
Pagi itu sangat dingin.
Kaki Liu xiu seperti sebatang ranting kering yang sebentar lagi patah. Digerak-gerakkan sekali lagi. Pagi ini membuat sendi-sendi kaki Liu xiu terasa copot semuanya. Kecuali pagi yang dingin, pagi ini juga sangat lelah.
Tapi pagi ini jug amembuat Liu xiu gembira karena telah memenangkan sebuah pertempuran terberat di Hutan Ajaib. Sebuah pertempuran terburuk dari mimpi sekalipun. Pertempuran yang mempertaruhkan segala keahlian Liu xiu.
Liu xiu masih mengayunkan langkah.
“Aku capek,” ucap Ghea sambil memegangi pinggangnya. Dia meringis. Sesekali memegangi kakinya.
Liu xiu menoleh dan tersenyum. Perempuan manis dengan sihir yang sangat kuat ini ternyata bisa capek.
“Kamu beneran capek?’ tanya Liu xiu.
Alpha pun menyambung dengan cepat. “Hehehehe… dia hanya ingin mendapatkan perhatianmu...”
“Perhatian dari seorang penyelamat,” sambar Ghea.
“Aku bukan penyelamat,:” sahut Liu Xiu cepat.
“Kamu memang penyalamat kami,” ucap Alpha lebih tangkas. “Kau telah membebaskah kami dari sebuah kesengsaraan yang begitu dalam. Aku tidak bisa membayangkan andai kata tidak ada kau di sana.”
“Aku setuju dengan Alpha,” sambar Fischia. Tampaknya dari tadi dia hanya ngomong setuju-setuju saja. Apa pun yang diomonghkan oleh Alpha pasti disetujui oleh Ghea. Fischia memang lebih cocok disebut dengan orang yang mengaminkan semua perkataan orang. Pertimbangnnya, daripada mikir panjang,
Alpha pun menoleh ke wajah Ghea, Dia menangguk. Itu berarti Ghea pun menyetujui kalimat Alpha bahwa Liu Xiu adalah penyelamat.
“Dengan segala kemampuanku, aku bukanlah seoarang penyelamat,” ucap Liu Xiu lagi.
“Kalau penyelamat, lantas apa dong namanya?” sambung Fischia dengan tatapan melongo.
“Kalian boleh memanggilku apa saja asal bukan penyelamat. Ada orang lain yang telah menjadi j uru selamat, hehehehe…”
“Kalau begitu, kami akan memanggilmu sebagai Master!” ucap Alpha.
“Setuju!” itu ucap Fischia.
Ucapan setuju itu pun diikuti oleh empat temannya yang lain, Beta, Celica, dan Dain. Selain Alpha yang paling kuat dan Ghea si tukang sihir, ada Fischia yang suka setuju saja dan mendukung orang yang dipercayai.
Ucapan setuju itu mirip sebuah koor.
Begitulah, Beta yang merasa dirinya merupakan penjelamaan dari kekuatan dan tokoh masa lalu itu merasa lahir kembali dengan kehadiran Liu Xiu. Dia merasa sudah bertemu dengan Liu Xiu di sebuah kehidupan sebelumnya, Entah kehidupan yang mana. Dia, sang Liu Xiu, yang memiliki kemampuan melebihi dia sehingga dia bisa selamat dari tempat terkutuk di Hutan Ajaib itu.
“Aku merasa sebutan Master untuk Liu Xiu sangat cocok, “ sambung Beta sekali lagi. “Kalau tidak mau, kau akan kusihir menjadi dewa Zeus, hahahahaha…”
“Dewa Zeus masih tidur,” sambung Liu Xiu.
Ucapannya makin membuat ngakak yang lain.
Tak kalah dengan yang lalin, Celica pun langsung mengangkat tangan. “AKu yang selama ini jarang bicara, aku akan menyebut Liu Xiu sebagai master.”: Celica ini selalu punya cara yang tepat untuk memperlihatkan dirinya sebagai orang yang cerdas. Dia selalu menggunakan kalimat-kalimat yang jelas dan argumentasi yang mengundang decak kagum.
“Fakta bahwa Liu Xiu telah menyelamat kami bertujuh dari monster yang menakutkan itu. Fakta juga, kami bisa berada di sini untuk saling mengenal dari saling memperkuat. Ini jelas akan membawa kita pada kekuatan yang sesungguhnya.
