Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 3: Bab 28 - Pertemuan



"Dia?!" aku merasakannya!


Teringat aku keberadaan Eldergale yang hancur, kematian kak Ruly, Ayah, dan Syila. Seketika itu semua terlintas ketika aku merasakan Dark Magic ini.


Ahh, aku gemetaran.


"Khu Khu Khu!!" aku tertawa. Aku bisa merasakan pandanganku mulai menggelap.


Ya. Aku marah. Aku marah mengingat itu semua. Karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri, aku akan membunuh orang ini apapun yang terjadi. Aku tidak pernah bertemu dengannya, ataupun merasakan langsung kekuatannya.


Tapi ini adalah janjiku, kemarahan ku.


"Ups! Aku hampir lepas kendali!" aku menggelengkan kepalaku cepat ketika tubuhku mulai terangkat dan di tanganku mulai terbentuk topeng aneh.


Aku harus berusaha mengontrol emosi ku sekarang, karena salah sedikit, aku bisa menggunakan kekuatan kutukan itu.


"Baiklah. Saatnya berburu dengan serius!" aku berubah ke mode Shinigami, tersenyum senang.


***


"Uhh, aku diselamatkan oleh senior lagi. Tapi sepertinya aku harus membuktikan diri untuk bisa tetap berada di sini. Setidaknya, aku harus membalas jasa senior!" kata seseorang pemuda dengan jubah dari Dark Magic.


Dia adalah Gordo, yang kini sedang melakukan perjalanan bersama Dela untuk mencari "Shinigami". Mereka berdua berangkat, dan sekarang berkemah di hutan di jalan di antara Ronia dan Furyuun.


"Hei hei hei. Jangan begitu, Gordo! Kamu harus lebih belajar menekan Dark Magic mu supaya tidak bocor!" terdengar suara wanita datang mendekat.


"Kalau kamu tidak pandai menekan Dark Magicmu, kamu dapat terdeteksi dengan mudah. Mungkin menyenangkan untuk memanggil kentang goreng kecil, tapi jika itu hal yang lebih besar, itu akan berbahaya." Dela datang sambil membawa beberapa kayu dan hewan dengan sihir angin.


"Benarkah? Mungkin aku akan berhati hati lain kali." jawab Gordo sambil mulai menyiapkan beberapa daun.


?!!


Mereka semua terdiam, ketika merasakan suatu sihir yang berbeda. Gordo berkeringat, tidak berani bergerak. Tapi dia melirik ke arah Dela, melihat reaksinya.


"Betapa kemarahan yang mengerikan. Bagaimana menurutmu, senior?"


Dela tersenyum senang, menjilat bibirnya sendiri seperti sudah menemukan mangsa.


"Ararara! Ini sangat menggoda! Hanya merasakannya saja sudah membuatku bergairah! Ini bukanlah kemarahan, tapi kebencian dan keinginan untuk balas dendam."


"Aku akan memeriksanya sebentar, kamu tunggulah disini. Aku akan memberi aba aba jika menemukan sesuatu, begitu juga denganmu." Dela segera menggunakan mantel nya, lalu pergi secepat angin. Dia sepertinya sangat gembira, tapi dia tidak tahu ada masalah lain.


***


Ren mengaktifkan [Serenity] seketika setelah dia menemukan Gordo. Dia melacaknya. Skill itu membuat aliran Fehl milik Ren menjadi kabur, dan menyebarkannya ke segela arah.


Itu membuat Dela yang sedang melacak balik Ren, kehilangan jejak dan mengejar ke arah yang salah.


"Humm, dia bersama orang lain? Dan dia terlihat sangat terampil dengan sihir dilihat dari mana sebaik apa dia menghilangkan Fehl yang ada padanya."


"Dan dia sepertinya merasakanku tadi, tapi karena aku menggunakan skill dia berlari ke arah lain." Ren menggumam senang.


Ren bukanlah seorang pembela keadilan. Dia tidak peduli dibilang pengecut jika menyerang dari belakang, atau apapun itu. Baginya, jika dendamnya sudah terbalaskan, dia tidak apa.


Maka dari itu, Ren segera menyusuri hutan tanpa suara, sambil terus mengikuti nalurinya.


Dia menggunakan sihir angin untuk membimbingnya menuju tempat yang dia inginkan. Sampai ketika angin memberikan sebuah tanda, dengan bau api dan darah binatang.


Ren menyeringai tajam, dan mempercepat langkahnya. Dia menemukan tempat terbuka dimana ada beberapa asap berkumpul.


"Wah wah wah. Mari kita lihat siapa yang berada di sini." Ren bertepuk tangan senang, sambil melangkah ke tengah lapangan. Dia muncul sebagai bentuk Ren si manusia, bukan Shinigami atau apapun itu.


Gordo otomatis terkejut, dan mengambil sikap siap untuk bertempur, dan memasang penghalang sihir.


"Apa? Hanya manusia? Cih!" Gordo mendecak, lalu melemparkan pisau yang dia pegang ke arah kepala Ren. Dia juga menurunkan penghalang sihirnya.


