Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 3: Interlude 1 - Diary dan Keberangkatan



Hari ke 20 aku di kota Furyuun.


Hari ini, sedang diadakan pesta karena pembangunan kembali kota ini sudah selesai. Tentu aku membantu mereka. Dan itu sebabnya pembangunan bisa jadi secepat ini.


Kondisi ku sudah mulai membaik, tapi Thui menahanku di sini.


Dan hubunganku dengan kak Edna, yahh dia masih sedikit canggung dan memilih tidak menatapku ketika berbicara, tapi kami sudah bisa saling bercakap cakap seperti biasa.


"Shinigami" sudah pergi 10 hari yang lalu ke kekaisaran Aentiah, itu yang aku sebarkan ke semua orang, karena kita semua tahu, Shinigami hanya mengundang bencana bagi yang mengenalnya.


Tapi sebelum itu, aku sudah membuat perjanjian dengan warga kota ini, untuk menghormati manusia. Dan warga kota ini menyetujui nya dengan cepat.


Yahh, itu yang aku minta sebagai ganti untuk aku menyelamatkan mereka.


Ini sangat bagus, karena tidak hanya warga asli kota Furyuun, tapi beberapa pendatang dari kota luar juga mematuhinya! Itu karena Akademi sedang mengadakan kunjungan orang tua, dan para orang tua tertahan karena insiden Eldergale. Mereka seharusnya berutang budi padaku atas nyawa mereka.


Ahahaha! Aku tahu aku sedikit sombong, padahal aku sendiri sudah mati waktu itu. Aku juga bertanya pada kak Edna, apa yang terjadi setelah itu?


Jawaban yang aku dapat tidak terduga.


Katanya, ada petir hijau misterius, dan dua orang yang sama misterius nya. Salah satu orang membawa tombak mengerikan, dan satunya lagi perempuan bersayap sedang mengurusku.


Dan laki laki itu meninggalkan pesan. "Jangan gunakan kekuatan ini lagi." begitu katanya.


Dari sini aku langsung tahu bahwa perempuan ini adalah high Priest, dan laki laki ini pasti tahu tentang kekuatan mengerikan yang aku dapatkan itu.


Tapi yang lebih mengerikan, adalah Aina dan yang lain.


Anak anak yang waktu itu sudah aku selamatkan, entah kenapa sangat menempel padaku. Mungkin ini yang disebut ikatan baru lahir?


Mereka pertama kali melihat wajahku saat diselamatkan, dan seperti anak ayam yang pertama kali melihat ibunya?


Entahlah. Tapi mereka mengerikan!


Mereka menggodaku dengan cara cara yang bahkan belum pernah aku bayangkan. Aku tidak tahu dari mana mereka mempelajarinya, tapi bahkan orang dewasa akan minder melihat cara mereka menggodaku.


Hufft, aku ingin segera pergi dari sini.


***


Hari ke 25 aku di kota Furyuun...


Kutukan yang aku dapat sudah menghilang, dan tinggal sedikit pembiasaan dengan kemampuan fisik baruku dan kekuatan sihirku, aku bisa pergi dari kota ini.


Dan aku juga mulai menyempurnakan sihir yang aku teliti kemarin.


Karena diganggu oleh Thui dan anak anak lain, aku melarikan diri dengan mengurung diri di dalam kamar. Aku tidak bisa berlatih pedang, apalagi berlatih sihir. Kalau begitu, aku hanya bisa melakukan satu hal, meneliti sihir ruang.


Aku sudah sedikit menguasai sihir ruang, dimana aku berhasil membuat 2 buah ruang, yang satu ruang dimana bisa ditinggali makhluk hidup, yang satu hanya ruang hampa.


Ruang hampa ini aku gunakan untuk perantara senjataku, Zadkiel.


Oh ya! Sejak pertempuran di Eldergale, aku lupa bahwa aku memiliki Zadkiel dan tidak menggunakannya sama sekali. Aku benar benar bodoh!


Yahh, intinya aku sudah bisa membuat dunia lain dalam sihir ruang ku sendiri. Aku menyebutnya [Hikikomori].


Disana sudah ada tanah, air, rumah, udara untuk dihirup. Jadi jelas, disana adalah dunia yang sudah dapat ditinggali. Dan aku berencana membuat rumah disana.


Kenapa aku membuat ini? Aku berencana membuat tempat yang layak untuk kak Edna dan ibu selama perjalanan, dan aku tahu bahwa tempat seperti itu tidak akan ada, kecuali aku membuat tempat penghubung.


Dan aku menemukan [Hikikomori] ini, merupakan penemuan terbesar abad ini!


