
Di suatu tempat di hutan sekitar Li Tian....
ROARRAGGGHH!!!
Suara jeritan mengerikan yang terdengar mengancam, seakan mengaum di dinginnya malam. Siapapun yang mendengarnya, pasti akan berlari, tidak ingin terlihat dengan siapapun, atau apapun itu.
Itu adalah kerumunan monster yang sangat besar, ditengah hutan yang hanya diterangi cahaya bulan.
Di tengah tengahnya berdiri dua orang sosok wanita yang tersenyum senang.
Salah satunya mengayunkan tombak panjang, dengan pedang besar yang menggantung di belakang punggungnya. Satunya lagi menggunakan sebuah buku melayang di hadapannya.
Buku melayang itu tampak seperti sebuah katalis sihir, membuat dia jelas adalah penyihir.
Pembawa tombak adalah seorang Beast, dengan telinga serigala berwarna abu abu muncul dari sebagian kepalanya. Itu yang membuat rambutnya juga berwarna abu abu.
Sang penyihir adalah elf, dengan rambut pirang panjang dengan setelan ungu. Itu menambah keanggunan dan rasa ngeri tersendiri.
Seseorang penyihir ditambah dengan petarung yang memiliki dua pekerjaan, itu adalah sesuatu kombinasi yang luar biasa.
"Hei adikku. Walau kau tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, lebih baik kau menyisakan beberapa untukku. Aku belum cukup berolahraga hari ini." wanita pembawa tombak sedikit menggerutu, dan menggerakkan tombaknya dengan setengah hati.
Walau begitu, monster yang ada di hadapannya dengan mudah menjadi irisan daging, dan hancur segera setelahnya.
"Apa kau bilang, kakak! Kalau begitu, aku menyerahkan pertarungan pada kakak? Tidak bisa! Kakak tidak bisa melihat masa depan, jadi biarkan aku yang melawannya. Kakak bersihkan monster di sekeliling kita!" jawab wanita yang lainnya dengan nada khawatir.
Walau disebut wanita, tapi mereka tidak terlihat berumur cukup tua. Bisa dibilang, mereka baru berumur 17 tahun, tapi mereka sudah dewasa.
"Hufft. Kau ingin aku mengurusi para keroco ini! Huh!! Jangan bercanda!!" teriak si Beast, yang dipanggil kakak.
Cukup aneh bahwa Elf dan Beast ini kakak beradik, tapi mereka memanggil satu sama lain dengan sebutan itu.
Dia terus maju, menghabisi kumpulan monster yang lama kelamaan semakin banyak. Tapi itu bukanlah masalah baginya, karena sekali dia menggerakkan tombak, belasan monster terhapus segera.
"Kakak! Awas!!" teriak si Penyihir sambil melemparkan sebuah sihir pertahanan ke arah kakaknya yang asyik membasmi monster di depan.
Beast itu mendengar jeritan adiknya, dan segera berhenti, melompat mundur sangat jauh.
Kenapa? Karena dia merasakan tanda bahaya!
Sedetik kemudian, tanah yang ada di sana bergetar, dan muncul sebuah rantai dengan warna merah ditambah hitam yang pekat. Tidak hanya satu atau dua meter, tapi diameter lingkaran yang memunculkan rantai itu hingga 20 meter!
Rantai itu mengambil apapun yang ada di atasnya, menjeratnya hingga benar benar tidak bisa bergerak.
Beast yang melihat itu sedikit bergidik, tapi tidak hanya berdiri diam sambil menyaksikan itu. Dia melihat adiknya meneriakkan sesuatu, dan berlari secepat mungkin ke arahnya!
Tombak yang dia pengang sekarang ada di belakang, karena tangannya penuh untuk menggendong elf Penyihir itu.
Dia melompat cepat, dan pergi ke atas pohon, bercokol di atasnya.
Setelah itu, terjadi sesuatu yang mengerikan. Rantai yang tadinya hanya menjerat monster monster yang ada di radius 20 meter, tiba tiba meledak, dan berubah menjadi duri duri yang meledak ke segala arah!!
"Sara! Penghalang!!" teriak Beast itu sambi mengambil pedang dari belakang punggungnya, mengambil posisi bersiap dengan kedua tangan.
"Dimengerti, kak Luna!" jawab si Penyihir.
Dan benar saja. Duri duri yang meledak itu sampai mengarah ke mereka berdua yang sekarang sedang berada di atas pohon, seperti menghujani mereka.
Penghalang yang dipasang Penyihir bernama Sara itu berhasil menangkal peluru peluru seukuran kepalan tangan itu, tapi sepertinya penghalang itu tidak menunjukkan hal baik.
Melihat itu, Sara kembali merapal mantra, dan segera menambah lagi penghalang yang ada.
Berbeda dengan mereka berdua, dunia bagaikan neraka, dengan ledakan dan kehancuran dimana mana. Seluruh hutan yang tadinya hijau dan rimbun, berubah menjadi tanah yang penuh dengan lubang dan bebatuan, membuatnya terlihat seperti permukaan bulan.
Hujan bom itu berlangsung selama beberapa menit, hingga akhirnya serangan tampak mereda.
"Sara! Kau baik baik saja!?" tanya Luna sambil mencoba mengecek keadaan adiknya yang berada di pangkuannya sekarang.
