
"Tunggu!" prajurit itu mendekat, sepertinya ingat sesuatu. Aku juga langsung menyiapkan beberapa sihir jika aku harus melawannya.
Dia mendekat, dan otomatis Putri di sebelahku bersembunyi di belakangku. Mungkin karena takut atau mungkin juga ingin tidak ditemukan oleh ksatria itu. Yahh itu baik karena menambah akting tadi.
"Ada apa, tuan prajurit?" aku tersenyum canggung. Suasana juga sedikit tegang disini.
"Kamu." dia menyentuh bahu ku.
"Siapa namamu, dan ras mu?" tanyanya. Hufft. Aku bisa menarik nafas lega. Tapi, orang ini sedikit aneh.
Aku sudah menggunakan Dark Magic [Illusion] untuk menghilangkan telingaku dan menumbuhkan telinga kucing hitam di atas kepalaku. Dan lebih bagusnya, aku bisa menggerakkannya sesuka hati!
"Nama? Namaku ya? Namaku Kazuto. Dan ras, sepertinya kamu sudah tahu, bukan?" aku sedikit menunjuk telinga berbulu ku.
"Ahh, dari namamu, aku bisa menebak kamu berasal dari Negara Misterius itu, bukan? Yahh, aku tidak akan mengusik masalah pribadi, tapi awalnya aku kira kau suku kucing yang biasanya. Tapi ada sedikit keanehan di nada bicaramu."
"Ras Beast suku Kucing biasanya selalu menggunakan akhiran "Meow" di setiap kalimat nya. Itu yang membuat mereka unik." jelas prajurit itu sambir menatap ke atas. Sepertinya berkhayal?
Humm, ada Negara Misterius seperti itu, ya? Jujur saja, nama ini sedikit ke-Jepang an. Jadi Negara Misterius itu mirip Jepang?
Aku awalnya ingin menggunakan nama Liu Xiang atau William tadi, tapi dari ketiga nama tadi, aku menyebutkan Kazuto. Salahku. Seharusnya aku menyebutkan namaku Liu Xiang dari awal.
"Harus kah aku, meow?" aku membentuk pose cakar untuk mencoba membuat pose seimut mungkin.
"Hentikan. Itu menjijikkan." katanya spontan. Benar. Ini menjijikkan. Aku tidak akan melakukannya lagi! Dan sepertinya aku sudah menodai pikirannya tentang orang Beast kucing yang menggunakan kata "Meow" sebagai akhirnya nya.
Hei putri! Aku bisa mendengarku menahan tawa mu lho! Jangan tertawa!
Aku segera berbalik, menuju keluar gerbang bersama putri Elf di sebelahku yang masih menahan tawa dengan menutup mulutnya. Yahh, sudahlah.
Sekarang, kita sudah berada di luar kota, jadi tidak apa bagi kami menghentikan sandiwara.
"Berhenti. Kita sudah aman sekarang. Setidaknya, kau bisa jelaskan apa yang terjadi." aku merubah gaya bicaraku.
Dia melirikku sebentar, lalu segera mundur jauh, sekitar 2 meter!
"Tunggu. Kenapa kau mengambil jarak sedemikian jauh?" aku tidak bisa menahan diri untuk berteriak memberikan tanggapan.
Wajahnya juga seperti wajah melihat orang aneh.
"T-t-tadi kau bilang akan memojokkanku, bukan? Sudah aku duga bahwa kau adalah orang mesum!" teriaknya sambil sedikit membuat gerakan menyembunyikan dadanya.
"Hey hey hey! Bukankah kau juga mengerti? Aku berusaha mengelabuhinya!" aku berusaha menjelaskan.
"Tidak tidak tidak! Kakak sering melakukannya! Dia berpura pura baik untuk mendapatkan imbalan yang seperti itu! Aku tidak akan terjebak, karena aku sudah berpengalaman! Bwee!!" dia berteriak, lalu menjulurkan lidahnya ke arahku.
Tidak, tunggu. Kakak macam apa itu? Bukankah dia berbahaya?!
