
Uhh ini benar benar melelahkan. Kita sudah berkeliling kota selama seharian penuh, tapi aku tidak tahu kenapa ibu dan kak Edna masih terus semangat.
"Ren! Sini! Ada benda yang bagus!" kak Edna menarik tanganku ke seorang penjual liontin.
"Uwahhh! Banyak benda yang sangat bagus! disini! Hei ibu, yang mana yang bagus?" kak Edna benar benar tetap menikmati ini. Yahh, itu adalah hal yang bagus, tapi bagaimana kalian para perempuan masih punya energi sebanyak ini?
"Oya ya ya. Mas mas disana, ayo jika berpergian dengan keluargamu, terutama perempuan kamu harus membeli ini loh! " kini sang penjual juga ikut merayu ku dengan kata kata.
"Huffy, baiklah. Mana coba aku lihat?" aku mendekat dan melihat pernak pernik itu.
Ada banyak pernik yang berkilauan, sepertinya dibuat dari batu baru yang bagus. Sayang bukan alat sihir.
"Silakan kalian berdua, pilih saja yang kalian suka."
Aku benar benar tidak bisa memilihkan sesuatu untuk orang lain, jadi aku menyerahkan pada mereka sendiri.
Itu membuat ibu dan kak Edna saling pandang untuk sesaat. Aku hanya mengangkat alis, dan mereka segera memilih aksesoris yang mereka inginkan.
"Kalau begitu, aku memilih ini!"
"Aku yang ini." mereka berdua sepertinya sudah selesai memilih.
Humm, pilihan yang bagus. Aku tidak akan bisa melihat kedua liontin itu diantara banyak sekali pilihan disana.
"Begitu katanya, aku beli dua ini."
"Baiklah harganya 20 perak." jawab si penjual dengan wajah yang senang.
Itu adalah harga yang murah bagiku, jadi aku mengeluarkan nya dengan mudah.
"Terima kasih, Ren! Aku akan selalu memakainya!" kak Edna terlihat senang, begitu juga dengan ibu. Mereka berdua memakai liontin dengan wajah berseri.
Liontin milik ibu berwarna biru tua dengan ornamen perak kebiruan yang indah.
Ketika melihat ke arah liontin, aku seperti bisa melihat dan merasakan lautan, jadi aku yakin itu adalah liontin yang bagus.
Berbeda dengan milik kak Edna yang berwarna hijau.
Milik kak Edna seperti hutan, membuatku ingat bahwa dia memang benar benar elf. Itu sedikit menyedihkan.
"Ahh, aku capek."
"Aku juga."
Sekarang kami berdua sedang beristirahat di sebuah tempat makan. Maksudku ini adalah istirahat terakhir, semoga.
Ini sudah terlalu malam untuk melanjutkan perjalanan, dan semoga mereka berdua juga lelah.
"Apakah kalian berdua puas bermain hari ini?" tanyaku.
"Aku puas, bagaimana dengan ibu?"
"Ibu senang bisa bermain dan mengelilingi kota hari ini. Apalagi Ren yang mengajak kita. Itu benar benar kejutan." jawab ibu.
Aku menatap mereka berdua dengan senyum.
"Oh ya, Ren. Bagaimana dengamu? Apa kau puas bermain main?" kini kak Edna menggangguku.
"Aku? Humm, apa ya? Yang terpenting aku bisa bersama dengan kalian, walaupun melelahkan sekalipun tidak apa. Karena waktu kita bersama cukup lama, tapi kita tidak cukup dekat. Aku ingin kita benar benar seperti keluarga." jawabku.
Itu adalah perasaanku yang sebenarnya. Aku bisa mengatakan nya sambil tersenyum bangga.
"Ahh, akhirnya kami melihat senyum tulusmu." goda kak Edna.
Dia kemudian tertawa dengan ibu.
Ahh, percakapan ini. Betapa aku benar benar merindukan ini.
***
"Hei kalian sudah siap?"
"Kami sudah siap dari pagi. Bagaimana?" suara kak Edna terdengar menggema.
Aku sedang berada di kamar mereka berdua sekarang, menghampiri mereka untuk berangkat, ini cukup merepotkan.
Tapi seperti yang ada sekarang, mereka benar benar sudah siap untuk berangkat, terutama kak Edna.
Sepertinya dia yang paling tidak sabar dengan ini.
"Kalau begitu, ayo berangkat!" kataku semangat.
Ini adalah hari dimana kami mendaftarkan ibu untuk berobat ke Gereja.
Ada beberapa hal yang tidak baik sebelum ini, tapi biarkan saja. Kalau ada jalan untuk menyembuhkan ibu, bagaimanapun akan aku lakukan itu juga.
Aku jadi sedikit merasa bersalah pada putri, tapi sudahlah.
