
Jujur saja, saat dia bersikap natural seperti ini terlihat bahwa dia adalah putri kerajaan yang asli. Aku sedikit terkagum kagum dengan itu.
Dan setelah aku amati lagi, dia memang cantik. Seperti yang diharapkan dari Elf, mereka memang cantik. Ditambah dengan rambut pirangnya, menambah kesan elegan yang muncul di setiap pandangannya.
Kalau dia tidak kikuk, tidak. Mungkin dia menutupi sisi lain dirinya dari para penduduk, membuatnya tetap terlihat sempurna sebagai putri kerajaan.
"Kazuto? Kazuto?" dia memanggil namaku.
"Ahh, maaf. Aku belum pernah melihat putri di dunia nyata sebelumnya, jadi aku agak terkejut." aku sempat melamun tadi. Apa kata katanya mengandung sihir hipnotis?
Dia mengangguk pelan, sampai sepertinya dia mengingat sesuatu dan wajahnya langsung berubah.
"Oh ya! Kazuto! Aku ingin bertanya! Apakah kamu kenal Rumia Eldorbach?" tanyanya.
Orang ini. Apakah dia bodoh? Tidak. Dia sangat jenius, bukan? Lalu kenapa dia menanyakan nama seorang buron dengan langsung?
"Kau terlalu terang terangan, putri. Tapi terserahlah. Aku memang mengenalnya. Dia adalah orang yang baik." aku tersenyum sambil mengenang Rumia.
"Be-begitukah? Kalau begitu, itu bagus. Ngomong ngomong, bagaimana keadaan Rumia sekarang?"
"Kalau itu, sekarang dia bekerja di sebuah toko teh yang bernama "Tea Paradise". Dia sangat bahagia saat diterima oleh manager di sana, dan sekarang dia pasti sangat-"
DEGG!!!
Sebuah kenangan seperti gambar gambar mulai masuk ke kepalaku. Kenangan yang tidak mengenakkan, ya g menunjukkan gambar gambar tentang Eldergale yang dihancurkan, gambar Eldergale penuh dengan makhluk hitam tanpa ada penduduk yang tersisa.
Saat-saat ketika aku terlambat, saat saat ketika aku tidak mampu menyelamatkan mereka.
Aku lupa itu.
Aku lupa bahwa Rumia, dan seluruh warga tidak ada dalam insiden itu. Jangankan kata kata terakhir nya, melihat jasadnya saja aku tidak bisa.
Benar benar menyedihkan.
"Kazuto! Kazuto! Apa kau baik baik saja? Hei! Jangan membuatku takut!" ada suara yang memanggil tapi bukan dengan namaku. Selain itu, pipiku juga semakin panas karena beberapa tamparan kecil.
"Ahh, huhhh. Maaf. Aku hilang kendali." aku kembali ke dunia nyata, dimana putri ada di hadapanku dengan tatapan khawatir.
Rupanya aku tiba tiba menjadi diam, dengan tatapan kosong dan nafas yang tersengal-sengal. Yahh, sampai sekarang nafasku masih belum teratur, dan ekspresi ku sekarang lebih gelap. Aku tahu ini dari putri.
"Apakah ada masalah, Kazuto?" tanyanya.
"Maaf mengecewakanmu, putri. Memang Rumia bahagia saat itu dengan manajer."
"Kalau begitu, bukankah itu bagus?" tanya putri. Ya. Itu memang bagus jika berlangsung selamanya. Tapi kenyataannya bukan begitu.
"Rumia, tinggal di kota Eldergale." bissikku pelan.
Mata putri Yuna melebar, aku tahu dia terkejut ketika aku menyebutkan nama Eldergale. Lagipula, siapa yang tidak tahu insiden Eldergale? Aku pernah mendengar bahwa insiden itu sampai ke beberapa negara lain.
"Jadi dia sekarang-" tampaknya dia sudah tidak bisa melanjutkan kata katanya.
Dia menangis, sepertinya Rumia benar benar dekat dengan putri. Aku juga tidak bisa melakukan apapun untuk menghibur nya, dan sebagai gantinya, aku hanya menceritakan bagaimana aku bertemu dengan Rumia.
