Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 1: Interlude 1 - Syila's story



POV: Syila


"Ahh, ini dingin." aku hanya bisa mengaduh pelan dalam tidurku.


Apa aku tidur? Tidak! aku pingsan! Kenapa aku pingsan, aku masih bisa jelas mengingatnya.


Yahh, aku juga sedikit bodoh dengan berlari ke arah sana, tapi yang lebih bodoh adalah Suzu! Dia berlari untuk mengalihkan perhatian, supaya kami bisa lari!


Bukankah dia bodoh?!


Tidak. Maafkan aku. Aku juga bodoh karena tidak bisa menghentikannya.


Intinya, kami dan beberapa anak lainnya tertangkap. Mereka memukul tengkukku, membuatku pingsan seketika.


"Ahh, ini dingin." Sekarang aku berada di sebuah tempat kosong, hanya ada aku di tempat yang hitam ini.


Disini dingin, lagi gelap. Ini mungkin merupakan tempat yang cocok untuk merenungkan semuanya. Hmm, bukankah itu seperti aku akan mati?


Semoga saja tidak!


Aku mengingat teman temanku. Aku adalah orang yang sering dibilang pintar oleh teman temanku. Walaupun memang, nilaiku lebih tinggi. Tapi aku tidak sepintar itu.


Walaupun aku dianggap pintar, tapi aku punya rahasia!


Hobiku adalah membaca buku novel, terutama novel dengan genre romance!


Ahhh!! aku selalu membayangkan bahwa aku akan diculik, lalu ada pangeran yang menyelamatkan ku, menggendongku dengan gendongan putri.


Ahhh!!!! Membayangkan itu semua membuatku malu!


Tapi sayangnya, aku hanya mengalami insiden, dan tidak ada yang menyelamatkanku.


Dan bodohnya, aku justru kembali tertangkap ketika ada beberapa kesempatan kabur.


Uhh! Mengingat itu semua membuatku semakin merasa bodoh!!!


Baiklah. Jika tidak ada yang bisa kulakukan disini, biasanya aku akan membaca buku. Sayangnya, disini tidak ada buku, ya?


"Hmm, bagaimana dengan buku diary? Aku tidak pernah menyangka akan memiliki kesadaran bahkan ketika aku pingsan!" aku berseru sambil menidurkan diri di ruangan gelap itu.


Yahh, aku ingin membuat diary, tapi sepertinya tidak aku tidak bisa menulisnya disini. Yahh, terserahlah.


Aku adalah Syila Royze, anak perempuan satu satunya dari keluarga Royze.


Keluargaku termasik keluarga yang berkasta atas, karena ayahku memiliki kedudukan yang tinggi di Guild. Bisa dikatakan, ayahku adalah tangan kanan Guildmaster.


Aku sekarang sudah mulai masuk umur 6 tahun. Tidak bermaksud sombong, tapi aku sering dibilang cantik.


Rambutku normal, berwarna pirang. Aku memotongnya pendek hingga sebahu dengan sedikit bagian yang dikuncir.


Dan lagi, ada banyak orang yang sudah mengajukan lamarannya padaku!


Oi oi! bukankah itu terlalu cepat?


Yahh, aku pernah mendengar bahwa banyak orang tingkat atas yang bertunangan pada usia 7 atau bahkan 6 tahun, tapi aku belum siap!


Ini adalah umur remaja yang bagus. Begitu kata orang. Persetan dengan itu, aku tidak peduli.


Sebagai info, Suzu dan kak Edna juga sudah berkali kali di lamar lho!


Tapi normalnya, orang orang bertunangan di umur 11, lalu menikah pada umur 15. Itu normal di dunia ini, karena 15 adalah umur dewasa. Paling jauh, umur 20.


Uhh, aku ingin pasanganku adalah orang yang aku pilih.


Betul! Aku ingin bebas memilih pasanganku! Dan ayahku juga sudah menyetujuinya, dengan batas batas tertentu.


Dan kalau di kelas pun, aku berusaha tidak menonjol.


Uhh, aku sedikot kesulitan ketika mengatakan keinginanku.


Jujur saja, aku takut!


Setiap aku ingin mengatakan sesuatu, rasanya lidahku menjadi kaku, dan aku kembali menelan kata kataku.


Orang orang sering mengatakan bahwa aku itu kikuk, dan menganggapnya lucu. Tapi tolong jangan buat ini jadi lelucon.


?!


Aku merasakan getaran, dan aku setengah terbangun. Aku seperti keluar dari ruangan gelap itu, dan sedikit membuka mata.


Pertarungan sedang terjadi!


Seseorang dengan jubah hitam, dan topeng setan yang mengerikan sedang bertarung, tidak. Membantai orang orang itu dengan gencar.


Memang terlihat kejam, tapi aku tidak merasa takut dengan ini. Entah kenapa, aku merasa rasa marahnya adalah hal yang wajar.


Dia menggerakkan pisau dengan lihai. Aku yang sering membaca buku bahkan tidak pernah melihat gerakan itu.


Gerakan yang sangat halus, dan sangat efektif. Tidak ada celah, maupun kesalahan di gerakannya.


Ini sangat indah, bagaikan tarian. Aku tahu, pasti dia adalah master bela diri.


Pertarungan, tidak. Itu bahkan tidak bisa dibilang pertarungan.


Pembantaian itu dengan cepat selesai, tapi dia tidak membunuh mereka semua. Kenapa? Kenapa dia tidak membunuhnya?! Mereka bisa berbahaya, bukan?


