Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 1: Bab 27 - Kegelapan yang Mengincar Kegelapan (2)



"Shinigami?! Di umur yang segini? Apalagi lawannya tadi adalah Beast!Tidak mungkin orang biasa bisa beradu kekuatan satu lawan satu dengan Beast." Dia menggumam perlahan.


Dia pikir aku tidak bisa mendengarnya?


"Aku bisa dengar lo!" Berjalan pelan menghampirinya.


"Hii!" Dia memekik perlahan.


Ini menyenangkan!


"Jangan nilai makhluk lain hanya dengan melihat umurnya, apalagi ras-nya, ya!" Aku tersenyum lembut sambil menyentil dahinya pelan.


"Ugghh," mukanya memerah sambil memegang dahinya.


Ahahaha! Aku suka ekspresi itu! Rasanya membawa kenangan karena aku sering menggoda adikku seperti itu.


Ahhh perempuan ini benar-benar mengingatkan ku padanya.


"Hei, siapa namamu?" Tanyaku sambil perlahan melangkah masuk.


"Soeye." Dia hanya menjawab singkat.


Ugh, sikapnya yang dingin juga mirip!


"Soeye ya? Baiklah. Akan kuingat!" orang yang mirip dengan adikku, Soeye!


"Kalau begitu, Soeye! Kau majulah! Aku akan melindungimu! Jangan khawatir dan terus maju!" Kataku tegas padanya. Dia mengangguk tanda paham.


Dan begitulah. Kami berdua menjadi tim sementara. Dan sebenarnya Soeye sendiri cukup kuat.


Kami berdua terus merangsek masuk, bagaikan peluru yang terus melesat tanpa hambatan.


Soeye yang tampaknya sudah menghafal rute bisa berlari dengan aman ketika aku terus melindunginya dari berbagai ancaman.


Mereka yang melihat kami pasti mati. Tapi tetap kupastikan bahwa mereka adalah anggota "De Moon Freedom".


Aku juga tidak ingin salah sasaran dalam hal ini.


Bahkan aku, masih memiliki hati nurani untuk orang orang yang bukan musuhku.


"Berhenti perlahan!" Soeye mengkomandoi sambil menaruh tangan ke belakang, menyuruhku berhenti. Aku juga mengerti itu, dan mulai memperketat penjagaan.


Dua orang anak, yang satu 6 tahun dan satu lagi 10 tahun, sedang menyusup ke markas orang orang berbahaya sendirian.


Yahh, walaupun kekuatan utama kami adalah anak 6 tahun.


Walau begitu, aku merasa Soeye sebagai partner yang luar biasa. Kalau ada kesempatan untuk membentuk party, mungkin aku akan memilihnya.


"Kau lihat itu?" Soeye menunjuk ke arah bawah. Sepertinya, dia juga sudah terbiasa denganku?


Aku segera melihat ke bawah, dan menemui ruangan seperti kuil dengan patung yang memiliki banyak rantai di sekelilingnya.


Di patung itu terikat seorang anak dengan rambut putih. Kemungkinan dia adalah anak dengan fragmen dewa.


Dengan kata lain, dia adalah anak yang bereinkarnasi.


Dan di bawah Aku melihat beberapa anak yang diikat. Beberapa di antaranya pernah kulihat, seperti Suzu dan anak paman Childe. Kalau tidak salah, Syila bukan?


Ahh, mereka! Mereka benar benar tidak bisa dimaafkan! Mereka tidak hanya menculik Suzu tapi juga menyiksa para reinkarnator!


Ini benar benar, tidak bisa dimaafkan! Kalau begitu,


"Aku akan membuat mereka merasakan ketakutan terdalam yang terukir ke dalam jiwanya!" ahh, aku melakukannya.


Soeye berteriak kecil, tapi aku hanya bisa fokus pada apra bajingan itu.


"Yahh, mati saja tidak akan cukup untuk mereka!" Aku masih bergetar. Udara berubah di sekitarku, dan Soeye juga merasakannya.


"He-hei, tenanglah! A-a-apapun itu, jangan ge-gegabah!" Kata Soeye sambil menenangkanku.


"Aku berkepala dingin. Santai saja." Aku membalas tangannya sambil tersenyum.


Oh ya! Kukira, mungkin aku tidak akan bertemu dengan Soeye lagi, bukan?


