Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 2: Bab 40 - Malam Hari di Furyuun



Boff! Aku berhasil berteleport kembali keluar Dungeon. Asap mengiringi kedatanganku karena aku mengebomnya menggunakan Zadkiel tadi.


"Ka-Kakak li-lihat itu, kakak! A-ada monster! Monster Dungeon itu keluar! Mo-monster itu keluar! Cepat umumkan bahaya! Kota Furyuun akan hancur! Umumkan pada seluruh petualang Rank A keatas!" Seseorang berteriak. Dari suaranya, itu Diena.


Entah kenapa, aku juga ikut terpengaruh untuk merasa panik.


"Ka-kau benar, Diena. A-aku akan mengulur waktu, jadi kau, kau larilah dahulu!" Kini Soraya menanggapi dengan tangan bergetar.


Aku yakin dia sangat ketakutan sekarang, begitu juga dengan Diena. Tapi jujur, aku menikmati ini.


"Tidak, kakak. Aku tidak akan lari. Aku akan disini, bersamamu!" Diena terlihat berlinang air mata menggenggam tangan Soraya.


Drama macam apa yang mereka lakukan?! Mereka berdua benar benar miring otaknya.


"Pergi! Setidaknya, aku ingin kau saja selamat." Soraya mengambil kuda kuda. Uwahh, sekarang mata Soraya menjadi lebih hidup!


"Tidak, kakak! Aku-"


"Pergi!" Soraya berteriak tajam. Dan aku tahu, itu adalah tekad yang bagus, jika di tempat yang tepat.


("Baiklah, apa aku harus mengikuti drama mereka? Tapi jujur mereka menyebalkan, tapi juga menarik. Setidaknya untuk hiburanku.") Aku hanya bisa membatin.


"Khu Khu Khu! Akhirnya! Akhirnya aku menemukan kalian! Kalian berdua! Diena dan Soraya! Aku akan membalaskan dendam!" Aku berteriak membentuk pose mengerikan.


"Hwaaa!! Dia berbicara!! Selain itu, dia menyebut nama kita, kakak!" Diena berteriak sambil melompat mundur, terjatuh.


"Kau benar, Diena! Apa yang harus kita lakukan?!" Sungguh menarik mempermainkan mereka. Ini menyenangkan!


"Khu Khu. Aku akan membunuh kalian berdua!" Aku berjalan keluar dari asap, menunjukkan wajahku.


Dengan begini, mungkin mereka akan menyadari bahwa aku hanya bercanda.


Itu yang kupikirkan saat itu, tapi-


"Hwaa kak! Dia mengambil wajah tuan Nier!" Teriak Diena.


"Eh?" Aku tidak percaya apa yang aku dengar.


Mereka ini, benar benar bodoh atau pikirannya hanya terisi monster monster dan Dungeon saja? Bodoh ada batasnya, tahu!


"Tuan monster, aku tahu kau mengambil penyesalan penyesalan dari Tuan Nier. Jadi, jangan serang kami. Kami hanya sebentar berurusan dengannya. Jadi, lepaskan kami." Dia menundukkan kepalanya.


Bahkan sampai hampir bersujud!


A-Ahh, ini terlihat menyedihkan, jadi sepertinya aku hentikan untuk seperti ini saja.


"Ini aku, bodoh!" Aku memukul kepala Soraya cukup keras, lalu membersihkan sedikit debu di tubuhku.


"He-heh? Tuan Nier? A-anda masih hidup?!" Diena berteriak tidak percaya.


"Aduhh, sakit.." aku berusaha mengabaikan Soraya disana.


"Ya! Aku masih hidup! Ada masalah?!" Aku hanya berkacak pinggang dan memandangnya marah.


Mungkin akan baik jika aku mengaktifkan [Intimidate] disini. Karena kata orang, kalah mental itu lebih dalam daripada kalah fisik.


"Ba-bagaimana? Bagaimana bisa?" Diena kembali berteriak, dengan posisi masih terduduk.


"Benar benar sakit..." Soraya masih mendesah mengelus kepalanya.


Yahh, aku harus sedikit berbohong sekarang.


"Kau tahu, aku menggunakan kartu truf yang hanya bisa dipakai sekali sebulan untuk bisa kemari!" Aku berkacak pinggang marah.


***


"Hufft, hari yang melelahkan." Aku berjalan jalan di jalanan kota Furyuun malam ini untuk menghilangkan lelahku.


Aku memarahi mereka berdua sepuasnya, dan mereka mengaku salah dengan segera. Mereka membayar beberapa uang untuk itu, dan juga untuk informasi yang aku berikan.


Aku berpikir sekali lagi, ini adalah bisnis yang menguntungkan.