Kalau manusia biasa atau petualang biasa sekalipun, pasti akan mati dengan kepala pecah jika dilempar dengan pisau secepat itu, tapi berbeda dengan Ren yang memiliki skill [Sharp Eyesight]. Itu membuatnya tahu arah pisau itu, dan bisa menangkapnya. Bahkan serangan barusan belum mengaktifkan [Critical Preception] miliknya.


Tapi Ren sudah mengira itu akan terjadi, dam melanjutkan serangannya.


Ren menarik benang yang sudah dia siapkan sebelumnya, yang seketika menjerat Gordo. Gordo tidak ada waktu mengelak, dan terkena jebakan itu. Kedua tangannya ditarik, begitu juga dengan kakinya.


"Khu ha ha ha!" Rem tertawa senang sambil mengambil pisau dari balik punggungnya.


"Aku tidak ingin ada yang mengganggu." kata Ren sambil menggumamkan sebuah sihir. Ren tahu, Dela dengan cepat menuju kemari. Dia membuat sihir penghalang yang cukup kuat, tapi tidak besar. Dia memfokuskan dalam hal pertahanan, jadi ruang yang ada hanya 30×30 meter saja.


"Si-Siapa? Siapa kau?!" Gordo berteriak, masih berusaha bertahan. Dia juga mencoba mengendalikan Dark Magic, tapi sia sia.


Ren hanya tertawa, lalu menggunakan skill [I am the Sadistic] pada Gordo. Tubuhnya terlapisi aura merah yang mengerikan, bahkan wajahnya sudah mulai dilapisi topeng setan.


"Apakah kau ingat Eldergale?!" tanya Ren sambil berjalan berputar. Topeng di wajahnya terus terbentuk, sekarang sudah menutupi sebelah matanya.


"Aku tidak tahu apa yang kau maksud!" Gordo masih mencoba melepaskan diri dengan nafas tersengal.


Tubuh Ren bergetar, menunjukkan dia marah. Itu mempertebal aura merah yang mengelilingi tubuhnya. Dan wajahnya tertutup topeng itu sekarang. Tidak hanya itu, kini merambah ke badannya.


"Kau tidak tahu? Tidak tahu katamu?!! Sial!" Ren menebas punggung Gordo, membuatnya berteriak kesakitan.


"Setelah kau membunuh seluruh warga kota?! Membunuh keluargaku?! Dan juga, Syila!!" Ren kini berpindah ke depan, lalu menyayat leher dan perut Gordo, membuatnya mengucurkan darah. Ren benar benar dikuasai oleh amarahnya sekarang.


Dan senjata yang dia pegang, menghasilkan kutukan di tubuh Gordo karena dia sudah memakai skill [Duality] secara tidak sengaja.


Ren memukul perutnya, lalu menghujani wajahnya dengan bogem mentah. Membuat Gordo melemas, mengeluarkan cukup banyak darah dari mulutnya. Gordo juga tak urung kehabisan tenaga.


"Kenapa?! Kenapa Dark Magic ku tidak bekerja?!" Gordo kini mulai berteriak frustasi.


Dia tentu tidak menyerah begitu saja, tapi dia terus mencoba menggunakan Dark Magic yang merupakan keahliannya.


"Kau bodoh! Dark Magic adalah sihir yang khusus. Yang mana bisa diserap oleh orang yang bisa menggunakannya juga."


"Apa kau tidak melihat bahwa Dark Magic mu diserap oleh benang itu?" Ren tertawa sambil berputar.


"Dan tidak kusangka, kau adalah manusia! Sangat menyenangkan melihat manusia yang kuat selain aku! Tapi sayang, aku tidak menyukai mu, malah dibilang aku membencimu. Jadi kita tidak bisa bekerja sama." kini topeng yang ada di wajah Ren mulai menghilang, tapi berganti menjadi jubah.


"Sialan kau! Kalau berani, lepaskan aku!" Gordo mulai memprovokasi Ren.


Dia bertujuan agar Ren hilang kendali dan melepaskan nya, lalu dia akan mengambil kembali beberapa sihir miliknya.


"Ya benar! Aku yang membunuh mereka! Aku menikmati saat mereka berusaha untuk tetap hidup, tapi akhirnya mati! Kau benar! Karena itu, lepaskan aku dan balaskan dendam mu!" Gordo terus memprovokasi Ren.


Jelas, provokasinya berhasil. Itu membuatRen terdiam, menutup mata.


ZINGGG!!!!


...Upgrade! [Duality], sekarang bergabung ke [Armor the God of Darkness]. Menjadi [The Dark Lord's Wrath]!...


...Upgrade!...


...Upgrade!...


...............


Suara pengumuman terdengar terus di kepala Ren, dimana itu adalah pemberitahuan. Sementara itu, Ren masih diam, tapi pakaian yang dia pakai kini berubah. Selain itu, banyak Dark magic berputar di sekelilingnya, menambah kengerian.


Topeng yang biasanya dia pakai, kini tergantung di bahu kanannya, dan rambutnya juga semakin menghitam.



Tangannya yang tersembunyi dibalik jubah mengepal, dan mulutnya mengatup sambil sedikit bergetar. Tapi aneh, justru senyum yang ada di wajah Ren.


"Kalau begitu, mari kita bermain!"