
Tap tap tap. Suara tapak kaki mendekat. Mendengar itu, Kurls langsung berjaga di dekat pintu.
Dia memang sudah berjaga hingga pagi ini, dan terus mendengarkan serta mengamati semua pintu dan jendela.
Dan karena asrama ini cukup luasz dia bisa tidak bosan dengan hanya berdiam diri di satu tempat saja.
("Dia kemari?") Kurls berbisik pelan ketika dia mendekati pintu tanpa suara.
"Selanjutnya keluarga Larvest kah? Uhh, aku ingin bertemu dengan Nona Suzu, tapi aku juga khawatir dengan keadaan nya kemarin!"
"Benar! Dia langsung syok ketika mendengar pengumuman yang ada di Adventurer Guild. Dan karena itu, keluarga yang ada di sini ditahan untuk pulang untuk menghindari kemungkinan terburuk. Mungkin aku senang, tapi itu tidak baik untuk Nona Suzu. Semoga dia tidak apa." Jawab yang satunya.
Mendengar itu, segera Kurls keluar kamar, lalu berdiri di depan pintu, tepat sebelum mereka berdua mengetuk pintu.
Mereka berdua perempuan, sepertinya teman sekelas Suzu. Di tangan mereka ada sebuah kertas kasar yang berwarna cokelat, dengan beberapa gambar di atasnya.
"Maafkan saya, Nona Suzu sedang tidak bisa diganggu. Saya juga tidak bisa meninggalkan Nona sendiri cukup lama begitu saja." Kurls langsung ke inti sambil membungkuk, memohon maaf.
Mereka sedikit berpandangan, lalu memberikan kertas itu pada Kurls.
"Umm, kami mengerti keadaannya. Kami kemari hanya menyampaikan ini. Hati hati jika bertemu dengan mereka, dan tangkap mereka hidup hidup ya!" salah satu dari mereka mengedipkan matanya.
Kurls mengambil dan membacanya sekilas.
"Bukankah ini?!" mata Kurls membesar ketika membaca itu.
Di kertas itu tergambar sketsa wajah sempurna milik Aina, dan sketsa wajah milik Kurls. Memang milik Kurls tidak sejelas milik Aina, tapi itu ada.
"Eh, kalau dilihat lihat lagi, kamu-" salah satu dari mereka menelisik.
"Maafkan saya, jika tidak ada hal penting lain, saya akan kembali masuk. Saya akan menyeduh kan teh untuk Nona Suzu." Kurls segera memotong, dan masuk.
Semuanya melihat dengan bingung, tapi hanya pergi sambil mengangkat bahu.
Kurls mengambil nafas lega ketika mereka pergi. Dan di depannya, sudah ada Suzu yang sedang menyeduh tiga cangkir teh, menatap Kurls dengan tenang.
Seketika Kurls ingat apa yang dia lakukan kemarin malam, dan segera membungkukkan badan.
"Nona Suzu! Maafkan saya atas kekurang ajaran saya kemarin! Sa-"
"A-Ahh, sudahlah. Aku paham apa yang paman lakukan. Dan juga berkat itu kau tahu, aku bisa jadi lebih tenang sekarang." kata Suzu sambil menyeruput teh nya.
Kurls lagi-lagi mengambil nafas lega.
"Eh?" Aina terbangun karena beberapa keributan. Rambut peraknya acak acakan, yang membuat dia terlihat lucu.
Suzu menaruh teh nya cepat, lalu segera berlari, dan melompat ke arah Aina.
"Uhh! Kau sangat imut Aina! Kamu adalah penyembuh untukku!" teriak Suzu sambil mengelus elus pipinya ke rambut Aina.
"Kak Suzu, aduhhh, jangan begitu. Geli! Oh ya! Coba lihat apa yang paman Kurls bawa? Sepertinya dia punya sesuatu di tangannya!" teriak Aina, berusaha untuk mengalihkan perhatian.
Kurls sedikit terkejut, lalu segera paham dan memberikan kertas itu.
"Ahh, jangan terkejut dengan itu. Saya tidak tahu, tapi saya mendapatkannya pagi tadi." jelas Kurls.
Mereka membaca kertas itu perlahan.
