Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 2: Interlude 3 - Di Kota Furyuun



Ren sudah pergi cukup lama. Itu jelas membuat kebingungan di halaman Adventurer Guild, tapi ricuhnya keadaan saat itu membuatnya itu seperti tidak ada apapun.


Suzu masih syok, mendengar kabar barusan, ditambah dengan kepergian Ren yang tiba tiba.


"Kak Suzu, setidaknya minumlah air terlebih dahulu untuk menenangkan diri." Aina sudah mengambilkan segelas air di meja, sebelah Suzu.


Kurls juga sudah tahu, keadaannya. Dia juga sudah tahu Ren yang tiba tiba berangkat kesana. Sekarang dia berada di luar pintu, menjaga mereka berdua.


Walau begitu, dia juga pastinya merasa sedih karena itu adalah rumahnya.


"Kau tahu? Apa yang terjadi?" Suzu masih linglung bahkan setelah beberapa jam berlalu.


Aina menatap prihatin dengan itu.


("Ini terlalu menyakitkan! Kak Suzu sampai seperti ini. Aku harap tidak terjadi sesuatu yang lebih buruk dengan kak Ren.") Aina membatin


Dia sudah merawat Suzu yang masih syok setelah sekian lama. Tapi dia tidak terlalu berharap atas apa yang terjadi di kota Eldergale.


Seperti yang tadi dia dengar, bahwa serangan yang menyerang kota Eldergale adalah serangan Rank-S. Itu berarti serangan itu bahkan sekelas dengan serangan Naga.


Untuk sebuah kota menerima serangan Naga, itu merupakan hal yang sangat mustahil bagi Aina.


Tapi dia juga memiliki sedikit harapan pada Ren.


(Tapi bagaimanapun, kak Ren masih manusia. Dia mungkin kuat, tapi tidak ada gunanya jika dia terlambat.") Aina masih menggumam dalam hatinya.


Tidak ada yang bisa dia lakukan untuk menghibur Suzu sekarang. Aina juga menyadari itu.


Dia juga menunggu kabar dari beberapa petualang yang bergegas untuk berangkat ke kota Eldergale.


Tapi dia tidak tahan untuk berdiam diri.


("Aku tidak bisa hanya dengan berdiri disini. Aku harus mencari beberapa informasi. Kalau tidak, aku akan menjadi tidak berguna!") Aina mengepalkan tangannya, kesal.


("Aku ingin menjadi berguna, paling tidak. Untuk kak Suzu, untuk kak Ren!") Aina melangkahkan kaki nya keluar ruangan. Bahkan Suzu pun tidak menyadari Aina yang keluar kamar.


Dia bertemu Kurls yang sedang berjaga di depan kamar.


"Paman Kurls, tolong jaga Suzu." Kurls sedang melamin, terkejut oleh sapaan Aina.


"Tapi Aina, mau kemana kamu?" tanya Kurls. Terdengar nada marah, sedih, dan khawatir bercampur dalam suaranya.


Tapi terlihat cahaya di matanya sudah mulai menghilang. Itu menandakan bagaimana dia sudah putus asa dengan ini semua.


"Tenang saja! Aku hanya mencari informasi! Aku juga tidak akan berbuat aneh. Selain itu," Aina berhenti.


"Akan lebih sulit untuk kita jika tidak mengetahui informasi apapun. Apapun itu, mau baik atau buruk, akan lebih mudah bagi yang tersakiti disini untuk mengetahuinya segera." jelas Aina, seperti dia sudah pernah merasakannya sendiri.


"Baiklah. Hati hati di jalan." kata Kurls sambai melambaikan tangan.


Aina melangkah dengan mantap keluar, mencoba berkeliling kota.


Pertama, dia mengunjungi alun alun, dan bertanya pada seluruh orang yang ada di sana.


Tapi jelas tidak akan ada orang yang tahu tentang itu.


"Hufft, bahkan sedikit pun tidak ada yang mengetahuinya. Kalau begitu, bagaimana jika aku menuju Adventurer Guild?" Aina bergumam pelan ketika pikirannya mulai buntu.


Ada sebuah jalan kecil, yang menghubungkan alun alun itu dengan Adventurer Guild. Sayang itu terlalu sepi.


"Huh! Kalau aku tidak mendapat informasi apapun, sepertinya aku terpaksa ke tavern." dia berjalan jalan kecil sambil bersenandung.


?!!


Aina merasakan suatu bahaya dari belakangnya, dan segera melompat ke samping, berguling.


Dan benar saja, beberapa saat kemudian, ada seseorang dengan pisau di belakangnya.


"Boss! Dia bisa menghindar! Apa dia sebenarnya terampil?" orang itu berteriak kepada seseorang yang ada di belakangnya.


Orang yang dia panggil bos, dengan menggunakan penutup bagian wajah. Kemungkinan besar untuk mencegah jati dirinya diketahui orang.


Dia tertawa, lalu mengamati Aina.


"Oh ya? Sepertinya aku menemukan barangku yang hilang!" dari nada bicaranya, terdengar dia sangat senang.


