Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 3: Bab 6 - Sebelum Bertemu



"Ada apa, Ren? Kenapa kamu berhenti?" ibu sedikit heran ketika aku sedang mengecek peta.


"Ahh, tidak. Ada baiknya kita mencari makan terlebih dahulu. Ini sudah mulai siang, dan kita belum makan apapun! Juga ada baiknya kita membawakan beberapa makanan untuk mereka." jelasku.


Ya. Firasat ku mengatakan mereka belum bergerak bahkan untuk makan. Selain itu, ada tiga orang disana, paman Kurls, Aina, dan Suzu.


Aku selalu memberikan penanda pada orang orang yang dekat denganku.


Seperti aku memberikan penanda pada para Guildmaster. Aku tidak tahu, apakah penanda ini ada batasnya atau tidak.


"Humm, sepertinya kau benar. Sebenarnya aku juga lapar, tapi apakah kamu membawa uang?" kak Edna sedikit khawatir.


"Yahh, aku punya sedikit. Apakah ini kurang?" aku mengeluarkan 10 keping perak yang sejatinya terlalu banyak.


Aku tahu biaya makan kita ini kira kira 10 keping perunggu per orang. Jadi ini cukup untuk kami bertiga selama 15 hari kedepan.


"Hufft, sepertinya aku lupa berurusan dengan siapa. Dan aku juga seharusnya tidak khawatir." kata kak Edna.


"Ya! Tenang saja! Selain itu, aku juga sudah menemukan tempat makan yang enak!" aku mengacungkan jempol, percaya diri.


***


"Ini tempat yang bagus!" aku menunjuk pintu sebuah penginapan sekaligus bar.


Ya. Ini adalah penginapan tempatku menginap dulu. Ini mungkin penginapan untuk para Adventurer, tapi ini cukup layak untuk ditinggali.


Kak Edna dan ibu sekarang juga terlihat seperti Adventurer, jadi akan lebih mudah untuk masuk.


Dan yang terpenting, makanannya juga cukup enak.


Aku membuka pintu kembali melihat perempuan yang menjadi resepsionis yang dulu. Aku sedikit melambaikan tangan, lalu kami bertiga duduk di meja untuk tiga orang yang kosong.


Tak menunggu lama, si resepsionis yang merangkap menjadi pelayan itu datang ke meja kami.


"Kita bertemu kembali, tuan Nier. Atas tidak membuat keributan kemarin, saya sangat berterima kasih. Jadi, apa pesanan anda sekarang?" tanyanya sambil sedikit membungkuk.


"Humm, seperti yang di sarankan saja. Aku pesan tiga porsi, dan tolong dibungkus 3 porsi juga. Untuk minum, beri teman temanku teh saja." jawabku.


Sebenarnya aku tidak tahu harus memesan apa!


"Baiklah, dimengerti. Silakan menunggu sebentar." kata pelayan itu sambil menundukkan kepala. Aku juga tak lupa memberikan satu koin perak untuk membayar.


Kak Edna menatapku bingung, membuat ekspresi yang aneh, tapi lucu.


"Hei, Ren. Kamu adalah pendatang di sini, bukan? Kenapa kamu seperti mengenal baik orang orang yang ada di sini? Apakah itu juga salah satu kemampuan rahasia Ren? Luar biasa." kak Edna mengomentari ku dengan aneh.


"Tidak ada. Aku hanya kebetulan menginap di sini saat kemarin di kota ini. Jadi aku sedikit mengenal mereka." jawabku tenang. Kak Edna hanya mengangguk dan mengobrol kembali dengan ibu.


Aku kembali menatap mereka berdua. Aku benar benar senang mereka tetap terlihat ceria. Apalagi kak Edna.


Sepertinya dia berusaha keras untuk menggantikan kak Ruly, mulai dari cara bicara, sikap, bahkan dia mulai mengubah cara pikirnya.


Aku tidak mengatakan itu salah, hanya saja jika dia terus menjadi orang lain, dia akan kehilangan jati dirinya.


