
Liu Xiu sudah berhasil untuk masuk ke dunia itu, tapi dia dipaksa keluar karena sejatinya tidak ada yang bisa masuk dunia itu tanpa diundang atau sudahi mati.
"Seperti akan aku biarkan!! Pembuka batas! Batas ketiga!!" teriak Liu Xiu segera.
Dengan kekuatannya yang membuka batas ketiga di tubuhnya, dia bisa bergerak menyamai kecepatan suara dalam kemampuan fokus miliknya. Tapi dia tidak bergerak, namun mengumpulkan kemampuan di tangannya, untuk menyiapkan pedangnya.
Saat itu terjadi, angin seperti berkumpul di pedang Liu Xiu. Air juga terbawa oleh angin, seperti melapisi katana nya.
"Rasakan ini!!!" teriak Liu Xiu, mengayunkan Katana miliknya sekuat tenaga.
Dengan kemampuan nya yang sekarang, ditambah dengan pelepasan batas level 3, kecepatan ayunan Katana yang dimiliki Liu Xiu sekarang sudah melebihi kecepatan suara!!
Tebasan itu menghasilkan aliran air di udara, tepat dimana Katana itu di gerakkan. Dan tidak berhenti sampai disitu, aliran air itu dengan cepat menyebar, bersama dengan gelombang kejut yang datang dari Katana yang diayunkan dengan kecepatan suara.
KKRAKKKAKKK!!!
Terdengar suara retakan dari jauh, tapi Liu Xiu tahu bahwa itu sangat dekat dengan dirinya. Dia lagi lagi menyiapkan diri, mengatur pernafasan dengan pelepas batas level 3 masih aktif.
Sedangkan gelombang kejut itu masih bertumbukan dengan sesuatu, Liu Xiu terus berkonsentrasi, dan mendapatkan kecepatannya lagi.
Tanpa basa basi, Liu Xiu melompat, menusuk sesuatu yang menghalangi tebasan miliknya untuk bergerak lebih jauh.
"Ughh ini lebih keras dari yang aku kira!" ucap Liu Xiu ketika dia mencoba menusuk benda itu dengan satu tangan di Katana nya. Dia tidak menyerah, dan mengambil pedang Azantium dari cincin inventory, dan menghujamkan benda itu ke tempat yang sama.
"Buka itu, sialaannnn!!!!!" Liu Xiu berteriak sambil masih terus berusaha sekuat tenaga untuk menebus sesuatu yang tidak terlihat itu.
Suara retakan semakin besar, dan lama kelamaan semakin jelas. Retakan itu bahkan terlihat di dunia Liu Xiu, seperti udara yang ditusuk Liu Xiu seperti mulai terpecah, di setiap sela sela retakan itu menghasilkan cahaya.
PYAARRR!!!!!
Sebuah suara pecahan keras yang memekakkan telinga terjadi, dan gelombang cahaya serta gelombang kejut yang dihasilkan meluas, menghancurkan batu tempat awal Liu Xiu berdiri, dan turut menghilangkan Liu Xiu yang masih berada di udara.
Tapi Liu Xiu tidak mati, hanya dipindahkan ke tempat lain, dimana ada seseorang yang menunggunya sambil menatap tidak percaya.
"Yo. Maaf sudah menunggu!" kata Liu Xiu ketika dia melayang tenang, turun dari udara ke sebuah batu.
Sekarang dia sedang berada di altar sebuah bangunan mirip istana nampak megah, yang dikelilingi oleh orang orang. Dan seorang laki laki yang berdiri di hadapannya, menggunakan beberapa ornamen yang membuat Liu Xiu tahu bahwa dia adalah Raja.
Liu Xiu sedikit heran melihat itu, tapi ketika melihat sosok Beast yang diikat di sekitar orang itu, Liu Xiu mengangguk yakin.
"B-B-Bagaimana mungkin? Penghalang kita? Tidak!!!" teriak orang yang berpenampilan seperti raja itu, berlutut.
"Ahh, maaf soal itu. Aku harus menembus penghalang itu untuk masuk, kau tahu? Itu cukup, tidak. Sangat sulit! Aku akan menolak untuk mencobanya lagi." kata Liu Xiu sambil menutup matanya, sedikit menyesal.
"Dari awal itu memang dibuat agar tidak ada yang menyadari dan masuk ke dunia ini, kau tahu?! Tapi, kau... Kau!!!" terlihat Raja itu terlihat sangat marah.
"Ups! Jangan marah terlebih dahulu. Apa yang akan kau lakukan padanya?" tanya Liu Xiu menyela.
Raja itu mengikuti arah telunjuk Liu Xiu, dan tahu bahwa itu menunjuk ke arah Fischia yang sedang pingsan. Dia lantas tertawa terbahak-bahak.
"Tidak! Dia perlu dihukum! Apa dia pacarmu?"
"Apa itu? Bukan. Apapun yang kau katakan, bisakah kau mengembalikan dia? Agar tidak perlu kekerasan disini. Kau tahu? Aku sedang dalam kondisi senang, tapi kadang aku juga bisa ringan tangan lho!" kata Liu Xiu sedikit mengancam.
Dia menambahkan intimidasi dalam setiap kata katanya, membuat semua orang yang melihatnya terlihat berlutut, tidak kuat menahan intimidasi.
