Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 6: Bab 2 - Memulai Perubahan



"Aku pikir ini seharusnya sempurna, bukan?" tanya Ren pelan, sambil menarik nafas panjang, menyentuh kan dahi nya ke tembok tempat dia menuliskan semua rencana nya.


"Aku..." Ren mulai berbisik. Suaranya juga bergetar, sepertinya tidak tahan lagi.


"Aku tidak ingin lagi kehilangan mereka. Walau ini mimpi, akan sangat menyakitkan bagiku jika aku harus melihat mereka mati sekali lagi." kata Ren sambil memukul tembok, sedikit kesal.


Ren menghabiskan sedikit waktu nya untuk memikirkan beberapa hal, dan membuat dirinya kembali tenang, agar dirinya bisa berpikir positif lagi.


"Baiklah. Mulai hari ini, aku akan memulai rencana pertama!" teriak Ren yakin.


Dia melangkah keluar dari gubuk kecil nya, dan mendapati di luar masih cukup gelap. Tidak, ini masih dini hari, jelas matahari belum muncul. Ada banyak burung burung malam yang masih bersahutan silih berganti.


"Humm... Dulu aku merasa sangat dingin di pagi hari, tapi sekarang tidak. Tampaknya adaptasi tubuh ku mengikuti tubuh yang dulu, kah?" tanya Ren, dengan wajah senang.


Dengan begitu, dia segera berlari ke mansion Larvest, kembali ke kamarnya.


Dia ingat, dia harus kembali ke kamar sebelum orang tua nya mengecek keadaan nya. Kalau tidak ini bisa jadi masalah besar, karena sejak awal Ren adalah manusia. Jadi keluar pun sulit.


Dan kamarnya ini terhubung dengan perpustakaan, jadi Ren tidak akan merasa bosan walau terus berada di dalam rumah.


Terkadang, dia juga menerima latihan dari Ruly, tapi dengan kemampuan nya yang sekarang, seperti nya itu tidak dibutuhkan lagi.


Dengan begitu, Ren bisa bergerak untuk melaksanakan rencana nya dengan leluasa.


Yang jadi masalah, dia harus pergi ke Furyuun untuk menjenguk Suzu di sana. Untuk masalah itu, dia akan meminta tolong pada Ruly untuk menggantikan nya. Dengan begitu, Ren bisa lebih fokus untuk mencegah bencana di sini.


Ren tidak terlalu memperhitungkan Bors, saudaranya. Tapi dia sudah membuat beberapa rencana jika dia ikut campur.


Tok tok!


Suara pintu terketuk saat Ren sudah cukup lama sampai di kamarnya, dan masuk ke dalam selimut nya. Melihat jendela, itu seperti nya sudah pagi, jadi Ren bisa menebak siapa yang datang pagi pagi seperti ini.


"Ren. Bangunlah! Sudah pagi. Kau harus bersiap siap untuk pergi hari ini!" kata suara wanita itu dengan lembut.


Wanita itu duduk di kasur Ren, sedikit menepuk nepuk pipi nya.


("Suara ini, ibu....") Ren segera teringat tentang Liontin biru yang dia berikan pada ibu nya untuk hadiah, yang merupakan peninggalan terakhir milik nya.


Ingin rasa nya Ren segera memeluk ibu nya dan mengungkapkan rasa rindu yang mendalam seperti saat dia memeluk Syila, tapi jelas yang sekarang tidak bisa semudah itu.


Kenapa? Karena dia ada rencana untuk dia lakukan.


"Eh, Ren?! Kau? Badan mu! Kenapa kau panas sekali? Apakah kau demam? Badan mu juga menggigil! Ah uh, apa yang terjadi?! Pelayan! Pelayan!!" suara ibu Ren terdengar panik memanggil manggil pelayan untuk segera datang ke kamar Ren.


"I-ibu..." rintih Ren pelan, berusaha pelan membuka matanya.


"Ya ya ya?! Kenapa? Apa yang sakit? Tolong tahan ya, ibu sedang memanggilkan pelayan kemari, jadi tunggu ya." kata ibu nya dengan nada khawatir.


Tangan Nina, ibu angkat Ren mengelus pipi nya lembut, berusaha menenangkan Ren.


("Ahh, ini tangan ibu. Ini benar benar tangan nya. Aku ingin ini berjalan lebih lama...") bisik hati Ren, membuat Ren sedikit menggerakkan kepala nya, menepatkan tangan ibu nya agar tepat di pipi nya.