Tapi melihat pemandangan ini, sepertinya itu yang kak Edna inginkan.


"Maaf sudah menunggu!" pelayan itu kembali sambil membawa beberapa makanan, tumis daging dan sayur sup beserta minumannya.


"Ya, terima kasih." aku menunduk pelan sambil menatapnya pergi.


"Tunggu, Ren! Kenapa kamu memesan alkohol? Apa kamu bisa minum alkohol? Kamu tidak boleh! Kamu belum bisa!" ibu memperhatikan makananku dan sedikit marah.


Uhh, ya. Ini sedikitnya salahku. Tapi ada banyak hal kenapa aku harus memesan bir disini.


"Benar kata ibu! Tidak mungkin kamu ingin mabuk di siang hari, bukan? Juga kamu tidak akan kuat minum alkohol. Jujur, kakak juga belum bisa." tambah kak Edna.


"Hufft. Maaf, tapi jika aku tidak meminumnya, kemungkinan aku akan dicurigai akan meningkat. Karena hampir semua Adventurer baik laki laki atau perempuan sering meminum alkohol di siang ataupun malam." aku mulai menjelaskan.


"Dan, aku sudah bisa minum alkohol, tahu! Dan sekilas info, aku sudah mulai minum ini dari dua tahun lalu. Dan tentu saja, aku belum pernah mabuk sekalipun." aku sedikit membanggakan diriku.


Selain itu, ada alasan penting disini. Alkohol ini enak. Itu saja.


Mereka berdua berpandangan, lalu menghela nafas panjang.


"Yahh, aku lupa bahwa kamu adalah Ren!" jawab kak Edna. Tunggu! Untuk apa penyebutan itu! Apakah aku dimasukkan ke sesuatu yang berbeda? Yahh, terserahlah.


***


"Uwahh, ini sangat enak. Perutku juga kenyang!" kak Edna merentangkan tangan sambil berkata puas.


Aku senang jika mereka semua senang.


"Baiklah. Sekarang mari kita kembali fokus ke tujuan awal kita. Aku sudah mendapat beberapa informasi tentang bagaimana cara menuju ke sana." jelasku.


"Heh? Katamu kamu sudah tahu dimana letak mereka?" tanya kak Edna bingung.


"Ya aku tahu dimana mereka, tapi aku tidak tahu bagaimana cara menuju ke sana." jelasku sambil mengacak-acak rambut kak Edna, gemas.


"Uhh! Se-seharusnya aku yang melakukan itu! Aku adalah kakakmu!" kak Edna menggembungkan pipinya marah, dengan wajah yang sedikit merah.


Ahahaha! Ini baru kak Edna yang aku tahu.


Intinya, lokasi yang ditunjukkan di peta adalah tempat pengairan bawah air kalau tidak salah. Bisa dikatakan, itu adalah gorong gorong.


"Ugh, ini adalah tempat yang aneh untuk tempat seharusnya Suzu berada." kak Edna sedikit berkomentar.


Memang benar, ini sedikit bau dan tempatnya juga pengap. Memang sudah kukira akan seperti ini, karena aku dengar saluran ini sudah lama tidak digunakan.


Tempatnya juga tidak kering, dan air tidak mengalir. Karena itulah tempat ini sedikit bau.


"Yahh, kak Edna. Seperti yang kak Edna tahu, keadaan mereka sulit. Jadi, mereka pasti mencari tempat untuk bersembunyi." aku mengatakan pendapatku.


Ya. Ini adalah tempat yang sempurna untuk sembunyi. Hampir tidak mungkin ada orang yang kemari.


"Baiklah, hmm?!" aku merasakan suatu kehadiran benang tipis di depan kami.


Ini? Apakah ini perbuatan paman Kurls?


Benang ini terlihat jelas untukku, tapi tidak terlihat oleh kak Edna dan ibu.


Dan yang lebih berbahaya, benang ini benar benar beracun. Jelas paman Kurls membuat tempat ini tidak bisa dimasuki siapapun.


