
"Uhh, aku ingin ke kasur, tapi aku tidak berani!!" yahh, mau bagaimana lagi, bahkan selama kehidupanku sebelumnya, aku tidak pernah sekamar dengan wanita!
Yahh, pernah beberapa kali dengan adikku, tapi itu tidak bisa dihitung.
Terserahlah. Aku akan tidur di kursi!
Begitu yang kupikirkan, ketika Aina mulai berisik. Tidurnya mulai tidak tenang, dan berpindah pindah kesana kemari.
"Tolong hentikan!!" aku melompat ketika Aina membuat suara sek- eh tidak! Maksudku suara aneh!
"Ku-kumohon, ja-jangan lakukan itu padaku! A-aku akan melakukan apapun!" Aina masih menggeliat sambil melindungi punggungnya. Selain itu, nafasnya menjadi cepat, bahkan keringat mulai keluar di wajahnya.
Ahh, sepertinya dia mendapat mimpi buruk. Apa dia bermimpi tentang penyiksaan yang dia rasakan dulu?
Agak kejam, memang. Tapi sebenarnya ada banyak budak yang disiksa oleh pemiliknya. Bahkan oleh pedagang budak itu sendiri.
Selain itu, mereka yang menjadi budak tidak bisa melawan, baik karena segel budak atau kerah budak. Dan jelas, banyak yang akhirnya mati karena itu. Kalau tidak, mereka hanya berharap untuk mati.
Itulah arti dari menjadi budak yang sesungguhnya.
"Tolong hentikan! Itu menyakitkan! Ahh!!" Aina hampir berteriak dengan suara yang aneh itu. Suaranya bahkan semakin berbahaya!
Suara Aina benar benar membuat pikiran seriusku menjadi buyar!! Kenapa dia bisa bersuara seperti itu? Bukankah itu aneh?
Oi oi! Jika ini diteruskan, aku akan dikira melakukan sesuatu padanya! Aku tidak ingin di cap "lolicon"!
"Kalau begini, tidak ada cara lain!"
Aku segera melompat ke kasur, mengelus kepalanya pelan menggunakan tangan kiriku. Tangan kananku tetap membuat batas dengannya.
Humm, ini adalah caraku menenangkan adikku ketika dia ketakutan dengan badai dulu. Semoga ini berhasil!
Dia sedikit menangis ketika aku elus kepalanya. Aku tidak paham kenapa.
Tapi yang jelas, tangisannya mulai mereda. Nafasnya pun kembali normal.
"Baiklah kalau begitu, saatnya-" aku ingin bangun, tapi tangan dan kaki Aina mulai mengambil tangan kananku yang ada di sebelahnya, memeluknya, merubahnya menjadi guling.
Aku bisa melihat senyum tenang di dalam wajah tidurnya.
"Yahh, setidaknya aku tidak akan dikejutkan dengan suara yang dia keluarkan malam ini. Dan dia juga akan lebih tenang dalam tidur." aku hanya bisa tersenyum kecil, menatap langit langit kamar.
***
"Selamat pagi, kuingin bilang begitu." Aku terbangun, menatap ke sampingku. Aku masih melihat Aina yang tertidur pulas.
("Yahh, anak anak memang perlu tidur yang cukup!) Aku berusaha melepaskan tanganku darinya perlahan, lalu membuka jendela penginapan untuk menghirup udara segar dan menyambut matahari pagi. Tapi sayang, aku bangun terlalu pagi.
"Humm, mungkin karena aku sudah terbiasa untuk bangun sekitar jam segini." Aku menguap, mencoba meregangkan tubuh.
Biasanya, aku sudah mengeluarkan sihir sebanyak mungkin di luar penghalang. Untuk melatih afinitasku terhadap sihir, dan kadang aku menghancurkan diriku dengan menghabiskan sihirku di luar ruangan.
Ugh, setelah kuingat ingat, latihan ku mengerikan.
"Ini adalah hari aku bertemu dengan Suzu ya? Hmm ini adalah hari yang penting." Aku mengangguk, lalu keluar dari kamar. Aku tidak ingin membangunkan Aina, karena kasihan dia.
Penginapan masih sepi, karena memang itu relatif dini hari.
Aku berjalan turun, menuju lantai satu. Masih terlihat beberapa lentera menyala, terutama ke arah dapur dan kamar mandi.
"Mungkin aku akan berlatih dengan tangan kosong? Aku memang kuat di sihir, tapi aku merasa tidak cukup baik di pertarungan tanpa sihir. Akan berbahaya jika ada kondisi yang menyebutkan aku harus bertarung tanpa sihir, aku bisa saja mati." aku menggumam perlahan sambil berusah berjalan tanpa suara.
Aku juga sekalian melatih kemampuan assasin ku lho!
Segera, aku menuju lahan kosong di belakang penginapan itu. Pedang cakar naga ku diambil, jadi sepertinya aku akan berlatih mengandalkan tenagaku sendiri.
