
"[Listen to Me]!!!" aku meneriakkan sihir yang baru aku buat.
Seketika hening tercipta. Ini adalah sihir yang cukup besar, karena aku bukan hanya membekukan lantai, tapi membekukan hampir semua yang ada di sana.
Tidak hanya lantai, dinding, bahkan tubuh ibu, kak Edna, Suzu, bahkan paman Kurls membeku.
Kenapa ini adalah sihir yang besar? Karena aku harus mengeluarkan air air di seluruh udara, mengubah udara menjadi sangat lembab. Dan setelah itu, aku harus membekukannya.
Ini sangat sulit, karena jika terlalu tipis, es akan mudah hancur.
"I-ini? Si-sihir ini?!" Suzu benar benar tidak bisa bergerak, kini hanya berbicara. Dia jelas tidak bisa merapal apapun, karena aku juga membekukan mulutnya.
"Hufft." aku tertunduk lelah, ketika semua diam di sekelilingku, memperhatikanku.
Aku sudah tenang sekarang, mencabut pasak es yang tertancap di perutku. Aku tidak bisa menggunakan [Heal] sekarang, jadi aku membekukan lukaku terlebih dahulu.
Aku akan meminta kak Edna menyembuhkannya nanti.
"Baiklah. Kalau sudah begini, kalian baru mau mendengarkan ku?" aku terduduk lelah. Pintu terbuka sedikit, memperlihatkan wajah polos dengan rambut perak yang mengintip keluar.
Itu mungkin Aina, yang penasaran akan pertarungan karena suara pertempuran sudah menghilang.
"Hmm? Kak Suzu?" dia sedikit bingung.
"Itu? Kak Ren?!" dia melompat segera, memelukku. Seperti biasa, dengan pelukan seperti cekikan.
Aku ingin berteriak, ini meyakitkan! Tapi beruntung dia cepat menyadari.
"Kakak! Kamu terluka!" dia meraba perut ku yang aku bekukan. Ini sakit, tapi masih dalam tahap yang bisa aku tahan.
Sementara itu, Suzu dan paman Kurls terlihat khawatir, dengan tatapan yang serasa dapat membunuhku.
"Hei, ini aku. Benar benar aku. Bagaimana cara menjelaskannya, apa yang harus diperbuat untuk bisa kalian percaya?" aku melepaskan es yang membekukan ibu dan kak Edna.
Aina juga terlihat bingung, melihat lukaku yang cukup parah.
?!
Suzu menangis?
Aku bisa melihat Suzu menangis di balik es yang membeku. Apa dia sudah mengerti bahwa ini benar benar aku?
Yahh, kalau begitu aku lelehkan dia.
"Tidak mungkin..." dia mulai terjatuh, dan memegang kepalanya.
Sementara itu, kak Edna dan ibu mulai mendekati Suzu, kemungkinan menghiburnya. Aku juga berdoa semoga mereka berdua berhasil mendapat kepercayaan Suzu.
"Suzu," kak Edna mulai menyapa.
"Tidak!"
Sepertinya Suzu benar benar terpukul dengan kejadian kemarin. Dia juga tidak mau banyak berharap bahwa ada keajaiban yang menyelamatkan kami.
Karena aku pernah mengajarinya, "Jangan pernah berharap, karena harapan adalah hal yang paling menyakitkan."
Aku juga melihat pelupuk matanya yang sudah bengkak, menandakan berapa lama dia menangis.
Selain itu, dalam pertempuran tadi dia sudah kehilangan kontrol emosi nya dan semangat juangnya. Dia benar benar menyerang hanya dengan emosi yang meluap, berusaha untuk mencari pelampiasan.
Ibu mendekati Suzu, lalu memeluknya dari belakang. Aku tahu Suzu terkejut, lalu kembali air matanya mengalir di wajahnya yang terkejut.
"Perasaan ini? I-Ibu?" Suzu mengelus tangan ibu, lalu mulai menjatuhkan tangannya ke bawah.
Kak Edna menangkap tangan Suzu, memeluknya di antara kedua tangannya.
"Kak Edna?" air matanya bertambah deras, tapi tetap dengan ekspresi bingung di wajahnya.
Kak Edna dengan segera memeluk Suzu dari depan, menangis. Sepertinya saat ini kak Edna sedang melepaskan sisi aslinya.