Fichia hanya melongo mendengar Celica. Lagi pula, Fichia tadi sudah setuju. Padahal dia mau bilang setuju untuk kesekian kali.’
“Alasan Celica masuk akal, jadi aku mohon Liu Xiu bersedia disebut dengan Master,” ucap Dain akhirnya. Selamaini dia memang pendiam alias tidak banyak bicara. Seperti gong. Kalau ktidakdipukul maka dia tidak bunyi. Tapi jangan ditanya soal pertempuran. Dialah orang yang sangat gigih menghabisi anak buah setan-setan jahat itu. Sungguh dia pantas menjadi sorang pembunuh berdarah dingin.
“Bagaimana?” Mereka tiba-tiba sudah berada di depan Liu Xiu sepetri menghadang langkahnya.
Liu Xiu menghela napas perlahan.
“Berilah kami kesempaptan untuk memanggilmu master.”
Dahi Liu Xiu mengernyit.
“Master.”
Liu Xiu pun menarik napas sekali lagi,. Dia melihat ke sekeliling, Hanya pepohoan yang bergerak perlahan ditiup angin. Buruk jaklak yang hinggap di ranting pohon angsana pun berlari saat sorot mata Liu Xiu menerobos dahan ke arahnya.
Hening sejenak.
“Baiklah, aku bersedia.”
Jreng jreng jreng
“Terima kasih, Master.”
Mereka bertujuh meneukuh lutut setengah berjongkok.
“Jangan begitu,” ucap Liu Xiu lagi,. “Berdirilah kalian. Aku suka kita berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Meskin kalian memanggilku master, tetapi bukan berarti aku akan menyomboingkan diri di depan kalian.”
“Tidak, Master.”
“Master adalah penyelamat kami”
“Penyelamat dari kegelapan.”
“Master yang membawa kami turut serta untuk pergi dari kesengsaraan yang tiada akhir.”
Mereka perlahan-lahan berdiri.
Liu Xiu kemudian menepuk pundak Alpha. “Kita lanjutkan perjalanan,” sergah Liu Xiu.
“Kita lanjutkan perjalanan,” ulang Alpha seraya bangkit dari posisi setengah berjongkok. Dibenarkan cara berdirinya dari segera melangkah.
Tiba terdengar suara berisik tak jauh dari tempat mereka berdiri. Ada dahan pendek yang berayun-ayun. Dedaunan bergerak cepat.
“Ada sesuatu di sana!” Ghea menunjuk ke tempat asal suara.
Apakah monster itu datang lagi dari Hutan Ajaib? Apakah monster itu akan mengajak pertarungan untuk ke sekian kali? Apamah lolos dari Hutan Ajaib itu hanya sebuah intermeso dan dia akan dibantai di sini? Inikah akhir dari sebuah perjalananan?
Suara berisi itu menjauh.
“Tampaknya bukan orang, tapi makhluk,” ucap Alpha kemudian. Dia menajamkan pandangan ke arah asal suara.
“Iya, setuju,” ucap Fischia.
Kemudian terdengar suara grh…grh … grh….
Kemudian Alpha pun melompat mendekati asal suara. Diambilnya ranting kayu yang tajam. Kakinya yang lincah pun menaiki satu batang pohon asam. Kaki kanan langsung melombat ke atas dan melesat ke arah asal suara seperti peluru.
Gerakannya meninggalkan suara berdesing bagaikan gasing yang sedang bergerak sangat cepat.
Celica hanya mengamati dari tempatnya berdiri. Tangannya sudh menggenggam. Itu artinya dia sedang bersiap-siap untuk melakukan sesuatu jika terjadi apa-apa.
Demikian pula yang dilakukan oleh Beta. Eina sudah mempersiapkan sihirnya dengan rapal mantra yang sudah diujung lidah.
Sementara itu Liu Xiu hanya mengedarkan mata sekeliling. Dia tampak santai tapi waspada dengan sorot matanya yang mengitari seluruh penjuru.
Tangannya hanya membenarkan kancing bajunya. Langkahnya sama sekali tidak berhenti. Seperti dia akan tau apa yang akan terjadi.