
"HAAAHHHHH!!!!!!!" terdengsr suara teriakan keras, yang melengking tinggi.
Itu adalah suara Edna yang menangis marah di pelukan Ren, tapi masih terus memukul mukul tanah yang dia pijak.
Edna mengingat hari dimana mereka bertiga berjalan-jalan mengitari Ibukota, dan membeli Liontin itu sebagai hadiah dari Ren. Edna mengingat itu semua, dan melihat Liontin itu terpasang di dada monster itu membuatnya hancur.
Ren hanya diam, menatap langit dengan tatapan kosong. Dia sudah menduga ini, tapi dia mengabaikannya.
"Gereja? Ini berarti Gereja yang melakukan ini semua, bukan?!" Edna berteriak, berusaha bangun. Tapi Ren masih menahannya di pelukannya, mencegah Edna melakukan sesuatu yang ceroboh.
"Lepaskan aku, Ren!" teriak Edna marah.
Itu semua terdengar hingga ke telinga Seven Knights, membuat mereka berkumpul sesaat.
"Apa yang mereka lakukan?" tanya Rian, si Assasin.
"Entah? Tapi, coba lihat itu! Monster itu benar benar melemah loh!! Ayo kita bunuh dia saja! Kita bisa mendapat penghargaan dengan itu!!" usul si perempuan berjubah.
Yang lainnya juga memiliki wajah yang berharap banyak, dan menatap Alford.
("Ya! Ini adalah kesempatan bagus.Aku juga bisa sekalian menyingkirkan nya, bukan? Anggap saja dia sudah terkontaminasi oleh kekuatan jahat monster itu. Aku juga akan mendapat tambahan untuk itu!") Alford mendapat sebuah ide.
"Semuanya!! Aku tahu sekarang asal kekuatannya!" teriakkan Alford menggema. Itu juga didengar oleh Edna dan juga Ren disana.
"Dia sudah dirasuki oleh monster itu! Oleh karena itu dia bisa menjadi sekuat itu! Selain itu, dia sejak awal menjaga jarak dengan kita semua! Itu berarti dia takut dengan kekuatan kita!!"
Teriakan Alford yang penuh wibawa menggema. Itu menaikkan semangat teman temannya, tapi menaikkan amarah Edna.
"Mereka adalah orang-orang Gereja, kah?" tanya Ren pelan mulai menyadarinya.
Itu membuat Edna berhenti berkutat dengan Ren, tapi matanya membulat marah.
"Mereka semua!!" Edna berteriak marah, lalu memaksa berdiri dan meneriakkan beberapa sihir seketika.
Kemampuan khusus yang dimiliki Elf adalah menghilangkan waktu jeda pengaktifan dan mempercepat sihir yang dikeluarkan. Itu hanya dapat di aktifkan saat seorang Elf merasakan emosi ke tingkat yang tinggi.
Dan sekarang, Edna sudah memenuhi segala kondisi itu.
Kemampuan sihirnya meningkat sangat jauh dengan skill khusus Ras miliknya. Dengan itu, Edna tidak lagi melancarkan serangan es dan cahaya.
"[Wind Cutter], [Water sword], dan [Punishment]!!!"
"Tanpa rapalan?!! Selain itu, jumlah apa itu?!!" teriak perempuan mage di tim Seven Knights itu.
Sementara itu, angin yang tajam terbang mengarah mereka bertujuh dengan kecepatan tinggi, membuat tank mereka segera menaruh perisai nya di depan, dan meneriakkan semua skill nya.
"Tino! Berjuanglah!!" pemegang tombak memberi semangat kepada tank, Tino.
Walau begitu, serangan Edna tidak hanya dari depan. Mereka sedikit melupakan serangan Edna yang lain. Dari samping, belasan pedang air segera datang untuk menyerbu mereka tanpa ampun.
"[Cover]!!" teriak Tino masih mencoba bertahan menbentuk beberapa perisai transparan di sekeliling.
Tapi tidak hanya itu, Edna sudah menyiapkan puluhan yang dibentuk menjadi beberapa cermin cekung dan cembung. Di atasnya ada cahaya yang sudah dibuatnya.
Itu adalah kemampuan Edna yang diajarkan oleh Ren dulu, [Punishment]. Itu mirip seperti milik Alford, tapi dengan daya tembak dan jarak yang lebih luas.
Kalau diibaratkan, itu adalah versi kecil dari [Punishment] milik Ren.
"HRAHAGHHG!!!" Edna masih berteriak marah ketika menghujankan hampir semua MP nya untuk beberapa serangan tadi.
Serangan Edna masih berlanjut, sampai tempat itu berubah dan tertutup dengan debu tebal.
"Luar biasa! Benar benar luar biasa! Aku tidak pernah menduga bahwa Elf itu bisa membantai mereka sendirian!" Kei berteriak sambil menepuk nepuk kakinya ketika mengawasi pertarungan itu.
Cilia hanya tercengang, tidak menduga bahwa itu benar benar akan terjadi.