Anggota party yang ada di Furyuun mungkin sudah sembuh, aku tidak bisa menyingkirkan fakta itu.
Yahh, walaupun ibu adalah Manusia, tapi aku bisa membayar banyak untuk itu. Aku yakin bahkan pihak Gereja pun tidak akan menolak uang berapapun itu.
Dan dengan menyembuh kan ibu, jelas mama mereka juga akan naik, bukan?
"Silakan mendaftarkan? Cih!" seorang suster yang berdiri di gerbang mendaftar kami dengan nada ramah awalnya, tapi berubah saat melihat kami.
Tadinya dia akan menarik lagi formulir, tapi ketika aku menunjukkan sekantung uang, dia memberikannya.
Aku tersenyum kecut, sebelum terus masuk ke bagian dalam Gereja.
Entah kenapa aku merasa sesak, tapi bersamaan dengan itu juga aku merasakan keagungan dari bangunan ini. Ini benar benar Gereja.
Kami akhirnya sampai di tempat yang mirip seperti resepsionis.
"Kami ingin mendaftarkan Ibu." aku menyodorkan formulir, dan setumpuk uang.
"Apa masalah kalian?" suster ini benar benar tidak melirik kami.
"Beberapa tanda tanda seperti ini." aku memperlihatkan beberapa tanda yang diderita ibu, yang segera membuatnya merubah wajahnya.
"Ahh! Kami punya perawatan khusus untuk pasien seperti ibu anda, jadi silakan kesini." katanya berdiri, dan mengarahkan kami.
Ini aneh. Dia benar benar berubah total setelah kami menunjukkan gejala ibu.
Ada apa ini?
"Baiklah." pilihanku hanya ada satu, ikut.
"Maaf, tapi bukan kalian. Pasien saja yang bersama kami." aku dicegah ikut.
"Apa maksudnya ini? Kami diberitahu bahwa ini bahkan tidak memerlukan waktu lama! Kenapa kami tidak bisa ikut?!!" kak Edna langsung mengatakan ketidak setujuan nya.
Aku juga merasa sedikit aneh disini.
"Maaf, tapi pasien harus dirawat dengan menginap, karena kami bahkan harus melakukan beberapa prosedur padanya." jawab suster itu.
"Tapi apakah kami bisa menjenguk nya setiap hari?"
"Maaf, kalian tidak bisa mengganggu."
"Kita kembali."
Aku segera mengambil formulir dan uang yang ada, setelah mendengar hal itu.
"Tunggu, Ren. Setelah dari sini kamu mau kemana?" tangan seseorang menghentikan ku. Ini tangan ibu.
"Kemanapun. Aku akan keluarkan berapapun untuk kesembuhan ibu, tapi bukan dengan cara ini." jawabli cepat.
Jelas sekali ada sesuatu yang aneh disini! Aku tidak bisa menjenguk nya? Jangan bercanda!!
"Tidak bisa, Ren. Kalau kau, kau pasti akan menghabiskan banyak uang bahkan untuk yang tidak pasti. Setelah itu, kamu harus mencari uang lagi."
"Tidak apa, Ren. Ibu tidak apa. Disini sudah pasti, Ibu pasti sembuh disini."
Kata kata ibu memang ada benarnya.
Jujur saja, aku mulai kehabisan uang disini, bahkan akan sulit walau mencoba menghasilkan potion lagi.
Selain itu, aku juga tidak ada petunjuk apapun lagi soal penyakit ini, dan aku tidak ingin ibu lebih lama menderita lagi.
"Tapi...."
"Ren. Sudahlah. Percayakan ini. Ibu tidak apa." kata kata ibu benar bens rmenenangkan.
Aku melirik ke arah kak Edna, dia masih terlihat agak enggan, tapi ibu juga terus memaksa. Dan aku sedikit melirik ke arah suster yang hanya menatap ke arah kantong yang aku bawa.
Sedikitnya aku mengerti, Ibu tidak ingin merepotkan kami.
Tapi, tapi.
"Baiklah. Aku mengerti." aku menyerah.
Dengan begitu, aku menyerahkan ibu beserta formulir dan lain lainnya ke Gereja.
Kak Edna juga memerlukan waktu untuk berpisah sementara dengan Ibu, jadi aku meluangkan waktu untuk berbincang dengan suster sebentar.
Katanya penyakit yang diderita ibu adalah penyakit langka yang harus ditangani dengan khusus.
"Jemput dia setelah 1 Minggu. Selama itu, mungkin tidak akan ada kabar darinya." kata kata suster yang dingin itu bagai terukir di dalam kepalaku.
"Kak Edna..." aku ingin membicarakannya apda kak Edna, tapi melihat keadaannya sekarang aku tidak bisa.
Aku benar benar akan melakukan ini, tapi kenapa hatiku tidak terasa tenang?