Tentu, semua yang aku ceritakan bohong, dengan mengatur bahwa aku adalah petualang yang mengelilingi dunia dan bertemu Rumia dengan tidak sengaja.
"Begitukah. Baiklah. Aku senang setidaknya dia bahagia. Aku masih merasa bersalah atas pengusirannya dulu." dia menunduk.
"Ngomong ngomong, putri. Apa kau yang membuat semua ini? Ini luar biasa!" aku berusaha mengalihkan topik.
Dia sedikit tertawa, sepertinya mengerti maksudku.
"Yahh begitulah. Kau tahu ada banyak sekali diskriminatif yang terjadi di dunia ini. Seperti manusia yang kurang dalam sihir maupun status dasar. Tapi jika mereka memiliki alat ini, mereka bahkan mampu bersaing dengan ras lain!" katanya sambil mengambil benda mirip pistol itu.
"Apakah itu aman? Dan juga, bukankah itu terlalu besar?" tanyaku.
"Dengan begini, lalu--" ledakan tepat setelah dia mengatakannya. Ya. Alat itu meledak.
"Itu jauh dari kata aman, kau tahu?" aku menghela nafas berat.
"Sangat berbahaya. Jika kau tidak kulindungi, kau tidak akan lolos tanpa luka." aku menggerakkan tanganku, menyapu debu yang muncul dengan tanganku.
Ketika debu itu mulai hilang, muncul wajahnya yang menatapku dengan mata berbinar.
"Kamu? Bisa menggunakan sihir tanpa rapalan!" teriaknya dengan semangat. Uhh, aku sudah menduganya.
"Tidak. Aku sudah tahu bahwa alat itu akan meledak, jadi aku sudah menyiapkan mantra sejak awal."
"Tunggu! Berarti kau bilang karyaku akan meledak? Sial kau!!!" dia sedikit marah, memukul mukul dengan tangan kecilnya. Itu tidak menyakitkan, tapi menurutku ini lucu.
??
"Ini?" aku mendekat ke arah tabung itu, menanyakannya.
Itu sedikit tersembunyi, jadi aku tidak akan menemukannya jika aku tidak teliti melihat ruangan itu.
Uhh, aku bisa melihat pandangannya mulai gelap. Apa aku menanyakan sesuatu yang salah? Apa itu adalah penelitiannya? Tapi bereksperimen dengan makhluk hidup, itu bukan sesuatu yang bagus, bukan?
"Yuna. Aku tanya padamu. Apa ini adalah salah satu penelitianmu?" tanyaku dengan nada datar. Dia hanya mengangguk pelan.
"Akan lebih cepat jika kau menjelaskannya. Apa yang akan aku lakukan selanjutnya, itu tergantung dari penjelasan mu, kau tahu?" aku sudah memegang belati di tanganku sekarang, mencoba mengancamnya.
"Baiklah." dia berjalan ke arah tabung itu, tapi tetap menundukkan kepalanya. Aku benar-benar tidak bisa menebak ekspresinya.
"Dia adalah sahabatku, Rina." katanya.
Aku jelas terkejut, tidak tahu apa yang harus aku katakan sekarang.
"Aku akan menjelaskan nya." katanya lagi.
***
Jadi, intinya Rina adalah sahabatnya yang berasal dari rakyat biasa. Sebuah cerita klise yang menunjukkan hubungan antara bangsawan dengan sahabatnya orang biasa.
Semuanya berjalan baik, tapi pada suatu ketika, mereka dibaptis bersama di gereja. Itu adalah saat mereka berumur 5 tahun.
Itu adalah tradisi di kota Ronia ini. Benar benar sesuatu yang aneh.
Mari kita mundur sedikit dari agama yang dianut. Agama yang dianut oleh gereja dan dunia ini adalah agama yang mengatakan bahwa dunia ini diciptakan beberapa dewa, seperti yang pernah diceritakan oleh Suzu waktu itu.
Tapi aku secara khusus bisa mengatakan aku tidak menganut itu.
