Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 2: Bab 43 - Akademi



"Ahh, ini menyegarkan!" Aku membasuh tubuhku dengan air, untuk mencucinya setelah berlatih tadi. Sebenarnya, aku ingin berendam dengan air panas, tapi mana mungkin hal seperti itu ada di dunia ini.


Aku tidak berlama lama di kamar mandi, karena aku ingin segera menikmati kota hari ini.


Aku samar samar mendengar suara seseorang berteriak meneriakkan namaku. Perempuan, sepertinya Aina. Dan dari suaranya, sepertinya dia terburu buru!


Ada apa?!! Aku harus segera menyusul nya!


"Kak Ren!!" Aku bertemu dengan Aina di jalan. Dia tampak menangis disana. Uhh, siapa yang berani membuat Aina menangis?! Ups! Aku jadi seperti kakaknya saja!


"Ada apa, Aina? Kenapa kamu menangis?" aku menanyakannya ketika dia sudah berada di pelukanku, mencekikku dengan pelukan nya yang sangat kuat.


"A-Aina, Aina takut. Ketika Aina bangun, kakak tidak ada! Aina kira, kakak meninggalkan Aina. A-Aina, Aina tidak mau ditinggalkan kakak!! Aina akan melakukan apapun! Jadi, jangan tinggalkan Aina!" Aina terlihat masih menangis sambil memeluk ku.


Ahh, sepertinya aku memahami perasaan nya. Lagi pula, jelas aku tidak akan meninggalkannya!


"Tenanglah, Aina. Aku tidak akan meninggalkanmu. Daripada itu, kau lebih baik bersiap siap sekarang. Aku ingin pergi ke Akademi, dan tentu kau ikut. Kau ingat baju yang kamu beli kemarin, bukan?" aku berjongkok, berusaha mensejajarkan kepalaku dengan miliknya.


"Ya. Terima kasih, Kak Ren!" dan akhirnya sia kembali ceria.


Yahh, beruntunglah.


Pagi mulai merekah, matahari mulai muncul dari balik bukit. Rasanya hangat bahkan hanya dari jendela kamarku.


"Inilah seharusnya hidup!" Aku bersiap, mengganti pakaianku dengan pakaian bangsawan khas keluarga Larvest. Dengan ini, bahkan aku bisa berjalan dengan tenang di luaran sana.


Di sebelah kananku ada Aina, dengan seragam putih hijau yang membuatnya terlihat seperti seorang pelajar.


Aku memutuskan untuk memutar, melihat sekeliling karena memang bahkan akademi pun belum dibuka.


Karena sistem akademi yang ber sistem asrama, maka Suzu menunggu di dalam hari ini dan besok. Para siswa bisa dikunjungi oleh keluarganya hanya pada Minggu ini saja.


Walaupun begitu, ini bukanlah sekolah yang mengekang siswanya, karena selain tidak bertemu dengan keluarga, mereka masih bisa keluar dengan mudah.


***


"Hmm teh memang sangat menenangkan! Sudah cukup lama aku tidak meminum teh." Aku tentu mampir ke sebuah kedai teh khusus mirip "Tea Paradise" disini. Tentu saja, mereka bisa membuatkan teh yang aku inginkan.


Ada banyak yang aku pikirkan, salah satunya kata kata ibu penginapan. Dia mengatakan bahwa berurusan dengan Beast itu mudah, tunjukkan kekuatanmu maka kau akan diakui.


Hmm, sejujurnya aku mulai ingin mencoba cara itu.


Tapi tetap saja ada yang kembali mengganjal pikiranku ketika mengingatnya.


"Apa tujuan Dewa menciptakan ras ras ya? Kalau mereka juga diciptakan, siapa yang menciptakannya? Dan juga, kekuatan macam apa yang bisa menciptakan kehidupan?" Aku kembali memikirkan hal itu.


"Hum??" Aina yang masih memakan kue tart nya menengok mendengar keluhanku.


"Tidak apa." aku hanya tersenyum dan mengelus kepala Aina.


