Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 4: Bab 3 - Pertarungan Assasin



Sudah hampir 3 minggu sejak Ren bangun. Klub yang Ren minta pada Suzu agar dibuat juga disetujui dengan mudah oleh Rice membuat semuanya berjalan lancar. Ren juga tidak berhubungan sama sekali dengan Guild selama ini, dan dia akan menjaga jarak dari mereka di Kerajaan Kin ini karena beberapa hal.


Dua minggu ini, Ren hanya berlatih pedangnya, bertarung melawan Aina, dan mencari beberapa item untuk meningkatkan pertahanannya.


Pasalnya, sekuat apapun Ren, dia hanyalah manusia. Jika dia tidak memiliki pertahanan apapun, HP nya yang tipis akan membuatnya mati dengan mudah


Selain itu, Ren mencari beberapa batuan untuk membuat ulang Zadkiel.


Ren masih mengira bahwa dia sama sekali tidak bisa menggunakan sihir, jadi dia berpikir bahwa semua barang barang yang ada di dalam inventory nya yang dia buat dengan Sihir sudah menghilang.


Hasilnya, dia sudah berhasil membuat 2 Zadkiel yang baru, dengan ratusan peluru yang siap untuk dipasang ulang.


Tidak hanya itu, dia membuat ulang Zadkiel yang besar, membuatnya seperti sniper. Entah apa yang Ren pikirkan untuk membuat senjata modern di dunia Sihir dan Pedang seperti ini.


Dengan banyaknya bahan bahan, dia bisa membuat ulang pedang Azantium miliknya.


Ren benar benar berterima kasih dengan skill [Transmutasi] miliknya. Berkat itu, dia bisa membuat benda benda yang dia inginkan dengan mudah.


Dan dengan benda seperti potion, dan beberapa bekal makanan, membuatnya siap pergi kapan saja. Tapi karena dia berjanji akan berangkat 1 bulan setelah dia bangun, dia menahan diri sambil menyiapkan beberapa hal dan terus berlatih meningkatkan diri.


Itu adalah hari yang panas di aula pertandingan di Akademi.


Itu sudah dibuat ulang dan menjadi lebih besar dari sebelumnya, dan bisa menampung lebih banyak penonton dari biasanya.


Tapi karena tidak ada acara apapun, aula itu benar benar kosong.


Itu dimanfaatkan oleh kelompok Ren untuk membuat arena latihan sendiri, dan berlatih dengan kelompok Aina dan anak anak lain.


Dengan memanfaatkan sihir tanah milik Suzu, mereka merekonstruksi tanah aula itu, membuatnya penuh dengan gelombang dan tekstur yang tidak rata. Itu terlihat mirip dengan medan pertempuran.


Tapi ada yang berbeda, karena sekarang ada kabut tambahan yang dibuat oleh Edna, untuk menyamarkan pandangan.


"Ingat! Serang aku seperti kalian ingin membunuhku, atau aku yang akan membunuh kalian! Tapi jangan biarkan keinginan itu membuat perasaan kalian terbaca oleh musuh!" teriak Ren ditengah tengah arena berkabut itu.


Tidak ada jawaban, hanya hening dalam ruangan itu.


Penghalang sudah dibentuk, untuk menyamarkan cahaya, dan Edna sedikit menambahkan cahaya putih. Itu adalah malam buatan yang sempurna.


"Bagaimana dengan tempat ini? Benar benar bagus, bukan?" kata Edna sedikit menyombongkan diri dan berkata kepada Suzu.


"Humm, benar. Bagaimana menurut paman Kurls? Aku sedikit kurang paham dengan dunia para Assasin." jawab Suzu melempar pertanyaan kepada Kurls yang sedang mengawasi dengan serius.


"Yahh jujur. Itu adalah arena yang sempurna bagi kami para Assasin," Kurls mengangguk pelan.


