Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 3: Bab 39 - Pertemuan



"[Ice Proyektil]! Dan [Laser]!" suara teriakan Edna bisa terdengar di medan pertempuran. Bersamaan dengan itu, monster yang datang juga mulai jatuh.


"Rasakan ini!!!" Ren menyerang monster yang sudah mulai melemah dengan pedang Azantium yang dia ambil dari Inventory miliknya. Itu menembus dan menumbangkan beberapa monster itu dengan cepat.


Tapi saat menebang mereka, Ren merasakan hal aneh. Seperti sebuah perasaan bersalah atau suara Terima kasih dari monster itu.


Bahkan, mayat monster itu tidak menghilang begitu saja. Ini membuat Ren lebih penasaran.


"Kak Edna! Kita belum selesai!!" teriak Ren setelah kembali fokus ke medan pertempuran.


"Aku tahu!! [Wall]!!" jawab Edna.


Sedetik kemudian, muncul tembok es besar yang menutup jalan monster monster itu. Itu adalah pengalihan yang bagus, membuat monster itu melirik ke arah Edna.


Saat itulah, Ren menggunakan kecepatan maksimalnya untuk membelah monster hitam itu.


"Lu-luar biasa!" Edna terkagum-kagum melihat sosok Ren yang bisa membasmi monster monster itu dengan mudah. Padahal mereka juga melihat prajurit lain, yang terdiri dari Beast kesulitan menghabisi satu dari mereka.


Tapi, tiba tiba Ren menengok ke arah Edna, dan melemparkan pedang Azantium nya ke arah Edna!


Itu semua terjadi sangat cepat, bahkan Edna sendiri tidak sempat untuk bereaksi.


GRAAHHH??!!!


Terdengar suara jeritan dari monster di belakang Edna, membuat Edna perlahan menengok dan sadar berapa dekatnya dia dengan kematian.


Lemparan pedang barusan memang mengejutkan Edna, tapi dia bersyukur dengan itu.


"Kak Edna! Apa kau baik baik saja?!" Ren segera melompat dan mendatangi Edna. Edna terduduk sesaat dengan nafas yang tersengal. Detak jantungnya tidak teratur, mengingat kejadian barusan.


"Sepertinya aku tidak apa." jawab Edna.


"Jangan memaksakan diri, kak Edna. Aku juga sudah memikirkan rencana baru." kata Ren sambil mengepalkan tangan, membantu Edna berdiri.


"Kak Edna tolong bantu aku dari jarak jauh. Tolong berdiri di atas pagar yang kak Edna buat. Aku akan langsung terjun ke pertempuran." kata Ren sambil tersenyum.


Edna sedikit keberatan mendengar itu, tapi melihat ekspresi serius Ren, dia mengangguk.


"Baiklah, Ren. Aku akan mendukungmu."


"Bagus!" Ren segera menggendong dan melompat ke pagar Es yang tadi dibuat Edna. Segera, dia akan melompat lagi, tapi ditahan oleh Edna.


"Ren! Jika itu berbahaya, mundurlah!" kata Edna dengan wajah khawatir.


"Aku -" Ren hendak sedikit bercanda, tapi melihat keseriusan Edna, membuatnya mengurungkan niatnya. Dia hanya mengangguk dan memegang tangan Edna sambil tersenyum yakin.


Dengan begitu, Ren berteriak dan melompat masuk melawan puluhan monster, yang berebut untuk mengejarnya.


"[Buff up]!!" Edna mendukung Ren dari jauh.


Tubuh Ren sedikit bersinar, tapi senyumnya bertambah lebar. Cincin yang mempercepat Agilitynya dia pakai, dan semua perlengkapan kini dia gunakan. Ini adalah perlengkapan terbaik yang dia punya!


Ren segera menggambar di tubuh monster yang mendekat dengan pedangnya, mencincang mereka.


Banyak monster yang humanoid, ada juga puluhan yang berbentuk hewan. Itu datang mengerumuni Ren seperti tidak ada habisnya.


Tapi permainan pedang Ren jauh lebih cepat daripada itu semua. Ren hanya tertawa melihat berapa lamban nya mereka jika dibandingkan dengan "King of Hell Bee" yang pernah dia lawan dulu.


Sementara itu, Kei yang melihat dari kejauhan tersenyum.


"Dia bisa sekuat itu bahkan tanpa sihir. Dia juga belum mengeluarkan senjata yang dia buat sendiri. Ini luar biasa." gumam Kei dari atas.


"Humm? Dia belum mengeluarkan sihirnya? Dan senjatanya sendiri? Apakah maksud Master?" tanya Cilia penasaran.


Kei tertawa, lalu menoleh sambil mengangkat alis.


"Kau mungkin tidak tahu, tapi anak itu memiliki kapasitas sihir 10 kali lipat lebih banyak daripada partner Elf nya. Dia juga memiliki senjata yang bisa menutar balikkan kenyataan sihir di dunia ini."


"Tidak mungkin?!!" Cila tampak terkejut mendengar itu.


"Ya. Dia masih belum serius di pertarungan ini. Pertarungan yang mempertaruhkan sebuah kerajaan, dia sama sekali belum serius." jawab Kei dengan enteng.


