
Aku akhirnya berkeliling sambil mencoba satu per satu makanan yang ada di sekitar alun alun itu. Walau jujur saja, tidak terlalu mengenyangkan. Tapi melihat Aina bersemangat seperti ini, membuatku senang.
"Baiklah, selanjutnya, kita akan ke-" kata kata ku terhenti ketika aku merasa tarikan Aina menjadi semakin berat. Selain itu, langkah nya juga melambat.
Aku menoleh, mendapati Aina yang terlihat sangat mengantuk, masih menarikku dan berjalan dengan mata setengah tertutup.
Yahh, aku seharusnya tahu bahwa dia sudah melewati beberapa hari yang berat, jadi jelas dia lelah.
Selain itu, itu juga mengingatkanku, bahwa dia masih anak anak.
"Mungkin lebih baik aku mencari penginapan di sini saja, ya? Dan aku akan memesan beberapa makanan dengan mereka." Aku akhirnya memutuskan, walau sangat terlambat.
Aku mencari sebuah penginapan yang terlihat sederhana, tapi juga terlihat bagus. Mungkin terdengar aneh, tapi itu benar!
"Permisi." Pintu yang kubuka berbicara pelan dengan suara bell, mengingatkan pemilik bahwa seseorang membuka pintu.
Seorang pelayan yang seumuran dengan Diena datang menghampiri ku.
"Selamat datang, apa anda kemari untuk makan? Atau menginap?" humm! Sangat sopan! Selain itu, seragam itu sangat cocok untuk nya!
Ups! Aku harus segera menyingkir kan pikiranku ini!
"Ah, ya. Saya ingin memesan kamar disini. Apa masih ada kamar tersisa?" Aku berbicara dengan sopan.
Dia terlihat sedikit terpana sesaat, lalu mengajakku ke meja resepsionis.
Hmm, ada baiknya untukku menaruh Aina di tempat duduk yang nyaman. Dan benar saja, dia langsung tertidur!
Aku menatapnya dengan senyum. Dan tanpa aku sadari, banyak mata yang menatap ke arahku.
"Ada apa? Apa ada sesuatu yang aneh?" Aku bertanya pada resepsionis ketika dia terus memperhatikanku. Hmm, apakah ini karena aku membawa Aina yang setengah tertidur? Tidak, bukan?
"Tidak, hanya saja, kamu adalah Adventurer, bukan? Maaf saja, tapi bahasamu sangat sopan untuk dipakai Adventurer." Jawabnya menutup mulut.
Heh? Apa yang dilakukan para petualang lain di dunia ini?
"Ahahaha, bagaimana Adventurer lainnya bila berbicara? Dan bagaimana pendapat pribadimu tentang mereka?" Aku mencoba tersenyum untuk itu.
"Yah mereka terlihat kasar. Bahasanya dan perilakunya. Saya sempat khawatir melihat kamu adalah Adventurer, kukira penginapan ini akan hancur keesokan harinya." Dia berkata jujur.
("Adventurer lain! Apa yang kalian lakukan?!") Aku hanya bisa menangis dalam hati!
"Y-yah. Kalau begitu, aku akan pesan kamar untuk 2 orang dalam 1 kamar. Oh ya. Aku sekalian ingin memesan makanan juga, maka biayanya tolong digabungkan sekalian." Aku mengangkat telunjuk jariku memperjelasnya.
"Ah, tidak. Kami memang memberikan makan 2 kali setiap hari kamu memesan. Jadi, kamu masih memiliki kesempatan 2 kali makan lagi. Masakan ibuku, enak sekali, lho!" Jelasnya tersenyum.
Dia memberiku kunci dengan nomor. Itu menjukkan nomor 7 dalam bahasa Kerajaan Kin.
"Ah, kalau begitu, tolong ya. Saya akan menunggu sambil membawa dia ke kamar." Aku berjalan berbalik.
"Ah, tunggu!"
"Ya?" Dia tampak gelisah setelah aku berbalik. Kenapa?
"Maafkan aku, tapi di dalam sini tidak diperbolehkan untuk membawa senjata. Jadi, bisa tolong titipkan saja pada saya?" Dia bertanya dengan khawatir.
Ahh, sepertinya memang harus seperti ini. Ini juga salahku karena lupa memasuk kan senjataku ke dalam inventory ku.
Yahh, aku mengerti itu, tapi yang kubawa ini adalah Dragonium dan pisau Azantium. Apa ada tempat yang aman untuk menyimpannya? Aku menatapnya dengan khawatir.