"Kak Edna. Kalau kamu melangkah satu langkah lagi, kamu bisa mati lho!" aku hanya memperingatkannya ringan.


Kak Edna seketika menghentikan langkahnya, dan melompat ke belakang, sangat jauh.


"Hufft. Jangan panik, kak Edna. Dan juga, jangan mudah percaya. Walaupun apa yang aku katakan barusan benar, tapi bisa jadi jika itu orang lain, orang itu ingin menjebak kakak." aku berjongkok sedikit, mengaktifkan sihir api.


Aku membakar benar benang itu, tapi sayang benang itu sangat banyak.


Aku ingin membakar semuanya sekaligus, tapi ini adalah gorong gorong. Hmm, kalau aku tidak bisa membakarnya, satu satunya hanya dengan memotongnya.


"Humm, ada benang beracun di depan. Jadi sebaiknya ibu dan kak Edna mundur." aku menyiapkan tangan.


Dan bilah bilah angin itu segera menerobos masuk, tanpa takut halangan apapun. Justru, semua penghalang yang ada akan terpotong oleh angin angin yang tajam itu.


Sepertinya aku agak berlebihan karena beberapa dinding gorong gorong terpotong.


"Baiklah. Sekarang kita aman." kami bertiga kembali melangkah maju, dan kak Edna mengamati benang beracun itu dengan antusias.


Dengan [Wind Blade] barusan, seharusnya semua jebakan sudah terpicu. Kalaupun tidak, aku harusnya tahu apa itu.


Tapi beruntung, kami sampai di depan sebuah pintu dengan selamat, tanpa memicu satupun jebakan lain.


"Disini, kah?" kak Edna berbisik pelan. Walau begitu, terlihat ekspresi berat muncul di wajahnya. Tentu saja, ini adalah pertemuannya dengan adiknya, setelah kejadian mengerikan itu.


Ibu juga memiliki ekspresi yang sama, sulit dijelaskan.


"Kalau begitu-" aku membuka pintu itu.


?!


Sebuah pisau terbang menyerang ku, dan sedetik kemudian, sesuatu meledak di depanku! Itu adalah kombinasi serangan yang mematikan!


Beruntung aku masih sempat menghidupkan perisai di depanku untuk melindungi diri sekaligus ibu dan kak Edna!


"Beraninya..." aku mendengar suara yang aku kenal.


"Beraninya..." tapi suaranya berat, seperti memendam amarah yang sangat kuat.


"Beraninya kau menyamar menjadi keluargaku?!" Suzu, sang pemilik suara keluar, dengan pasak pasak es yang berterbangan di sekelilingnya. Selain itu, paman Kurls dengan Assassin suite juga terlihat berwajah pahit di sampingnya.


Suzu langsung menyerang kami, dengan pasak pasak es yang terbang langsung berusaha menusuk kami.


Tapi itu hanya pengalihan, karena bola api besar langsung dia arahkan padaku.


Tunggu, apa? Bola api besar?!!


"Suzu! Hentik-" teriakanku tertahan.


BOOMM!!!


Api itu segera menyulut gas metana yang ada di dalam selokan itu, membuatnya meledak, mengalir seperti petasan yang disulut sumbunya.


Gorong gorong yang seharusnya dialiri air, kini banjir dengan api!


Aku tidak tahu sampai sepanjang apa, tapi aku setidaknya bisa melindungi semuanya sekarang.


Aku berhasil melindungi semua orang, tapi tiba tiba [Critical Preception] ku aktif. Dengan begitu, aku mengambil senjata apapun, menangkis serangan yang datang dari titik buta ku.


Paman Kurls menyerang ku, menggunakan belatinya!


Tidak sampai disitu, Suzu juga mengubah lantai lantai menjadi tajam, dan mencoba untuk menusukku.


Sepertinya mereka mengira aku adalah musuh yang menyamar menjadi aku sekarang.


Melihat aku lengah, paman Kurls mengincar ibu dan kak Edna. Paman Kurls terlalu cepat untuk mereka, jadi kak Edna tidak akan mampu bergerak!