"Soeye. Mungkin ini akan menjadi pertemuan terakhir kita. Karena kau sepertinya sudah tahu cukup banyak tentangku." aku menarik nafas.


Ini juga cukup berat untukku. Padahal sudah kutemukan orang yang mirip adikku.


"Jadi, jika ada yang ingin kau tanyakan, tanyakan sekarang. Anggap saja hadiah untuk mu." Disini aku tidak mengada-ada.


Karena setelah ini, Aku tidak tahu harus menggunakan bentuk "Shinkgami" ini kapan.


"Benarkah?" Dia menundik.


Oi oi! Hentikan! Jangan buat raut wajah seperti itu!


"Baiklah kalau begitu. Setidaknya, Aku ingin tahu nama aslimu. Bisakah itu?" Ahh, dia bertanya tempat seperti yang aku pikirkan.


Sebenarnya aku tidak menemukan apapun, tapi aku bingung ingin menjawab apa.


"Soal itu," aku berhenti sebentar.


"Aku takut aku harus membunuhmu jika aku mengatakan yang sebenarnya." Raut wajahnya seketika berubah.


"Tapi, janji adalah janji. Mau bagaimana lagi, akan kuberi kau sedikit petunjuk." Aku mulai membuka topeng setan di wajahku. Seketika dia terkejut.


"Kau, seorang manusia?!" Aku yakin dia terkejut.


"Ya! Apakah kau membenci manusia? Maaf saja karena aku memang benar-benar manusia." Aku berkata demikian sambil memakai lagi itu topenh setanku, dan melangkah maju, bersiap untuk melompat.


Yahh, dia juga pasti butuh waktu untuk memahaminya.


(Baiklah! Mulai sekarang, aku akan bergerak sendiri!) ugh, kuakui ini cukup mendebarkan!


Aku melompat turun sambil menitih batu-batuan yang aku buat sebagai pijakan. Walaupun cukup terjal tapi masih bisa untuk di panjat dengan tangan.


Dari sini, aku bisa melihat dengan jelas patung yang mengikat anak kecil berambut putih itu. Yah sebenarnya umurnya sama denganku.


Patung itu memiliki inti yang mengeluarkan cahaya warna hijau. Aku tidak tahu apa itu tapi aku tahu itu sepertinya berbahaya.


Perlahan, aku mengendap ke tempat anak anak ditahan. Sebisa mungkin aku tidak ingin ditangkap.


"Hyahg!" Aku berteriak, melepaskan anak-anak itu dari ikatan.


Setengah dari mereka masih sadarkan diri, termasuk Suzu. Aku bisa melihat matanya berkilat-kilat ketika aku menyelamatkan mereka semua.


Aku segera menyenggol mereka ke samping, ke arah yang aku sepakati dengan Soeye. Aku yakin dia disana menunggu.


"Soeye!" Samar-samar kudengar Suzu berteriak senang. Entah apapun itu, sepertinya mereka semua sudah mulai berlari.


Dan, ahhh!! Soeye!! Tunggu!!


Aku hampir berteriak ketika melihat ke tempat tadi.


Dia meninggalkan satu orang, dan orang itu adalah Syila! Oi! Dia adalah anak paman Childe tahu!


Tidak. Maafkan aku, itu tadi salahku. Aku yang melewatkannya.


Ups! Saat ini, aku harus fokus!


"Siapa kau!" Ahh, kata-kata klise itu diucapkan oleh seseorang yang sudah cukup tua, mungkin bisa dibilang tertua di sini.


Dia yang sedari tadi memimpin orang-orang di belakangnya untuk membaca beberapa mantra aneh.


"Berani-beraninya kau mengacaukan upacara suci ini! Apapun yang terjadi, bunuh dia! Ketidaksopanan harus dibayar dengan nyawa!" Si tua bangka itu malah yang menghasut.


Jujur, aku tidak tahu kenapa mereka sebodoh ini.


"Bunuh dia!"


"Kita cincang dia!" Suara-suara mulai bersahutan dari sini.


"Hei!" Aku mulai bersuara dalam keriuhan itu.


Ruangan itu tenang sesaat.


"Aku belum memperkenalkan diri bukan?" aku berjalan pelan memutar pisauku.


"Perkenalkan Aku adalah Shinigami. Ya. Malaikat kematian untuk kalian!" Tentu, aku tidak lupa menundukkan badan dengan anggun!


Aku juga tersenyum lebar, membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini.