Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 6: Bab 3 - Masa Lalu



"Bertanya? Apa itu? Apakah itu cukup untuk membuat kau repot repot datang ke kamar ku di akhir hari hanya untuk menanyakan hal itu?" tanya Ren sedikit bingung.


Ruly yang mendengar itu hanya tertawa terbahak-bahak.


Ren tidak mengerti, tapi tahu Ruly ada sesuatu yang sedang dia tutup tutupi. Tidak, bukannya ditutup tutupi. Dia hanya akan bertanya, tentang hal yang sangat penting, hingga dia harus bertanya pada Liu Xiu setelah semua orang sudah kembali.


"Yahh, sudah lah. Aku sudah bilang bahwa aku sudah mengenal mu sejak kau masih bayi. Jadi, aku tahu bagaimana kau berbohong." kata Ruly memulai percakapan.


Segera, Ren tahu kemana arah percakapan ini akan berujung. Itu membuat Ren berkeringat dingin.


"Jujur saja padaku, kau berbohong, bukan? Kau tidak sakit atau apa pun itu, kan? Selama ini kau hanya berpura pura sakit, dan berdiam diri di bawah selimut sepanjang hari. Hufft. Ini membingungkan, tapi kenapa kau harus melakukan ini?" tanya Ruly sedikit tidak percaya.


Wajah Ren yang mendengar itu segera menjadi pucat. Badannya bergetar, dan matanya bermain ke sana kemari mencari alasan.


Hanya melihat itu, Ruly tahu bahwa tebakan nya benar.


"Hufft. Sudah kuduga itu benar, bukan?" tanya Ruly sambil sedikit menarik nafas, lelah.


Ren tak kunjung menjawab, hanya diam sambil menunduk. Dia tampak nya benar benar kesal karena dia yang pura pura sakit sudah di ketahui oleh Ruly.


"K-k-ke-kenapa kakak b-bisa tahu?" tanya Ren sedikit tergagap.


Ruly sedikit kasihan setelah melihat walah Ren, dan bersiap menjawab, tapi segera dipotong Ren.


"Itu yang ingin ku katakan, tapi..." wajah murung Ren tiba tiba berubah menjadi seringai licik, yang terlihat puas dengan apa yang dia dapatkan.


"Ting tong! Kak Ruly benar! Aku memang berpura-pura sakit!" teriak Ren dengan ceria.


Terjadi hening sesaat, ketika Ruly hanya menatap Ren dengan tatapan bingung sekaligus tidak percaya. Ruly benar benar tidak bisa berkata kata, hanya bisa melongo sambil memandang Ren dengan wajah penuh pertanyaan tergambar di wajah nya.


"Eh?" tanya Ruly pelan, masih tidak mengerti.


"Ya! Kakak benar, karena aku memang benar, pura pura sakit. Aku memang sengaja membuat beberapa gerakan yang jelas, agar kak Ruly bisa mengerti menghampiri ku secepat mungkin...."


"Tapi beruntung lah kak Ruly cepat mengerti, dan mengikuti rencana ku. Jadi aku bisa melanjutkan semua nya lebih cepat..." cerita Ren panjang lebar.


Dan sejak tadi, ketika tubuh Ren yang bergetar dan bicara nya yang gagap, itu adalah akting Ren.


Ya! Ren hanya berpura pura!


Dia sejak awal ingin meminta tolong pada Ruly untuk menggantikan nya pergi ke Furyuun tanpa diketahui oleh orang lain. Dan jujur saja, Ren sangat senang Ruly busa datang ke kamar nya sore ini.


Tapi melihat kakak nya sangat serius, membuat Ren ingin menggoda dan mempermainkan kakak nya lebih lama lagi.


Ruly masih tidak bisa mengikuti, hanya diam, dan mencoba mencerna kata kata yang dikeluarkan Ren barusan cukup lama dia diam, sampai akhirnya Ren mengangkat alis, sedikit bertahta tanya.


"Hey, kak! Ada apa?" tanya Ren masih berpura-pura bingung.


"Hei, Ren. Apakah kau tadi mempermainkan kakak?" tanya Ruly dengan nada rendah.


"Aku? Ahh, itu pasti hanya khayalan kakak. Yahh, aku hanya sedikit berakting agar kakak percaya padaku, tapi seperti nya aku kelewatan..." bisik Ren ketika melihat mata yang seperti nya bisa memakan nya kapan pun.


Itu adalah mata Ruly, yang marah pada Ren, membuatnya hampir tidak bisa bernafas dengan mencekik Ren di bawah selimut selama beberapa menit!


Setelah itu, Ruly menceramahi Ren lebih dari 30 menit lamanya tanpa henti, yang penuh dengan kata kata pedas yang penuh di setiap kalimat nya, membuat telinga siapa pun yang mendengar nya pasti akan sakit.


Itu terjadi berturut turut, ketika Ruly kesal karena Ren mempermainkan semua orang seperti tanpa dosa.


"...... kau tahu kau salah, bukan? Semua orang mengkhawatirkan mu!"


"Baik." jawab Ren pasrah.


Bukannya sedih, Ren justru senang dengan ini. Dia mengingat hari hari saat dia dimarahi seperti ini, dan ini dia melakukan nya lagi. Dengan kata lain, dia rindu saat ada orang yang memarahi nya, mengingatkan nya sampai se-marah ini.


Karena setelah insiden itu, sosok Ruly yang memarahi nya tidak lagi ada. Jadi keinginan nya untuk bisa merasakan apa yang tidak pernah dia rasakan selama ini muncul mengalahkan pikiran rasional nya.


"Baik, aku mengerti." jawab Ren dengan senyum.


Melihat itu, Ruly hanya mengambil nafas lelah sambil cemberut.


"Tapi wajah mu tidak menunjukkan bahwa kau mengerti... Ahh, sudahlah. Aku akan bilang pada ibu dahulu." kata Ruly sambil bersiap berdiri.


Kali ini, Ren panik. Dia benar benar panik, karena dia terlalu menikmati waktu nya bersama kakak nya, dan melupakan tujuan utama nya dan justru terancam di bongkar rahasia nya!


"Tunggu tunggu tunggu! Sebentar. Ada yang ingin aku bicarakan, kak!" teriak Ren, mencegat Ruly di tengah jalan tiba tiba keluar dari selimut nya.


Ruly sedikit heran, bagaimana Ren bisa secepat itu, tapi dia menarik nafas panjang.


"Hufft. Sebenernya ada apa? Aku tidak ingin membuat ibu semakin khawatir. Lagipula, apa kau benar benar tidak ingin pergi ke Furyuun?" tanya Ruly.


Ren tidak menjawab, dan hanya berjalan pelan, ke arah kasur, dan duduk.


"Aku memiliki beberapa keadaan." kata Ren sambil duduk di kasur.


Ruly yang melihat itu sedikit terkejut, karena di dalam mata adiknya muncul sebuah keseriusan, yang biasanya jarang berada di dalam mata nya. Dan sekarang, Ren mengajak nya duduk, mengajak nya bicara. Berarti ada hal penting yang ingin dia bicarakan.


Dengan pikiran seperti itu, Ruly berjalan pelan menuju tempat dimana Ren duduk, dan duduk di sebelah nya.


"Ada apa? Dulu bahkan kau yang paling bersemangat untuk pergi ke Furyuun. Kata mu, ada beberapa hal yang bisa kau lakukan selama di perjalanan. Tapi kenapa sekarang kau justru menghindari itu, dan menolak pergi?" tanya Ruly dengan wajah bingung.


Ren menarik nafas panjang. Ada banyak hal yang ingin dia ceritakan pada Ruly, tapi dia tahu, dia tidak akan bisa.


Dia ingat, ada peraturan tidak terlihat dunia ini. Dan jika dia melanggar dia akan menaikkan skill [Tabu]. Ren sekarang tidak ingin itu, jadi dia tidak akan menceritakan bahwa dia tahu apa yang akan terjadi kedepannya.


Untuk saat ini, Ren beranggapan bahwa ini adalah mimpi dan kenyataan. Jadi dia berniat menganggap ini mimpi, sekaligus kenyataan juga.


Tapi dia tidak tahu bahwa semakin lama, dia semakin menganggap ini adalah dunia nyata baginya. Padahal itu akan berdampak buruk untuknya.


Dia hanya tidak tahu itu.


"Humm. Ada yang aku pikirkan. Yahh, ada alasan tersendiri kenapa aku tidak ingin berangkat. Jujur saja aku ingin sekali mengunjungi Suzu. Tapi, ada sesuatu yang lebih penting disini, sesuatu yang bahkan aku tidak bisa menyerahkan nya pada orang lain." kata Ren, menjelaskan dengan singkat.


Dia menghindari beberapa hal yang bisa jadi membuatnya mengungkapkan rahasia, jadi dia benar benar berhati hati sekarang.


Sementara itu, Ruly menatap Ren dengan tatapan tajam. Walau begitu, dia tahu bahwa adik nya benar-benar serius. Dia tahu Ren tidak berbuat bermain main soal ini, dan Ruly akan menjawab itu.


"Apakah ada masalah disini?" tanya Ruly.


"Yahh, sedikit."


"Apakah itu soal monster baru yang muncul di sekitar kota?"


"Semacam itu, mungkin?"


"Apakah itu akan membahayakan kota ini?" tanya Ruly berturut turut.


Ren sedikit terdiam untuk pertanyaan terakhir, tapi bagaimana pun, dia harus segera menjawabnya.


"Aku tidak tahu. Intinya, aku tidak bisa meninggalkan kota ini untuk menjenguk Suzu. Setidaknya, aku harus berada di sini dan memastikan semua aman sampai seminggu ke depan." kata Ren menjelaskan.


Terjadi hening sesaat, sampai akhirnya Ruly menarik nafas, tampak lelah.


"Baiklah. Tampak nya ada sesuatu yang kah rencana kan, tapi aku tahu aku tidak bisa menanya kan itu. Yahh, apapun itu, pasti cukup berbahaya untuk bisa membuat mu waspada seperti ini." kata Ruly.


Ren yang mendengar itu tertawa kering, karena sebenarnya ini bukan hanya cukup berbahaya, tapi memang sangat berbahaya.


"Intinya, aku mengandalkan mu, Ren. Tapi jika ada sesuatu, kau bisa menceritakan nya pada kakak. Kakak mu ini paling tidak bisa diberi tugas yang mudah kau tahu!" kata Ruly sambil berdiri, dan mengacak acak rambut putih Ren.


"Ha ha ha. Baiklah. Aku mengerti, kakak." kata Ren dengan tawa datar nya.