Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 6: Bab 15 - Sedikit Tekad



"Ren! Ren! Bangunlah!!"


"REN!!" suara teriakan yang terdengar semakin keras, di dalam sebuah ruangan kecil dengan beberapa orang di dalamnya.


Ada beberapa ornamen kecil, tapi yang paling banyak adalah peralatan medis, beberapa alat bantu, dan yang paling banyak, kain seperti perban yang terlihat kasar, tapi digunakan untuk membalut luka.


Di tengah tengah ruangan tersebut ada sebuah kasur, dan sosok yang terbaring di kasur tersebut.


Itu adalah Ren, yang sedang menerima perawatan dari orang orang yang ada di sekitarnya.


Tubuhnya penuh dengan luka, yang sudah dibalut dengan kain yang terlihat seperti perban itu. Tapi, lukanya tampak sangat parah, ketika bahkan sihir penyembuhan hanya bisa menyembuhkan tubuh Ren sedikit demi sedikit. Bagaimanapun, itu tetap dapa menyembuhkan Ren, jadi sepertinya itu adalah kemajuan.


"Ayah! Apa yang terjadi dengan Ren? Kau bilang akan menjelaskannya nanti!!" teriak Edna dengan khawatir.


Sebelumnya, mereka berhasil menemukan Ren, yang tergeletak bagai seonggok sampah di tengah sebuah lingkaran sihir yang tampak membekas di tanah alun alun kota.


Orang orang yang melihatnya terpaku, menatap Ren tidak percaya, karena mereka sudah tahu, apa yang terjadi dengan Ren hanya dengan melihatnya. Tapi, Edna yang tidak mengerti hanya bisa marah, dan meminta ayahnya dan yang lain untuk segera menolong Ren.


Hasilnya, sekarang Ren sedang dirawat oleh sihir penyembuhan sambil dikelilingi orang orang.


"Uhm. Baiklah. Aku belum pernah mengatakan nya padamu, bukan? Ini adalah sebuah tanda ketika seseorang menggunakan sihir terlalu banyak di tubunya. Itu membuat tubuhnya tidak kuat, dan akhirnya sihir itu melukai dirinya sendiri." jelas Roy.


"Tidak mungkin...." Edna menutup mulut, tidak percaya.


Edna sudah tahu selama ini, bahwa Ren memiki kemampuan yang luar biasa. Tapi dia tidak tahu, bahwa Ren selama ini menderita seperti itu.


"Jadi selama ini Ren merasa seperti itu?" membayangkan nya saja, membuat Edna merasa bersalah karena tidak bisa membantu apa apa.


"Yahh seperti itu lah. Itu biasanya merupakan kasus yang sangat langka terjadi, karena sejatinya tubuh kita sudah terbiasa dengan jumlah sihir yang biasa. Tapi, ini sepertinya berbeda."


"Jumlah sihir yang ada dalam tubuh Ren sangat luar biasa, bahkan tidak bisa dibandingkan dengan jumlah sihir yang dimiliki kita semua. Tidak hanya itu, dia barusan mengeluarkan kekuatan sihir yang berkali kalo lipat kekuatan sihirnya sendiri. Ditambah, dia adaalb Manusia."


"Tubuh manusia sejak awal tidak mampu mengelola sihir dengan kekuatan yang sangat besar, membuat tubuhnya tidak bisa bertahan. Dia masih bisa bernafas saja merupakan suatu keajaiban." jelas Roy panjang lebar.


Edna mendengar itu hanya diam, tidak mampu mengatakan apa pun.


Begitu juga dengan orang orang yang ada di sekitar, tampak menatap ke bawah dengan ekspresi wajah frustasi, mengetahui orang yang biasanya mereka cemooh justru menyelamatkan mereka dengan cara yang bahkan tidak mungkin mereka capai.


"Tuan Roy!!" teriakan kecil terdengar dari belakang mereka, ketika sosok yang terbaring di sana mulai menggerakkan tangan dan mulutnya perlahan.


"Ren?! Kau kah itu? Apa kau sudah bangun?!" tanya Roy dengan wajah yang terlihat sangat khawatir. Tidak hanya itu, Edna juga dengan segera menyusul Roy untuk menyongsong Ren di bagian yang lain.


"Hmmmmhh..." terdengar geraman pelan dari Ren yang sedikit demi sedikit membuka mata.


"UHUK!!" Ren terbatuk keras, mengeluarkan darah ketika pertama kali bangun, membuat semua yang ada terkejut melihatnya. Tapi, Ren sendiri segera menggelengkan kepala, dan mengelap darah yang keluar dari mulut nya menggunakan tangan nya sendiri.


"Ren?!!" Edna lagi lagi memanggil Ren, yang masih tampak bingung.


Ren sendiri, hanya memandang ke sekeliling, mencoba memahami apa yang sudah terjadi. Tapi setelah beberapa detik, dia menarik nafas, dan tampak menyerah.


"Ahh begitu. Aku pingsan dan kalian menyelamatkan ku, kah? Sepertinya begitu. Mau bagaimana lagi, sekuat apapun niatku, tubuhku tidak akan bisa kuat menahan semua kekuatan sihir itu. Kalau begitu...." Ren mulai berdiri, dan berjalan pelan ke arah jendela.


Dia meninggalkan orang orang yang menganga, melihat Ren hanya berkata datar bagai tidak merasa apapun.


Semua hanya tertegun, tidak bisa berkata kata. Padahal, terlihat tubuhnya benar benar terluka parah. Edna juga hanya bisa memandang bolak balik antara Ren dan kasur yang sudah ditinggalkan nya.


Sampai kesadaran Edna kembali....


