
***
Kota pertama yang kami datangi adalah Fuheng. Tampaknya, ini adalah sebuah kota di Kerajaan Afsel. Masih di Kerajaan Afsel memang, tapi jauh wilayah ku yang dulu.
Apapun yang terjadi, aku tidak akan kehilangan ikatanku yang ini. Aku benar benar akan melindungi nya apapun yang terjadi.
Walau aku bilang begitu, tapi kekuatanku masih tidak seberapa.
Kamu bertujuh sudah mendaftar di Adventurer Guild sejak 1 bulan yang lalu. Dan sejak saat itu, kami selalu dilatih oleh Master agar bisa menjadi lebih kuat. Tapi apa yang aku lihat berbeda.
Aku melihat perbedaan kemampuan yang jauh berbeda. Aku merasa minder saat berada di dekat nya.
Dari sana aku mulai berpikir: "Apakah Master benar benar membutuhkan kita semua?" atau "Bukankah Master hanya kasihan pada kami?" itu yang aku pikirkan.
Perkembangan musik terhambat di minggu pertama, ketika aku ditugaskan untuk mengolah sihir lebih baik.
Aku penasaran, bagaimana Master bisa mengendalikan sihir dengan sangat baik, kalau sekarang dia tidak bisa menggunakannya? Atau mungkin dulu dia bisa memakai sihir? Itu kemungkinan terbesarnya.
Memikirkan itu justru membuat ku semakin terpuruk dalam ketidak berdayaan ku.
Master juga sepertinya menyadari itu.
Setiap malam, setiap aku sedang berdoa mendoakan orang tuaku baik di dunia yang awal dan duniaku yang sekarang, dia muncul, menatapku, dan mendekatiku, mengajakku bicara.
Dia membicarakan tentang kehidupan masa lalu yang lebih menyenangkan, dengan beberapa teknologi yang jauh lebih baik.
Aku juga menanggapinya, dan tak kusangka ini mengalir menjadi percakapan dua orang Reinkarnator biasa.
Dia juga sedikit memberikan saran tentang pelatihan ku, membuat aku berhasil melakukan apa yang dia perintahkan! Perasaan mencapai sesuatu yang baru, sudah lama aku tidak merasakan ini!
Sejak saat itu, aku tahu bahwa Master benar benar membimbing kami agar kami lebih kuat. Setidaknya ini yang dia tahu, tanpa harus melangkah ke hal yang lebih berbahaya.
Sempat muncul sebuah pikiran "Kalau begini terus, aku bisa melampaui Master dan mampu melindungi nya!".
Tapi itu adalah pikiran naif yang bodoh.
Aku tidak tahu, tapi kekuatan Master benar benar tidak bisa berhenti berkembang. Dia sudah pada tahap mampu menghadapi kami bertujuh tanpa senjata, dan tanpa tergores sedikit pun.
Tidak, bukan saat kami dibebaskan di Pohon Dunia, tapi saat ini.
Kami mengadakan pertarungan tiruan antara kami bertujuh melawan Master. Itu kami lakukan saat kami sedang mengambil Quest yang jauh dari kota, dan berada di tengah hutan yang sangat sepi.
Master juga mencoba mengecek sekali lagi, kondisi yang berhubungan dengan makhluk lain, untuk mencegah kejadian seperti Fischia terulang.
"Baiklah! Serang aku seperti kalian ingin membunuku, karena aku juga akan menyerang dengan perasaan yang sama!!" kata Master saat itu.
Jelas itu adalah hal yang sulit, tapi setelah Master menggunakan kata perintah, kami melakukannya dengan serius. Aku merasa aku pasti bisa menang jika bersama mereka berenam.
Pasalnya, kami juga sering berlatih sendiri, berlatih tentang kerja sama kami. Dan aku yakin, kami bertujuh bisa mengalahkan Master.
Itu yang aku pikirkan, sampai Master melepaskan Intimidasi nya.
Beban berat menimpa tubuhku. Bahkan Celica sampai berlutut menerima intimidasi darinya. Aku yakin aku tidak berimajinasi, tapi aku melihat udara di sekitar ku bergetar, hanya karena Intimidasi dari Master.
Alpha dengan cepat mengambil beberapa tindakan, dan menarik tali komando, memerintah kami semua.
Aku dan Alpha menyerang Master dari depan. Bisa dibilang, Alpha adalah ujung tombak kami, dan aku adalah pemilik kekuatan terbesar yang ada. Kami adalah yang bisa menahan Master dalam duel jarak dekat.
Bersama Fischia yang gaya bertarung nya tidak bisa ditebak, dia bisa menjadi sebuah pengalih perhatian yang baik.
Ghea dan Eina mendukung dengan sihir sihir dari belakang, dan Celica, memberikan sihir dukungan untuk kami yang melawan di depan. Sedangkan Dain, uhh aku tidak tahu dia dimana. Orang itu terlalu misterius untuk bisa aku mengerti.
Ketika Master masih disibukkan dengan Fischia, aku bergerak diam diam untuk menuju ke titik buta Master.
Alpha juga tahu itu, jadi dia memberikan beberapa komando yang bisa mengalihkan perhatian Master selama mungkin. Bahkan, dia berhasil membuat Master berada di udara beberapa kali.
Dia memberikan tanda, mungkin menyuruhku untuk menyerang saat Master di udara. Aku mengerti, dan bersiap.