"Umm, jangan khawatir. Aku memiliki sebuah item box disini." Dia seperti membaca pikiran ku, dan menunjukkan sebauh cincin.
Aku menggunakan [Evaluator], dan mengkonfirmasi bahwa itu adalah asli.
"Hoi nak! Apa lagi yang kau pikirkan! Senjatamu terlihat buruk begitu, tidak akan ada yang mau mengambilnya!" Teriak seseorang di meja.
"Ya! Lihatlah kain kain itu. Apa kau tidak memiliki benda lain untuk menutupi kebodohannya?" Orang lain menyambung penghinaan itu, dan mereka kemudian tertawa bersama.
Aku tidak marah atau pun sedih. Justru aku senang karena Itu berhasil menipunya!
Yahh, akan lebih mudah untuk berpura pura tidak mendengarnya dan mengabaikannya karena ini akan merepotkan.
"Hehh, ada juga ya item seperti itu. Kalau begitu, tolong ya!" Aku memberikan pisau Azantium ke meja. Dia dengan cekatan memasukkannya ke dalam item itu.
"Hoi! Kau mengabaikan ku??" Orang bertubuh besar tadi maju, lalu menahan pedangku.
Ahh, aku malas meladeninya, karena aku lapar. Karena kata orang, lapar bisa membuat sifat orang berubah lho!
"Pemilik. Apa tadi kau mengatakan tidak boleh berisik di sini, bukan?" Tanyaku dengan senyum pada perempuan yang ada di resepsionis.
"Awawawa! Di-dia benar! Tidak boleh ada keributan disini." Si resepsionis bergetar mengatakan itu.
"Jadi begitulah." Aku berhenti menunjukkan senyum padanya. Yahh, walaupun itu tidak akan terlihat karena maskerku.
Aku mengubah mimik wajahku, menyipitkan mata sambil meningkatkan aura membunuhku dalam tatapan mataku.
"Begitu katanya. Jadi..." aku mengambil bajunya, mendekatkan wajahnya padaku.
"Jika kau tidak ingin mati, entahlah dari hadapanku. Aku sedang memiliki perasaan hati yang tidak enak, jadi lebih baik kau tidak bermain main denganku." Aku mengangkat tubuhnya lalu melemparkannya menjauh.
("Misi membunuh mentalnya, berhasil! Aku malas berhadapan dengan orang orang seperti itu.") Aku menghela nafas, lalu kembali ke wajah senyumku.
Mereka semua terdiam, tapi aku tahu mereka mengangguk walau sedikit bergetar.
"Ah, maaf atas keributannya, nona resepsionis. Jadi, silahkan." Aku menaruh Dragoniun di meja, dan dia tahu harus melakukan apa.
"Yah, kalau itu kamu, mungkin kamu tidak akan membutuhkan senjata untuk menghancurkan tempat ini sih!" Katanya tersenyum. Aku bersyukur dia tidak merubah sikapnya padaku.
Baiklah. Sekarang aku akan membawa Aina ke kamar terlebih dahulu. Setelah itu, kemungkinan makanan sudah siap.
Hmm, aku jadi ingat aku sering mengangkat adikku ke kamarnya karena sering ketiduran di sofa.
Aku membuka kamar, mengeceknya. Itu benar benar kamar untuk dua orang, tapi dengan satu kasur. Memang, tidak akan cukup jika dibuat terpisah.
Yahh, aku tidak masalah untuk berbagi kasur dengan orang lain, siapapun itu. Tapi aku sedikit mengkhawatirkan Aina. Apa dia bisa tidur dengan tenang, memikirkan masa lalunya yang seperti itu?
Yahh, mungkin untuk berjaga jaga aku akan bertanya padanya, nanti.
Baiklah! Saatnya makan! Aku sedikit penasaran bagaimana rasanya. Karena tadi si resepsionis mengatakan bahwa masakannya enak.
Aku duduk di sebuah meja dengan kursi 2 orang. Tentu, tidak ada yang mengisi kursi kosong itu.
"Hari yang berat. Aku ingin berendam di air panas dan melepas semua penatku!" Aku menggeliat pelan, mencoba meregangkan otot-otot yang kelelahan.
Bagaimana tidak? Aku hari ini sudah bermain main dalam Dungeon Weiss!
Walau disebut bermain main, sepertinya itu tidak bisa dikatakan bermain. Monster di sana snagat gila. Seperti yang aku harapkan dari Dungeon Rank-S. Tapi, aku juga menemukan beberapa hal. Aku sedikit penasaran dengan Dungeon itu.