"Dengan gelapnya malam, dan banyaknya tempat untuk menyembunyikan diri. Selain itu, pandangan juga sangat terbatas dan cahaya bulan putih membuat kabut semakin terlihat. Ini benar benar pertarungan kami." lanjut Kurls dengan yakin.


Ya. Ini adalah pertarungan tiruan antara Ren dengan murid murid Kurls.


Murid Kurls sudah semakin banyak, mungkin berjumlah 20 ke atas. Tidak seperti awal yang hanya perempuan dan anak anak, ada juga laki laki, dan bahkan yang lebih tua daripada Ren.


Tapi mereka semua sekarang dihadapkan dengan latihan membunuh dengan keadaan yang nyata, membunuh Ren.


Mereka menggunakan pedang maupun pisau kayu, yang dilumuri cat warna. Jika warna itu berhasil mengenai lawan, maka lawan akan dianggap mati.


Ini sudah rutin dilakukan Ren 3 hari sekali, tapi ini adalah yang paling nyata.


Dan tentu, belum ada yang bisa menyentuh Ren.


"Hihhh! Aku pasti akan mengalahkan orang itu dan membuat Aina terkagum padaku!" terdengar suara bisikan pelan di suatu tempat. Itu sebenarnya tidak terdengar siapapun, karena memang terlalu pelan.


"Bodoh! Jangan bersuara! Dia akan mendengar kita!!"


"Entahlah, Jill memang bodoh. Biarkan saja dia. Selain itu, Aina. Rencana apa yang akan kita lakukan?" sekarang suara wanita terdengar. Itu membuat pemuda yang bernama Jill itu menjadi cemberut sesaat.


Setelah itu, hening menerpa sesaat.


"Aku bingung. Kak Ren benar benar tidak bercelah. Dan dia juga bisa memanfaatkan pedang panjang nya dengan sangat baik. Ingat ketika serangan Dion ditangkisnya menggunakan gagang pedangnya?!" sekarang suara Aina yang terdengar berbicara.


"Tunggu apa lagi? Kita serang dari depan, dan kalahkan dia dengan mudah! Kita pasti menang!" kata Jill dengan semangat.


"Humm itu benar. Membuat Jill menjadi umpan dan dipukuli olehnya adalah hal yang bagus." sekarang pemuda lain berkata sambil menutup mata, memegang pedang panjangnya.


"Apa katamu?!!" Jill hampir membuat suara lebih banyak, tapi segera ditahan oleh anggota yang lain.


Beberapa dari mereka menahan tawa mendengar itu, Tapi mereka dengan baik melakukan itu dengan tidak bersuara banyak.


Akhirnya mereka mengikuti rencana yang dibuat oleh wanita Elf itu, dan mulai bergerak. Ren tersenyum merasakan itu, dan juga bersiap lagi.


"Bagaimana? Apa kalian sudah siap? Apakah kalian akan menyerang dulu? Atau aku yang datang?" teriak Ren.


Hening, hanya itu yang menjawab Ren. Tapi Ren senang dengan itu, jadi dia bisa mendengarkan angin lebih baik. Dia adalah manusia, pendengaran nya tidak terlalu tajam jika dia tidak menggunakan skill.


?!!


Desiran angin terdengar, membuat Ren menyadari lemparan pisau itu.


("Tapi bukan itu serangannya, kah?") Ren sadar ketika ada pisau kedua yang dilemparkan menggunakan sihir, sehingga tidak bersuara ataupun memberikan keberadaan apapun.


("Humm? Itu juga adalah pengalihan?") hati Ren bertanya ketika dia menyadari pisau pertama ternyata dikaitkan dengan benang.


Tiba tiba, sangat banyak pisau yang dilemparkan ke arah Ren, yang membuatnya harus menghindari itu semua dengan jarak terkecil, dan harus dengan cermat memperhitungkan semuanya agar tidak terkena cat yang membuatnya dianggap mati.


SWOSSHH!!


Sebuah gerakan cepat tiba tiba datang, dengan cepat dari arah depan Ren, yang sedang dikepung oleh benang penuh cat.


