
Ren dengan segera waspada dengan gundukan pasir yang naik itu. Namun, tampaknya lawan yang ada di hadapannya tidak membiarkan itu terjadi begitu saja.
Sebuah pilar dari tanah naik, dari salah satu gundukan pasir, segera menyerang Ren dengan batu tajamnya.
"Cih!!" Ren mendecak pelan, ketika baru batu bagaikan ular itu datang, menyabetkan tubuh panjangnya itu ke Ren, berusaha ******* tubuh kecil Ren menjadi daging cincang.
Tentu, menghindarinya adalah masalah yang mudah. Tapi yang menyulitkan adalah, di belakang Ren ada ayahnya dan Edna. Dia tidak mungkin menghindari itu, dan hanya bisa menerima serangannya.
BBOFFF!!!
Suara ledakan muncul dari benturan keras antara ular batu itu, dengan Ren yang menghasilkan debu yang menutupi pandangan.
Sosok yang mengeluarkan sihir tadi terdiam, menunggu Ren sambil tersenyum.
"Berhentilah bermain petak umpet. Tidak mungkin kau mati hanya karena ini, bukan?" tanya sosok itu sambil mulai turun, menapakkan kaki nya ke tanah.
Wooshh...
Sebuah angin datang dengan keras dari arah kabut yang dihasilkan dari debu tadi. Dan di sana, terlihat Ren yang mengayunkan pedang besar, yang tadinya dipegang Roy di tangannya.
Pelipisnya sedikit berdarah, nafasnya juga terengah engah.
Itu karena dalam waktu singkat tadi, Ren mengeluarkan sihir penghalang yang terbuat dari elemen angin, dan dengan segera meledakkan ular batu itu menjadi serpihan kecil. Tapi tetap, dia harus menjadi tembok bagi orang orang di belakangnya, membuatnya terkena beberapa serangan kecil.
Menimbang lawan yang ada di hadapannya, Ren tahu bahwa dia harus menghemat Fehl yang dia punya. Dengan begitu, dia mengambil pedang besar milik ayahnya.
GGROOOOOO!!!
Sebuah gundukan pasir mulai runtuh karena getaran, membuat semua orang segera menoleh ke arah itu.
Dari sana, muncul seorang pria elf yang terlihat cukup tua, tapi perawakannya tinggi dan tegap.
"Jangan bilang...." Ren membelalak kan mata, terkejut.
"Ahh... Ada apa dengan pasir pasir ini? Ini sangat mengganggu, serius. Tapi beruntung, tempat pengungsian ternyata jauh lebih kuat yang aku kira." kata sosok yang keluar dari gundukan itu.
Di belakangnya, ada beberapa sosok wanita dan anak anak, tapi yang paling menonjol adalah dua sosok wanita yang ada di depan, dan gadis muda di belakang pria itu.
"Paman Childe?!! Ibu?!!" teriak Ren tidak percaya.
"Ohh! Bukanlah itu Ren, kah?" sahut pria itu, yang tak lain adalah Childe sambil melambaikan tangan.
"Umm... Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi sepertinya ini adalah masalah darurat, bukan?" sambungnya.
?!!
BOMMM!!!
Sebuah ledakan besar muncul seketika di hadapan Childe dan para pengungsi lain, yang membuat mereka mundur sesaat.
Hanya dua orang yang bergerak di sana, hanya Ren dan sosok pemuda yang ada di depannya, sedang mengacungkan tangan di tempat yang sama.
Ren tersenyum pelan, sambil menunduk. Dia berlajan maju, dengan pedang besar yang ada di tangannya.
("Benar. Aku sudah sampai sejauh ini. Aku kira aku sudah kehilangan semuanya. Tapi ternyata aku salah.") kata hati Ren mulai berbicara.
("Aku masih bisa memperbaiki ini, jika aku berhasil saat ini. Hanya satu rintangan lagi. Hanya satu. Aku pasti akan melewati rintangan ini, dan menentukan masa depan!") lanjut Ren dengan keras di hati nya.
"Ya! Dengan ini, aku akan mengubah masa lalu dan menuliskan masa depan!!" teriak Ren dengan yakin.
