tertawa pelan, memegang kepala nya yang terlihat pusing.


"Ya ya ya. Aku tahu itu. Dan aku juga sangat mengenal nya begitu juga dengan mu."


"Jika tiba tiba dia minta untuk mencari seorang anak beast harimau perempuan dengan rambut perak dan umur 7 tahun, dengan nama Aina, dan bagaimana pun bawa dia bersama kita, itu benar benar tidak bisa dipercaya." lanjut Ruly seraya membaca sebagian surat yang membuat nya melongo.


"Maaf jika ini lancang, Nona. Apakah memang Tuan Muda memiliki hobi seperti itu?" tanya Lulu pelan.


"Humm. Setahu ku tidak. Tapi melihat ini, aku pun berpikir begitu. Dia bisa tahu nama, umur, bentuk fisik, ras, dan beberapa lain nya dengan jelas. Dia bahkan menjelaskan dimana kita bisa bertemu dengan nya. Ahh, aku bahkan tidak tahu harus berkata bagaimana..." kata Ruly sambil menutup mata nya.


"Bukankah ini terlihat seperti Ren menguntit anak itu?" tanya Ruly lagi.


Hening, tidak ada yang menjawab. Ruly hanya terlihat lelah, sedangkan Lulu terdiam sambil memandang surat itu dengan serius.


"Dan lagi!" tiba tiba Ruly bangkit, berteriak sedikit mengejutkan Lulu.


Itu sedikit membuat Lulu panik karena takut Ruly berbuat sesuatu yang aneh. Dengan begitu, dia dengan cepat memikirkan sesuatu yang bisa menenangkan Ruly!


"Setidaknya, tenangkan diri anda terlebih dahulu, Nona. Bagaimana jika kita tanyakan pada paman Kurls kalau kalau dia tahu sesuatu. Selain itu, saat dimana Tuan Muda bisa keluar dan mengunjungi kota lain adalah saat Tuan Muda mengunjungi Nona Suzu." kata Lulu, lagi lagi menenangkan Ruly yang sudah berdiri.


Ruly yang mendengar itu terdiam sesaat, lalu tampan berpikir sambil memegang dagu nya.


"Kau benar. Kurls yang biasanya mengantar Ren saat dia pergi ke Furyuun. Kurls pasti tahu sesuatu." kata Ruly sambil membuka jendela pembatas antara kusir dengan kabin kereta dengan cepat.


Itu sedikit menghasilkan suara yang keras, dan Kurls sedikit terkejut, tapi dia tetap tenang.


"Ahh, Nona. Ada apa tiba tiba? Apakah ada sesuatu ketidak nyamanan?" tanya Kurls dengan senyum.


"Ya. Ada sebuah ketidak nyamanan yang besar, kau tahu?" kata Ruly dengan wajah serius.


Melihat orang yang dia layani membentuk wajah yang benar benar serius, Kurls segera tanggap dan menyiapkan diri.


("Jika situasi ini sampai membuat Nona Ruly yang terkanl kuat sampai se-serius ini, maka ini pasti masalah darurat. Seperti nya aku harus mengaktifkan kemampuan pelacakan ku....") pikir Kurls. Padahal dia tidak tahu...


"Ada apa, Nona? Saya siap kapan pun. Tinggal katakan perintah anda, saya bisa menyelesai kan nya segera." jawab Kurls dengan nada rendah, sedikit membungkuk.


"Ya. Ini sulit. Apakah kau tahu bahwa Ren memiliki hobi aneh, seperti menguntit orang? Tidak, kan? Humm, apa kau memiliki bukti khusus?" selidik Ruly masih dengan wajah serius nya.


"Heh?"


"Ada apa?" tanya Ruly seperti tanpa dosa. Di sampingnya, Lulu juga mengintip lewat celah jendela itu, terlihat penasaran.


Kurls terdiam sebentar, karena ditanyai sebuah pertanyaan yang tidak seharusnya. Padahal, Kurls terkenal adalah orang yang profesional, jadi membuatnya terdiam seperti ini adalah hal langka. Bahkan tangan nya yang sedang memacu kuda juga sempat berhenti sejenak.


"M-maaf kan saya, Nona Ruly. Apa yang membuat anda berpikir demikian?" tanya Kurls heran.


"Habis nya, Ren meminta ku untuk mencari seorang anak bernama Aina, dengan deskripsi yang benar benar lengkap Selain itu, anak ini berada di kota Cerida!!" teriak Ruly cukup keras.


Di belakang nya, terlihat Lulu yang mengangguk cepat, seperti membenar kan kata kata Ruly.


Kurls yang mendengar itu tersenyum pelan, tapi sedikit canggung dengan itu.


("Ahh, soal itu, kah? Aku diberi tahu untuk merahasiakan bagaimana Tuan Muda berhenti setiap kali berangkat di Kota Cerida. Ini akan melanggar perjanjian itu, tapi sepertinya tidak apa. Lagipula, Tuan Muda sendiri yang meminta Nona Ruly mencari anak di kota itu....") pikir Kurls cepat.


"A-ahh, baiklah. Saya akan menceritakannya." jawab Kurls.


Dengan begitu, Kurls menceritakan soal Ren yang setiap kali berangkat ke Furyuun, dia selalu berhenti di kota Cerida, selama setengah hari. Katanya mengistirahatkan kuda.


Tapi, Kurls tahu bahwa Ren punya alasan nya sendiri untuk berhenti di kota ini setiap kali lewat.


Dan setelah berunding dengan Ruly, Kurls juga mengatakan bahwa kemungkinan urusan nya berada di kota Cerida adalah untuk menjadi Adventurer dan mencari uang.


Dan dari sana, Kulrs menyimpulkan bahwa Ren sudah mengetahui anak ini sejak lama, dan berniat membawa nya pada perjalanan kali ini, tapi terhalang penyakitnya.


"Mungkin itulah penyebab dari semua ini, Nona Ruly, Lulu. Saya mengenal Tuan Muda dengan baik. Dia pasti bertindak dengan beberapa keadaan dan alasan tertentu." kata Kurls mengakhiri cerita.


Ruly terdiam, termenung. Sama seperti Lulu yang juga memikirkan hal yang sama.


Sampai akhirnya, Lulu menepuk pundak Ruly, dan mengangguk tanda yakin.


"Humm. Kau benar. Itu benar. Ya! Dia memang begitu! Bagaimana pun, dia selalu bertindak secara logis dan selalu memikirkan banyak hal. Mungkin dia tahu sesuatu yang kita tidak tahu...."


"Habisnya, bahkan sakit nya saja punya maksud tertentu." kata Ruly pelan.


"Humm?" seketika Kurls dan Lulu menengok, mendengar apa yang Ruly barusan katakan.


Segera, Ruly ingat bahwa dia mengatakan sesuatu yang berbahaya, dan menggeleng kan kepala seraya menggerak kan tangan nya cepat.


"Tidak tidak! Lupakan saja yang barusan aku katakan!!" teriak Ruly panik.