"Maaf sudah menunggu. Ini pesanan anda." Si pelayan itu kembali, dan membawakan beberapa makanan hangat yang terlihat enak. Uwahhh, dari baunya saja aku sudah tahu ini enak!
"Ah, ya. Terima kasih. Ini sangat luar biasa." Aku mengatakan kesan pertama ku padanya tanpa berlebihan.
Dia menunduk, lalu pergi dari meja, mempersilahkan ku untuk makan.
Baiklah! Untuk saat ini, mari kita makan dan lupakan masalah Dungeon!
("Hiks, aku tidak akan mendapatkan perlakuan. Seperti ini jika aku adalah manusia. Aku jadi ingat ketika aku hampir dibunuh ketika dulu "menolong" seorang anak elf.") Mengingat itu hanya membuatku merasa ingin menangis!
Set makanan itu terlihat enak. Ada sebuah sup sayuran dengan uap mengepul yang menggiurkan, dan ada juga daging yang dipotong terlihat memanggil untuk dimakan.
Untuk minumnya mereka mungkin tidak memiliki es, tapi mereka memberiku bir dengan sedikit gula membuatnya terasa manis.
Sebenarnya, aku ingin Mead disini. Hanya saja, aku tahu ini bukanlah bar untuk minum.
"Kalau begitu, selamat makan!"
***
"Wahh, makanannya benar benar enak. Penginapan ini benar benar luar biasa." Aku mengangguk senang di dalam kamar.
Tentu aku mengatakannya perlahan untuk tidak membangunkan Aina.
"Tapi, jujur saja ada beberapa yang kurang di dalam masakan itu." Aku mengingat ingat lagi masakannya.
Untuk tumis daging, aku merasa itu kurang kecap asin dan merica, serta beberapa bumbu lain untuk membuatnya lebih enak. Itu semua seperti daging yang ditumis dengan sayuran dan garam saja. Walaupun enak sih.
Lalu, sop nya juga agak kurang, dimana tidak ada merica, atau bawang putihnya kurang. Dan kaldu yang digunakan tidak ada.
Mungkin akan enak jika ditambah minyak minyak bawang goreng di awal, tapi itu saja sudah cukup enak.
Begini begini, aku cukup yakin dengan masakan ku!
"Baiklah. Aku sudah baik dengan ini semua. Mari kita simpulkan beberapa hal yang bisa kita ambil dari dalam Dungeon rank S itu." Aku mengangguk dalam diam.
"Pertama, Dungeon itu adalah Dungeon yang berbeda dengan Dungeon rank S lainnya. Dengan kata lain, Dungeon Weiss adalah sebuah abnormalitas." Aku mencatatnya pada fitur "memo" yang ada di samping kanan layar.
"Kedua, kita tahu bahwa Dungeon Weiss sebenarnya adalah salah satu dari 5 Dungeon Guard."
"Untuk "Apa itu Dungeon Guard", itu belum diketahui." Aku kembali mengingat ingat.
"Ketiga, Sistem bukanlah bagian dari dunia ini. Maksudnya, sistem dan dewa dewa dunia ini adalah sesuatu yang berbeda." Aku tersenyum.
Aku teringat kata kata genit sistem padaku yang selalu muncul ketika aku meminta sebuah penjelasan.
"Keempat, apa itu Demon God?" Kau tahu, ini adalah pertanyaan yang sangat penting! Ini adalah misteri besar dunia ini, tahu!
"Kelima, sudah pasti para Dewa memiliki sesuatu yang disembunyikan. Karena bahkan sistem tidak tahu apa itu Dungeon Guard." Aku mengakhiri catatanku, dan beranjak dari kursi.
Aku membuka jendela, mengintip keluar melihat kota Furyuun yang menyenangkan.
"Lima hal yang aku temukan di Dungeon Weiss. Ini akan mendekati kebenaran. Menakutkan jika aku harus berurusan dengan dewa ataupun Demon God, tapi apapun itu aku akan mencari tahu semua itu sendiri." Aku mengangguk pelan dalam gelap malam.
"Dan aku sepertinya harus mencari kelima Dungeon Guard itu." Aku menatap bulan di langit.
Bulan kali ini sangat indah, dengan warna biru keperakan seperti sebuah permata yang menatap penasaran kemari.
"Untuk bisa menyelesaikan semua Dungeon itu, aku harus lebih kuat, ya?" Aku hanya bisa mengangguk meyakinkan hatiku, sebelum menutup kembali jendela.
Mungkin lebih baik aku tidur saja untuk hari ini.