
"Bagaimana cara kita membunuhnya?"
"Mana aku tahu?! Dia adalah kepala sekolah Akademi Furyuun loh! Dia tidak mungkin bisa dibunuh atau dijebak dengan mudah!" suara berat yang dijawab oleh suara lain yang tampaknya wanita terdengar.
Menyelinap di siang hari, itu adalah sebuah hal yang bagus untuk menjadi ungkapan.
Karena sebenarnya mereka memang benar benar menyelinap pada pagi hari.
"Lagipula, kenapa kita membawa Aina? Bukankah akan lebih bijak untuk menyembunyikan Aina? Ahh! Aku benar benar tidak paham apa yang dipikirkan Ren!" terdengar teriakan. Dan tidak salah lagi, itu adalah suara Suzu.
Saat ini, Suzu, Kurls, dan Aina sedang menjalankan misi, yaitu misi pembunuhan Weiss. Entah kenapa, tapi Ren memilih cara ini.
Itu terjadi setelah Ren mengunjungi Guild, dan kembali ke tempat rahasia untuk rapat.
Saat rapat dilakukan, dia berkata bahwa rencana berubah dan mereka bertiga akan berangkat untuk membunuh Weiss. Dan katanya, akan ada para Adventurer yang membantu.
Tapi saat ini adalah siang hari yang terlihat sepi, tanpa terlihat batang hidung satu orang pun.
"Saya tidak tahu, Nona Suzu. Tapi mungkin kita akan bertemu dengan Adventurer yang kuat, yang akan membantu kita. Selain itu, saya cukup yakin dalam kemampuan serangan kejutan saya." Kurls menjawab dengan yakin.
"Yahh, aku percaya padamu, paman Kurls. Tapi kenapa Ren memberikan peta untuk melarikan diri?" tanya Suzu heran, agak kesal.
Peta itu diberikan kepada Suzu dan yang lain, untuk melarikan diri.
Kata Ren, jika keadaan tidak berjalan lancar, tolong larilah ke arah sini. Dan Ren sudah menandai bagian peta.
Dia juga menjelaskan bahwa itu akan membawa mereka ke pasar gelap, dan mereka akan aman di sana.
"Sepertinya kak Ren tahu kita akan gagal." jawab Aina mulai berpikiran aneh.
Kurls dan Suzu hanya berpandangan, karena mereka tidak pandai untuk mengendalikan suasana. Dan Suzu pun hanya mengangkat bahu dengan itu.
"Yahh, pokoknya kita kedapatan tugas ini. Dan entah bagaimana kita harus melakukannya." tanggap Suzu.
"Unn! Itu benar!"
Mereka bertiga akhirnya memutuskan untuk terus berjalan, mengendap untuk bisa masuk ke rumah Weiss.
Ramainya pasar di pagi hari tidak menghentika mereka untuk terus melompat dari rumah ke rumah. Itu mudah untuk Aina dan Kurls, tapi sulit untuk Suzu.
Karena kemampuan fisik Suzu tidak terlalu bagus sebenarnya.
Mereka segera sampai di mansion milik Weiss, yang mana itu adalah salah satu dari yang terbesar di kota Furyuun.
Ini juga berada di dalam Akademi, jadi keamanannya serasa terjamin.
Ada banyak penjaga di dekat pintu, tapi Kurls segera melumpuhkannya tanpa banyak suara.
"Aku sudah sering melihat bangunan ini, tapi aku tidak pernah menyangka akan menerobos masuk dan membunuh pemiliknya." Suzu sedikit merinding.
"Baiklah. Mungkin kita harus menuju atap dan mencari dimana dia sekarang. Tergantung keadaan nya, kita akan mencari cara yang berbeda untuk membunuhnya." Kurls bersiap, seperti berpengalaman dengan ini.
Yang lain hanya mengangguk, percaya dengan kata kata Kurls.
***
"Baiklah! Kemari!" terdengar bisikan Kurls yang sekarang bediri di ambang jendela, berusaha membukanya perlahan.
Dia terlihat sangat berhati hati, untuk tidak mengeluarkan suara sekecil apapun.
"Sepertinya disinilah kamar Weiss berada. Tapi jujur saya tidak tahu dimana dia sekarang." Kurls masih memaksimalkan indra mendeteksinya.
Kamar itu agak gelap, cahaya yang ada pun hanya berasal dari jendela yang mereka bertiga masuki.
Selain itu, disana sangat sepi! Hening, bahkan seekor serangga pun tidak berani bersuara.
"Paman Kurls, sepertinya Aina punya perasaan buruk." Aina menggerakkan telinganya sedikit, mendengar sesuatu bergerak.
"Humm! Indra Beast memang luar biasa. Itu berarti-"
"Wah wah wah. Siapa sangka saya kedatangan tamu. Dan lebih mengejutkan, itu kamu, Aina." terdengar tepuk tangan ringan dari balik pintu.
