
Kota Furyuun-
"Aina, apa sekarang kamu sudah lebih tenang?" Kurls sedang membawa Aina ke keramaian, dekat dengan Adventurer Guild.
Aina masih terdiam, sekarang mengambil nafas berkali kali.
("Aku harus tenang! Ya! Tidak ada yang dapat diselesaikan jika aku tetap panik seperti ini!") Aina berteriak dalam hati.
"A-aku sudah tidak apa, paman Kurls. Ayo kita cari informasi lebih tentang Eldergale!" kata Aina sambil mengepalkan tangan.
Walau begitu, terlibat ujung ujung jarinya yang masih bergetar.
("Anak ini hebat. Dia bisa menutup ketakutannya untuk orang lain. Dia mengagumkan.") Kurls tersenyum, membatin pelan.
"Aina, sebaiknya kita beristirahat dulu disini. Kita juga sudah dekat dengan Adventurer Guild. Seharusnya kita bisa mendapatkan informasi dengan cepat bagaimana pun itu." jelas Kurls menghibur Aina.
Keberadaan Aina di sini sangat membantu untuk menyembuhkan hati Kurls. Walaupun dia juga sama sama terpukul, tapi dia merasa Aina menjadi seperti anaknya sendiri.
Tapi, dia juga diam diam sedikit kagum pada Aina.
("Aku juga melihat kekuatan yang dia tunjukkan tadi. Aku sengaja tidak langsung turun tangan tadi, untuk mengecek kemampuan anak yang dibawa Ren.") Kurls tidak lupa mengecek sekeliling.
("Tapi, yahh aku tidak perlu lagi mengecek kemampuan anak yang dipilih langsung oleh Tuan Muda Ren! Kalau Rem tidak kembali, aku akan melatih anak ini, agar dia menjadi sangat kuat!") Kurls membatin sambil tersenyum.
Hari sudah mulai malam, dan pintu gerbang untuk masuk ke kota Furyuun sudah mulai ditutup. Walau begitu, Adventurer Guild masih ramai karena mengurus masalah yang ada.
"Aina, ini sudah mulai malam. Lebih baik kita hentikan pencarian hari ini." Kurls benar benar khawatir dengan kondisi Aina.
"Tidak! Sebelum aku bisa mendapat sedikit informasi, aku tidak aka-" kata kata Aina terhenti, ketika terdengar suara lonceng di pintu gerbang.
Itu adalah tanda agar gerbang dibuka dengan cepat.
"Paman Kurls?! Ayo!" bahkan tanpa di aba aba, Aina segera berlari sekuat tenaga menuju gerbang, bersama dengan beberapa orang lain.
Sepertinya ada banyak orang yang menunggu kabar dari Eldergale. Bahkan jika itu bukan kabar baik.
"Hufft, dia juga memiliki tekad yang tinggi, kah?" Kurls menggelengkan kepala sejenak, lalu mengejar Aina.
Sempat terjadi keributan sesaat di gerbang, sebelum akhirnya gerbang itu naik, membuka dan seketika kericuhan terjadi.
Ada orang yang terluka, dan dibopong oleh temannya. Itu adalah party yang cukup besar, yang memiliki lengkap dengan Tank, Warrior, Mage, bahkan Assasin. Party 6 orang, yang bisa dibilang kuat.
"Minggir! Ada yang terluka! Kalian semua minggir!" Seseorang dengan syal pendek membuka jalan. Dari perawakannya, terlihat dia adalah Assasin.
Aina memberanikan diri untuk bertanya.
"A-anu! Apa kalian adalah party yang berasal dari Eldergale?!!" Aina berteriak, menghentikan Assasin yang berjalan paling depan.
"Sudah kubilang, minggir!" si Assasin berusaha menyingkirkan Aina sekuat tenaga, tapi Aina hanya bergeser sedikit. Hampir semua orang terkejut melihat itu.
Si Assasin itu juga terkejut, lalu menarik belatinya.
"Aku tidak peduli siapa kau, dan apa maumu. Jika kau menghalangi jalanku untuk menyembuhkan Tinki, aku tidak akan ragu melukaimu!" si Assasin langsung mengambil kuda-kuda.
Suasana tiba tiba menjadi berat, ketika semua langsung terdiam.