Suzu masih terlihat syok dan bingung, menoleh ke kanan dan kiri.
Dia melihat kembali wajah orang orang yang dia cintai, kembali dari sesuatu yang tidak pernah diharapkan kembali.
"Kalian berdua?" mulut Suzi mulai bergetar, dan dia menarik nafasnya dengan kasar.
"Ya, Suzu. Ini kami berdua. Kami sudah pulang." ibu membisikkan kata kata barusan sambil mulai menangis.
Mulut Suzu kini bergerak, mulai membuka. Sedetik, kemudian, dia berteriak, menangis sekencang-kencangnya.
"Ibu!! Ka-Kakak! Ka-Kalian baik baik saja!!" dia berteriak sambil menangis, dan membalas pelukan kak Edna.
Ini adalah pemandangan yang menyenangkan untuk dilihat. Aku hanya bisa tersenyum haru melihatnya. Tidak, tidak ada tangis lagi yang hadir saat ini.
Yahh, setelah kejadian itu, aku bersyukur atas apa yang aku lakukan selama ini.
Aku berhasil menyelamatkan ibu dan kak Edna, itu adalah hasil yang baik. Bukan hanya baik, ini sudah jauh lebih dari cukup.
Ini, benar benar sebuah momen. Momen yang seharusnya aku jaga.
"Yahh, banyak yang terjadi, tapi aku senang semuanya berakhir bahagia." aku tersenyum senang.
Aina masih memelukku lagi, seperti tidak ingin melepasku. Hufft, aku juga masih memiliki PR untuk melatih Aina. Masih banyak yang harus aku kerjakan, yah?
Aku melirik paman Kurls, yang mulai memasukkan belatinya ke tempatnya.
"Hufft, untuk memastikan saja, bagaimana kamu bisa tahu langsung itu adalah Tuan Ren, Aina? Ada kemungkinan bahwa itu Weiss yang menyamar, bukan?" tanya paman Kurls sambil tersenyum.
"Ya, kan Aina hanya melihatnya sudah tahu!" jawab Aina sambil berbinar binar.
Itu benar benar tidak jelas, paman Kurls hanya memiringkan kepalanya, bingung.
"Humm, karena hati Aina sudah terhubung! Aina ingin bilang begitu, tapi sebenarnya karena aku bisa mengenali bau kak Ren!" teriak Aina sambil kembali memelukku.
"Indra kuat seorang Beast kah?" aku menggumam pelan, ketika perut ku mulai terasa sakit.
"Yahh, setidaknya bagus untukmu, Aina. Saya juga meminta maaf kepada Anda, Tuan Ren karena telah menyerang anda tanpa mengdengarkan apapun" paman Kurls menundukkan kepala.
"Guh! Benar benar! Aku benar benar kerepotan, tahu! Tapi, sangat beruntung memilikimu di sini untuk menjaga Aina." aku mengulurkan tangan
Dia menjabat tangan ku, tersenyum sambil mengangguk.
"Ya. Saya juga berterima kasih karena telah kembali dengan selamat." aku hanya bisa tersenyum kecut.
Ugh, luka ini semakin lama semakin sakit. Selain itu, sepertinya pembekuan ini tidak benar benar menghentikan luka, tapi menghentikan sistem organ tubuhku!
"Baiklah! Maaf menyela momen ini, tapi kak Edna maaf, bisa tolong aku sekarang? Sepertinya kesadaranku mulai menghilang!" aku mengangkat tangan, menahan Aina di peluk ku.
"Ah benar! Kami sampak melupakanmu, Ren! Maafkan aku, aku akan segera menolongmu!" kak Edna segera berlari ke arahku.
Yahh, beruntung aku masih memiliki kak Edna untuk bisa menggunakan sihir [Heal].
Selain itu, aku harus segera mencari cara untuk menggantikan Light magic agar bisa menyembuhkan diriku sendiri.
"Tidak bagus untuk berbicara di sini. Setidaknya masuk saja terlebih dahulu." kata paman Kurls
.
.
.
.
Note: Maaf Author update rada jarang, gara gara laptop Author rusak dari seminggu lalu hehe :v. Author lagi nulis pake hp, tapi masih belom lancar. Tapi semoga kedepannya Author bisa terbiasa nulis pake hp :)