Tapi tepat setelah itu, Nina berlari keluar kamar, sepertinya tidak sabar dengan pelayan nya yang tak kunjung tiba.


"Ahh, dia terlalu khawatir, jadi seperti itu..." kata Ren sambil terbangun sambil sedikit menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya.


"Tapi itu memang seperti ibu sekali. Dia benar benar khawatir dengan ku." kata Ren sambil tersenyum lembut.


Ren mencoba mencari tahu, apakah sihir yang dia buat tadi sudah berlaku dengan baik atau belum. Dengan begitu, Ren mencoba sedikit menyentuh dahi nya.


"Uwahh, jika aku sepanas ini, sudah jelas ibu akan panik, bukan?" tanya Ren sedikit tertawa.


Dia lantas menurunkan suhu yang melapisi tubuhnya, membuat dahinya turun sedikit.


Sebenar nya apa yang dia lakukan untuk mengubah suhu tubuh nya?


Ren ingat, bahwa kemampuan sihir nya di masa ini, masih sangat baik. Ditambah dengan pemahaman sihir nya yang satu tingkat lebih maju, Ren yang sekarang bisa membuat sihir dengan lebih baik dan lebih efisien.


Dengan begitu, membuat lapisan udara panas untuk mengubah suhu tubuh nya hanyalah hal mudah bagi Ren yang sekarang.


"Baiklah sekarang, aku akan berusaha untuk terlihat sakit selama beberapa hari sampai kak Ruly berangkat. Setelah itu, aku akan benar benar bebas." kata Ren sambil sedikit tersenyum licik.


Terdengar langkah kaki yang datang tergopoh-gopoh ke ruangan itu. Cukup ramai yang datang, jadi Ren segera kembali ke bawah selimut.


"Kemari kemari! Cepat periksa anakku!" teriak Nina, ibu Ren dengan khawatir.


("Aku memang kasihan dengan ibu yang terlihat benar benar khawatir dengan keadaan ku, tapi maaf kan aku! Aku harus melakukan ini.") kata Ren dalam hati, meminta maaf.


Beberapa orang datang berturut turut memeriksa Ren.


Bagaimana pun, pengetahuan Ren tantang kesehatan lebih tinggi. Jadi meniru gejala orang demam adalah hal yang mudah bagi nya.


"Ibu..." bisik Ren pelan, sedikit merintih pada Nina agar menambah kesan dramatis.


"Tenang saja, Ren. Kamu pasti akan sembuh. Ibu akan mencari obat yang ampuh untuk demam. Sekarang, istirahat lah." jawab Nina, lagi lagi mengelus kepala Ren.


Itu membuat Ren tersenyum pelan, sambil mengangguk, lantas menutup mata.


("Ahh, ibu. Kau terlalu dramatis. Tapi aku menyukai sisi mu yang seperti itu.") kata Ren dalam hatinya.


Saat Ren berpura-pura tidur, orang orang yang ada di dalam segera pergi, begitu juga dengan Nina. Nina ingin memberi tahu kan ini pada Ayah Ren, Roy Larvest. Tidak hanya itu, dia juga meminta pada Ruly untuk menggantikan Ren agar bisa menjenguk Suzu.


Karena itu, kereta kuda yang sudah disiapkan hari ini akhirnya kembali, dan menyiapkan semuanya untuk besok.


Ruly sedikit enggan, karena memperdulikan perasaan Suzu, yang sudah cukup lama tidak bertemu dengan Ren tapi justru tidak bertemu dengan nya.


Namun, setelah mengetahui kondisi Ren dari Nina, Ruly mengangguk, dan menyetujui itu.


Selain itu, Ruly juga sangat peduli dengan ibu nya, sehingga ketika melihat ibu nya berlari dengan panik, Ruly akhirnya menyerah.


Selama sepanjang hari, ada banyak orang yang silih berganti menjenguk Ren. Tapi Ren berusaha tetap diam, di atas tempat tidur, terkadang menyapa orang orang yang datang, atau menghabiskan waktu untuk tidur.


Memang, Ren sempat berpikir: "Apakah aku ada waktu luang untuk melakukan semua ini?" begitu. Tapi dia tetap menahan diri, agar rencana yang sudah dia buat berhasil.