Aku bisa memasukkan ibu dan kak Edna ke dalam [Hikikomori] dan membiarkan aku melakukan perjalanan sendirian.


Mereka akan masuk ke Akademi. Mereka sempat meminta untuk mengikutiku kemanapun aku pergi, tapi jelas itu akan merepotkan. Oleh karena itu, aku membujuk mereka menggunakan skill [Seduce] agar mereka mau tinggal disini.


Paman Kurls sudah memilih untuk pulang ke kampung halamannya, di kekaisaran Aentiah. Mungkin aku akan mengunjungi nya nanti.


***


Akhirnya! Ini adalah hari kami berangkat! Aku menutup diary yang aku tulis selama ini dengan perasaan terharu.


"Kak Ren!!" sekumpulan anak anak datang menghampiriku, dan menggerombol di kakiku. Uhh, jangan pasang wajah sedih seperti itu, aku akan berat meninggalkan kalian!


Ah tidak! Hampir aku terjebak oleh mereka!


"Kak Ren jangan pergi! Tetaplah disini."


"Ya! Kami berjanji tidak akan nakal lagi!"


Aku hanya menarik nafas panjang, mengelus kepala mereka.


"Aku harus pergi. Bukankah kalian sudah berjanji untuk menjadi lebih kuat saat nanti aku kembali?" kataku sambil mengelus kepala mereka masing masing.


Tampaknya itu sedikit menenangkan mereka, dan mereka mau melepaskan ku.


"Thui. Aku sekali lagi berterima kasih, dengan perwatan selama ini. Terutama kertas ini. Dengan begitu, aku bisa kembali kapanpun yang aku mau. Dan lagi, kamu memberikan rekomendasi agar ibu bisa ditangani langsung oleh orang Gereja. Aku tidak tahu lagi harus berterima kasih lewat apa." aku berkacak pinggang, memandang Thui yang sepertinya akan bicara.


Thui mengangkat bonekanya sedikit, lalu memintaku untuk jongkok. Aku hanya menurut apa yang dia inginkan.


"Ya. Jika kau ingin membalas budi, kau harus menjadi suamiku! Jangan khawatir, "itu" ku akan semakin besar kok!" kata Thui.


Dia lagi lagi mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya dia katakan. Anak ini...


"Ditolak. Apapun yang berhubungan dengan itu ditolak." aku sedikit memukul kepalanya seperti memecah kelapa, membuatnya sedikit mengaduh.


"Tapi, pasti kita akan bertemu lagi. Aku akan menantikannya." aku mengulurkan tangan, mengajaknya bersalaman.


Thui melihat itu terdiam sesaat, lalu tersenyum.


"Aku juga, Ren." jawabnya singkat.


Dengan demikian, kami melakukan beberapa perpisahan dengan Aina, Suzu, dan yang lain. Sampai akhirnya kami berangkat.


Kami mendapat kereta kuda, memudahkan kami untuk melakukan perjalanan.


"Selamat tinggal!" aku mendengar suara kak Edna yang ada di belakang. Aku juga menoleh, melambaikan tangan pada sekelompok orang yang mengantar kami pergi.


Aku bisa melihat sedikit kesedihan di wajah ibu dan kak Edna, tapi mau bagaimana lagi.


"Ren. Apa ibu nanti bisa tinggal di Furyuun?" tanya kak Edna. Tentu saja, jika melihat kesempatan ini, sangat bagus untuk Suzu dan ibu tetap berada di Furyuun. Secara, Suzu sudah terkenal disini, jadi masa depannya pun terjamin.


"Itu benar, tapi aku akan menyerahkan keputusannya pada ibu. Setelah ini selesai, ibu yang akan memilih sendiri." jawabku.


"Heehh! Biasanya kamu selalu punya beberapa rencana rencana yang aneh, tapi sekarang kamu menyerahkan pada ibu sendiri? Ada angin apa ini?" ibu tiba tiba muncul di belakangku, memelukku dari belakang.


"Ahh, ibu! Jangan lakukan itu! Aku sedang menyetir! Ini berbahaya!" aku sedikit menggeliat karena aku sedang mengendalikan kuda disini.


Mereka yang ada di belakang hanya tertawa mendengar itu.


Intinya, sekarang kami berangkat ke kota Ronia. Ini cukup dekat, hanya sekitar 50 km dari Furyuun. Tapi jika menggunakan kereta kuda, mungkin bisa sampai dalam 2 hari.


Tapi aku tidak tahu kenapa, perasaanku tidak enak.


"Aku harap tidak terjadi hal hal yang buruk saat kami bersama." aku berdoa, menatap langit.