Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 1: Bab 28 - Pembantaian



"Perkenalkan Aku adalah Shinigami. Ya. Malaikat kematian untuk kalian!" Tentu, aku tidak lupa menundukkan badan dengan anggun!


Aku juga tersenyum lebar, membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini.


Tapi itu tidak akan terlihat di dalam topeng setan ku.


"Jangan banyak omong kosong! Mati!" Seseorang akan maju untuk menebas ku. [Critical Perception] bahkan ku tidak berbunyi, itu berarti serangan ini tidak akan membahayakan ku.


Aku berdiri diam, membiarkan serangan itu melewatiku. Pedangnya melewatiku dengan tipis, bahkan aku bisa merasakan angin dari pedang tersebut.


"Tapi tetap saja itu tidak mengenaiku!" aku benar benar mulai kesal dengan ini.


Aku sedikit menggerakkan pisau di tanganku, menghilangkan tangan dan kakinya. Lalu membuatnya terlempar ke samping.


"Apakah kalian lupa bawa aku Shinigami? Tidak usah repot-repot untuk membawakan nyawamu ke sini. Aku sendiri yang akan menjemputnya." kerumunan orang-orang dengan tudung aneh itu mulai ketakutan.


Aku sudah menganalisis bagaimana mereka semua bertarung. Dan kesimpulannya, mereka bertarung sangat buruk, bahkan lebih buruk dari yang diajarkan oleh kakakku.


Gaya bertarung dunia ini masih sangat buruk. Bahkan aku yang pemula bisa tahu itu.


Di gaya berpedang milik kak Ruly, mereka masih mengandalkan keindahan, berpacu dengan aturan, dan terikat dengan jarak.


Dengan kata lain, masih banyak ruang untuk melakukan hal hal yang lebih baik dalam menyerang.


Dan itu adalah kelemahan yang sangat besar.


"Aku tidak akan membuat kalian mati mudah lo!" Aku tertawa keras ketika mereka menggunakan Kain Eldian untuk mencoba mengelabuhiku.


Tapi itu percuma, karena aku memang seorang manusia.


Kain itu tidak akan bekerja untukku!


Sebaliknya, mereka yang tadi mendekatiku, sekarang kembali tanpa kaki.


Apa tujuan mengambil kaki mereka semua? Tentu saja agar mereka tidak kabur! Sia-sia jika mereka langsung mati di sini.


Aku akan membuat mereka merasa menyesal untuk dilahirkan.


Teriakan keputusasaan mulai terdengar menggema di gua itu, bagaikan musik mengerikan yang menjalari telingaku.


Ketua itu terkejut ketika aku bahkan bisa menebas seseorang dengan Kain Eldian, sedangkan aku terus menari dengan pisau dan darah yang terus berlompatan.


Aku bisa menggunakan senjata apapun, bahkan cambuk sekalipun! Kakak sering menyebutku jenius, padahal bukan begitu.


Aku hanya menyempurnakan seni bela diri yang aku pelajari dari kak Ruly, memodifikasinya sedikit, dan mengubahnya dan menyesuaikan nya dengan masing masing senjata.


Inilah gaya beladiri ku. Tak bercelah, cepat, dan akurat. Semua yang aku lakukan berguna.


Karena jika aku memberikan sedikit celah, suatu saat aku pasti akan mati!


Aku merasa senang dengan ini. Aku yang sekarang, punya cukup kekuatan untuk memberantas kejahatan, tidak seperti diriku yang dulu.


"Kau ini, bukan Elf ya?!" Si Tetua masih terbelalak. Sebenarnya aku sengaja menyisakan untuk yang terakhir.


"Baru sekarang kau menyadarinya?" Aku menendangnya ke ujung, membuatnya melepas tongkatnya sendiri.


Terguling, dia mulai muntah darah. Walaupun dia orang tua, pintu hatiku tidak terketuk sedikitpun. Agak menakutkan, tapi sepertinya ini yang benar.


Dia susah payah merangkak untuk mengambil kembali tongkatnya. Mungkin dia ingin merapalkan beberapa sihir padaku?


Aku mengambil sebuah pisau kecil, di saku salah seorang yang masih berteriak, dan menancapkannya ke tangannya! Dia mengerang hebat.


"Kau pikir berapa banyak dosa yang kau buat selama ini?" Aku berjongkok di hadapannya.


Yahh, aku juga bukanlah orang suci. Bahkan aku tidak tahu, apa perbedaan orang suci dengan orang biasa.


Tapi yang jelas, aku benci orang yang naif dan munafik!


Dan kalau menurut norma, tidak sopan bagiku, anak 6 tahun berbicara dengan kakek tua, seperti ini. Tapi aku yakin beda ceritanya jika ini masalahnya.


Dia hanya diam menanggapi pertanyaanku.


Apakah itu bisa diartikan bahwa dia sudah tidak bisa menghitung lagi dosa yang dia perbuat?


"Sepertinya kau sudah salah memilih musuh, kek! Kau salah orang ketika melibatkan keluargaku dalam semua ini." Aku berbicara dengan santai.


Aku masih berjalan bolak balik di depannya, sambil melempar lempar pisau berlumur darah di tangan kananku.