Jill dengan kedua pisau di tangan bergerak cepat di depan, menghunuskan pisaunya.


"Kau yakin dengan kecepatan mu bukan, Jill?" tanya Ren sambil sedikit tersenyum ketika menahan kedua pisau Jill di udara. Jill yang mendengar itu tersenyum, lalu menekan lebih banyak.


Kemudian dari arah samping, tiba tiba muncul Aina yang mencoba mengincar leher Ren.


Aina selama ini disembunyikan dibawah sihir, membuat keberadaannya disamarkan dari Ren. Tapi melihat berapa dekatnya dia sekarang, itu berarti rencana ini sangat matang.


Tapi Ren hanya melayang tenang, dengan memanfaatkan dorongan dari Jill. Dia menghindari serangan pedang pertama yang sangat krusial dari Aina.


Jill terkejut, karena tubuhnya tiba tiba melayang, dengan kedua pisau masih di tangannya dan di bawahnya ada sosok Ren yang sangat dekat dengan pedang Aina. Dia melemparkan pisaunya ke kanan arah yang tidak mungkin dihindari Ren, sambil tersenyum penuh kemenangan.


Tapi Ren juga masih tersenyum, dan menggerakkan pedangnya memutar, membuatnya sebagai pijakan untuknua melompat lebih jauh.


"A-Apa?!!" teriak Jill tidak terima.


"Kenapa? Jill? Jangan hanya bengong dan lawan aku!!" Ren mulai memprovokasi.


"Cih! Sialan itu!" Jill sedikit mendecak.


"Tapi bukan aku lawanmu, dasar bodoh!!" teriak Jill sambil menjulurkan lidahnya, mengejek.


Saat itu juga, 3 orang Beast datang untuk menyambut Ren, dengan pedang di masing masing tangannya. Tak lama, Aina juga ikut membantu dalam pertempuran itu, membuat Ren harus lebih berhati hati.


Tidak hanya itu, lemparan pisau dengan benang itu juga tidak berhenti.


("Benar benar. Aku tidak tahu berapa lama mereka berlatih untuk bisa melakukan ini, tapi mereka luar biasa!!") Ren mengguman senang.


Tapi Ren juga segera menyadari, bahwa serangan mereka terlalu sedikit menggunakan orang. Dia jelas sudah waspada untuk menghadapi banyak orang sekaligus, tapi jika hanya 4 Beast yang menyerangnya, itu agak aneh.


("Apa karena yang lain lebih mementingkan serangan jarak jauh yang tidak bersuara?") pikir Ren.


Serangan Aina dan yang lain sangat cepat. Awalnya, Ren agak kewalahan dengan itu. Tapi setelah bertukar gerakan beberapa saat, Ren langsung menguasai dan bisa bergerak dengan gerakan se-minimal mungkin.


Tapi setelah itu semua, tiba tiba Aina dan ketiga Beast lain mundur. Ren bingung, jadi hanya diam di tempat.


Ren sudah tahu, bahwa pisau dan benang benang yang dilempar sedari tadi memiliki pola. Tapi dia bingung apa yang akan mereka lakukan sekarang, dengan pola pola itu. Apakah mereka akan menjebak Ren dengan benang itu, atau melawan maju.


Tiba tiba, kabut menjadi lebih tebal, bahkan melihat dalam jarak beberapa meter saja tidak jelas.


Tapi Ren tahu, bahwa itu juga mempengaruhi mereka. Dan pasti, ini adalah sebagian dari rencana yang meraja buat untuk menjebak Ren.


?!


Ren merasakan kedua kehadiran bersamaan di kanan dan kirinya, yang bergerak cepat. Itu tidak bisa dilihat oleh Ren, karena kabut yang benar benar tebal.


Tapi ketika semua serangan itu datang, Ren dengan segera memutar memiringkan tubuh sambil memutar badan nya.


Saat itulah Ren sadar~


("Kedua serangan itu hanya tipuan untuk yang ini, ya?")