Namun itulah Master yang aku tahu!
Aku segera bergabung lagi dengan Alpha dan yang lain untuk melihat seberapa besar dampak yang kami berikan, tapi Master hanya tertawa.
Dia pantas bergerak cepat, mencoba melancarkan pukulan ke arah kami. Aku dengan segera mengambil barisan depan, mencoba menjadi tameng. Tapi aku tahu, Master menahan diri di pukulan itu, bahkan gerakannya bisa terbaca dengan mudah.
Tapi ledakan besar terjadi. Aku tidak tahu, tapi aku merasakan pecahan sihir yang mengalir lembut di pipiku, seakan bermain main.
Ternyata itu adalah Dain yang membuat penghalang besar dari sihir!!
Dain tertawa, dan berkata bahwa itu seharusnya bisa menahan sihir tingkat Master tanpa tergores, dan baru bisa dihancurkan dengan sihir tingkat GrandMaster. Itu mengatakan bahwa kekuatan pukulan Master barusan sudah setingkat itu!!
Itu adalah kekuatan yang bisa aku dapatkan setelah melakukan beberapa latihan berat beberapa bulan lagi, dan ditambah sihir buff. Tapi Master bisa melakukannya sendiri!
Dain tidak berhenti sampai disitu. Dia membuat beberapa penghalang lagi, dan mengatakan bahwa kami tidak perlu bertarung tanpa ragu, karena Dain akan melindungi kami. Tampaknya ini adalah sihir yang dia buat sendiri, dan itu butuh waktu. Itulah sebabnya aku tidak bisa menemukanbya tadi.
Kami menyerang sekali lagi. Kali ini lebih baik karena beberapa serangan kecil dari Master tidak bisa melambatkan kami. Kami perlahan lahan menyudutkan Master.
Itu yang aku pikirkan, ketika tiba tiba senyum di wajah Maater menghilang.
Wajahnya terlihat serius, berbeda dengan yang awal tadi. Hanya dengan melihat itu, membuat tanganku sedikit gemetar saat mengayunkan belati di tangan.
Itu membuatku lengah, dan Master melancarkan tendangan ke arahku seperti biasa.
Tapi yang terjadi diluar dugaan ku.
Penghalang yang dibuat Dain hancur!
Master terus menyerang seperti biasa, menggunakan tangan dan kaki secara sempurna, bahkan setiap gerakannya tidak ada yang sia sia. Tapi kekuatan yang dikandung dalam setiap serangan itu berbeda.
Perisai buatan Dain terus hancur setiap serangan datang, membuat kami terpaksa mundur.
Alpha mencoba menyerang dengan pedangnya, tapi Master bisa menghindari nya dengan mudah. Terjadi sedikit pertarungan antara Alpha dan Master. Aku tahu pertarungan itu sudah berbeda level denganku.
Tapi ini tetap pertarungan tim. Aku dan Fischia tanpa diminta menerjang masuk, ikut menekan Master.
Aku tahu, Alpha sudah kelelahan karena pertarungan satu lawan satu tadi. Bagian belakang juga sama, karena sihir yang sedari tadi mereka lemparkan benar benar tidak dapat menyentuh Master sama sekali.
Keadaan memburuk, dan Master terlihat sedikit menarik nafas. Dan seketika, aku tahu ada sesuatu yang melayang transparan di depan kami.
Kali ini Master bergerak sangat cepat, dan aku tidak bisa membaca kemana arah serangannya. Oleh karena itu, aku segera menoleh ke arah bagian belakang kami, tapi tidak ada sesuatu yang terjadi di sana.
BAAAM!!!! Sebuah ledakan keras aku dengar dari depan wajahku.
Butiran pecahan sihir berterbangan seperti kaca yang menjadi debu. Itu terlalu tebal sehingga bisa aku lihat. Itu adalah sebuah bukti bahwa sihir yang dibuat Dain untuk tameng itu sangat banyak, bisa dibilang berlapis.
Tapi itu bisa dihancurkan dengan mudah oleh Master. Bahkan tidak sampai disitu, dampaknya berlanjut, dan menghempaskan aku, Alpha, dan Fischia menjauh.
Ditambah lagi, aku bisa melihat beberapa pohon yang cukup jauh di belakangku bisa hancur, ya! Benar benar hancur. Padahal itu berjarak setidaknya 100 meter!
***
"Apa yang kau tulis, Beta?" tanya Celica ketika melihat Beta yang sedang duduk, menulis di buku catatan, sendirian.
"Tidak, hanya beberapa hal yang tidak penting." jawab Beta sambil menutup bukunya.
Celica hanya mengangkat alis, sepertinya sudah menduga itu, pantas menyahut; "Ayo! Master sudah menunggu! Aku ke sana duluan, oke! Kau tunggu Dain dan Alpha!" sahut Celica, sambil berlari menuruni tangga Adventurer Guild, ke arah Liu Xiu yang sedang berbincang dengan Eina, Ghea, dan Fischia.
Tergambar sebuah senyum di wajah Beta, melihat pemandangan itu.
"Sampai sekarang, kami masih disambut hangat, kah?' tanya Beta pelan sambil memasukkan buku itu ke dalam sakunya, melihat Dain dan Alpha yang sudah kembali.
"Ahh, jika begini terus catatan harian ku akan penuh dengan cerita tentang Master!" bisik Beta pelan.