"Si-siapa kau sebenarnya?!" Dia masih merintih sambil merangkak, berusaha mencabut pisau di tangannya.


Aku hanya bisa tersenyum kecil mendengar itu.


"Sudah kubilang bahwa aku adalah malaikat kematian kalian." Aku mengakhiri percakapan, dengan menginjak pisau itu lebih dalam, menyisakan teriakan menyakitkan dari tetua itu.


Aku berjalan perlahan meninggalkan kakek itu dengan penyiksaannya, dan melepas topeng di wajahku. Setidaknya aku ingin mengamati Patung itu.


Patung itu tidak bergerak (pastinya), tapi di dadanya ada cahaya kehijauan. Itu tidak hilang bahkan setelah aku menghentikan ritual.


"Sepertinya aku harus menghancurkan semuanya, ya?" Aku tertunduk sedih.


Untuk menghancurkan ini semua, aku tak tahu berapa banyak sihir yang harus dikeluarkan.


Aku berjalan pelan, sambil mengambil pisau milik Soeye. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku yakin ini barang yang berharga.


Bentuknya indah, dengan beberapa ukiran. Dan yang paling penting, pisau ini sangat tajam.


Ruangan gua itu berisi banyak erangan kesakitan dari mereka yang sudah kupinggirkan. Aku sengaja tidak membunuh mereka sekarang. Tapi aku membiarkan mereka, sambil berlari keluar gua.


Tunggu!! Aku melupakan sesuatu!


Aku segera berlari masuk ke dalam, mengambil sesuatu yang aku lupakan.


"Kenapa aku bisa lupa dengannya?!" aku menggendong Syila dengan gendongan samping, berjalan pelan keluar.


Ternyata, ada jalan lurus dari sini, yang langsung menuju luar gua bawah tanah itu. Aku jadi berpikir untuk apa aku dan Soeye menelusuri jalan berliku tadi?


"Baiklah, mungkin dari sini saja." Aku menidurkan Syila, berharap dia tidak akan bangun nanti.


Aku menyiapkan sihir terkuat ku sekarang. Aku berniat untuk mengubur mereka semua, sekaligus menghancurkan gua itu.


Aku bukanlah orang yang naif. Aku punya penilaian sendiri. Aku tahu mana yang baik dan buruk. Tentu, aku masih punya rasa kasihan, tapi untuk mereka aku tidak memiliki rasa kasihan lagi.


"Hmm, bagaimana aku membuat sihir ini ya?" Aku berpikir sejenak, sambil menyalurkan Fehl ku ke tangan.


Setidaknya, aku harus membuat sebuah sihir yang tidak terlalu besar, tapi memiliki dampak yang sangat besar di sana.


Aku memikirkan sebuah serangan dengan campuran api dan petir. Itu membuatnya menjadi api yang bisa memberikan efek listrik.


Aku juga menambahkan elemen angin untuk membuat efek elemen api menjadi lebih besar.


Aku sedikit fokus sekarang, ketika tiba tiba tanganku bergetar aneh.


"Wah, sepertinya aku menghasilkan sihir baru! Baiklah akan kunamai [Strom Firebolt]!" Aku terlalu senang dengan sihir baruku, sampai lupa bahwa jika aku terlalu banyak menggunakan MP badanku tidak akan kuat menahannya!


BUAAGGHH!!


Aku memuntahkan darah, dari mataku juga mengalir, bahkan dari pori pori tanganku.


Ini adalah kelemahanku. Badanku bahkan tidak memberi peringatan, dan langsung rusak seperti ini. Bahkan aku merasa organ dalamku seperti tiba tiba hancur!


"Siall! Aku lupa!" Aku mengerang perlahan ketika aku melepas kontrol atas bola dari [Storm Firebolt], dan aku sudah mulai jatuh.


Aku menyaksikan bola kecil itu terbang perlahan menuju pusat gua. Bisa dibilang, itu mirip kembang api!


Aku kira itu akan menjadi serangan yang luar biasa seperti di manga atau anime, dengan laser besar dan menghancurkan semuanya seketika.


"Kok, mengecewakan?" Aku bertanya perlahan menghadap bawah, tidak mampu lagi berdiri.


Aku menatap Syila dengan senyum, mengingat apa yang sudah dia lalui selama ini.


Aku juga sedikit kecewa, yang mana sebuah sihir yang membutuhkan Fehl sebanyak itu hanya menghasilkan sesuatu yang aneh.


BOOM!!


Aku melihat bola tadi meledak, dan ledakannya tidak main main! Ledakan itu menghancurkan bukit di atas gua itu, menghilangkannya dalam sekali ledakan!


Dan lagi, angin yang membungkusnya tadi menciptakan badai, membuatku terpental jauh!


Aku mengumpulkan sisa kekuatanku, untuk memeluk Syila, memastikannya tidak mendapat luka apapun!


Jujur itu sangat mengejutkanku. Bahkan aku yang merupakan pembuatnya, tidak menyangka ledakannya akan menjadi sebesar itu!


"Sudahlah, aku tidak tahu apapun dengan logika dunia inj." Aku yang bingung tersenyum perlahan sambil terus kehilangan kesadaran.