Tapi semakin lama berpikir, semakin membuatku pusing.


Beberapa lembar memo sudah terpakai oleh corat coret hipotesis ku yang tidak akan dipahami orang lain. Tapi tetap itu tidak memberikan jawaban yang baik!


("Ahh! Aku stress! Tapi beruntung aku ada di kedai teh.") sepertinya pikiranku mulai pergi!


"Ahhh, bahagianya." aku mwnywruput teh yang ada di meja dua orang itu. Teh benar benar sebuah obat penenang untukku. Sayangnya waktu sudah menunjukkan waktunya aku menuju akademi.


"Hufft, kenapa waktu selalu berjalan cepat ketika aku mengambil teh? Ini menyedihkan!" Aki tidak peduli jika gerutu ku terdengar orang lain. Aku juga tidak memperdulikannya.


Aina juga sudah selesai, jadi seharusnya sekarang kita sudah bisa berangkat ke Akademi!


Aku akhirnya sampai di akademi! Aku sangat ingin berkeliling di sini sebenarnya!


"A-anu, kak! Apa benar kita boleh berada di sini? Bukankah ini terlihat sangat mewah? Selain itu, bukankah kita harusnya kemari bersama paman Kurls? Kenapa kita kemari sendirian?" Aina menggandeng tanganku erat.


Melihatnya seperti melihat anak desa yang pertama kali datang ke kota! Sangat lucu!


"A-Ahh, soal itu-" aku benar benar tidak bisa menjawab pertanyaannya!


Haha, aku seharusnya datang kemari bersama paman Kurls yang mengantarku, tapi jika aku datang bersamanya, aku hanya berakhir di asrama Suzu dan tidak pergi kemanapun. Itu membosankan.


"Permisi, saya Ren Larvest, ingin bertemu dengan Suzu Larvest. Bisa saya masuk kedalam?" Aku menyempatkan mampir ke pos penjaga.


"Oh, nona Suzu, maka silah, eh? Sana masuk!" Heh? Apa apaan itu? Dia tadi bersikap baik, bukan? Kenapa dia mengubah gaya bicaranya ketika menatapku? Aku butuh penjelasan!


("Baiklah, kita abaikan saja dia.") Aku melangkah masuk dengan perasaan kesal yang justru merasa ingin tertawa.


Hmm, sepertinya akan menyenangkan untuk memutar. Aku hafal jalan yang ada. Walaupun aku hanya melewati jalan yang sama setiap bulan, tapi dengan melihat frekuensi orang dan orang yang melewati jalan tertentu, aku tahu jalan yang ada.


Seperti jalan yang ramai, akan membawa kalian ke kantin, gedung lain, atau asrama.


Uwahh, angin juga sepertinya mendukungku! Ini seperti beberapa cerita sekolah yang ada di masa hidupku dulu, bukan!


Aina juga berlarian berusaha menangkap bunga bunga dan daun yang jatuh itu. Jujur, aku bahkan tidak tahu ada pemandangan seindah ini di Akademi.


Dan tidak salah lagi, ini adalah spot yang bagus untuk menyatakan perasaan.


Kalau aku bersekolah di Akademi ini, pasti aku sudah menyatakan perasaan ku pada seseorang di sini, laku dengan segera ditolak dengan alasan: maaf, aku ingin lebih lama berteman denganmu.


Ups! Aku membawa kehidupanku yang dulu kemari.


"Hoi! Orang di sana!" Aku mendengar suara teriakan. Aku merasa tidak mungkin dipanggil karena aku manusia, dan tidak mungkin ada yang ingin berbicara denganku.


"Hoi! Tuan Doys berbicara denganmu!" Aku merasa desiran angin. Ada yang menyerangku!


"Kak Ren, awas!" Aina berteriak. Hooo!! Aina juga sudah bisa merasakan bahaya ya? Jadi memang benar kemampuannya sudah meningkat! Aku jadi ingat bahwa aku lupa mengecek statusnya di penginapan.