"HEII!! REN!! APA YANG KAU LAKUKAN?!?! Kau masih sakit, bukan?! Apa yang kau lakukan hingga berani berjalan jalan dengan mudah seperti itu?!!" teriak Edna histeris, sambil berusaha menyeret Ren kembali.Tapi, Edna bingung karena tubuh Ren penuh dengan perban, bagaimana dia harus memegangi Ren agar tidak menyakiti Ren sendiri.


Hasilnya, Edna hanya bisa menghalangi Ren dengan berhati hati menyentuh nya. Itu tampak lucu ketika Edna melakukannya, jadi Ren tidak menghentikan nya.


Ren hanya diam, melongok ke arah jendela. Dia melihat bahwa penghalang yang dia buat, dan menarik nafas lega.


"Yahh, bagaimanapun penghalang itu sudah terbentuk, jadi aku bisa sedikit tenang sekarang..." kata Ren pelan, sambil melihat ke sekeliling nya, tersenyum.


Besar keinginan nya untuk menemui Childe dan Syila untuk memastikan mereka baik baik saja, tapi Ren tahu bahwa keadaan kota sekarang masih belum seratus persen aman.


"Hei, Ren..." setelah terjadi keheningan sesaat, Roy berbicara.


"Apa itu? Apa yang menyerang kita? Dan kenapa kamu sampai bersikeras seperti itu hingga membuat penghalang yang luar biasa besar itu, tidak..." Roy menggelengkan kepalanya, lalu menatap ke arah Ren.


"Sebenarnya ada apa ini semua?!" tanya Roy.


Sebagai seorang Guild Master, atau seseorang yang paling kuat di kota, tidak mengetahui sesuatu benar benar mengganggu Roy. Apalagi ini menyangkut keamanan kota nya, dan keamanan keluarga nya. Jelas, Roy tidak bisa hanya diam dan melihat Ren begitu saja.


Sementara itu, Ren melihat mata Roy, yang menunjukkan keinginan yang kuat dan tekad serta amarah yang terpendam di dalamnya.


("Huh... Ayahku memang dulunya adalah petualang, bukan? Aku ingin menghormati keinginan nya, tapi ini adalah masalah yang menyangkut kultus.") hati Ren mengalami perdebatan.


("Aku sudah tahu, dan merasakan bahwa berhubungan dengan kultus, atau bahkan hanya mengetahui keberadaan nya saja sudah sangat berbahaya. Dan jujur saja, aku tidak ingin menceritakan nya pada orang lain.") pikir Ren lagi.


Dia benar benar takut untuk menceritakan nya pada Roy, karena enggan Roy atau yang lainnya terlibat dalam sesuatu yang begitu gelap.


"Maaf, tapi..." Ren mulai membuka mulut, membuat semua orang yang ada menahan nafas.


"Ada baiknya jika kalian tidak tahu apa apa..." kata Ren sambil menunduk sedih. Dia tidak tahu, harus berbuat apa. Wajah kecewa segera terbentuk, tapi tidak dengan Roy. Tekad masih terpancar di matanya, tidak menunjukkan tanda menyerah.


"Kenapa, Ren?!! Apa kau tidak percaya pada kami? Apa kekuatan kami sebegitu lemah hingga tidak bisa kau percaya?!!" tanya Roy menekan Ren.


"I-itu..." bisik Ren pelan.


Kalau segi kekuatan, Ren sedikitnya yakin setidaknya Roy akan bisa mengalahkan Gordo jika bersama dengan Childe. Hanya saja, dia ingat dengan Dela, sosok wanita yang bisa membuatnya mundur bahkans saat Ren dalam kondisi yang kuat.


Dari sana saja Ren mengerti, bahwa "Apostle of Demon God" merupakan sebuah kultus yang tidak bisa dianggap remeh.


Selain itu, Ren tidak ingin mereka merasakan penderitaan yang begitu dalam seperti yang dia rasakan hanya karena mengetahui tentang kultus.


"Ada berbanyak alasan, tapi aku sulit mengatakannya." jawab Ren akhirnya.


"Hufft..." Roy menghela nafas, tidak percaya.


"Kau sangat keras kepala, bukan? Kalau begitu, aku hanya bisa melawan mereka tanpa rencana." kata Roy sambil berkacak pinggang, dengan wajah yang mengatakan "mau bagaimana lagi."


"Heh?!" seketika, wajah Ren berubah.


"Kalian akan tetap pergi untuk melawan mereka?" tanya Ren heran.


"Yahh, tentu saja, bagaimana pun, ini adalah kota kami, kan? Kami akan mempertahankan nya sebaik mungkin. Dan juga, orang yang menyerang kota ini tidak bisa kami maafkan. Dimana harga diri kami jika kami hanya diam saat diserang?" tanya Roy dengan senyum penuh percaya diri. Dia menepuk seseorang di sebelah nya, yang memegang panah dengan senyum tipis.


"Y-yah, itu memang menakutkan, tapi aku akan memberi tahu mereka bahwa mereka salah telah menyerang sebuah kota yang berisi mayoritas Elf!" katanya setelah menarik nafas.


"Ya! Benar!"


"Aku juga aku juga!!"


"Yahh begitu pula aku, walau aku hanya seorang penyembuh....."


Ketiga orang lain yang ada di dalam ruangan juga ikut menyahut, menyatakan semangat mereka.


"Kau tahu, Ren? Jiwa kami adalah petualang. Mustahil kau mengatakan pada kami untuk berdiam diri tidak tahu apa apa! Kami akan melawan, apapun yang terjadi!" kata Roy dengan yakin.


("Tidak, kalian tidak tahu apa yang kalian lawan...") pikir Ren. Tapi dia tahu, bahwa menghentikan mereka tidak akan berguna.


"Hufft. Baiklah."


"Aku akan menceritakan nya."