Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 3: Bab 30 - Efek Skill



Ren berjalan linglung di desa Conia, desa singgah tempat mereka berhenti untuk beristirahat. Dia masih belum berubah dari bentuk terakhirnya, masih menggunakan jubahnya dengan beberapa babak belur di sana sini.


Keadaan hampir pagi, tapi desa itu belum terlalu ramai. Ada beberapa penjaga yang sudah terbangun, tapi mereka seperti tidak melihat apa apa ketika Ren lewat.


"Aku harus kembali." Ren berbisik pelan.


("Memang pada siapa aku harus kembali?") Ren memiliki pertentangan dalam hatinya, mulai lupa.


"Aku harus pulang." Ren menggelengkan kepalanya, mencoba menepis pikiran pikiran aneh yang mulai keluar di kepala Ren.


("Memangnya aku pulang kemana?") lagi lagi batinnya bertanya tanya.


Dia benar benar diabaikan oleh orang lain, bahkan orang yang berpapasan dengannya tidak menyadari keberadaannya.


BUKK!!


"Eh?! Aku seperti menabrak sesuatu, tapi apa?" seorang penduduk desa menabrak Ren, tapi hanya menggumam sedemikian rupa sambil menggaruk kepalanya dan menoleh kesana kemari.


Ren tidak menjawabnya, hanya minggir dari jalan pemuda itu.


Itu adalah suatu keanehan, tapi Ren tidak memikirkannya.


"Aku harus kembali ke rumah." bisik Ren lagi.


("Tapi bukankah rumah sudah hancur?") Kepala Ren masih mengingat insiden Eldergale yang terpaku di ingatannya.


Ren masih terus berjalan, menuju penginapan tempatnya dan keluarganya tinggal. Dia naik ke lantai dua, tempat kamar ibu dan kakaknya berada. Dia berdiri di depan pintu, menatap kosong.


"Apakah ini Rumah?" Ren membuka pintu.


"Aku pulang..." dan setelah berkata demikian, Ren terjatuh di ambang pintu.


Penghuni kamar, Nina dan Edna terkejut melihat Ren yang terjatuh di pintu. Nina dan Edna terlihat khawatir dan segera berlari setengah berteriak ke arah Ren. Berbeda dengan Edna yang menolongnya tapi sedikit bingung.


"Ren! Ren!" Nina mengguncang Ren, berusaha membangunkannya.


"I-ibu. Apa ini kenalan ibu?" Edna bertanya dengan wajah kosong. Dia sepertinya tidak mengenal Ren. Nina terkejut, terdiam sesaat. Tapi air matanya tidak berhenti. Walau begitu, Edna tetap membantu Nina untuk membawa Ren ke atas kasur.


"Ini Ren, Edna! Jangan bercanda! Ini tidak lucu!" teriak Nina marah.


"Tidak, aku tidak tahu siapa itu Ren. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Lagipula, bahkan aku tidak mendengar langkah kaki atau merasakan keberadaannya saat dia ada di luar. Apa dia seorang penyusup? Apa dia-" kata kata Edna terpotong.


Nina menamparnya, membuat bekas merah di pipi Edna. Dia jelas marah, terlihat di matanya yang berkilat dengab ekspresinya yang berubah.


"Dia Ren! Dia menyelamatkan kita! Kau lupa? Jangan pura pura lupa! Ini tidak lucu! Dia adikmu! Tidak mungkin kamu lupa, bukan?!" teriak Nina. Itu merupakan teriakan yang mungkin terdengar ke seluruh penginapan saking kerasnya.


Edna terdiam sesaat, ketika dia merasa kosong. Tapi setelah dia melihat Ren, sesaat kemudian dia sadar.


"Ya ampun! Apa yang aku lakukan? Bagaimana mungkin aku bisa lupa? Ren! Ren! Apa yang terjadi padanya?" Edna berteriak panik. Segera, Nina mengecek tubuh Ren, tapi tidak berbicara dengan Edna.


Nina merasa sedikit keterlaluan untuk menampar pipi Edna, san merasa sedikit bersalah dengan itu.


Edna melihat pakaian yang dipakai Ren, setengahnya adalah pakaian yang disebut [The Dark Lord's Wrath]. Itu adalah perpanjangan dari [Duality], skill yang pernah Edna lihat, jadi otomatis Edna mengenalinya.


"I-ini?!!" Edna sedikit menyentuh ornamen topeng yang ada di bahu Ren, dan seketika aura hitam mengalir ke tangan Edna.


Edna mengaduh perlahan, merasakan sakit di tangannya.


"Edna! Tanganmu?!" teriak Nina khawatir.


"I-ini? Ini kutukan! Sama dengan kutukan yang Ren punya dulu! S-Sacred Water! A-aku membutuhkannya! Dimana aku menyimpannya?!" Edna berteriak panik.


"Ibu akan mengambil nya si kereta!" Nina langsung paham, dan berlari mengambil "Sacred Water" yang ada.


"Kenapa? Ada apa Ren?" Edna berteriak khawatir.


***


Ren Larvest POV...


Aku terbangun melihat langit langit yang tidak aku kenal. Aku hampir tidak bergerak, tapi setidaknya aku bisa membuka mata.


("Aku, siapa? Dimana aku?")


Ahh, aku tidak bisa merasakan panas, dingin ataupun tidak nyaman apapun. Selain itu, aku juga tidak merasakan emosi apapun. Aku tidak merasa marah, sedih, atau khawatir dengan apapun.


"Kenapa aku disini? Siapa dia?" aku hanya bisa berbisik pelan ketika aku melihat ada orang yang tidur sambil duduk, menjagaku.


