
"Dia akhirnya menyelesaikan nya, kah?" tanya Kei pelan dari atas langit, mengawasi Ren dan Edna.
Sementara Edna terduduk, menangis sambil memeluk Liontin biru itu, Ren masih mendongak ke atas langit, berusaha menahan tangis.
"Dari awal, Iblis putih tidak akan tercipta tanpa kesedihan. Ketika pemilik Seed memiliki emosi yang berlawanan dengan yang dia punya, dan itu aktif bersamaan, maka akan terjadi abnormalitas. Dan untuk [Wrath], itu adalah iblis putih, si pengendali es yang gila." Kei melihat ke tangannya, lalu menoleh ke arah Cilia.
"Bukankah kau pernah melakukannya, Kei? Saat itu aku yang dalam kondisi terpojok." kata Cilia menggoda Kei.
Kei tersenyum kecut, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Berhadapan dengannya yang sekarang akan sangat sulit. Aku tidak akan menahan diri." kata Kei sambil menyiapkan tombak di tangan kanannya.
Cilia mengerti, dan segera menyiapkan beberapa sihir dan belati yang dia simpan.
***
("AKU HARUS PERGI DARI SINI!!") hati Ren berteriak, melihat tangisan Edna.
("AKU HANYA MEMBAWA MASALAH UNTUK SEMUANYA.... Kenapa?!! KENAPA!!! Aku membenci diriku sendiri!") gigi Ren bergemeretak, menandakan berapa marahnya dia sekarang.
Ren terus mengumpat dalam hatinya, mencela dirinya sendiri dengan berbagai celaan yang menyakitkan.
Terlihat dari luar, dia hanya diam dan terlihat kuat, padahal dia sudah hancur dari dalam hatinya. Hanya dia bertahan agar Edna tidak lebih sedih dari ini.
Saat itu lah serangan itu terjadi.
Ren tiba tiba menguatkan matanya, dan tangannya juga segera mengeluarkan pedang Azantium.
Tapi serangan itu terjadi sangat cepat, dan tidak diduga. Puluhan tombak besar berwarna hijau datang tiba tiba menyerbu Ren.
Ren yang masih dalam mode Iblis Putih tidak menyerah begitu saja, langsung membentuk beberapa naga yang langsung mencoba menahan tombak tombak besar itu. Tapi, itu bahkan terlalu kuat ketika berhadapan dengan tombak besar milik Kei.
Tidak hanya itu, Kei datang secepat kilat, menusukkan tombak di tangannya ke arah Ren.
[Critical Perception] Ren bebunyi, membuatnya mampu menghindari serangan itu.
Mata mereka berdua bertemu sesaat, sebelum Kei tertawa sedikit, sambil melanjutkan serangan bertubi tubi ke arah Ren.
Melihat itu, Ren juga tak segan untuk menari dengan pedang Azantium di tangannya.
Bunga bunga api tercipta di mereka berdua, yang tanpa disadari menghancurkan tanah dan bangunan di sekitar mereka.
GRAAHHH!!!
Ren masih mengendalikan Ular Naga Es untuk menyerang Kei, tapi Kei juga menghancurkan mereka dengan tembakan sihir berwarna kehijauan yang seketika menghapua naga naga itu menjadi debu.
Tapi itu semua hanyalah pengalihan, untuk Ren bisa menggunakan kecepatan tercepatnya, berusaha untuk mencincang Kei.
Kei sempat terkejut di serangan pertama, dimana pedang Ren menyerempwt pipi Kei sesaat, sebelum akhirnya diteruskan ke puluhan serangan dalam hitungan detik.
Kei menerima damage sangat banyak dari serangan cepat dari Ren. Itu membuat Kei tertawa.
"Bagus! Bagus!! Memang harus begini!!" teriak Kei.
Kei mengaktifkan lagi sedikit kekuatan [Wrath] miliknya, membuat separuh tangannya tertutup tato aneh.Tapi yang jelas, itu meningkatkan kekuatannya.
Mereka berdua terus beradu senjata dan kekuatan mereka, terlihat seperti pertarungan yang sengit.
?!!
"Ahh, Cilia. Kau mengganggu." dengus Kei pelan.