"Yahh, tunggu tunggu, Saza! dia hanya anak kecil! Biar aku yang menghadapinya, dan kau fokus untuk menuju Guild." seorang pria dengan rambut merah dan pedang indah di pinggangnya menyela, membuat keadaan menjadi lebih tenang.
Sebenarnya Kurls juga sudah menyiapkan benang benangnya, jika saja Assasin yang belakangan diketahu namanya Saza akan menyerang Aina.
Saza mendengar kalimat orang berrambut merah, dan segera menyarangkan kembali belatinya, kembali membuka jalan.
"Baiklah, nak. Aku akan mengambil alih semua pertanyaan disini. Jadi tolong, jangan ganggu kami." Si rambut merah membawa Aina ke pinggir.
"Oh ya! Karena kami sedang terburu buru, kamu juga lebih baik ikut. Aku akan menjelaskan semuanya setelah ini." jelas si rambut merah.
Aina menatap Kurls perlahan, dan Kurls hanya memberikan jawaban dengan sedikit mengangguk.
Akhirnya, tidak ada yang mendapat informasi sedikitpun dari gerbang, padahal itu sangat ramai disana. Tapi karena party yang muncul adalah party yang disegani, dan dengan suasana yang berat, membuat tidak ada sedikitpun yang berani bertanya.
Jangankan bertanya Untuk membuat suara sedikit saja, mereka tidak berani.
Pada akhirnya, hanya Kurls dan Aina yang mengikuti party itu menuju Guild.
Di depan Guild, terlihat Guildmaster, Diena dan beberapa orang yang terlihat seperti staff nya, menunggu. Sepertinya penjaga gerbang sudah memberikan informasi lebih dahulu.
"Selamat datang, party Rank-A, Gagak Hitam. Saya dengar anda memiliki beberapa personel yang terluka. Silakan lewat sini." kata Diena ramah.
Mereka semua bergegas masuk, dan para staff juga menutup pintu, untuk privasi.
"Jadi, apakah mereka bisa berada di sini?" tanya Diena sambil melirik ke arah Kurls dan Aina. Kurls sejatinya adalah orang yang bersama Aina, jadi dia seharusnya diperbolehkan untuk berada di sini.
"Ya. Aku sudah menjanjikan padanya untuk menjelaskan beberapa hal." jawab si rambut merah.
Sepertinya orang itu adalah leader dari party ini. Terlihat bagaimana dia mengawali pembicaraan, dan bagaimana dia bisa mengatur teman temannya.
Ini adalah party yang paling cepat datang kemari. Karena bahkan party yang mereka kirim baru berangkat sore tadi, dan sekarang sudah menandakan tengah malam.
"Yahh, kami memang sejak awal berniat menuju Eldergale, sampai akhirnya di kartu kami muncul peringatan serangan Rank S di kota Eldergale. Oleh karena itu, kami sebagai party Rank-A atas sudah berkewajiban untuk datang." ceritanya.
"Yahh, itu yang aku pikirkan, ketika aku sampai di sana, semua yang kulihat berbeda dengan Eldergale yang pernah aku tahu." mimik wajahnya berubah.
"Itu hancur. Banyak warga yang berlarian kesana kemari, dikejar oleh makhluk hitam yang aneh. Kami juga berniat untuk menolong orang orang itu, tapi kami dihadang oleh makhluk hitam juga." dia melirik ke arah ruang kesehatan.
"Dia menyerang dengan cepat. Dan seperti biasa, Tinki menjadi tank untuk kami semua. Tapi satu kali serangan darinya, menghancurkan perisai Tinki."
"Tinki juga bahkan terkena serangannya. Perisai itu sangat kuat, tapi bisa hancur dengan sebegitu mudahnya."
"Jadi aku tidak punya pilihan lain selain menarik semua personel segera. Dan segera menuju Furyuun untuk mendapat pengobatan secepatnya." jelas si rambut merah panjang lebar.
Aina bergetar mendengar itu, dia tiba tiba berdiri, dan menuju orang berambut merah.
"Jadi, kalian meninggalkan mereka semua?!!" Aina berteriak marah, dengan air mata mengalir di wajahnya. Dia sangat sakit, ketika mendengar itu, tapi sepertinya orang berambut merah itu sudah menduganya.