Ahh, aku ingat cerita Rumia bahwa Pangeran kerajaan Kin ini adalah seorang siscon. Dan pasti yang dihadapan ku ini adalah putri kerajaan.
"Ayolah! Aku tidak akan memintamu melakukan hal hal aneh. Kau ingat, tanpa aku bantu tadi, mungkin prajurit di sana sudah menangkap mu!" aku mencoba meyakinkannya sambil sedikit memaksa.
Dia sepertinya mengingat ingat, lalu beberapa saat kemudian tubuhnya melemas. Sepertinya dia sudah mulai mengerti.
"Ahh salahku. Baiklah, saya akan minta maaf." katanya sambil menundukkan kepala.
"Terima kasih sudah membantu saya, bolehkah saya mengetahui nama anda? Saya ingin membalas kebaikan anda." katanya kini sangat formal. Apakah ini sikapnya saat menjadi seorang putri?
"Uhm. Jadi, apa kau bisa beritahu aku kenapa kamu dicari prajurit seluruh kota, dan apa yang ingin kamu lakukan?" tanyaku, walau aku sudah tahu jawabannya.
Dia terdiam sesaat, sepertinya keberatan.
"M-mungkin aku tidak bisa mengatakannya. Maaf." katanya.
Hufft. Sepertinya dia tidak mau mengakui nya. Tapi aku masih penasaran dengan alkimia yang dia bawa, tahu! Apakah itu adalah awal dari teknologi di dunia ini, atau bukan.
"Emm, baiklah. Aku akan menebaknya." aku mulai lelah dengan pembicaraan ini.
"Kamu adalah putri kerajaan Kin dan kamu tertarik dengan Alkimia, tapi keluargamu tidak menyetujuinya, dan sekarang kamu sedang lari dari kakakmu yang mengejarmu, ke tempat dimana kamu biasanya bersembunyi untuk belajar Alkimia, bukan?" kataku mengatakan semua yang aku pikirkan.
Dia terkesiap, dan melompat mundur, lagi.
"K-kau? Kau bisa tahu? Bagaimana mungkin?" dia berbalik sambil memegang kepalanya. Putri ini sepertinya agak kikuk, tapi aku tahu dia orang baik. Setidaknya itu menurut cerita Rumia.
"Rumia?!" aku bisa mendengar dia sedikit terkejut. Tapi itu sebenarnya terlalu pelan bahkan bisa disebut bisikan.
"Ikuti aku. Kita bicara di tempat lain!"
"Baiklah. Tapi, whoaaa?!!!" aku tidak menduga dia menarikku sedemikian cepat untuk mengikuti nya.
Tidak, bisa dibilang dia bukan mengajakku ke tempat lain, tapi menyeret ku dengan paksa. Yahh aku juga tidak apa dengan ini. Kapan lagi aku bisa bertemu dengan putri kerajaan?
Tapi, bertemu dengannya membuatku ingat dengan Rumia dan manajer. Apa yang sedang mereka lakukan, ya?
Dia mengajakku cukup jauh masuk ke dalam hutan. Di sana, ada sebuah pohon yang cukup besar, tapi sudah mati dan membuat lubang besar di bagian bawah. Di dalam pohon besar yang mati itu, ada banyak semak belukar.
"Dengan keramahan Bumi, mereka akan menyingkirkan penghalang!" putri itu merapal sihir, yang aku tidak tahu untuk apa itu. Tapi dari elemennya, aku tahu itu elemeb tanah.
"Tak kusangka dia juga bisa menggunakan sihir, walau masih menggunakan rapalan." aku mengangguk dalam diam, terganggu dengannya yang merapal mantra.
"Sihir memang harus membunyikan mantra, bukan? Kau aneh!" katanya sambil sedikit cemberut.
Aku tertawa kecil, dan melihat ke bawah kaki putri itu. Disana tiba tiba bersinar, setelah putri menyanyikan sebuah mantra! Apa mantra tadi adalah kata kuncinya?
Tanah terangkat, membentuk sebuah gua dan pintu dan menutupi pohon.