"Shield!" aku berusaha meneriakkan sihir untuk bisa melindungi ibu dan kakak. Dan bertepatan dengan itu, suara berdenting terdengar.


Pertarungan di tempat yang sempit, dengan dua lawan satu. Itu adalah sesuatu yang sangat sulit!


"Suzu! Paman Kurls! Dengarkan aku!" aku melompat mundur, mengambil tempat berhadapan dengan mereka, melindungi kakak dan ibu.


Walau begitu, paman Kurls tidak hanya diam, tapi memasang beberapa benang secara diam diam.


Aku juga tidak mau terkena jebakan itu, aku menghafalkan posisinya.


"Tidak! Kamu bukanlah Ren!" Suzu berteriak, kini mengalirkan air di kaki kaki kami.


Ini? Sihir yang membuat kami tidak bergerak!


"Suzu! Percayalah! Ini aku, Ren! Dan aku bersama ibu dan kak Edna! Percayalah! Hentikan ini" aku masih berteriak, ketika menangkis serangan paman Kurls yang datang menggunakan satu tangan.


Serangan Suzu berhenti, dia berlutut, menutup wajahnya.


Pertukaran kami juga berhenti, membuat keadaan menjadi hening sesaat, hanya ada suara tangjsan Suzu.


"Suzu, kami-" kak Edna mencoba berbicara.


"Tidak!! Mereka, mereka!" Suzu behenti berbicara. Dan tiba tiba, tatapan matanya menjadi tajam.


"Mereka sudah pergi." dia mengatakan itu pelan, lalu mulai menyerang.


Sekarang aku mengerti. Suzu benar benar bahwa kami semua sudah meninggal dalam insiden itu. Dan dia tidak ingin percaya padaku.


Ugh, ini menyusahkan!


Suzu menyerang kembali dengan membabi buta. Dan tentu saja, aku menangkis itu semua sekuat tenaga.


Yahh, apapun itu, aku masih manusia. Salah satu pasak es yang Suzu lemparkan menuju kak Edna dan ibu, benar benar lewat dari penjagaan ku.


"Ren?!!" teriakan khawatir ibu menggema di lorong panjang itu.


Pasak es itu menusuk perutku, menembus hingga punggungku. Suatu benda hangat yang pernah aku rasakan dulu kini kembali mengalir keluar.


Ini adalah salah satu bentuk pengorbanan ku. Siapa tahu, dengan pengorbanan ku ini, Suzu bisa tahu bahwa kami asli.


"Hey, Suzu. Apa kamu masih meragukan ku, meragukan kami?" aku sedikit menahan sakit ketika bertanya.


"Paman Kurls!" Suzu hanya mengabaikan ku, dan menoleh ke arah paman Kurls. Sesaat kemudian, Suzu mengeluarkan sihir yang cukup besar.


Kemungkinan untuk mengakhiri kami.


?!


Sebuah es terbang mengarah ke Suzu, yang ada segera ditangkis paman Kurls. Suzu juga membatalkan rapalan mantra nya.


"Walaupun itu kau adalah Suzu sekalipun, jika kamu melukai Ren, aku akan melawanmu!" kak Edna mengacungkan tangan, mencoba mengeluarkan beberapa mantra besar.


Kontrol Fehl kak Edna sangat baik, sedangkan Suzu saat ini dikendalikan oleh emosinya.


Terlihat mereka sedikot imbang disini.


Tapi, maksud baikku justru berakhir seperti ini. Hufft, aku benar benar tidak bermaksud demikian.


Anda saja, mereka bisa saling mendengarkan.


"Khu ha ha ha! Baiklah! Kalau kalian tidak ingin diam dan mendengarkan!" aku mengangkat tangan kananku. Aku membayangkan sihir Suzu yang mengikat lawannya.


"Ha ha! Kalau begitu," aku dengan segera menutup tangan kananku.


"[Listen to Me]!!!" aku meneriakkan sihir yang baru aku buat.