Eh, saat ini, aku sedang diserang, bukan? Seperti nya merendah untuk saat ini adalah hal yang baik.


Aku tidak menoleh, hanya bergeser sedikit. Tentu saja, aku memperlihatkannya seperti tidak sengaja terjadi. Dan aku juga sedikit terkejut untuk tambahan.


Ketika pedang itu melewati ku, aku sedikit terlompat dan terjatuh, membuatku tampak takut. Uhh, itu tadi adalah acting yang jelek!


"Beraninya kau!!" Aina menendang tanah, bersiap menyerang orang itu, bergerak maju. Aku bisa melihatnya, tapi sepertinya dia bahkan memiliki Agility hampir setengahku!


Itu akan berbahaya jika identitasnya terungkap. Selain itu, menyebabkan masalah ketika pihakmu adalah manusia adalah kesalahan besar.


Dengan begitu, aku menarik sedikit bajunya, membuatnya terjatuh bersamaan di sebelahku.


("Aina, dengarkan aku. Kendalikan emosimu, lalu berwajah lah seperti orang yang ketakutan.") aku berbisik di telinganya ketika dia jatuh.


("Tapi kak Ren! Dia, dia menyerang kakak! Itu tidak bisa dimaafkan!") dia masih berteriak yakin.


("Aina, aku gurumu. Tolong anggap ini adalah pelajaran pertama bagimu.") aku terpaksa menggunakan metode ini. Ini tidak mengenakkan bagiku, tapi tidak ada cara lain.


Aina masih terlihat tidak terima, tapi dia akhirnya menurut.


"Keberuntunganmu tinggi juga, manusia!" Dia yang menyerang ku berkata dengan keras menunjukkan pedang panjangnya yang berdebu.


Aku melihat ada 5 orang, termasuk yang menyerangku. 2 wanita, 3 pria. Mereka semua memakai pakaian akademi, jadi mereka pasti murid murid akademi ini.


Tapi aneh, kenapa di sini ada pelajaran ksatria? Atau ini sudah dirubah?


"Maafkan saya. Saya hanya tidak menyangka kalian ingin berbicara dengan saya ini." Aku menundukkan kepala dalam dalam. Tentu saja, kini aku memperbaiki acting ku.


Aku juga memaksa Aina untuk menundukkan kepalanya walau dia sangat sangat enggan.


"Hoo! Kesadaranmu tinggi juga! Tapi, adalah kesalahanmu karena kau berjalan di sini. Manusia lemah tidak boleh ada di sini!" Dia berteriak.


Dilihat dari tampang dan lingkungannya, sepertinya, dia adalah orang yang menjadi pemimpin dalam kelompok ini.


"Doys benar, dasar sampah! Pergi dan pulang ke tempat sampah! Rumah yang seharusnya sampah berada!" Teriak salah satu perempuan itu.


Ahh, dia b.itch ya? Menyebalkan.


"Kalau begitu, maafkan saya. Saya akan segera kembali ke asrama dan sebisa mungkin tidak menunjukkan wajah saya." Aku kembali menundukkan kepalaku sedalam mungkin.


"Tunggu!" Si pria Beast yang ingin memukulku tadi memberhentikanku.


"Lawan aku. Dengan begitu, kau akan dimaafkan." Lanjutnya dengan senyum sadis.


"Permisi?"


.


.


.


.


.


. Note Penulis: Ini tidak berhubungan dengan cerita, jadi ga perlu dibaca juga gpp.


Yahh, kabar gembira sih, karena urusan di Dunia Author udah selesai, jadi mungkin bisa update kaya dulu lagi. Selain itu, ada event Noveltoon, dan Author pengen masuk juga tuh. Jadi kedepannya bakal ada CRAZY UP sampai tanggal 30!!!


Hehe. Jangan lupa support terus novel ini, biar Author tetep semangat nglanjutinnya dengan like or comment... Juga boleh kalau ada masukan untuk cerita nya, boleh disampaikan juga. Author masih pemula, jadi mohon maaf belum bisa memberikan yang sempurna!! 😫😋😋