Aku menjelaskan pada mereka, bahwa ada monster bernama "King of Hell Bee", dan di sana ada sebuah sarang lebah besar.


Aku juga memberikan beberapa item drop yang dijatuhkan lebah lebah itu, dengan maksud menjualnya.


Tak kusangka, aku mendapat 10 perak untuk setiap sayap yang ada, dan 15 perak untuk 1 tombak dari sengat "Hell Bee". Itu sangat menguntungkan!


Dan jika ditotal dengan kompensasi yang diberikan, aku mendapat 1 emas 27 perak. Hum. Sangat banyak.


"Baiklah. Kalau begitu, mungkin ini saatnya aku beristirahat, kah?" Aku menoleh ke kanan dan kiri.


Oh ya! aku harus menjemput Aina! Aku tidak boleh terus menerus menyusahkan paman Kurls! Aku harus segera mencari mereka berdua.


Hmm, agak sulit untuk mencari mereka di tengah kota yang cukup ramai ini, tapi aku beruntung bisa menemukan mereka di sebuah toko baju.


Ya, aku berangkat ke toko baju pertama kali, karena aku meminta paman Kursl untuk membeli baju.


Beruntung, kami bisa bertemu di sini.


"Paman Kurls!" aku berteriak sambil berlari menghampiri mereka berdua. Aku melihat Aina yang membawa sebuah bungkusan.


"A-Ahh, nak Ren. Kami sudah selesai makan malam dan memilih baju. Dan saya juga memilih baju yang cocok dengan Aina." Paman Kurls tersenyum.


Hmm, aku sedikit penasaran, apakah pakaian yang dia dapat. Aku sangat berharap itu bukanlah pakaian pelayan.


"Ah, jangan khawatir, tuan Ren! Aku mendapatkan pakaian bagus, bukanlah pakaian pelayan."


Hebat paman Kurls! Kau membaca pikiranku!


"Ya-yahh, kalau begitu baguslah! Oh ya! Bagaimana dengan malam ini? Setelah ini, kemana paman akan menginap? Kita baru akan ke akademi besok loh!" aku sedikit melambaikan tangan ke Aina yang terlihat sangat senang.


"Jelas saya akan mencari alkohol yang enak, Ren! Apa kau ingin bergabung?" uhh, dia tiba tiba bersemangat.


"Ngomong ngomong, akademi?" Aina mendekat ke arahku sambil menggumam pelan.


Sepertinya aku harus menjelaskan padanya nanti.


"Baiklah, paman Kurls! Selamat bersenang senang! Aku juga akan segera mencari tempat untuk beristirahat." aku melambai ke paman Kurls dan mengajak Aina pergi.


Uhh, berat.


"Oh ya, Kakak! Kenapa Aina harus memakai pakaian ini? Dan kenapa kakak ingin pergi ke Akademi? Bukankah itu tempat elit yang sulit dimasuki?" Aina mengatakannya.


Hmm, benar juga. Tapi maaf, Aina. Aku bukanlah orang biasa lho!


Ahh, tidak tidak! Aku mulai memikirkan sesuatu mengarah ke sesuatu yang aneh!


"Hmm, kenapa? Itu jelas karena aku ingin mengunjungi keluargaku di sana! Hmm, bagaimana mengatakannya, aku adalah anak angkat keluarga bangsawan." aku menjelaskannya sambil terus membawanya di tangan kiriku. Beruntung itu agak mengendur sekarang.


"Uhmm, entah kenapa Aina menjadi gugup. Aina tidak akan masuk Akademi, kan?" dia menarik tanganku, menatapku dengan tatapan memohon.


Ya! Tidak mungkin aku menyerahkannya pada orang lain! Apa aku gila?


Maaf kawan. Aku sudah mendapat bibit unggul disini. Bukan hanya itu, ini sangat luar biasa. Aku tidak akan melepaskannya begitu saja.


"Tidak. Tidak akan. Aku akan membuat mu menjadi muridku. Itu juga yang menjadi alasanmu. Kau adalah muridku sekarang. Oh ya! Dan juga, panggil aku Ren saja, ya!" Aku mengelus rambutnya yang halus itu.


Uhh, lagi lagi aku terhipnotis dengan kelembutan rambutnya. Ini berbahaya!


"Ya! Terima kasih, kak Ren!" Dia mengatakan itu dengan berseri seri.


Baiklah. Sepertinya cukup untuk hari ini. Aku harus segera mencari penginapan untuk kami berdua. Hmm, kota ini adalah kota yang memiliki Akademi, seharusnya wajar jika kota ini memiliki banyak penginapan.


Tapi mungkin harga akan meningkat jika di hotel hotel dekat akademi, jadi aku lebih baik mencari yang banyak dipakai Adventurer saja.