"Biar aku urus dia, Rhine!" Saza si Assasin, juga seidkit bergerak. Tapi ditahan oleh tangannya.
"Sayangnya, aku adalah petualang, yang tidak bergerak untuk amal. Kalau kau berada dalam posisiku, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Rhine.
Aina kembali menitiklan air mata, yang lama kelamaan semakin deras.
"Tapi, kakak??" Kurls cepat tanggap, lalu memeluk Aina, berusaha menenangkannya. Walau ini menyakitkan, tapi Kurls tetap bisa menerimanya.
"Kami juga tidak akan bisa melawan makhluk sebanyak itu. Jujur saja, itu bukan hanya penyerangan Rank-S, tapi penyerangan Rank-SS!" lanjut Rhine. Dia menggunakan istillah lain, membuatnya menjadi lebih mudah dimengerti orang lain.
Keadaan hening, semuanya terdiam, tidak ada yang berani angkat suara. Hanya ada suara isak tangis dari Aina, yang diredam oleh Kurls.
"Ya, maafkan kami telah berperilaku tidak sopan, dan kami sangat berterima kasih atas informasi yang telah kalian berikan." Kurls menunduk, sambil memberi hormat kepada semua yang hadir disana.
Semuanya membalas kembali dengan sedikit membungkukkan kepala.
Sepertinya semuanya memahami perasaan Aina, dan memahami keadaan nya.
Kurls dengan segera keluar ruangan, sambil mencoba untuk menenangkan Aina. Dengan begitu, suasana dalam ruangan menjadi berat.
"Aina, sudahlah. Jangan menangis. Aku tidak bisa memberikan harapan, tapi aku tahu, bahkan kamu sendiri juga tahu bagaimana kekuatan Ren." jelas Kurls. Kurls tidak pernah diketahui melihat langsung kekuatan Ren, tapi dia bisa tahu dengan mudah.
Aina mendengar itu, mulai mengangkat wajah.
"Humm! Kau benar, paman Kurls! Aku yakin! Aku akan menunggu Kak Ren kembali!" teriak Aina, kembali mendapatkan semangatnya.
***
-PoV: Ren
.
"Hachooo!!!" aku bersin
"Ren, apa kau baik baik saja? Apa kamu terkena flu?" ibu bergerak cepat, bertanya dan mengecek keadaan ku. Ugh, ibu sangat perhatian!!
"A-Ahh, tidak! Aku tidak apa apa!" aku berusaha menjauhkan ibuku yang sepertinya sifat overprotektif mulai kembali aktif
"Kemungkinan, ada orang yang sedang membicarakan aku." jawabku.
Kau tahu, katanya jika ada yang membicarakanmu, kamu akan bersin. Aku harap takhayul ini juga dipercaya di dunia ini.
"Heh? Kau bilang apa?" ugh, sepertinya aku terlalu berharap.
Yahh, aku sepertinya harus cepat cepat sampai Furyuun. Tapi ini sudah mulai tengah malam, dan aku tidak bisa memaksakan pada Ibu dan kak Edna untuk terus berjalan.
"Baiklah! Kita akan istirahat dulu di sini malam ini." kataku sambil menengok ke sana kemari.
"Disini? Apa kita akan berkemah? Selain itu, kami masih kuat, Ren. Tidak apa jika diteruskan sampai ke kota selanjutnya." jawab ibu.
Yahh, aku melihat ada desa yang cukup besar dan ada penginapan di sana. Hmm, ini semua karena skill cheat [All Map Exploration].
"Tidak. Ada desa di dekat sini. Ikuti aku!" aku kini memimpin jalan di kegelapan malam.
Aku merubah tujuanku, kini untuk balas dendam. Banyak yang mengatakan, bahwa balas dendam hanya akan membawamu ke kehancuran.
Tapi aku tidak peduli. Kalau balas dendam membawa kehancuran, maka aku hanya harus menjadi kehancuran itu sendiri.
Aku memang memiliki banyak rencana di dalam kepalaku, tapi tetap, aku tidak bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
Ini memang akan menjadi petualanganku di dunia ini, tapi aku bukannya bisa bersenang senang.
Nahh, apa yang akan menungguku di perjalananku selanjutnya?