Dia menyelesaikan urusannya dengan para penculik itu, lalu berjalan pelan ke arah patung aneh yang bersinar hijau itu.


Aku sedikit merinding hanya dengan melihatnya. Dan aku pun tahu, itu dibutuhkan untuk ritual ini.


(Baiklah. Sekarang, apakah dia akan menghancurkannya?) Ups! aku mulai menikmati ini!


Dia membuka topeng setan nya pelan. Terlihat siluet wajah dengan rambut hitam yang berkibar indah.


Wajahnya masih muda, tapi terlihat penuh dengan kekuatan dan keyakinan. Dan lagi, aku seperti mengenal wajahnya!!


(Jangan bilang, Ren?!!) aku akan berteriak jika aku bisa!


Tidak. Tidak mungkin itu Ren! Ren itu manusia!


Tidak, tunggu! Aku dengar dia adalah orang yang jenius, dan cepat belajar. Akan tidak aneh jika dia bisa mempelajari bela diri selihai itu!


Dia sedikit mengatakan sesuatu, dan terlihat sedikit menyesal. Setelah itu, dia pergi ke luar.


(Tunggu! Bukannya kau ingin menyelamatkan kami?) aku hanya bisa berteriak di dalam hati.


Ahh, sudahlah! Aku juga tidak tahu apa yang dia pikirkan.


Dan tidak lama kemudian, dia kembali lagi. Sudah kuduga dia tidak akan meninggalkanku! Dia mengangkat ku dengan gendongan putri!


Aku bisa mati karena malu dengan ini!


Awa wa wa wa! Impianku teruwujud! Tapi, dengan Ren? Ren juga kelihatannya baik sih, aku juga tidak masalah dengannya!


Tu-tu-tunggu! Terlalu cepat jika menganggap dia Ren!


Tapi bahkan jika itu Ren, aku tidak apa!


?!


Dia menidurkan ku? Apa yang akan dia lakukan? Aku tidak melihatnya dengan jelas, tapi dia mengulurkan tangannya ke arah gua!


Aku tidak bisa mempercayai nya, tapi "Ren" rambut hitam itu mengeluarkan sihir, sesuatu yang berputar dengan api dan petir di dalamnya.


Bahkan aku pun tahu, itu adalah sebuah sihir yang hebat!


Tapi beberapa saat kemudian, dia muntah darah. Darah menyembur dari sekeliling tubuhny, membuat pemandangan menjadi sedikit mengerikan.


Saat itu aku berusaha sekuat tenaga untuk bangun, berusaha menolongnya.


Tapi ledakan keras yang berasal dari gua mengejutkanku. Dan pria aneh mirip "Ren" itu dengan segera memelukku, melindungi ku ketika kami berdua terbang, terpental karena ledakan barusan.


***


"Uhh, dimana ini?" aku hanya bisa mengasuh perlahan, ketika aku terbangun.


Sekarang aku terbangun menatap langit langit yang berbeda, dan bukan di atas kasurku sendiri.


"Ini, dimana?" aku sedikit linglung sekarang, tapi aku tahu ini bukanlah rumahku. Dan lagi, aku merasa sakit untuk bisa menggerakkan anggota badanku.


"Sungguh mimpi yang sangat aneh?" aku hanya bisa menggumam perlahan, ketika tiba tiba terdengar suara pintu yang terbuka.


Aku seketika menoleh, seakan indraku selalu menyuruhku untuk waspada. Itu hanya Ayah.


"Syila! Kau sudah sadar!" dia berteriak, seketika memelukku.


Tunggu, apa maksudnya? apa yang sebenarnya terjadi?


"A-Ayah! Le-lepaskan! Ja-jangan memelukku seperti ini! Tolong lepaskan aku! Jelaskan apa yang terjadi!" aku mencoba menjauhkannya dariku.


Dia sedikit mengangkat alis.


"Apa kamu tidak ingat? Kamu diantar Edna kemari loh! Katanya, dia menemukanmu pingsan di jalan! Apa kamu kabur bersama yang lain?" cerita Ayah panjang lebar.


Aku? Diculik? Pingsan?


"Jadi, itu bukanlah mimpi, ya?" aku berbisik pelan. Aku ingat sosok yang menyelamatkanku, Ren!


"Lalu, ayah! Bagaimana dengan Ren?! Apa dia baik baik saja?" aku berteriak, mengingat yang aku mimpikan tadi.


Ayahku terdiam sebentar, lalu air mukanya berubah.


Ada apa ini? Apakah aku menanyakan sesuatu yang salah? Entahlah.


Ayahku berdiri, terlihat di wajahnya memikirkan banyak hal. Aku yakin dia bekerja sangat keras, untuk menemukan pelakunya.


"Ayah, jika ayah lelah, istirahatlah! Jangan lupa istirahat! Apapun itu, jangan memaksakan diri!" aku menarik tangan ayahku.


Dia tersenyum, sepertinya mulai tenang.


"Ya. Ayah tidak akan terlalu memaksakan diri. Ayah akan kembali bekerja, jadi istirahatlah dulu." Ayah mengelus rambutku, lalu melangkah keluar pintu.


Aku hanya bisa menarik nafas lega.


Sesekali, aku ingat mimpi yang aku alami, membuatku tersenyum. Apakah itu pengalaman yang mengerikan, atau menyenangkan, aku tidak tahu.


Yang jelas, aku berharap agar tidak ada kejadian mengerikan seperti ini lagi!