Jika dilihat, memang Ren hanya tertawa sambil menghindar dan terus menyerang menggunakan pedang dan pisau yang ada di kedua tangannya. Wajahnya juga tidak terlihat seperti ini adalah kesulitan yang berarti.


"Tidak salah jika dia disetarakan dengan anggota Kultus. Dia memang benar benar layak untuk itu. Saya benar benar tidak menyangka." kata Cilia sambil menatap Ren dengan mata penasaran.


"Dia terlihat bersenang senang di sana, tapi sepertinya ini adalah waktu untuknya berhenti bersenang senang!" kata Kei.


Setelah Kei berkata demikian, benar saja. Tanah mulai bergetar, menandakan sesuatu akan datang. Ren segera menajamkan indra nya. Tapi dia terlambat.


"REENN!!!" teriakan Edna terdengar, ketika monster terbesar yang membuka jalan untuk para monster lain muncul dari dalam tanah, di belakang Ren. Teriakan Edna berusaha mengingatkan Ren, tapi terlambat.


Cakar besar monster itu sudah melayang terbang, dan Ren juga sudah bersiap memegang bagian tumpul pedangnya dengan tangan kirinya, mencoba menangkis.


"[Cover]!"


"[Mega Ice]!!"


"[Critical Slash]!!"


"[Rain Arrows]!!"


"[Lightning Spear]!"


"[Thousands Blade]!!"


"Dan aku, [Punishment]!!"


Ren terkejut mendengar nama nama skill yang diteriakka dari jauh, tapi dia lebih terkejut ketika melihat tameng transparan besar tiba tiba muncul didepan matanya, bermaksud untuk melindungi nya dari cakar besar si monster.


Tapi itu seketika hancur, dan Ren tetap harus menerima cakar itu dengan pedang di kedua tangannya. Ren meniringkan pedang nya, agar cakar itu jatuh menghujan tanah.


Tepat saat itu, serangan kedua muncul.


Sebuah Es dengan diameter 5 meter terbang, dan menghantam kepala monster itu. Ditambah ujungnya yang bersinar, es itu memberikan damage yang besar ke monster itu.


Tapi segera, Ren merasakan bahaya. Dia segera melompat mundur dari area itu.


Dan benar saja, sepersekian detik kemudian, hujan panah dan hujan pedang datang menyambut monster itu bagai hujan deras.


Tidak sampai di situ, sebuah petir berbentuk tombak juga datang dan menyerang monster itu, dan diakhiri dengan cahaya yang turun seperti cahaya penghakiman.


Itu menghasilkan ledakan besar yang benar benar membuat kawah di sekitar tempat itu.


"Itu adalah kekuatan penghancur yang gila. Itu bahkan hampir menyamai [Firebolt Storm] milikku!" Ren setengah terkejut menggumam pelan, sambil terduduk mengawasi itu semua.


"Ren!!! Renn!! Apa kau baik baik saja! Ahhh! Sudah aku bilang untuk berhati hati, kenapa kau tidak melakukannya?!!" Edna segera datang dan mencoba menepuk pipi Ren.


Dia sedikit marah karena Ren yang lengah di pertempuran tadi, membuatnya tidak mendeteksi bahaya yang mengincar nyawanya.


"Ya. Aku entah bagaimana baik baik saja. Terima kasih sudah mengkhawatirkan ku." jawab Ren dengan senyum.


Seketika, Edna mengambil nafas lega. Dia juga memberi sedikit pelukan, tapi ketika dia mendengar langkah kaki, Edna melepaskan pelukannya.


Ren dan Edna menjadi lebih siaga, kita mengetahui berapa orang yang mengelilingi mereka.


"Apa mau kalian? Dan siapa kalian?!" tanya Ren sambil menyiapkan pedang Azantium dan pisau di tangan kirinya. Edna juga menyiapkan beberapa sihir agar bisa langsung di pakai jika dibutuhkan.


"Yahh, jangan terlalu tegang seperti itu. Kami baru saja menyelamatkan mu loh!!" seseorang maju sambil membuka tangannya.


"Menyelamatkan? Maksudmu melemparkan panah, pedang, petir, dan sihir lainnya ke arahku? Huh! Mungkin tidak!" kata Ren sedikit mengejek. Semua yang ada di sana segea berpasangan, dan melihat ke arah monster tadi lagi.


Monster itu masih bergerak, tapi masih merusak beberapa bangunan lain, jadi mereka membiarkan monster itu begitu saja.


"Yahh, maaf soal yang itu. Setidaknya, kita adalah rekan yang bertarung melawan musuh yang sama. Bagaimana jika kita anggap begitu?" tanya orang itu, mulai keluar dari bayangan dan menunjukkan wajahnya.


Dengan rambut putih dan pedang besar di belakangnya, Ksatria itu mengulurkan tangan.


"Rambut putih?!" Ren sedikit terkejut dengan itu.


"Sebelum itu, bisakah kau memperkenalkan nama kalian? Aku agak sulit mempercayai orang yang tidak menyebutkan nama nya. Ahh, tentu aku akan menyebutkan namaku setelahnya." kata Ren sambil terus masih menguatkan pegangan tangannya.


"Baiklah baiklah. Aku Alford. Pemimpin dari Seven Knight kerajaan Kin." jawab Ksatria berarmbut putih bernama Alford itu.


"Seven Knights?!" Ren sedikit heran.