Selain itu, dia yang tidak bisa tidur, secara diam diam membuat Zadkiel beserta peluru nya di bawah kasurnya, untuk menghabiskan sihir dan membuat dirinya sendiri pingsan kehabisan Fehl. Aneh, memang. Tapi dia akan membutuhkan itu nanti.


Sore nya, orang orang sudah selesai menjenguk Ren, membuat keadaan kamar menjadi sepi.


"Hufft. Berbaring terus seperti ini benar benar membuat ku lelah. Aku sangat ingin menggunakan sihir alam, karena sudah sekian lama sejak aku menggunakan sihir. Jadi aku sangat kangen dengan perasaan mengeluarkan sihir ini." kata Ren dengan riang, menengadahkan tangan nya ke atas.


Memang, semenjak kekuatan sihir alam nya disegel oleh Kei, Ren sangat menahan diri untuk tidak menggunakan skill, apa lagi sihir.


Tidak, Ren berpikir bahwa sihir nya disegel Kei, karena dia tidak pernah tahu, bahwa yang disegel hanyalah kemampuan Ren mengendalikan beberapa elemen, bukan kemampuan sihir Ren.


Itulah kenapa dia sedikit berhenti berkembang pada sihir nya.


Tok Tok tok!


Terdengar ketikan pintu berulang.


("Humm? Ku kira hampir semua orang sudah berkunjung hari ini. Siapa. Bors? Tidak, itu tidak mungkin. Dia sama sekali tidak peduli dengan ku. Kalau dia datang kemari, mungkin dia hanya datang untuk membunuh ku.") kata hati Ren bertanya tanya.


Tapi Ren hanya diam, sambil menyembunyikan diri nya di balik selimut, lagi lagi.


Walau begitu, dia benar benar waspada sekarang, kalau kalau yang datang bukanlah tamu yang diundang.


Tap tap tap...


Suara langkah kaki datang mendekat. Ren tahu, dari langkah kaki nya, itu lebih tua dari nya. Tapi, dia memiliki berat kurang lebih mirip dengan Ruly atau Edna?


Ren sedikit membuka mata nya, mendapati sebuah siluet seorang wanita, yang Ren kenal wajah nya.


"Ugh, Ren. Apa yang kau lakukan? Jangan pura pura tidur! Bangunlah, aku tahu kau sudah mewaspadai ku." kata sosok itu, sambil menepuk kasur tempat Ren tertidur.


Mendengar itu, Ren tersenyum.


Hanya ada satu orang yang memanggilnya dengan nada seperti itu. Dan juga, suara orang itu juga terdengar familiar di telinga nya.


"Hufft. Aku kira aku sudah terlihat tidur dengan sangat baik, bukan?" tanya Ren sambil nyengir, membuka mata nya.


Ruly melihat itu hanya menggelengkan kepala, tidak percaya adik nya bisa se licik itu.


"Kau tahu? Aku sudah mengenal mu sejak kau baru sebesar labu. Jelas aku sudah tahu semua akal licik mu itu. Yahh, aku juga bukan ibu atau ayah yang mudah dibodohi oleh seorang anak yang berbahaya seperti mu." kata Ruly sedikit bercanda.


"Bruh.... Jangan panggil aku berbahaya, kak Ruly. Itu sedikit menyakitkan, bahkan jika kau mengatakan nya pada ku sekali pun. Hiks hiks..." jawab Ren sambil berpura-pura menangis.


"Ahh, baiklah baiklah. Aku minta maaf." tanggal Ruly segera.


Ren yang mendengar nya hanya terkikik, terdengar puas dengan itu.


"Jadi... Ada apa kak? Kenapa kau masuk kemari saat sore hari seperti ini? Bukankah kakak sudah sempat menjenguk ku tadi? Ahh, jangan bilang, kakak sangat khawatir dengan keadaan ku hingga kemari untuk mengecek ku lagi? Fu fu fu..." kata Ren memecah keheningan, sambil sedikit menggoda Ruly.


"Bukan begitu, bodoh!" jawab Ruly sedikit kesal, seraya memberi sebuah kepalan tangan ke arah kepala Ren.


Ren terkena hadiah tangan itu, dan sedikit mengaduh karena nya.


"Aku kemari cuma ingin bertanya..." Ruly kini menutup mata, sambil menyilangkan kedua tangannya.


"Bertanya? Apa itu? Apakah itu cukup untuk membuat kai repot repot datang ke kamar ku di akhir hari hanya untuk menanyakan hal itu?" tanya Ren sedikit bingung.