Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 4: Bab 24 - Alpha



"Siapa disana?!!" teriak Elf itu sambil bersiap dengan beberapa kuda kuda di tangannya.


Liu Xiu berjalan pelan, sambil mengangkat tangannya dan tersenyum penuh arti. Dia hanya berjalan pelan, tapi dengan menunjukkan wajahnya pada Elf itu, membuat Elf itu terkejut.


"K-kau?!" Elf itu melongo melihat sosok Liu Xiu.


Dia perlahan melemahkan penjagaan nya, dan menurunkan tangannya.


Tapi tiba tiba, Liu Xiu bergerak, secepat yang dia bisa, dan muncul di belakang Elf itu sambil menaruh jari telunjuk di leher Elf itu secara tiba tiba.


Gerakan Liu Xiu terlalu cepat dilihat oleh mata, karena bahkan kecepatan Liu Xiu meningkat setelah pertempuran kemarin. Sehingga kecepatannya tidak bisa diikuti oleh orang biasa sekarang.


("Apa itu? Apa dia memiliki skill teleportasi?! Itu sangat cepat!! Aku tidak tahu bagaimana dia tiba tiba sampai di belakang ku!!") teriak Elf itu dalam hati.


Terjadi hening beberapa saat karena Elf itu sedang menganalisis kemampuan Liu Xiu.


"Kau harusnya tidak lengah hanya karena melihat seseorang yang kau kenal. Itu berbahaya untukmu." kata Liu Xiu tersenyum


"Kau juga tidak seharusnya menilai sesuatu yang jauh darimu. Kau cukup kuat, jadi harusnya kau tahu dan bisa tahu kekuatan musuhmu sekali lihat, bukan? Atau mungkin karena aku manusia, jadi kau tidak terlalu memperhitungkan ku?" kata Liu Xiu.


Elf itu terkejut karena Liu Xiu seperti bisa membaca semua yang dia pikirkan.


"Kenapa? Bingung karena aku seperti bisa membaca pikiran mu? Itu semua, tertulis di wajahmu, jadi kau tidak perlu repot repot menjelaskan semuanya padaku." kata Liu Xiu.


Dia perlahan melepaskan kuncian di leher Elf itu, karena Elf itu sudah mulai mengangkat tangan.


Elf itu menyentuh lehernya, tepatnya di tempat dimana Liu Xiu mengancamnya tadi, dan sedikit menggumamkan beberapa kata tadi.


("Aku? Takut?! Perasaan takut ini... Ini sudah lama... Aku sudah lama tidak merasakan ini!!") kata Elf itu dalam hati.


Elf itu berbalik, dan menghadap Liu Xiu. Dia langsung mengamati sosok Liu Xiu yang mana berkata bahwa dia akan menyelamatkannya saat itu. Itulah yang ada di ingatan terakhir Elf itu.


"Jadi begitu. Anda juga sudah mati dan ini adalah alam untuk orang mati." kata Elf itu sambil menunduk.


"Kenapa kau berpikir bahwa kita sudah mati!!!" teriak Liu Xiu.


"Apa maksudmu?" tanya Elf itu heran.


Mendengar itu Liu Xiu menggelengkan kepala sambil menghela nafas.


"Kau dan aku belum mati. Bukankah aku sudah bilang bahwa aku akan menyelamatkan mu? Apa kau pikun? Atau Dark Magic membakar ingatanmu?" tanya Liu Xiu sambil mengkerut kan dahinya.


"Bagaimana mungkin kau belum mati? Kami bertujuh sudah banyak membunuh orang, bahkan Adventurer Rank-A, bahkan sampai beberapa petinggi negara~" Elf itu menunduk sedih.


"Tidak hanya itu, sangat banyak Assasin terkenal dan petarung terkenal yang telah kami bunuh jadi... jadi!!"


"Rasanya tidak mungkin." kata Elf itu.


Liu Xiu menatap bingung, tapi kemudian tertawa terbahak-bahak. Tawa nya tidak kunjung berhenti, membuat Elf itu melihatnya dengan heran.


"Buktinya aku berhasil menyelamatkan kalian." kata Liu Xiu.


"Apakah kau perlu bukti?" tanya Liu Xiu.


Liu Xiu lantas menyentuh tangan kiri Elf itu, lalu mencoba mengendalikan sihir yang ada di tubuh Elf itu.


Karena pada dasarnya, sihir yang ada di dalam tubuh ketujuh orang itu adalah milik Liu Xiu, jadi Liu Xiu yang memiliki pemahaman lebih terhadap sihir bisa mengendalikan itu sesuai seperti yang Liu Xiu inginkan.


Dia memainkan nya dengan memutar sihir, dan mengumpulkan nya di satu tempat, lalu membentuk sebuah sihir api kecil di tangan kanan si Elf.


Elf itu terkejut, ketika melihat api terbentuk di tangannya.


"I-itu luar biasa. Tidak bisa dipercaya bahwa kau mengendalikan sihir begitu mudah." kata Elf itu lagi.


Tapi tiba tiba, semua ingatan tentang apa yang terjadi mulai masuk ke dalam pikiran Elf itu, dan membuatnya tersadar. Dia ingat bagaimana dia menyuruh Liu Xiu berlari, dan Liu Xiu menolak untuk pergi.


Dia juga ingat bahwa ada sebuah sihir berwarna hitam yang perlahan menjadi biru cerah secerah langit.


Kepalanya menjadi sakit, membuatnya sedikit tertunduk.