"Wa-wanita ini telah melakukan kesalahan besar di wilayah kami! Tidak mungkin kami bisa membebaskan nya begitu saja!!" teriak Raja itu.
"Berarti kau memilih jalan sulit?" tanya Liu Xiu dengan nada dingin.
PYARR!!!!
"Heh?"
"Hoo! Pertahanan mutlak, kah? Aku sudah mengambil kartu truf mu, loh! Ngomong ngomong, kau punya kemampuan mirip ilmuwan ugly bastard di Hutan Ajaib. Apa kau ada hubungannya dengan dia?" kata Liu Xiu sambil menyimpan pedang Azantium yang sedari tadi dia pegang di tangan kiri ke cincin.
("A-apa itu tadi?!! Aku bahkan tidak bisa melihat serangannya! Kecepatan itu, itu bukan manusia! Tunggu! Apakah dia manusia? Tapi ada perasaan yang berbeda dengannya. Atau mungkin...") Raja itu terlihat bergetar menerima serangan Liu Xiu.
"Masih tidak mau menjawab? Kalau begitu-" Liu Xiu menghentikan kalimatnya, karena dia merasakan beberapa hawa keberadaan samar di sekeliling nya.
Dia dengan cepat melompat ke atas, dan menendang sesuatu yang ada di dekatnya itu.
Itu terpental jauh, sebelum akhirnya menampakkan dirinya. Itu adalah seseorang dengan pakaian prajurit, yang sepertinya pengawal raja. Tidak sampai disitu, karena penyamaran nya sudah terungkap, Ksatria lain juga mulai menampakkan diri.
"Hehhh, ini pilihan mu?" tanya Liu Xiu pelan.
"Kami adalah pelayan raja, pelayan negara! Kelakuan mu menyerang raja tidak bisa diampuni! Kami akan menghukum mu!!" kata salah seorang dari mereka yang menggunakan armor hitam, sepertinya pemimpin mereka.
Liu Xiu tersenyum sedikit, sebelum maju dengan cepat ke arah gerombolan orang itu.
"Pembatas tubuh, nonaktif." bisik Liu Xiu pelan. Dia sengaja mematikan pembatas yang ada di tubuhnya, untuk mengukur kemampuan nya sendiri.
Selain itu, dia memasukan Katana hitamnya, karena bagaimanapun, meraka adalah hantu. Jika mereka terkena tebasan Liu Xiu, mereka aka seratus persen mati. Liu Xiu tidak ingin melakukan pembunuhan yang tidak perlu.
Apalagi, tadi sang raja mengatakan bahwa Fischia melakukan sebuah kesalahan, dan Liu Xiu belum mendengar apa kesalahan Fischia.
Liu Xiu menghadapi mereka dengan tangan kosong, ketika pedang salah satu dari mereka mengalir cepat ke bahu kanan Liu Xiu.
Liu Xiu hanya bergerak efektif sambil menghindari serangan itu dengan jarak beberapa centi dan terus berlari maju.
Ada juga yang langsung menerobos masuk ke depan. Liu Xiu meladeni sedikit dengan memberi beberapa pukulan yang membuat Ksatria itu segera terpental. Tapi sepertinya itu yang mereka pilih, dan mereka menyerang bersama.
Liu Xiu juga merasa bahaya jika dikeroyok dan dikelilingi secara bersamaan. Dia menendang banyak orang secara sekaligus, menyusul, menampar, mendorong, dan lain lain dilakukan secara bersamaan.
Dengan segera sekumpulan tubuh jatuh tidak berdaya di hadapan Liu Xiu.
"Semua, berhenti!!" teriakan seseorang yang terdengar sangat berwibawa terdengar dari atas langit. Semua orang segera berhenti bertarung, dan beringsut minggir dari Liu Xiu.
Beberapa Ksatria yang pingsan saat mengkeroyok Liu Xiu digeret, membuat sekitar Liu Xiu menjadi bersih.
"Kenapa kau menghentikan pertarungan?" tanya Liu Xiu.
"Hai manusia! Apa kau tahu Pohon Dunia?!" teriak Raja itu sambil menyiapkan beberapa sihir di atas sana.
"Ahh maksudmu Sova? Ya. Aku tahu. Dan juga, jika kau menembakkan sihir dari sana, saat aku membalas kau akan jatuh, tahu! Saat itu kau bisa saja mati!" teriak Liu Xiu.
("Dia bahkan kenal dengan Yang Mulia Pohon Dunia? Dan lagi, apa apaan energi kehidupan yang ada di tubuhnya itu! Dia bisa memurnikan kita semua hanya dengan satu pukulan!") pikir Raja itu.
Raja segera turun, dan membatalkan sihir yang dia buat. Liu Xiu memandangnya bingung, tapi tetap menghormatinya dengan mengangkat tangan sesaat, memperlihatkan bahwa dia tidak membawa senjata.
"Tampaknya ada kesalah pahaman diantara kita. Maafkan saya, karena tiba tiba menyerang anda, tuan." kata raja itu.
"Heh? Kenapa kau berubah sangat sopan?!" tanya Liu Xiu sedikit terkejut dengan perubahan yang tiba tiba.
"Perkenalkan, nama saya Raja Tian Xu, dari Kerajaan Tian." kata orang itu mulai memperkenalkan diri. Itu membuat Liu Xiu terdiam, mengernyitkan dahi.