Itu adalah perbuatan Cilia, yang menjerat Ren dengan kemampuan [Lust] miliknya. Itu seharusnya menjerat pikiran Ren, tapi karena ketahanan Ren terlalu tinggi, dia hanya mendapat efek di badannya.
"Kau terlalu lama, Kei. Akan buruk jika kau terlalu lama dalam pertarungan sengit seperti itu. Kau bisa lupa waktu!" jawab Cilia.
Ren yang melihat itu sedikit melongo, tapi segera sadar dengan keadaannya.
"Apa ini? Apa yang kalian inginkan? Dimana kak Edna?!!" Ren berteriak marah ketika dia benar benar tidak bisa bergerak.
"Hey hey, tenanglah. Kakakmu ada disini. Kami tidak berbuat sesuatu yang buruk padanya. Hanya saja, kami ingin melakukan sedikit hal padamu." jawab Kei sambil mengantarkan Edna, yang segera berlari ke arah Ren.
Setelah memastikan Edna yang baik baik saja, Ren bisa bernafas lega, tapi lagi lagi menatap tajam ke arah Kei dan Cilia.
"Apa yang kalian inginkan?" tanya Ren.
"Baiklah. Langsung ke intinya. Kau susah lihat bagaimana kekuatanmu sekarang, bukan? Kau tahu sendiri bahwa kekuatan itu hanya akan membawa ke arah kehancuran. Kau sudah tahu itu semua." kata Kei yang langsung menuju inti permasalahan.
"..." itu jelas membuat Ren tidak bisa berkata kata.
"Karena itu, kau sudah terlalu banyak berurusan dengan hal hal seperti ini. Kau harus berhenti melakukannya."
"Seperti yang tadi kau katakan, kau harus memutus ikatan." sambung Kei lagi.
Ren benar benar tidak tahu, apa yang harus dia lakukan sekarang. Hatinya berperang, antara membenarkan perkataan Kei dan menyalahkannya.
"Karena itu, aku akan mengambil kekuatan mu, dan kemampuan mengendalikan sihir alam mu akan aku segel. Kau tidak akan bisa mengendalikan sihir seperti ini lagi." kata Kei mencoba bernegosiasi.
Ren hanya diam, mencoba memikirkannya.
"Memang jika aku berhenti, jika aku melepaskan kekuatan ini, apakah yang lainnya akan berjalan seperti biasa?"
"Bisakah yang lain hidup aman tanpa ada masalah yang mengincar nyawa mereka? Bisakah mereka tetap seperti sekarang ini? Bisakah mereka?" tanya Ren mendesak Kei.
Kei mendengar itu tertawa.
"Aku ingatkan. Kau sejak awal tidak ada disini. Dengan kata lain, kau adalah abnormalitas." kata Kei.
"Ha? Apa maksudnya?" Edna terlihat bingung.
Ren langsung mengerti bahwa Kei sedang membahas bahwa Ren yang merupakan Reinkarnator, dan tidak seharusnya disini.
"Kau tahu? Jika kau tidak ada, kemungkinan Suzu sudah mati sejak awal, dan ada kemungkinan Kultus tidak menyerang kota dengan mengirimkan monster monster itu. Kau tahu? Kau sudah merusak tatanan dunia ini!" kata Kei lagi.
"Dan sekarang, kau sudah tidak bisa lari lagi dari ini. Tapi dengan menghilangkan jejakmu disini, kau tidak akan dilacak."
"Kau hanya perlu melihat dunia ini dengan matamu sendiri, dan kembali berkumpul bersama dengan keluargamu. Itu yang kau inginkan, bukan?" tanya Kei. Semua itu benar benar masuk seperti Kei bisa membaca pikiran Ren.
Suasana menjadi hening, ketika Ren sedang memikirkan apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
Dia menatap Edna yang hanya menatap Ren dengan penuh harap, dan melihat ke sekelilingnya, terutama tanah yang memutih karena salju, dan melirik ke liontin yang dipegang oleh Edna.
("Aku benar-benar sudah melewati batas.") batin Ren berbisik.
"Baiklah. Aku akan melepas semuanya."