"Hei. Ada apa?" tanya Liu Xiu khawatir. Dia mencoba mengecek apa yang terjadi, tapi tidak ada sesuatu yang khusus dengan Elf itu, yang sudah mulai sadar bahwa dia masih hidup.


Elf itu mendongak, menatap langit sesaat, sebelum akhirnya melihat wajah Liu Xiu.


Setelah itu, dia mengingat mimpinya saat itu, dan dia segera berlutut, menundukkan kepalanya sedalam mungkin.


"Maafkan kepanjangan saya, tuan. Anda sudah menyelamatkan nyawa saya. Tidak hanya itu, anda juga sudah menyelamatkan saya dari siksaan abadi yang saya alami saat saya ada di tangan orang itu. Tapi justru saya berperilaku buruk kepada Anda." kata Elf itu dengan hormat.


Seketika Liu Xiu menjadi bingung tentang apa yang terjadi padanya. Pasalnya, kepribadian nya tiba tiba berubah jauh.


"Uhun! Baiklah. Angkat kepalamu. Aku tidak menyelamatkan mu untuk itu." jawab Liu Xiu. Dia sedikit terbatuk, tapi juga sambil menjaga image nya di depan Elf ini.


"Tuan, boleh saya bertanya, apa yang terjadi dengan enam orang selain saya? Maaf jika saya lancang, tapi apakah Tuan juga menyelamatkan mereka?" tanya Elf itu setengah berteriak. Dia terlihat sangat khawatir tentang itu.


Liu Xiu tersenyum karena dia sepertinya sudah menduga Elf ini akan menanyakan hal itu.


"Bukankah kau tadi sudah melihatnya sendiri? Mereka sedang tertidur lelap di kamar yang sama denganmu. Jadi mereka tidak apa." jawab Liu Xiu tersenyum.


Elf itu menarik nafas lega, walaupun tidak terlalu terlihat. Liu Xiu senang karena ternyata Elf ini lebih peduli dari yang terlihat.


"Ngomong ngomong, siapa namamu? Bisakah kau memberi tahu ku namamu? Aku agak sulit saat aku harus memanggilmu." kata Liu Xiu.


Seketika, Elf itu terdiam dia seperti mencoba mencari cari sesuatu di ingatan nya, tapi dia terlihat gelisah.


Dia mencoba terus menerus, tapi sepertinya itu terlalu sulit, hingga kulitnya tidak terlihat baik. Walau begitu, dia tetap berusaha untuk mengingatnya, tapi bagaimanapun, itu tidak terlihat seperti dia berhasil.


"Maaf, tuan. Saya benar benar melupakan siapa nama saya. Saya tidak tahu, dari mana asal saya, dan yang saya tahu hanya kejadian setelah saya menjadi monster itu." kata Elf itu dengan sedih.


Liu Xiu terdiam, memikirkan efek yang diterima oleh orang orang yang terkena Daek Magic.


Jadi dia sekarang merasa sangat beruntung karena dihentikan oleh Kei saat dia terllau berlebihan dalam menggunakan sihir, apalagi Dark Magic.


"Uhum. Kalau begitu. Akan sulit untuk ku bisa memanggilmu. Bagaimana jika aku memberimu nama? Apa itu boleh?" tanya Liu Xiu.


"Be-benarkah?!! Ka-kalau begi- Uhum!! Maafkan saya. Silakan beri saya nama, Tuan." kata Elf itu dengan antusias.


Sepertinya dia mencoba menjaga dirinya agar tetap terlihat tenang, padahal dia benar benar bersemangat dengan ini. Liu Xiu yang melihat itu hanya mencoba menahan tawa agar tidak merusak image nya.


"Baiklah. Kalau begitu, aku akan memberimu nama." kata Liu Xiu setelah cukup lama.


Dia akhirnya berpikir sesaat, untuk menentukan sebuah nama.


("Aku tidak pernah memberi nama di dunia ini, jadi aku tidak tahu nama yang cocok seperti apa! Sial! Bodohnya aku seenaknya berkata akan memberikannya nama!!") jerit Liu Xiu dalam hati ketika memutuskan nama.


("Apa hal yang cocok saat aku melihatnya? Elf? Tidak, bodoh!! Bukan hal seperti itu! Pemimpin? Ya. Mungkin. Jadi nama yang cocok adalah...") pikir Liu Xiu lagi.


Dia mengamati Elf itu baik baik, sambil menaruh dagunya di tangan, sedangkan Elf itu menatap Liu Xiu sambil memiringkan kepalanya.


"Alpha." kata Liu Xiu pelan.


"Ya. Namamu Aplha. Bagaimana? Apakah itu baik untukmu?" tanya Liu Xiu lagi.


"Al... pha?" tanya Elf itu.


"Bukan itu cara mengeja nya. Jangan pisah kedua suku kata itu. Itu adalah satu kata jadi kau harus mengatakannya dengan cepat. Alpha." kata Liu Xiu menjelaskan padanya.


Elf itu, yang sekarang bernama Alpha terdiam sesaat mendengar itu, sambil mengulang ulang kata "Alpha" di mulutnya dan di pikirannya.


"Ya! Itu bagus!! Aku menyukainya!! E-eh. Maaf! Maksud saya, jika itu nama pemberian Tuan, itu akan selalu bagus. Saya bersedia menerima nama itu. Tolong panggil saya Alpha mulai sekarang, Tuan." kata Alpha sambil menunduk kan kepala dalam.


Walau begitu, senyum yang membentang lebar di wajahnya tidak bisa dia tutupi begitu saja.