Aina gemetar. Dia benar benar tidak memiliki pengalaman untuk bertarung sedikit pun. Bahkan setelah lama menjadi pembawa barang, Aina masih tidak bisa mempelajari gerakan Adventurer karena dibatasi oleh status "Seal" nya.


Dia benar benar takut. Kembali teringat ketika dia diambil dan dijadikan budak.


Salah satu dari mereka menyergap, mencoba menerkam Aina.


("Bagaimana ini? Aku benar benar tidak bisa bertempur!") Aina hanya menutup mata sambil pasrah, ketika seseorang menangkap tangannya, dan berusaha menariknya.


"Eh? Dia tidak bergerak!" sebuah teriakan membuat Aina terkejut.


Memang dia merasa ada tarikan, tapi dia bisa melawannya.


Dia sedikit demi sedikit mulai membuka matanya. Dilihatnya penculik yang menyerangnya sedang memegang tangannya, dan berusaha keras untuk menariknya.


Sedangkan tangan Aina masih bisa bertahan walau itu masih bergetar.


("Aku? Kenapa aku bisa sekuat ini?") Aina langsung menyadari perubahan yang ada pada tubuhnya.


("Tapi ini adalah kesempatan!!") Aina segera mengambil tangan orang didepannya, lalu dilemparkannya orang itu ke belakang, tempat salah satu dari mereka berada.


Itu adalah pukulan telak.


Walau pun begitu, Aina benar benar tidak tahu apapun tentang memukul.


Kedua penculik itu mengaduh, ketika mereka saling bertabrakan. Sedikit patut dipuji karena dia langsung bangkit setelah dilempar seperti itu.


"Bos! Dia sangat kuat! Kita tidak mungkin melawannya!" teriak salah satunya protes.


"Jangan bodoh! Dia memang kuat, tapi dia tidak memiliki keterampilan, bodoh! Lihat, kalian kepung saja, dan lihat apa akhirnya!" kata bos itu.


Dengan instruksi darinya, mereka berlima mengepung Aina, dan bahkan Aina tidak mampu berpikir untuk saat ini.


("Kalau sudah begini, aku harus lari!") Aina berteriak pada dirinya.


Aina segera berpaling dari keenam orang itu, berusaha melewati celah yang ada.


"Sudah kuduga!" si bos yang dari tadi diam, tiba tiba melesat, menyapu kaki Aina. Aina segera terjatuh, tapi ditahan dengan beberapa pukulan di perut, membuat tubuhnya memutar dan akhirnya dia jatuh dalam posisi terlungkup.


"Seperti menangkap kelinci kecil!" bos itu sudah menahan kedua tangan kecil Aina dengan kakinya. Itu sangat mengesankan, tapi juga kejam.


?!!


Orang dengan penutup muka itu merasakan bahaya, dan segera melompat mundur.


Tapi sepertinya dia terlambat, karena penutup mukanya sudah terbelah, dan menjadi dua ketika jatuh ke tanah.


Pipi bagian kirinya juga terlihat berdarah.


"Oi oi! Hanya untuk menangkap anak ini, kau perlu mengerahkan tenaga sebanyak itu? Apa kau bayi?" seseorang turun dengan tenang, menggunakan benang tipis sehingga terlihat seolah melayang.


"Paman Kurls?!!" Aina berteriak senang ketika dia tahu siapa yang menyelamatkan nya.


Segera dia menoleh ke arah orang bertopeng itu, menghafalkan wajahnya. Tapi, itu adalah kesalahan besar untuk menoleh.


Aina membeku, melihat wajah orang yang ada disana. Trauma masa lalunya kembali datang.


Kurls melihat itu, dan segera mengambil tindakan dengan memasang beberapa benang ke sekeliling musuhnya. Itu jelas sebuah perangkap yang berbahaya. Salah sedikit saja, anggota tubuh akan terpotong!


"Kau tahu apa yang terjadi jika kau maju, bukan?" Kurls mengancam orang orang itu.


"Cih! Kita mundur!" dia mendecak pelan.


"Tapi, kurasa anak itu sudah tahu siapa kita. Benar begitu?" orang bertopeng itu mengambil topeng yang jatuh, lalu melambai ke arah Aina.


Aina bergidik, masih syok.


"Pergi atau aku akan berubah pikiran!!" Kurls berteriak lalu menyiapkan pisau segera.


Musuh tersenyum menggurat, ketika mereka mundur. Kurls terus mengawasi mereka sampai akhirnya mereka semua menghilang dari pandangan. Walau begitu, Aina tetap syok, bahkan masih tidak mampu berdiri.


"Aina! Aina! Apa kau baik baik saja?!" Kurls segera berjongkok, menyembunyikan lagi pisau ditangannya.


Kurls benar benar khawatir dengan Aina, ketika mulai mengangkatnya.


Tapi bagaimanapun, Aina harus mengatakannya.


"Paman Kurls." Aina menarik baju Kurls ketika dia mulai mengangkatnya, menggendong nya.


"Orang itu. Adalah pedagang budak yang dulu!"