"A-aku tidak apa. Hanya sedikit lelah karena mulutku tidak berhenti merapal mantra." jawab Sara sambil sedikit menggerakkan bibirnya.
Mendengar itu, Luna merasa lega, dan berdiri membiarkan adiknya sedikit beristirahat.
Dia tahu, bahwa itu hanya serangan pembuka. Dan dia juga tahu, serangan sebenarnya baru saja akan dimulai. Dengan itu, dia mengambil tombak yang dia siagakan di punggungnya, dan berjaga jaga di tangan kanannya.
Luna juga menggenggam pedangnya dengan erat di tangan kiri. Jelas, itu bukanlah hal yang mudah, tapi dia bisa melakukannya seperti itu bukanlah masalah.
FWOOSSHHH!!!
Suara kepakan sayap terdengar hebat, dan dari atas muncul sebuah Wyvern, keluarga naga yang turun perlahan.
Tapi yang membuatnya mencolok bukan itu. Ada sebuah bayangan hitam yang melompat turun dari Wyvern itu, dan dia mengarah ke Luna yang masih berjaga.
Bayangan hitam itu jatuh semakin cepat, dan semakin menampakkan bahwa bayangan itu berwujud humanoid, dan menyerang Luna dengan menggunakan pedang dari atas, yang merupakan titik buta nya.
"Gwa ha ha ha!!!" terdengar teriakan gila yang tampak senang, berasal dari atas Luna.
Luna yang sedang mengawasi Wyvern yang turun sedikit terkejut, dan mendongak ke atas hanya untuk mendapati sesosok yang mengarahkan pedang besar ke arahnya dalam jarak 3 meter!
"HHRYAGGHHH!!" Luna berteriak, dan seketika matanya yang awalnya berwarna biru berubah menjadi merah, dan taring serta kuku miliknya tiba tiba memanjang. Itu seperti dia mengaktifkan sebuah skill khusus untuk menaikkan kemampuan fisiknya.
Dia dengan cepat mengayunkan pedang yang ada di tangan kirinya sekuat tenaga, dan menyambut pedang bayangan hitam itu dengan menyilangkan tangan.
Kedua benda tajam itu berbenturan dengan keras, membuat angin sedikit terhempas hanya karena pertemuan keduanya. Tapi beban yang diberikan jauh lebih berat. Kekuatan gila Luna membuatnya tetap berdiri, walau bahkan tanah tidak kuat untuk menahannya.
BOOMM!!!!
Sebuah ledakan besar terjadi sesaat setelah Luna menahan serangan itu, yang mengirimkan sebuah gelombang hancur yang sangat kuat ke seluruh wilayah. Itu bahkan mencongkel beberapa tanah di wilayah itu!!
Sunyi, tidak terdengar apapun. Setelah benturan, masing masing menarik pedangnya, menahan serangan. Walau begitu, yang ada di lapangan itu sekarang hanya debu bekas pertemuan dia pedang tadi.
"Uhuk uhuk.." suara batuk kecil terdengar. Itu adalah suara Sara, yang tidak tahu apa yang terjadi.
Walau dia mampu melihat beberapa detik ke masa depan, tapi dia terlalu fokus pada Wyvern di depannya, hingga tidak tahu bahwa ada masa depan yang lebih menakutkan di hadapannya.
Dia meniupkan sihir angin kecil untuk menyapu debu yang mengelilingi tempat itu, mencoba mengetahui apa yang terjadi.
?!!
"Kakak! Apa? Bagaimana! Kapan? Siapa yang melakukan ini?" tanya Sara dengan bingung.
Terlihat sosok Luna yang terengah-engah, dengan mata merah yang menatap tajam ke arah sebuah kumpulan debu.
Bagi Luna, ini terlihat tidak terlalu berat. Membuat semua orang tahu bahwa kemampuannya benar benar mengerikan. Tapi kualitas pedang yang dia genggam juga sama mengerikannya, karena baru saja menerima serangan tadi tanpa rusak sedikitpun.
Sedangkan Luna, mendapati kakinya sedikit berdarah karena harus tetap berdiri, walau ditekan barusan.
Melihat itu, Sara segera merapal sihir penyembuhan ringan untuk Luna, dan berdiri, menyiapkan katalisnya sambil juga mengamati kumpulan debu yang diperhatikan oleh Luna.
FWOSSHH!!!
Suara kepakan sayap terdengar, dan angin tiba tiba bertiup sangat kencang. Luna hanya meringis dengan itu, sementara Sara mengangkat tangannya sedikit, menghalangi debu agar tidak masuk ke matanya.
Perlahan, sosok mereka yang tertutup debu mulai terlihat. Cahaya bulan juga mulai mengungkap keberadaan mereka, yang tersenyum tenang.
Ada seekor Wyvern, dan dua orang yang ada di sana. Satu duduk di atas Wyvern, dan satu lagi memegang pedang, tersenyum menggurat. Tapi ada sesuatu yang berbeda dengan mereka, yang merupakan ciri khas ras mereka.
"Tidak mungkin!" Sara sedikit membesarkan mata, tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Sementara itu, Luna hanya menguatkan pegangan senjata di tangannya, sambil menatap marah.
Tanduk hitam di atas kepala, dan kulit yang agak gelap di sekujur tubuhnya. Hanya ada satu ras yang memiliki deskripsi seperti itu.
"Ras Demon." bisik Luna pelan sambil menatap tajam.