"Buronan Akademi. Tangkap mereka hidup hidup." mereka berdua terdiam, membuat keadaan hening seketika.
"EHHH!!!!" itu yang terjadi beberapa setelahnya.
"A-apa maksud nya ini? Aina?! Aina menjadi buronan?! Ada apa ini?! K-kenapa? Apakah A-Aina melakukan sesuatu yang buruk?" Aina berteriak tergagap.
Suzu juga terlihat bingung sambil menggelengkan kepala tidak percaya.
"Tidak! Setahuku, guru Weiss tidak akan mengejar sesuatu tanpa ada alasan yang logis!" jawab Suzu, karena Weiss adalah kepala sekolah Akademi Furyuun.
Mendengar nama itu, dahi Aina mengkerut. Sepertinya ada yang dia pikirkan.
"Weiss, Weiss. Sepertinya nama itu aku kenal." bisik Aina.
"Bukankah itu nama yang umum?" jawab Kurls kini angkat bicara. Aina mendengar itu, dan menggeleng dengan cepat.
"Tidak! Aku seperri tidak boleh melupakan nama ini!" teriak Aina yakin.
Semua saling berpandangan, melihat Aina yang seyakin itu.
"Umm, Nona Suzu. Setidaknya, perlihatkan lukisan tuan Weiss, siapa tahu Aina mengenal Weiss ini. Selain itu, ada beberapa alasan kami dikejar kejar kemarin." saran Kurls sambil mengingat kejadian kemarin.
"Aku tidak mengerti, tapi baiklah." jawab Suzu sambil mengangguk kecil.
Dia mengambil sebuah buku, yang diatasnya ada tulisan Rules of Academy. Jelas itu adalah buku peraturan Akademi ini.
"Umm, ini orangnya. Menurut ku dia cukup misterius." kata Suzu sambil menunjuk sebuah gambar orang yang ada di kata pengantar buku itu.
Aina dengan segera mendekat, lalu seketika dia melompat mundur.
Matanya terbelalak, badannya juga bergetar hebat. Bahkan untuk berbicara saja, bibirnya tidak bisa. Terlihat dari wajahnya yang sangat pucat, dia sangat ketakutan.
"Dia, dia adalah orang yang memesan ku waktu itu!" teriak Aina.
"Hah?!!" Suzu berteriak tidak percaya.
Aina menarik nafas beberapa kali, lalu menceritakan masa lalunya pada Suzu dan Kurls. Itu membutuhkan sebuah keberanian besar, tapi entah bagaimana Aina berhasil melewatinya.
Itu juga membuat wajah Suzu menjadi pucat, mengingat umur Aina dan umurnya tidak terlalu jauh.
Suzu berkali kali mengatakan tidak mungkin pada dirinya sendiri sampai mengulanginya seperti radio yang rusak.
Setelah cukup lama, akhirnya Suzu mulai tenang.
"Baiklah. Kita asumsikan saja itu benar. Berarti, tidak ada tempat yang aman di Akademi ini. Selain itu, akan berbahaya jika kita tetap disini." lanjut Suzu dengan wajah pucat.
"Itu benar. Walaupun beresiko, kita harus keluar dan mencari tempat berlindung yang tepat." Kurls kini menimpali.
Semua terlihat terkejut dan bingung dengan keadaan yang terjadi.
"Aku ada tempat persembunyian yang bagus." kata Suzu.
"Tapi jujur saja, bukan pilihan bijak untuk kita tetap di kota ini. Ada baiknya Aina harus keluar dari kota ini. Ini adalah cara pertama."
"Cara kedua adalah menyadarkan wali kota dan membuat seluruh warga kota berpihak pada kita." lanjutnya.
"Itu adalah hal yang mustahil karena menurut penjelasan kakak, Weiss ini adalah kepala sekolah Akademi ini. Dia pasti juga memiliki koneksi dengan wali kota. Ada baiknya memilih cara pertama." tanggap Aina memberikan pendapatnya.
"Tapi, jujur saja karena Furyuun adalah kota yang penting untuk Kerajaan Kin, kota ini memiliki banyak penjaga."
Kini mereka semua kembali menunduk.