Beberapa detik kemudian, muncul wajah yang mereka targetkan. Wajah yang sering dilihat Suzu, dan juga wajah yang membuat Aina trauma.
"Kepala sekolah?!" Suzu dengan segera menyiapkan sihirnya.
Begitu juga dengan Kurls yang segera menyebar benang dan racun yang ada.
Suzu sedikit terkejut, tapi segera membenarkan posisinya.
"Jangan banyak bicara! Sekarang, mati atas dosa dosa dan kelakuan bejatmu!" segera, Suzu melantunkan mantra, mengeluarkan sihir sihir untuk menyerang Weiss dengan cepat.
Sihir Suzu menyerang Weiss, membakar ruangan itu dengan seketika. Benda benda hancur berantakan, debu debu juga berterbangan.
Tapi sayang, kemampuan sihir Weiss jauh lebih baik.
"Sayang, seribu sayang. Kalau kau masih melanjutkan pendidikanmu 2 atau 3 tahun lagi, kau pasti bisa melakukan serangan padaku." Weiss menyapu debu, memperlihatkan dia yang menahan sihir di kanan dan kiri tangannya.
Melihat itu, Kurls dengan segera mengambil tindakan, dan melemparkan seluruh senjata yang ada di tangannya, dan menarik benang benang untuk menjerat Weiss.
Tapi bukan menyerang yang menjadi pilihannya.
"Semuanya! Lari!" dia segera berbalik, menarik Suzu dan Aina di perut mereka untuk menabrak menembus kaca jendela.
Sesaat kemudian sebuah sihir angin menerobos kuat keluar jendela, tempat mereka sebelumnya berada.
"Paman Kurls?! Kenapa? Kenapa kita lari?! Bagaimana dengan misi kita?!" teriak Suzu yang masih digendong Kurls di pinggangnya.
"Kita-"
BOOM!!!!
Tanah di depan mereka meledak. Beruntung, refleks Kurls sangat baik, dan segera menghindar, sambil mempercepat langkahnya.
"Kita tidak bisa menang! Apapun yang terjadi, dia masih memiliki beberapa kartu truf dibelakangnya!" Kurls berusaha menjelaskan saat berlari.
Sementara Weiss masih terus mengejar sambil menembakkan beberapa serangan.
"Aku sempat menggunakan [Evaluator] padanya, tapi-" kata kata Kurls terhenti karena tanah yang ada di depannya tiba tiba terangkat.
Kurls segera melompat sambil memasang benang benang beracun di jalan untuk menghambat Weiss.
Sedangkan Weiss berjalan santai sambil sesekali menggunakan sihir angin untuk membuatnya melayang mendekat.
"[Evaluator] tidak bekerja padanya!" teriak Kurls sambil kembali menangkap Suzu dan Aina di udara, dan berlanjut untuk melarikan diri.
Keduanya tertegun, dan hanya bisa terdiam mendengar itu.
"Baiklah! Perubahan rencana!" Suzu melompat, yang segera disusul Aina yang memahami maksud Suzu.
"Kita akan bertahan sampai ke tempat yang ditentukan! Pasti Ren memiliki rencana lain untuk dilakukan!" Suzu berteriak sambil mengeluarkan beberapa sihir untuk menghambat Weiss.
Tapi itu sepertinya sia sia, karena semua sihir itu dipantulkan kembali oleh Weiss.
"Percuma percuma! Sekarang, hentikan pelarian kalian, karena kalian tidak akan pernah bisa menang melawanku!" Weiss melolong senang.
Halaman Akademi yang tadinya penuh dengan tanaman yang indah, kini hancur karena perang sihir yang dilakukan.
Tapi itu tidak hanya berhenti sampai di Akademi.
Suzu dan yang lain masih melarikan diri ke arah yang diberikan Ren, menuju pasar gelap.
Aina, Suzu, dan Kurls sudah tidak bisa saling bicara karena kelelahan badan dan pikiran yang bertumpuk, sedangkan Weiss masih mempermainkan mereka sambil tertawa.
"Hahaha! Lebih baik serahkan Aina dan ini akan berakhir. Humm? Apa kau ingin masuk juga, Suzu?" sekarang dia mengatakan hal yang mengerikan.
Suzu mau tak mau sedikit merespon, tapi tetap fokus untuk mundur.
"Celaka!!" terdengar teriakan Kurls, ketika menyadari keadaan di sekelilingnya.
Mereka sudah sampai di bagian tengah pasar gelap, dan semua disana mengelilingi mereka!
Dan satu satunya jalan masuk dan keluar sekarang dicegat oleh Weiss.
BOOMM!!!
Suara itu terdengar ketika Weiss dengan segera menutup dan mengunci seluruh tempat, membuat mereka bertiga terpojok.
Kurls hanya bisa mendecak pelan, sambil menyiapkan belati di kedua tangan, dan merapal sihir penguat.
"Baiklah, tikus tikus kecil. Waktu bermain sudah selesai!"