Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 1: Bab 26 - Kegelapan yang Mengincar Kegelapan



Aku masih berusaha menyesuaikan tubuhku kembali. Skill [All Map Exploration] tidak menggunakan MP sama sekali, tapi aku memaksanya untuk memperluas jangkauannya menggunakan Fehl dariku sendiri. Sudah kubilang, ini membunuhku perlahan.


Sebenarnya jangakauan skill ini bisa diperluas dengan berjalan ke tempat yang belum diketahui, tapi aku tidak bisa sekarang.


Dan untuk memaksanya memperluas jangkauan, aku mengorbankan sebagian Fehl ku.


"Beruntung untuk kerusakan segini dapat tertutup oleh sihir penyembuhan." Aku tertatih tatih bejalan sambil menyembuhkan diriku sendiri.


Disini maksudku, Fehl yang bocor masih belum terlalu banyak, dan kerusakan per detiknya tidak melebihi kecepatan penyembuhan ku.


"Baiklah! Aku sudah merasa cukup baik!" Aku menghentikan penyembuhan dan segera berlari menembus hutan.


Kurasa ini lebih baik daripada harus berlari di gunung dengan oksigen yang tipis.


Aku sedikit terharu mengingat pelatihan kskskku dulu.


Tapi aku harus tetap menjaga Fehl ku agar tidak bocor terlalu cepat.


Ada baiknya aku segera mendapat petunjuk lain. Aku hanya tahu tempat dimana mereka berada, tapi aku tidak tahu jika ada jalan khusus.


Aku akan menerobos masuk untuk langkah terakhir.


?!


Aku menangkap sebuah gerakan cepat yang lewat di sisi mataku. Apa itu hewan? Tidak. Hewan tidak bergerak secepat itu.


Eh, aku belum pernah melihat hewan disini, bukan?


"Apapun itu, gerakannya sangat cepat dan kasar. Mirip gerakan hewan jika dilihat dari temponya, tapi terdengar seperti manusia." Aku berbisik perlahan ketika berhenti sebentar untuk memperhatikan asal suara.


Walau dia cepat, tapi sebenarnya belum apa-apa jika dibanding denganku.


Dia berlari dengan panik, menembus padang ilalang dengan cepat seperti sebuah gunting, segera masuk ke hutan tempat aku berada.


"Jangan bilang?!" Aku menghela nafas pelan sambil memakai topeng setan di wajahku.


Aku berjalan pelan ke arah dia akan lewat. Aku tak tahu, tapi instingnya tajam.


Dia bisa mengetahui asalku!


Kemungkinan, dia dengan mudah lolos dari kejaran penjaga dengan mudah. Tapi itu tidak jauh berbeda denganku.


Justru karena dia terburu buru, gerakannya menjadi mudah terbaca. Dan nafasnya juga sudah mulai tersengal sengal. Aku bisa menyimpulkan dia manusia.


"Berhenti!" Teriakku sambil berusaha menggapainya.


"Tidak! Aku harus mencari pertolongan! Jika kau tidak bisa membantuku, pergilah!" Dia berteriak tanpa menoleh padaku.


Entah kenapa aku merasakan deja vu dengan ini.


"Hahh, merepotkan sekali." Aku melompat, menangkapnya dengan cara menerkamnya dari belakang, memaksanya jatuh dengan aku mengambil alih tubuhnya.


Apapun itu, dia wanita! Dan lagi, umurnya sekitar 12, tidak. 10 tahun! Sepertinya aku menyentuh sesuatu yang aneh tadi.


Apapun yang aku sentuh tadi, aku minta maaf!


"Mmphh!" Dia berusaha berteriak ketika aku menidurkannya, dengan aku yang di atas dan menutup mulutnya dengan tangan kanan, serta tangan kiri dan kaki kananku menahan kedua tangannya.


Kenapa rasanya aku seperti seorang penjahat?


Dia masih terbelalak, mungkin takut dengaku. Mau bagaimana lagi, aku juga merasa bersalah.


Dia wanita dan dalam posisi seperti ini, tentu saja dia takut!


Ahh, guhum! Aku harus memulai interogasinya!


"Baiklah, apa aku terlihat seperti penjahat bagimu?" Aku menyejajarkan matanya dengan mataku, membuat jarak diantara kami hanya tangan kananku yang membungkam mulutnya.


A-Ahh, sepertinya ini tidak berguna. Mungkin membuatnya semakin takut padaku?


"Hmmmph!!" Dia mengangguk sambil masih berusaha berteriak dan meronta. Tapi aku jelas lebih kuat darinya.


Tapi jujur, ini cukup melelahkan. Apa boleh aku mengikatnya?


Tunggu!!! Jika aku melakukannya, maka ini akan berubah genre!!


"Tenanglah! Kalau kau bisa menceritakan apa yang terjadi padamu, kemungkinan aku bisa membantumu!" Aku mengatakan itu tepat di depan wajahnya.


Bahkan aku bisa merasakan nafasnya dari sini.


Kaki serta tangannya yang meronta mulai tenang, dan perut yang kududuki sebelumnya naik turun dengan cepat, kini mulai bernafas dengan teratur.


Aku juga dengan segera bernafas lega.


Aku melompat berdiri sambil mengambil pisau yang cukup besar di belakangnya, mungkin aku terlihat waspada, tapi sebenarnya aku yang bodoh hingga lupa membawa senjata.


Ahahaha, maafkan aku!!


"Apa kau sudah bisa tenang sekarang?" Tanyaku sambil mengulurkan tanganku padanya.