Mata Ren kini terbuka lebar, memancarkan cahaya harapan yang sekarang muncul di depan matanya.
Ren sempat berfikir menyerah ketika melihat kota ini rata dengan tanah, tidak. Bahkan menjadi debu seperti ini. Tapi setelah melihat sekeliling nya, bahwa orang orang yang ingin dia lindungi, orang orang yang dia sayangi masih ada di sisinya, dia tahu bahwa ini belum berakhir.
Dan dia memutuskan untuk terus menerjang, berusaha untuk merubah masa depan hingga akhir.
"Aku, Ren Larvest! Di sini, aku menantang kau untuk duel satu lawan satu hingga mati! Jika kau berani, Terima lah duel ku dan bertarunglah dengan ku! Persetan dengan apakah kau kuat atau apapun itu!!" Ucap Ren dengan yakin.
"Hohhh..... Menarik." jawab pemuda di depannya.
"Kalau begitu....." sosok itu melangkahkan kakinya ke depan, dan dengan segera semua pasir yang ada di kakinya menghilang, tertiup angin bagaikan berlarian menyelamatkan diri.
Dan di saat yang sama, pemuda itu memberikan tekanan kuat sambil tersenyum, yang cukup untuk membuat semua orang, bahkan Gordo dan Dela pun meringis jarena tekanan yang diberikan.
Hanya Ren, yang terlihat sedikit berkeringat, tapi masih bisa berdiri dengan pedang besar di tangan kanannya.
"Baiklah. Aku Terima "duel" mu itu. Yahh, aku disini hanya bersenang senang, jadi tidak ada kemungkinan terkecil bahkan jika jutaan kali itu diulang, bahwa aku akan kalah, tapi baiklah." kayanya tersenyum.
"Kau memang cukup berani, bukan? Aku kira kau akan menolak dan menyuruh anak buahmu untuk menyerang ju bersamaan, bukan?" jawab Ren balas tersenyum.
"Ha ha ha! Itu hanya merusak kesenangan ku. Jika mereka berani menyerang mu, aku akan membunuh mereka dengan segera."
"Kalau begitu, bisakah kita mulai? Ah, ngomong ngomong, bisakah kau berjanji untuk tidak melibatkan mereka semua ke dalam pertarungan kita atau menaruh tangan pada meraka sama sekali dalam pertarungan ini dengan sengaja?" tanya Ren lagi. Kini raut wajahnya udah berubah menjadi lebih santai, dan tampaknya menikmati percakapan ini.
"Humm. Para keroco ini?" tanya pemuda itu.
Ren menangguk, membenarkan. Yahh, walaupun dia agak tidak terima mendengar orang orang yang ada dibilang keroco disana....
"Baiklah. Aku, Aerzad, penguasa seluruh dunia ini, pemuja pertama Demon God, dan Apostle pertama! Aku berjanji tidak akan meletakkan tangan ku pada keroco keroco itu saat duel ini. Dela, Gordo. Lakukan sesuai keinginan kalian!" kata sosok itu, Aerzad, dan juga Apostle pertama.
Ren yang mendengar itu cukup merinding, tahu bahwa dia salah Apostle pertama. Tak heran, bahwa Kei mengingatkannya untuk tidak mendekati Kultus apapun yang terjadi.
Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Mau bagaimana lagi, dia kini sudah berhadapan dengan sosok itu, sekarang ada di depan matanya.
Sosok yang menjadi puncak yang ada di Kultus.
Apostrl pertama, Aerzad.
"Hufft. Bagaimana mengatakannya, aku merasakan percikan sihir dari Spear of Wrath, Kei. Aku tidak tahu apa hubungan mu dengannya, tapi aku agak menantikan ini!" kata Aerzad sambil tersenyum menggurat.
"Ahh, aku juga tidak pernah se-merinding ini sebelumnya. Dan yahh, pada akhirnya aku hanya harus mengalahkanmu, dan itu bukan hal yang mudah!!" teriak Ren, yang menerjang maju, dengan kecepatan tidak normal, menandakan pertarungan yang telah dimulai!!