Walau dengan kemampuan Kurls, dia tidak mampu untuk menangani banyak orang sekaligus. Kemampuan nya kuat dalam pertarungan satu lawan satu, tapi lemah dalam satu lawan banyak.
Itu sebabnya mereka tidak akan memilih cara yang keras.
"Tapi, kak Suzu. Kakak mau ikut? Bukankah ini akan melawan Akademi? Ini akan buruk untuk reputasi kakak!" kata Aina tidak setuju.
"Tenang saja! Selama tidak terlihat, aku tidak apa!" kata Suzu yakin.
"Tapi..." Aina masih tidak mau.
"Tenang saja! Selain itu, hanya aku yang tahu tempat dimana persembunyian itu berada!" ucap Suzu sambil mengacungkan jempolnya.
***
"Tenang saja" itu yang Suzu katakan, tapi...
BOOM!!!
"Jangan lari kau Suzu!" banyak orang yang berteriak mengejar mereka bertiga. Bahkan banyak sihir sudah dilepaskan, untuk menghentikannya.
"Uguhuhu! Maafkan aku! Maafkan aku!!" Suzu berteriak meminta maaf sambil terus berlari.
Pasalnya, Suzu awalnya berlari di atas atap, bersama dengan Kurls dan Aina di sampingnya. Tapi dia terlalu ceroboh, hingga tersandung sebuah kayu dan membuat mereka bertiga jatuh.
Dan mereka bertiga jatuh tepat di tengah tengah keramaian yang sedang mencari Aina.
"Ahh kalian! Dengarkan penjelaskan ku dulu!" Suzu berteriak sambil memasang penghalang, dan beberapa tanah yang melayang untuk menghalangi sihir yang masuk.
Tapi apa daya, tidak ada yang ingin mendengarkannya. Sangat tidak mungkin untuk berbicara dengan mereka dari sisi ini.
"Huaaa!!!! Mereka tidak ingin mendengarkan! Semuanya, maafkan aku!!" Suzu berteriak setengah menangis.
"Humm, kalau begini, tidak ada cara lain!" Kurls melompat, memutar di udara. Dia merapal mantra khusus, lalu cepat mengeluarkannya.
"Dark Magic. [Illusion]!!" teriak nya.
Seketika, seluruh tempat itu tertutup asap hitam dengan rombongan 3 orang itu melarikan diri ke arah lorong.
"Itu mereka! Kejar!" salah satu pengejar menyadari nya, lalu mengejar mereka.
Asap masih belum hilang, walaupun keadaan sudah menjadi sepi. Cukup aneh juga kenapa kota bisa menjadi sepi padahal ini adalah siang hari.
"Hufft, terima kasih, paman Kurls! Kau memang sangat luar biasa!" sayup sayup terdengar suara pujian Aina.
"Uhh, sekali lagi, maafkan atas kecerobohan ku! Itu semua tidak akan terjadi jika aku tidak ceroboh!" kata Suzu dengan menyesal.
"Tidak apa, Nona Suzu. Mari kita lanjutkan perjalanan. Sepertinya, kita sudah dekat." jawab Kurls.
Mereka sekaranga ada di atap, dengan Suzu di gendong di belakang sedangkan Aina di depan Kurls. Kurls terlihat seperti baby sitter sekarang.
Kurls masih sempat melompat untuk mengecoh para pengejar barusan.
Mereka berdua turun, dan berlari kembali ke tempat yang mereka tuju dengan dipimpin Suzu.
***
"Hufft, akhirnya kita sampai." kata Suzu sambil menutup pintu bunker.
Tempat yang Suzu maksud ini adalah tempat yang dahulu adalah kantor instalasi air bawah tanah, yang sekarang tidak terpakai lagi.
Ini memang adalah tempat yang cocok untuk dijadikan tempat bersembunyi, karena tempatnya yang berada di gorong gorong.
"Baiklah, sekarang kita harus memikirkan langkah selanjutnya!" kata Suzu yang duduk kelelahan setelah menutup pintu. Itu pintu yang agak besar.
Mereka semua menghela nafas. Karena nama Suzu sekarang sudah tercemar, bagaimanapun caranya.
"Ya. Mungkin hanya ada satu cara sekarang." Gumam Aina pelan.