Di seberang sana ada orang lain yang tidur di kasur yang berbeda. Aku


"Humm, itu kak Edna dan ibu. Kenapa aku lupa? Lalu, aku berhasil melindungi mereka sekarang, bukan? Kenapa aku tidak senang. Tunggu. Dari awal, siapa aku?" aku bingung dengan keadaannya.


"Hmnhh!!" aku mendengar geraman rendah dari orang yang ada di dekat kasurku.


"Ren?! Kau sudah bangun?!!" kak Edna berteriak.


("Ren? Itulah namaku? Sepertinya benar. Tapi kenapa aku bisa lupa? Itu aneh.") aku hanya diam, menangguk.


"A-apa yang terjadi? Siapa yang melakukan itu tadi malam? Dan juga, kenapa kamu menggunakan skill itu? Bukankah aku sudah pernah bilang bahwa itu berbahaya?" kak Edna berteriak marah.


Humm, apa yang terjadi? Aku hanya membunuh orang. Dan aku butuh kekuatan itu saat temannya datang. Itu adalah hal sederhana, bukan?


Itu yang ingin aku katakan, tapi aku merasa malas melakukannya.


"Tidak ada." hanya itu yang bisa aku katakan.


("Tidak, tunggu! Ini bukan aku! Kenapa aku seperti ini? Karakterku bukan seperti ini!") aku berteriak di dalam hati. Aku tidak tahu maksudnya, tapi kenapa batinku berteriak demikian?


"Mana mungkin tidak ada apa apa! Aku bahkan sempat melupakanmu tadi! Aku tidak tahu kenapa, tapi aku melupakanmu!" teriak kak Edna sambil mulai menangis, memukul dadaku. Semua keributan itu jelas membuat ibu bangun, jadi aku hanya bisa menepuk kepalanya.


Aku melihat ke tubuhku sendiri, aku penuh dengan kutukan. Uhh, itu mengerikan.


Dan dia bilang, dia melupakanku? Bahkan aku sendiri lupa siapa diriku! Apa ini berhubungan dengan kutukan ini?


"Hei, kak Edna. Ini Air Suci kan? Bisa diminum?" tanyaku pelan.


"Yahh, memang bisa, tapi tidak ada gunanya." jawab kak Edna.


Terserahlah. Aku hanya mengambil botol itu, dan meminumnya. Satu detik, dua detik, tidak ada yang terjadi, sampai aku merasa perutku mulai panas.


"ARRGHHHHH!!!!"


"Ren?!" kak Edna terlihat khawatir.


Aku memegang kepalaku yang serasa akan pecah, dan sepertinya hanya halusinasi ku, tapi tubuhku mulai berasap.


Dan aku kehilangan kesadaran ku, lagi.


***


"Ughh." seorang laki laki berambut hitam sedikit berlutut memegang dadanya.


"Ada apa, Kei?" tanya wanita di sebelahnya. Dia adalah Cilia yang berjalan berpetualang bersama Kei.


"Ada sedikit masalah. Biasakah kita langsung kembali ke penginapan sekarang?" tanya Kei yang mulai tertunduk dan memegang dada, sekarang merambah ke kepalanya.


Cilia tampaknya tidak terlalu mengerti, tapi hanya mengangguk.


Mereka sekarang sedang berada di salah satu kota di negara Aentiah. Karena pada dasarnya mereka adalah seorang petualang, jadi mengelilingi dunia adalah hal yang biasa.


Tapi sekarang Kei mendadak mengeluh sakit, jadi Cilia sebagai Partner nya tidak bisa menghalanginya.


"Hufft. Terima kasih, Cilia." kata Mei sambil mulai duduk di atas ranjang kecil. Wajahnya terlihat kurang baik, memperlihatkan kondisinya.


"Humm!! Kau bisa elus kepalaku untuk balasannya!" kata Cilia senang. Kei hanya tersenyum, kemudian mengelus kepalanya, menuruti keinginan Cilia.


"Tapi master, ada apa?" tanya Cilia tiba tiba.


Kei diam, memikirkannya sesaat.


Dia meraba dadanya dan kepalanya yang serasa panas tadi, padahal dia mengecek status lalu tidak ada keanehan apapun disana.


"Ini, berarti hanya satu. Wrath Seed sudah berevolusi." kata Kei pelan.


Wajahnya mengatakan ini dengan berat, tapi penuh keyakinan. Cilia terkejut, raut mukanya berubah dan dia menutup mulutnya.


Ini menyebabkan keheningan, tapi kemudian Cilia mulai berbicara.


"Apakah itu artinya, posisi master akan digantikan?" tanya Cilia pelan. Dia sepertinya mulai berubah suasana hatinya, membuatnya sedih.


"Tidak. Dia masih membutuhkan waktu lama untuk itu."


"Tapi bukankah ini terlalu cepat?" Cilia menyangkal.


"Ya. Ak tidak tahu kenapa. Yang lebih parah, adalah dia mulai mendapat efek samping skill itu. Dia mulai dilupakan, kau tahu?!" kata Kei.


"Tunggu, apa?! Dilupakan? Tidak! Itu.... Menyakitkan. Aku ingat aku pernah melupakan master untuk sesaat, dan itu adalah momen paling menyedihkan untukku."


"Karena itu, sepertinya kita harus mempercepat rapat. Aku sudah mengirim surat untuk mereka semua, tapi belum ada jawaban." sahut Kei lagi.


"Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi."


"Semoga." jawab Kei pelan, menatap langit.