
"Ohh, Ravinder? Nama bangsawan kah?" aku berpura-pura menggumam untuk membuat bahawa aku baru tahu itu.
"Maafkan atas kekasaran saya, putri Thui." aku menundukkan kepala tanda hormat, diikuti kak Edna dan ibu. Sepertinya mereka juga mengikuti sandiwara ku.
Thui menggeleng kepala. Kepribadian nya sepertinya mudah ditebak.
"Tidak. Anda sudah menyelamatkan saya. Seharusnya saya yang menundukkan kepala." dia membalas tundukkan kepalaku.
Hmm, dia adalah orang yang simple. Ekspresinya datar, tapi gaya bicaranya lebih berwarna.
Untuk masalah hati, kemungkinan dia adalah orang yang baik, naif juga. Tapi aku tidak bisa menilai hanya dengan sekali lihat.
Intinya, dia mudah untuk aku jadikan koneksi tambahan di kota Furyuun ini.
"Baiklah, putri. Bisa saya mengantarkan anda kembali ke rumah? Saya merasakan beberapa hal yang dapat mengancam anda di sekeliling." kataku sambil menatap ke sekeliling.
Sebenarnya tidak ada apapun, tapi ini bisa aku jadikan beberapa alasan nanti.
"Ya! Anda diundang ke rumah kami! Ayo! Kemari!" dia menarikku untuk mengikutinya. Aku pertama kali melihat ekspresi wajahnya berubah dalam percakapan kali ini.
***
Kami datang ke mansion milik wali kota Furyuun. Itu paling tidak sama besarnya dengan Guild.
Kota Furyuun memiliki bentuk pemerintahan yang aneh, tapi juga benar menurutku, karena Guildmaster bukanlah pemimpin kota.
Aku benar benar tidak bisa membayangkan jika Diena memimpin kota ini.
Kak Edna terus bertanya apa yang terjadi, tangan nya bergetar, dan wajahnya juga berkeringat. Terlihat jelas betapa dia gugup saat ini.
Thui juga bercerita apa yang terjadi sebelumnya, lengkap tanpa ada kurang.
"Ahh, saya sebelumnya memandang rendah pekerjaan Adventurer, tapi sekarang saya tahu, bahwa orang orang kuat seperti kalian itu sangat dibutuhkan!" si wali kota membungkuk, mengucapakan terima kasih.
"Oh ya! Saya belum memperkenalkan diri dengan baik. Saya adalah Rice Ravinder. Wali kota Furyuun. Sekali lagi saya ucapkan, terima kasih banyak telah menolong anak saya."
"Dan sepertinya ini secara tidak langsung mengatakan bahwa penjagaan di kota kami sangat lemah. Saya juga minta maaf dengan itu." kata Rice.
Aku tidak bercanda, aku berusaha menahan tawa ketika dia mengucapkan namanya!
Tapi, baiklah. Aku berhasil mencegah nya dengan bertanya tanya kenapa Thui keluar sendirian. Yahh, walaupun ini bukan malam hari.
"Yahh, ini giliran saya untuk memperkenalkan diri. Saya adalah Nier, Adventurer Rank-A. Di sebelah saya ada Adne, dan di sebelahnya lagi ada Anin. Mereka berdua adalah rekan saya sesama Adventurer." aku menjelaskan.
Kak Edna sedikit mendelik, menyadari nama mereka yang aku ubah hanya dengan membalik urutan hurufnya.
Tapi dia mengikuti sandiwara ku dan tetap berdiri dan menundukkan kepala.
"Nier, Adne, dan Anin, kah?" Rice meneliti kami satu per satu.
Untuk berjaga jaga, aku sudah memasang [Evaluator Block] pada mereka. Jadi, apapun yang terjadi, penyamaran mereka tidak akan terungkap.
"Memang benar. Kalian bertiga terlihat sangat kuat!" katanya. Dia pasti sudah menyerah untuk menilai kami.
Dan sekarang dia pasti berpikir, bahwa kami adalah orang orang kuat yang baik hati, dan dapat dengan naif menolong orang lain tanpa pamrih.
Dengan kata lain, dia akan membuat koneksi bagus dengan kami.
"Baiklah. Saya dengar Adventurer bukanlah orang yang bertele-tele. Dan saya juga sudah menguji kesabaran anda, tapi anda benar benar sabar, sampai saya kira anda sekalian menikmati ini." katanya tersenyum.
Akhirnya! Tiba saat utamanya!!
"Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan anda. Tapi kiranya rasa terima kasih saja tidak cukup untuk nyawa putri saya." dia berdiri.
"Jadi, saya akan memberin anda hadiah. Silakan katakan hadiah apa yang anda inginkan?" katanya.
BINGO! Sudah kuduga, cerita klise akan selalu berakhir klise. Ya. Inilah yang aku incar tadi!
Kak Edna mulai ngiler melihat itu. Humm, sejak kapan kepribadiannya berubah? Sepertinya kak Edna yang aku kenal dulu pendiam dan pemalu!
"Humm, saya mengerti maksud anda." aku menyodorkan tangan ke kotak.