"Bagaimana mungkin, Master?" Cikia tidak bisa tidak bertanya.
"Yahh, dia memang berbakat. Tapi setelah ini, Seven Knights akan menunjukkan wajah asli mereka. Dan saat itulah, kau akan tahu kenapa aku mengatakan kekuatan Ren jauh di nalar dunia ini." jawab Kei dengan misterius.
Cilia kembali menangguk, sambil melihat Ren yang mulai berdiri, dan berjalan ke arah Edna.
?!!
Edna terkejut karena tangan yang memegangnya sangat dingin. Bahkan lebih dingin daripada es. Hanya dipegang olehnya, sudah cukup untuk membuat tangan menjadi sakit.
"Maaf." sepertinya Ren mengerti ketika melihat tangan Edna yang mulai mengeluarkan bunga es.
BOFF!!!
Puluhan bola api raksasa, dan ribuan panah, pedang, dan petir mulai muncul dari balik asap itu.
Di balik itu, ada 7 orang yang melayang tenang dengan sebuah plat sihir di bawah mereka. Dan yang mengendalikan plat sihir itu adalah Alford.
"HA HA HA!! Ini adalah perbedaan kita! Kami selalu menyimpan kekuatan kami yang sebenarnya, tahu!!" teriak perempuan mage sambil melayang dengan tangan di atas, mengendalikan puluhan bola api itu.
Edna jelas terkejut melihat itu. Tapi yang membuatnya terkejut bukanlah semua sihir dan kemampuan itu.
Bahkan Cilia yang berada di atas juga terkejut dengan itu semua.
"Me-mereka?!!" Edna mundur selangkah, merasa takut.
"Mereka adalah monster?!!" Cilia justru yang melanjutkan teriakan Edna.
"Kau benar. Seven Knights saat ini adalah percobaan yang berhasil dari Gereja, dan ingatan mereka dimanipulasi sedemikian rupa. Dan jadilah mereka seperti sekarang. Untuk produk gagal nya, itu adalah monster hitam yang sekarang." jelas Kei sambil mulai berdiri.
"Baiklah, Cilia. Sepertinya giliran kita akan datang." Kei menengadahkan tangan kanannya, dan tiba tiba tombak hijau muncul dari sana.
Tapi memang benar.
Penampilan Seven Knights sekarang bukanlah sesuatu yang Agung, melainkan sesuatu yang mengerikan.
Kulit mereka lepas, digantikan dengan benda hitam yang mirip dengan mosnter itu. Dan juga, di berbagai bagian masing masing tubuh mereka, ada sesuatu yang bersinar terang.
Semua status milik mereka meningkat, bahkan jauh melebihi Edna yang barusan menekan mereka.
"Betapa mana yang mengerikan!" Edna mulai terduduk menyaksikan pemandangan ini.
"HAHAHHA!! Kau takut?!! Ini baru permulaan!! Sebagai permulaaan, kami akan melemparkan beberapa sihir untuk salam." sekarang Alford dengan wajah yang sedang dibuat ulang dengan benda hitam itu berbicara.
"Berisik." Ren menggumam pelan.
Itu benar bahwa pemandangan yang mengerikan sekaligus menjijikkan untuk dipandang.
Tapi-
WHOSSSHHH!!!!
Puluhan bola api raksasa mulai terbang ke arah Ren dan Edna. Tentu, monster hitam yang merupakan jelmaan dari ibu Ren juga.
"Menangislah!! Tapi kami tidak akan berhenti dengan itu saja, lohh!!" teriak Alford lagi.
Ren mengatupkan gigi mendengar itu, tapi dari nada giginya dia terdengar kesal.
GRROOOAHGGGGHHHH!!!!!
Muncul seekor naga es dengan bentuk ular raksasa yang menari bagaikan penari yang bergerak di angkasa. Dia meliuk liuk dan memakan bola bola api itu, dan dengan mudah memakannya.
Setelah semua bola api itu hilang, itu kembali ke tanah dan menghilang menjadi salju.
"A-apa?!!" suara itu hampir diucapkan oleh semua orang yang melihat itu. Bahkan Kei juga sampai tidak bisa berkata kata, dan hanya terdiam melongo melihat itu.
Udara mulai berubah di sekitar Ren, ketika angin dingin mulai berhembus, dan salju mulai mengelilingi Ren selama beberapa detik.
Hanya dengan beberapa detik yang singkat itu, Ren sudah berubah dengan topeng kecil di kepala sebelah kanannya. Ini berbeda dengan kutukan [Wrath] miliknya. Tapi itu terlihat jauh lebih berbahaya dari sebelumnya.
"Bagaimana mungkin?!!!" Celia setengah berteriak menonton itu.
Sedangkan Kei, dia tertawa terbahak bahak, tapi tetap itu tidak menyembunyikan wajah terkejutnya sekarang.
"Iblis putih, kah? Aku tidak menyangka akan melihatnya dengan mataku sendiri! Ini benar benar keajaiban yang menarik!!" kata Kei senang.