"Fuhh, ini dingin. Tapi tidak ada apa apanya jika dibandingkan dengan latihanku dulu!" Aku memantapkan tekad.
Latihan terasa menyenangkan karena diiringi suara air yang mengalir lembut, seperti mengalirkan pikiranku, menenangkanku.
Karena aku sering mendengar bahwa latihan seperti ini yang terpenting adalah ketenangan, bukan?
?!
"Siapa di sana?!" Aku segera berbalik ketika merasakan seseorang menggunakan sebuah skill penyembunyian dan mendekat ke arahku.
Satu detik, dua detik, tidak ada jawaban.
"Kuulangi. Siapa disana?!" Aku mengeraskan suaraku, bersiap menggunakan skill [Sharp Eyesight] dan [Intimidate]. [Intimidate] ku level atas, jadi siapapun akan bergetar menerima ini.
"Wah wah. Tenanglah. Anak muda zaman sekarang sangat bersemangat, ya?" Seseorang keluar dari tempat aku mengawasinya tadi. Seorang ibu dengan umur kira kira 40 tahun keluar dari sana, dengan membawa sebuah nampan dengan beberapa air.
Melihat itu, aku segera mengambil bajuku, berusaha menyembunyikan wajahku. Akan berbahaya jika ajh diketahui bahwa aku manusia!!
"Tidak apa, nak. Aku sudah tahu bahwa kau adalah manusia." Katanya spontan.
"Eh?!"
"Tapi kau sangat luar biasa ya, bisa menyadari [Stealth] ku." Jawabnya. Heh? Apa itu? Dia tahu aku manusia? Dan lagi, dia memiliki skill [Stealth]? Bukankah itu skill langka? Tolong satu per satu!
Aku mendinginkan tubuhku, memakai kembali bajuku. Mau tak mau berjalan pelan ke arah ibu itu.
"Duduklah. Kau pasti lelah." Dia menawarkan minuman padaku. Ugh, aku sedikit curiga dan penasaran dengannya. Tapi sepertinya tidak ada masalah untuk menerima ini.
"Jadi, dari mana ibu bisa mengetahuinya?" Aku penasaran.
Kenapa penyamaran ku begitu mudah terbuka? Apakah aku yang bodoh karena tidak bisa menyembunyikannya dengan baik? Ya. Sepertinya itu adalah jawaban paling tepat, karena banyak sekali orang yang bisa mengetahui jati diriku.
"Yahh, aku hanya menebak. Dan kau sepertinya adalah seorang petualang. Dan kau sangat kuat tahu." Dia memberikan jawaban yang samar.
"Aku juga, dulu adalah seorang petualang. Dan aku sudah mencapai rank A lho!" Dia menyombongkan dirinya.
Aku sedikit tidak percaya. Ada seseorang dengan rank A di sini? Betapa keberuntungan mengikutiku!
"Tapi, setelah menikah, aku behenti menjadi petualang, dan memilih untuk membesarkan anakku. Tentu, ini adalah pilihan yang sulit, bukan?" Tanya nya. Aku masih memasang sikap waspada padanya.
"Kau tahu, aku ini adalah Ras Beast. Itulah kenapa aku bisa tahu kau manusia." Dia tersenyum mengejek.
Sudah kuduga. Kalau tidak, kemungkinan untuk penyamaran ku terbongkar sangat kecil. Yaahh, aku juga semestinya tidak mengandalkan penyamaran status lewat [Fake] saja sebenarnya.
Akan lebih aman untuk menggunakan skill [Change] tapi jelas itu adalah skill yang agak ribet.
"Jadi, apa kau tidak ingin mengejekku? Atau mungkin, kau ingin memanfaatkan ini?" Tanpa bertele tele, mungkin lebih baik menanyainya.
"Ahaha! Jangan pasang wajah begitu! Setelah melihat gerakan gerakan tadi, aku yakin kau bukanlah orang yang lemah."
"Kami para Beast, memandang orang lain dengan kekuatan. Mudahnya saja, kami adalah ras dengan otak otot. Jadi menurutku, pembicaraan dengan ras Beast akan mudah, karena kau hanya perlu tunjukkan kekuatanmu saja."
"Dan juga, karena itulah kami memandang rendah orang yang terlihat dibawah kami. Dan lagi, aku bisa merasakan aura besar dari pedangmu, itulah aku memutuskan kau masuk." Lanjutnya.
"Hoo, jadi bukan karena kau mentoleransi manusia disini?" Aku berusaha memancingnya.
"Yahh, kau bisa menyebutnya begitu. Aku juga memiliki batas orang orang yang patut kuhubungi, lho!" Jawabnya mengangkat nampan dengan air itu.
Dia mulai berjalan menjauh, dan anehnya, tanpa suara! Betapa keterampilan yang mengerikan!
"Oh ya, bocah! Kalau kau ingin menjadi petualang sebenarnya nanti, jangan sembunyikan ras dan namamu lagi! Karena kau akan membutuhkannya nanti!" Katanya meninggalkanku menjauh.
Benar benar orang yang aneh.