"Tapi maaf, saya tidak bisa menerimanya." aku mendorong lagi kotak berisi emas itu.
Seketika, tangan kak Edna menyikutku, matanya memelototiku. Kenapa? Apa dia tertarik dengan uang yang tidak seberapa? Kalau aku bisa memberitahunya, permintaanku akan lebih berharga dari uang itu!
"Hmm? Kenapa anda menolaknya! Apa karena jumlahnya kurang?" Rice memiringkan kepalanya heran.
Aku hanya menggeleng, sambil tersenyum.
"Saya tidak keberatan dengan jumlahnya. Saya hanya keberatan dengan bentuknya." aku menggerakkan alisku saat bicara. Semoga dia mengerti.
"Ohh, apa kau ingin aku memberimu jabatan? Atau kekuasaan?"
"Uhh, aku tidak sebodoh itu untuk meminta kekuasaan. Jujur saja, aku tidak berniat seperti itu. Tapi kau tahu, ketika bertemu dengan orang seperti anda, saya harus meminta sesuatu yang hanya bisa diberikan oleh anda." humm. Ini hanyalah sesuatu yang hanya bisa diberikan olehnya.
"Aku hanya meminta jika ada aku tertimpa suatu masalah di kota ini, aku ingin anda menolong saya. Jadi, saya ingin membuat koneksi dengan walikota Furyuun."
"Maksudku, uang masih bisa dicari di manapun. Tapi, kapan lagi aku bisa berkenalan dengan orang nomor satu kota ini?! Mana mungkin aku membuang kesempatan ini begitu saja!" aku tersenyum sinis, lalu kembali menatap Rice.
Dia menatapku tajam sejenak. Hening terjadi diantara kami selama beberapa saat. Tapi setelah lima detik, dia tertawa. Itu cukup mengherankan, jadi kami bertiga hanya membiarkannya saja.
"Kau memiliki otak pedagang yang sangat baik! Aku heran apakah kamu benar Adventurer? Baiklah! Aku akan membantumu jika ada dalam kesulitan. Untuk itu-" dia mengangkat tangan, memanggil pelayan untuk datang.
Dia menulis sesuatu di dalam surat, lalu menuliskan namanya. Humm, seperti tanda tangan mungkin?
"Nah, disini. Ini adalah surat yang aku tulis sendiri, ada juga nama kalian bertiga. Aku juga menuliskan namaku untuk memperjelas." dia menggulung, lalu menyodorkan padaku.
"Dan kertas ini, adalah kertas khusus yang tidak bisa ditiru pihak lain. Yahh, ini artinya aku sudah mempercayaimu, tapi jangan buat terlalu banyak masalah." katanya sambil tertawa.
Bagus! Sekarang, aku sudah mendapat benda terpenting di kota ini. Dengan begini, mendirikan sesuatu atau mengeksplore Dungeon akan lebih mudah!
"Ya. Terima kasih atas pengertian anda. Saya juga akan berusaha untuk tidak terlalu menyebabkan banyak masalah." aku tersenyum sambil menerima kertas itu.
Segera aku berdiri, dan mengajak ibu dan Edna.
"Dengan begini, saya pamit undur diri. Saya juga berterima kasih atas surat ini, dan semoga ke depannya semoga kita bisa menjalin kerja sama yang lebih baik." aku mencoba menutup percakapan dengan mengulurkan tangan.
"Ahh, tentu saja. Sebuah kesenangan bagi saya bisa mengenal penyelamat putri saya. Justru saya yang harus berterima kasih." Rice menerima jabatan tanganku.
Dengan begitu, aku keluar dari mansion Rice, dan kembali ke kota bersama kak Edna dan ibu.
"Ren, aku memang tidka mengerti kenapa kamu memilih itu daripada uang tadi. Bukankah uang tadi cukup untuk biaya perjalanan kita?" tanya kak Edna.
Sepertinya kak Edna sudah benar benar berubah ke orang yang realistis, dilihat dari sikapnya.
"Uhmm, seperti yang aku katakan tadi, uang mudah dicari, tapi koneksi sulit didapat. Untuk saat ini memang tidak ada gunanya, tapi di masa depan pasti ada gunanya." jelasku.
Yahh, aku berkeinginan memiliki perusahaan yang bisa menjangkau seluruh negara. Jadi aku harus mampu mendekati beberapa pemimpin dan mendapat rekomendasinya.
Seperti yang aku lakukan dengan Guildmaster kota Cerida dan walikota Furyuun barusan.
"Yahh, aku tidak akan mengerti apa yang kau katakan." kak Edna menggeleng sambil mengangkat kedua tangan nya.
"Ahh, lupakan soal itu, mari kita kembali ke tujuan awal. Ayo kita kunjungi Suzu!" aku membuka [All Map Exploration] berharap menemukan mereka.
Ya! Aku menemukan mereka!
Mereka sedang diam di satu tempat, dan tempat itu cukup aneh, karena itu adalah jalan besar. Tadi aku juga sempat mengeceknya, mereka tetap berada di jalan besar itu setelah beberapa lama.
Apa yang mereka lakukan?