Kota ini adalah kota yang sangat unik.


Kota Furyuun, kota di Kerajaan Kin yang disebut kota pendidikan. Aku baru tahu 2 tahun lalu.


Ternyata, kota Furyuun ini dikenal sebagai kota untuk orang orang dengan bakat dalam sihir berlatih.


Aku dengar, ada sebuah Akademi yang mengkhususkan diri dalam sihir, dan kepala sekolahnya adalah orang yang disebut penyihir terkuat di Kerajaan Kin ini.


Dia adalah Weiss Rondolf, mantan penyihir kerjaaan di masa muda.


Namanya mungkin yang mendasari penamaan Dungeon rank S, Weiss. Tapi, jika ada orang sekuat itu di sini, kenapa dia tidak membersihkan Dungeon secara teratur?


Aku tidak tahu, tapi mungkin dia memiliki alasan tersendiri. Setidaknya, aku ingin bertemu dengannya walau sekali.


Selain itu, selagi di Furyuun, aku ingin mencari orang aneh yang memiliki masalah dengan Aina.


Kryukrukk!!!


Ahh, perutku berbunyi. Mungkin hanya aku yang mendengarnya, karena bahkan Aina pun tidak bergeming sedikit pun. Eh, apa dia mendengarnya dan sengaja menahannya?


Oh ya. Aku rasa aku belum makan sesuatu. Yahh, baiklah. Aku akan menuruti kata perutku!


Hari belum terlalu malam, justru lebih ke arah sore. Ada baiknya kita nikmati malam hari kota ini lebih baik. Selain itu, aku juga sedang bersama Aina.


Aku mungkin akan mampir ke sebuah toko kecil, yang menjual beberapa minum dan makanan. Tidak perlu yang baik seperti bar, tapi aku sedang mencari makanan yang enak.


Dengan kata lain, aku melakukan Food Hunting disini.


"Hmm, mencari makanan khas di kota sepertinya tidak akan terlalu sulit. Tapi mencari makanan yang enak, itu sulit. Ah, kenapa aku tidak memasak sekali sekali?" Aku berbicara pelan pada diriku.


"Kak Ren! Sangat banyak orang di sini! Apa ada sebuah festival disini?!!" Aina terlihat sangat antusias dengan ini.


Festival? Sepertinya tidak. Mungkin Furyuun memang seramai ini di malam hari. Mungkin?


"Tidak. Mungkin kita sedang berada di tengah kota." Aku menjawab pertanyaan Aina, dengan menggunakan kata "mungkin". Ayolah, jangankan kota Furyuun ini. Kota Eldergale tempatku berasal saja, aku tidak terlalu menghafalnya!


Yahh, terserahlah.


Kota cukup ramai malam itu. Banyak orang yang duduk saling mengobrol, dan ada beberapa siswa yang masih menggunakan seragam Akademi berkeliaran.


"Uwaah, aku hanya berniat mencari makanan, tapi justru menyasar ke alun alun, ya?" Aku baru sadar ketika menengok ke sekeliling.


Walau begitu, Aina terlihat menikmatinya. Yahh, selama dia senang, insiden kecil ini tampaknya baik.


Aku mendekati sebuah bundaran mirip alun alun, yang di tengahnya terdapat air mancur.


Sebuah air mancur yang digerakkan oleh sihir terus menerus mengeluarkan airnya, dengan orang dan pedagang yang semuanya tampak gembira. Aku tidak tahu bagaimana jika mereka semua mengetahui ada Dungeon rank S disini.


"Hahh, kota yang indah. Sayang sekali aku tidak bisa menikmatinya sebagai Ren. Tidak, mungkin bisa?" Aku meneruskan perjalanan ku.


Aina menatapku dengan heran.


"Kenapa, kak? Apa ada larangan khusus?" tanyanya sambil memiringkan kepalanya.


"Uhm, tidak ada larangan khusus, tapi kamu tahu sendiri, kan? Siapa aku sebenarnya." aku hanya bisa tersenyum.


Dia terlihat bermasalah, dan melihat sekeliling.


"Ah, kak! Lihat! Itu terlihat enak! Ayo makan itu!" dia menunjuk ke suatu arah, dan menarikku ke arahnya. Dan saat itulah aku paham.


Aku akan mengubah dunia ini perlahan. Setidaknya, jika aku terlalu fokus pada tujuanku, aku akan melewatkan semua yang tidak berhubungan dengan tujuanku.


Oleh karena itu-


"Mari kita nikmati dulu ini untuk sementara!"


.


.


.


.


.


.


Note: Maaf lupa update kemarin, Author banyak urusan di RL. Kalau ada luang, Author bakal update banyak sekaligus!!