Intinya, semua berubah setelah dia dibaptis gereja itu. Katanya, sahabat Yuna mengidap penyakit yang khusus, dan itu harus diserahkan ke gereja agar bisa disembuhkan. Tapi karena halangan biaya, mereka tidak melakukannya.
Tapi pihak gereja tetap memaksa Yuna untuk menyerahkan Rina. Bahkan biaya untuk pengobatannya dihapuskan.
Karena itu, Yuna tidak terlalu percaya dan membawa Rina untuk menyembuhkannya sendiri, dengan teknologi dan sihir yang dia punya. Dia mengembangkan kemampuan dan sihirnya dengan membuat laboratorium rahasia disini, dan membuat Rina dalam kondisi tidur.
Dia berjanji akan menyembuhkan Rina dan membangunkannya nanti.
***
"Humm, begitu. Itu adalah cerita yang menyedihkan sekaligus mencurigakan." jawabku setelah mendengarkan seluruh ceritanya.
"Kau percaya?" tanyanya pelan.
"Tentu, kenapa tidak? Apa kau berbohong?"
"Kalau itu, aku tidak berbohong." sepertinya ini adalah sesuatu seperti janjinya.
Tapi ngomong ngomong, sudah ada teknologi Cold Sleep di dunia ini, Yuna benar benar luar biasa. Itu adalah teknologi yang ada di masa depan, jadi aneh untuk ada di dunia ini, tapi Yuna berhasil mewujudkannya.
"Dari mana kamu belajar ini?" sepertinya aku pernah melihat gejala ini.
"Umm. Aku pernah melihat sesuatu yang mirip dengan penyakit Rina di Gereja. Dan mereka memililo banyak sekali yang seperti ini, lho!" jelasnya.
Hmm, aku tidak bisa berkata kata. Mendengar Gereja berhubungan dengan hal hal seperti ini memang tidak baik untuk aku dengar sekarang, karena aku akan menemui mereka untuk menyembuhkan ibuku.
"Yahh, sekali lagi, maafkan aku. Aku terlihat seperti menipumu." dia mulai menunduk.
"Aku seperti orang gila, bukan? Bahkan sampai bereksperimen dengan makhluk hidup. Aku benar benar, jahat, bukan?" katanya. Sepertinya dia ingin untuk dihibur? Kalau begitu!
"Benar! Kau mengerikan sampai sampai aku merinding, tahu! Aku juga mengira bahwa kamu orang jahat!" aku mengangguk sambil menutup mata.
"Tunggu! Bukankah kamu terlalu jahat? Biasanya orang akan mengatakan "itu bukan salahmu", tahu!" dia berteriak lagi.
"Aku tidak akan mangatakan apa yang kau inginkan, tapi aku mengatakan yang sebenarnya. Aku agak paham apa yang terjadi pada sahabatmu, jadi mungkin aku bisa sedikit membantu." jelasku.
Ya. Kalau tidak salah, itu adalah gejala kerasukan, mirip seperti ibuku. Tapi orang yang bisa menyembuhkannya ada di Gereja, dan dia sudah tidak percaya pada Gereja.
Aku hanya bisa membantunya untuk hal yang sedikit, kah?
"Hey. Aku sepertinya punya orang yang memiliki penyakit yang sama dengan sahabatmu. Dan jujur saja, aku ingin membawanya ke Gereja, karena rumornya ada orang yang mampu menyembuhkan nya." aku akan berkata jujur.
"Baiklah jika itu pilihanmu. Tapi kamu akan tetap membantu penelitian ku, bukan?" dia bertanya dengan berharap.
"Ya. Itu adalah inti percakapan ini. Aku akan bekerja sama denganmu, tapi sebagai gantinya, jika pengobatan di gereja gagal, aku ingin mengandalkan mu untuk selanjutnya." aku bertanya sambil mengulurkan tangan, mencoba mengajaknya bersalaman.
Dia melihat tanganku, lalu melihat wajahku. Sesaat kemudian dia tersenyum.
"Kalau begitu, kita sepakat, bukan?" jawabnya.