Cengkeramannya kuat. Maka jelas, aku tahu dia bukanlah bangsawan lemah yang hidup dimanja.


Dia bangun, dengan tangannya dia meraba seluruh tubuhnya, lalu tertunduk malu. Ahhh, soal itu, aku akan meminta maaf nanti.


"Jadi, kau sudah bisa bercerita, bukan?" Tanyaku mengulang.


Ekspresi wajahnya kembali berubah, kini menjadi marah, sedih, dan khawatir.


"Dia! Temanku! Masih ada di sana! Suzu masih disana!" Teriaknya agak meracau.


Tunggu, apa?! Suzu?! Aku yakin mendengar nama Suzu dalam racauannya.


A-Ahh, tidak. Darahku panas. Kepalaku serasa mendidih. Apa aku, marah?


"Pegangan padaku!" Aku segera menariknya, untuk menggendongnya dengan gendongan samping, supaya dia berada di depan, melihat jalan.


"Tunjukkan jalannya!" Aku memintanya untuk kembali sadar, dan memintanya untuk membimbingku ke arah yang benar.


"Ah, baik!" Dia berteriak dengan gagap.


Ada kemungkinan besar bahwa Suzu yang dimaksud dia adalah orang yang aku cari.


Walaupun bukan juga aku aku merasa senang kalau sudah membantu orang lain walaupun itu bukan Suzu.


"Nah! Lurus lah terus kedepan!" Dia menepuk pundakku lembut sambil menunjuk ke arah depan.


Dia gusuk gusuk sendiri, sangat tidak tenang berada di gendonganku. Apa yang mengganggunya?


"Anu," dia mengangkat tangan pelan.


"Apa aku tidak berat? Kamu bisa meninggalkan ku jika aku membebanimu." Ahh, mungkin itu yang membebaninya.


Berat? Tentu tidak! Dia sangat ringan! Bagiku, dia seringan bulu, tahu!


"Tidak tidak! Kau sama sekali tidak membebani ku." aku harus menaikkan mentalnya.


"Justru kamu sangat membantu ku. Dan lagi, aku akan membutuhkan bantuanmu di sana." Aku kembali memikirkan beberapa rencana!


"Bantuanku?" Tampaknya dia sedikit tidak percaya.


"Bagaimanapun kekuatanku, aku tidak bisa di dua tempat secara bersamaan. Aku membutuhkanmu untuk menyelamatkan para sandera dan membawanya sejauh mungkin selama 5 menit."


"Untuk jangka waktu itu, larilah sejauh mungkin dari sana." Instruksi ku padanya.


"Tapi-"


Dia masih sedikit ragu, tapi aku yakin dengan kemampuannya.


"Kita sudah sampai!" Aku memandangi pintu masuk gua yang terlihat mencekam itu.


Kontur tanahnya terlihat tidak rata, banyak bebatuan tajam di lantai-lantai dan sangat tidak mengenakkan untuk dilihat, bahkan bagiku sekalipun.


Bagaimanapun, ini bukanlah tempat yang baik!


"Hei! Siapa di sana?!" Seorang penjaga berteriak menghampiriku. Sementara terlihat mata perempuan tadi sedikit terbelalak takut.


"Maaf saja ya tapi," Aku berlari maju mempersiapkan pisau yang aku rampas dari perempuan tadi.


"Kau sudah terlibat dalam masalah ini." aku perlahan maju. Tidak masalah jika keinginan membunuh ku bocor disini.


"Dan aku tidak akan melewatkan satupun orang yang ada di sini!" Aku menebas tangan penjaga itu yang sedang membawa pedang, hingga melayang hilang.


Dia terkejut dan berteriak memandangi tangannya yang kini tergeletak menggenggam pedang di tanah.


"T-ta-tanganku! Hwaa! Tanganku menghilang! Ini sakit! Benar-benar sakit!" Si penjaga itu berteriak histeris.


Tsk! Mereka benar benar berisik!


"Diam!" Aku melemparkan pisau besar ke mulutnya, menembus tenggorokannya. Itu hancur seketika, membuat dia benar-benar diam selamanya.


Mayat Beast dengan tenggorokan yang hancur jatuh, menyebabkan genangan darah.


Aku perlahan menengok ke arah perempuan tadi. Dia hanya terdiam sambil memandangi mayat yang sudah tidak bergerak lagi.


"Apa kau takut?" Tanyaku spontan. Ya jelas aja dia ketakutan. Aku yakin anak 10 tahun sepertinya belum melihat apa yang dinamakan kematian.


Sedangkan aku? Aku sudah melihat betapa kejamnya penjahat. Bukan hanya itu, aku juga sudah pernah mati karenanya.


Dan sebab itu, aku meninggalkan semuanya di duniaku yang dulu. Itu adalah salah satu penyesalan terbesarku.


Tentu, aku yang sekarang tidak akan membiarkan penjahat seperti mereka lolos begitu saja.


"Ti-tidak. Tapi sebenarnya nya, siapa tuan?" Berbicara dengan takut-takut perempuan itu mendekat sambil mengubah gaya bicaranya terhadapku.


"Aku?" Aku terdiam sebentar sampai menarik pisau dari mayat tadi.


Oh ya. Aku belum memikirkan sesuatu tentang bentuk ini, bukan?


Aku mengibaskan pisau dari darah, tersenyum kecil ke arah perempuan itu.


"Aku adalah Shinigami! Bukan untukmu, tapi untuk penjahat-penjahat ini!"