
Angin berdesir pelan, di sebuah hutan yang sekarang berubah menjadi lapangan luas, hanya batu dan tanah kering hanya dalam beberapa menit.
Hanya ada 4 sosok yang berdiri di tengah tengah kehancuran itu, dan satu Wyvern yang menunduk, membiarkan orang yang menumpanginya memandang sekeliling, terlihat sedikit lemas.
Mereka berempat hanya diam, terlihat memandang satu sama lain. Mereka sedang mengukur kemampuan lawan, dan tidak berani melancarkan serangan terlebih dahulu.
Apalagi setelah bentrokan yang pertama, jelas mereka tidak bisa saling meremehkan.
Suasana mencekam terasa mencekik, bahkan serangga pun tidak ada yang berani lewat. Tidak, mungkin bukan karena suasananya, karena makhluk hidup yang pintar pasti sudah lari tunggang langgang, menjauhi kawasan ini.
Sementara itu, terjadi keheningan beberapa saat. Sampai akhirnya pihak Iblis mulai sedikit berbisik, berbincang satu sama lain. Lantas Iblis yang duduk di atas Wyvern meminta sesuatu pada Iblis yang membawa pedang di depannya.
Melihat itu, kakak beradik Sara dan Luna juga saling berbisik, sambil terus mengawasi kedua Iblis di hadapan mereka.
Yang berada di depan membawa pedang besar dua tangan, dengan badan yang besar lagi berotot. Dengan mata merah dan tanduk di kepalanya, membuatnya tampak menakutkan hanya dengan melihatnya.
Dan yang satunya, terlihat tinggi, dan bisa dibilang kurus. Kulitnya pucat, terlihat dari tangan yang sedikit mengintip dari seluruh tubuhnya yang menggunakan jubah, menutupi wujudnya.
"Kakak, gunakan matamu. Setidaknya, jika kita tahu kartu truf musuh, kita bisa membuat sedikit rencana." bisik Sara.
"Aku tahu aku tahu! Ahh, dulu aku sering mengutuk mata ini, tapi sekarang aku sadar ini benar benar sebuah berkah..." keluh Luna pelan, sambil menyiapkan matanya, untuk melakukan sesuatu.
Luna terlihat fokus, dan matanya yang merah sedikit bercahaya biru. Itu sedikit aneh, tapi itu benar benar terjadi.
"Ah!" Luna memekik pelan ketika matanya melihat sesuatu yang menarik.
"Apakah kau menemukan sesuatu, kak?" Sara sedikit penasaran. Tapi Luna hanya diam tidak menjawab pertanyaan adiknya. Dan dari ekspresi wajahnya dia sedang memikirkan sesuatu.
Sara semakin penasaran, tapi tidak bisa memaksa Luna. Dia hanya bisa menunggu Luna untuk membuat keputusan.
Sementara itu, Iblis yang menggunakan pedang mulai berjalan maju, tidak lagi mengacungkan pedang ke arah Sara dan Luna.
"Gunakan sihir telepati sesaat padaku." bisik Luna, sebelum Iblis di hadapannya berhenti berjalan. Sara sedikit terkejut dengan permintaan kakaknya, tapi hanya menurut. Diam diam, dia merapal mantra, dan memberikan sihir telepati dengan Luna.
"Guwa ha ha ha! Gerudo yang hebat ini benar benar terkesan, lho! Tak aku sangka, ada sihir yang bisa menahan sabetan pedang milikku!" teriak Iblis itu sambil meneriakkan namanya dengan nada sombong.
Raut muka Luna sedikit berubah, ketika mendengar bahwa Iblis itu beranggapan bahwa sihir yang menahan serangannya. Itu sedikit membuatnya kesal.
Tapi dia segera memikirkan sesuatu, dan tersenyum kecil.
("Apanya, kak?") tanya Sara. Kini mereka berdua sedang berkomunikasi dalam hati, untuk mencegah lawan mengetahui apa yang sedang mereka rencanakan.
("Iblis itu berusaha mengulur waktu.")
Pernyataan itu membuat Sara sedikit terkejut, karena Iblis dikenal sebagai ras yang sangat kuat, dan Sara tidak berpikir mereka akan melakukan itu.
("Aku melihat MP nya yang turun sangat jauh. Aku pikir, sihir tadi benar benar sihir skala besar yang mengerikan. Jadi jelas jumlah MP yang dia butuhkan tidak bisa dibilang murah.") jelas Luna dalam pikirannya.
Sara mengangguk pelan, sambil mengerti apa yang Luna pikirkan.
("Jadi strategi nya?") tanya Sara.
("Kalau dia berniat mengulur waktu, biarkan saja. Aku akan menyerang. Kita memiliki keunggulan, karena aku mengistirahatkan mu, MP mu masih cukup banyak. Tapi mereka mengira sebagian besar pertahanan tadi dibuat dengan sihir.") jelas Luna.
("Ahh! Jadi begitu! Mereka berpikir kita akan mengikuti permainan mereka, dan tidak akan menyangka serangan sihir!") Sara berteriak senang dalam hati.
("Begitulah. Saat aku maju, kau keluarkan sihir ke arah Wyvern dan Penyihir itu. Aku akan mencegah yang satu untuk melindunginya, jadi tolong, setidaknya berikan luka pada Penyihir itu, dan pastikan kau membunuh Wyvern itu sekali serang.") ucap Luna.
Mendengar itu, Sara sedikit mengangguk. Tapi dia memiliki beberapa pemikiran, membuatnya terlihat ragu.
("Kalau begitu, jika aku kehabisan MP apa yang akan terjadi?") tanya Sara.
Terjadi keheningan dalam hati mereka berdua. Tapi berbeda dengan di dunia nyata, yang mana Iblis disana masih saja membual tentang kehebatannya.
"Saat itu maka pikirkan saat itu saja." kata Luna pelan, sekarang berbisik menggunakan mulutnya.
Luna menutup matanya perlahan, dan memasang kuda kuda degan tombak dan pedang di kedua tangannya. Dia mengambil nafas, untuk menyiapkan skill khusus miliknya.
Dia berjalan pelan sambil menutupi Sara, seakan melindunginya. Padahal maksud Luna hanya agar Sara yang sedang menyiapkan sihir.
Luna mengacungkan kedua senjatanya ke arah Iblis itu, membuat dia sedikit terkejut dalam bualannya sendiri.
Tapi Iblis itu tersenyum sambil menguatkan pegangan pada pedangnya, sedikit memberikan intimidasi dan meremehkan Luna. Dia juga mengubah sudut matanya, menatap Luna dengan tajam.
"Ini lah kenapa Gerudo ini sangat membenci untuk mengulur waktu. Tidak ada yang bisa dibicarakan dengan orang orang bodoh dari dunia ini. Apalagi ketika berhadapan dengan binatang seperti orang itu, yang bisa dia lakukan hanya mengarahkan cakarnya dan menggonggong semaunya. Hufft aku-"
"HRAAHHHH!!!!" saat Iblis itu sibuk membual, Luna tidak memikirkan itu, dan bergerak!!