Tanah yang aku pijak bergerak, mulai turun. Beberapa cahaya juga keluar dari tanah yang mengelilingiku. Ini terlihat seperti lift di duniaku dulu!
"Wow!" aku tidak bisa tak kagum melihat perpaduan antara sihir dengan sci-fi ini.
"Bagaimana menurutmu? Menakjubkan, bukan? Ini semua adalah sesuatu yang aku pikirkan sendiri, kau tahu?" katanya menghadapku sambil berkacak pinggang.
Memang benar. Ini adalah sesuatu seperti inovasi baru di dunia ini. Mungkin putri ini berbakat untuk menjadi seorang penemu? Atau jangan jangan dia jenius
"Baiklah. Silakan duduk dimanapun yang anda bisa. Maaf saya tidak bisa menyediakan sesuatu yang lebih baik, tapi saya akan mengambilkan beberapa minuman." katanya kembali ke nada formalnya.
Aku hanya mengangguk, sambil menoleh ke sekeliling tempat itu. Ada beberapa benda yang aku tidak tahu gunanya, dan ada beberapa rancangannya di kertas.
Dalam rancangan yang dia gambar, dia menggambar benda yang luar biasa, seperti rancangan mobil dan lainnya.
Ada juga rancangan seperti gambar kapal terbang, tapi itu ditulis tidak mungkin.
Anak ini, dia benar benar jenius.
"Ini?" aku melihat sesuatu yang tidak asing. Benda yang bisa berputar, dan melemparkan bola sihir kecil tanpa jeda dan tanpa rapalan. Pistol.
Aku mengambil salah satu Zadkiel dari sihir ruang, lalu membandingkannya dengan apa yang dia gambar.
"Masih jauh lebih besar dan tidak efisien dari yang asli, tapi konsep nya sudah benar, kah?" aku tersenyum senang. Ini adalah salah satu bukti bahwa teknologi sedang berkembang di dunia ini, tapi yang jadi masalah adalah kenapa itu dilarang.
"Ahh, maaf! Aku belum merapihkan mejanya!" sepertinya dia tidak terlalu bisa untuk menjaga sikapnya.
Sedangkan aku mengambil kesempatan itu untuk menyembunyikan Zadkiel di tanganku.
Dia sudah selesai membuang kertas yang ada di meja. Padahal aku yakin dia akan membutuhkannya lagi. Apa itu baik baik saja?
"Uhum. Maaf atas kejadian barusan. Anggap saja anda tidak melihatnya. Jadi, sekarang saya akan memulai pembicaraan yang sebenarnya." dia duduk, dengan tangan dan gerakan yang dia buat seanggun mungkin, tapi tetap itu tidak cocok.
"Hufft. Sebelum itu, aku akan lebih menghargai jika kamu menggunakan bahasa yang biasa." aku juga duduk di hadapannya.
"A-Ahh. Apakah bahasa formal ku sedemikian aneh hingga kau tidak ingin mendengarnya? Kalau memang, aku minta maaf!" dia terlihat sedikit panik, lalu menundukkan kepalanya cepat.
Tentu, karena meja ada diantara kami, kepalanya membentur meja. Cukup keras, hingga memberikan benjol besar di kepalanya.
Terlihat seperti drama komedi menurutku, tapi ini bukan rekayasa.
"Baiklah baiklah lupakan tentang itu. Mari kita masuk ke intinya. Apa yang ingin kamu bicarakan, putri?" aku benar benar harus menghentikan drama komedi ini, kalau tidak ini akan berlangsung selamanya!
"Ahh, baiklah. Pertama, biarkan saya memperkenalkan diri dengan baik." dia berdiri.
"Nama saya Yuna Kindesberg. Anak kedua dari raja Folk Kindesberg. Seperti yang anda lihat, saya adalah ras Elf, dan tolong jangan pandang saya terlalu tinggi. Kita semua sama." katanya menyatukan tangan seperti berdoa.
Jujur saja, saat dia bersikap natural seperti ini terlihat bahwa dia adalah putri kerajaan yang asli. Aku sedikit terkagum kagum dengan itu.