
"Baiklah. Jadi, apa yang terjadi?" aku sekarang sedang dufuk di dalam sebuah ruangan mirip ruang kerja.
Cukup bersih, memang. Tapi masih bisa dibilang tidak terlalu layak.
Kak Edna masih menyembuhkan tubuhku. Ini memperlukam waktu cukup lama karena pasak es tadi sudah menembus perutku. Itu juga sakit.
"Baiklah. Kalau begitu, aku akan sedikit menceritakan apa yang terjadi setelah itu." kata Suzu.
Intinya, setelah aku pergi, Suzu menjadi panik, dan khawatir. Bisa dibilang, dia depresi setelah mengetahui kabar yang mengerikan itu.
Aina juga mendapat informasi dari sebuah party bernama Gagak Hitam yang sempat lewat ke Eldergale, katanya Eldergale sudah hancur, rata dengan tanah. Dan dia berkata sudah tidak ada harapan lagi.
Normal saja jika Suzu menjadi seperti itu saat melihat aku muncul tiba tiba di hadapannya.
Tapi, ada masalah baru muncul. Ada pedagang budak yang dulu menyandera Aina, yang kembali menyerangnya. Beruntungnya, ada paman Kurls yang menyelamatkan Aina saat itu.
Dan diketahui belakangan, bahwa orang yang memesan Aina adalah Weiss, si kepala sekolah Akademi Furyuun.
Aku memang ingin bertemu dengan orang itu, dan menghajarnya, tapi aku tidak menyangka masalahnya akan menjadi serumit ini.
"Baiklah. Dengan begitu, si Weiss mengeluarkan kekuasaan nya untuk menyuruh orang orang mencari kalian." aku mulai mengerti.
"Dan itu sebabnya kalian menjadi buronan dan harus bersembunyi di sini." lanjutku.
Mereka semua terdiam, menunduk. Sepertinya yang aku katakan barusan benar adanya, karena mereka tidak menyangkal nya sedikit pun.
Tunggu! Anak anak? Penculikan? Ahh, aku punya ide yang sangat luar biasa!
"Seperti yang diharapkan dari Ren, kamu cepat mengerti ya!" kata Suzu memecah keheningan.
"Yahh, begitulah. Tapi apa kau lupa, tentang ini?" aku kembali menunjuk perutku yang baru saja sembuh.
Suzu memalingkan muka, hanya dengan wajah bersalah.
"Yahh, sudahlah. Karena keadaan kita sudha begini, hanya ada satu jalan." aku tersenyum.
"Ya. Kami akan membantu kalian keluar dari kota ini, dan mengungsi ke kota lain. Akan baik jika bisa tetap di sini, tapi karena sudah begini lebih baik kalian ikut kami ke kota Weinien!" sahut kak Edna.
Heh? Apa? Apa itu rencananya?!
"Bukan begitu, bodoh!" aku menyentil dahi kak Edna, karena sembarangan mengambil alih percakapan.
Dia mengaduh pelan sambil mengelus dahinya yang sedikit memerah.
"Satu satunya jalan hanyalah kita akan melawan. Tentu, kita akan menang." aku berputar di ruangan itu.
"Apa maksudmu? Melawan seluruh kota? Dan Weiss itu? Mana mungkin kita akan menang?! Weiss adalah mage yang sangat kuat lho!" teriak Suzu menentang.
Yahh, kalau dilihat dengan mata biasa, mana mungkin kami bisa menang.
"Memang benar. Kita tidak punya koneksi yang bagus, sebaliknya mereka punya. Kekuatan kita kurang, kekuatan mereka tinggi, kita tidak. Hanya satu yang menguntungkan kita. Kita ada di pihak yang benar." aku berjalan menuju meja, mengambil beberapa kertas kusam yang sudah berwarna coklat.
"Ada sebuah cara, untuk menyadarkan masyarakat. Itu adalah memberikan bukti bukti. Tapi, itu jelas bisa diputar balikkan oleh kekuasaan." aku menulis "Bukti" di kertas.
"Baiklah. Kita berhenti dengan bukti. Apa saja yang dibutuhkan untuk membuat kebenaran kita diketahui masyarakat?" aku kini melempar pertanyaan.
Mereka semua terlihat berpikir keras, tahu bahwa rencana ini akan berhubungan dengan nasib mereka.
Yahh, walau begitu, aku sudah memiliki rencana, dan aku hanya membimbing mereka untuk mengetahui rencanaku.
"Umm, bagaimana kalau kita hadirkan saksi?" kak Edna mengangkat tangan.
"Benar!" aku menulis kata "Saksi" pada kertas yang berubah menjadi papan tulis itu.
"Tapi, jika kita menghadirkan saksi, maka Weiss bisa bilang bahwa mereka dibayar untuk melakukan ini. Dan pasti, masyarakat akan mempercayai orang yang sudah dipandang tinggi daripada kita orang asing." aku mencoret kata "Saksi" dan menggantinya dengan "Kekuasaan".
Mereka kembali berpikir, dan keadaan menjadi hening sekali lagi.
"Hmm bagaimana kalau kita menghadirkan sosok yang kuat pengaruhnya untuk membuat kesaksian pada kita?" kak Edna lagi lagi mengangkat tangan.
Sepertinya ini sudah menjadi sesi tanya jawab seperti guru dan murid!
"Uhh, ini benar benar sulit. Bagaimana kita harus melakukan ini jika semua yang kita punya ditahan oleh kekuasan Weiss?" Suzu kini angkat bicara.
"Sudah jelas kita harus menghilangkan kekuasaan nya!" lanjut Suzu yang menyilangkan tangannya kesal.
"Benar! Hilangkan kekuasaannya! Itu juga salah satu cara yang baik." aku menuliskannya.
Suzu sedikit bingung, tapi biarlah.
Kini, sudah ada beberap tulisan di papan tulis darurat itu. Bukti, saksi, orang berpengaruh, dan hilangkan kekuasaannya.
Itu jelas adalah semua yang aku butuhkan.
"Yahh, ini akan sulit jika kita tidak meruntuhkan kekuasaan Weiss, tapi aku sudah mendapat sesuatu yang lebih baik." Aku memberi lingkaran besar pada kata kata itu.
Telinga kak Edna bergerak sedikit, menandakan dia sedikit bingung.
"Aku akan memilih untuk menggunakan semuanya." aku menutup mata, mengangguk senang.
Semua terdiam, sebelum berteriak, menatapku seperti aku adalah orang aneh dari planet lain. Ya, walaupun sejatinya aku memang seperti itu.
"Oi, Ren! Aku sudah menebak bahwa kau akan memiliki ide gila untuk ini. Tapi aku tidak berpikir kau akan mendapatkan semua ini!" kak Edna mengatakan sesuatu yang menyakitkan dengan mudah.
"Ahh, kak Edna. Seharusnya kamu yang langsung paham apa maksudku untuk semuanya." aku menepuk jidat, lelah.
"Yang pertama, Bukti. Itu mudah dicari. Jelas." aku memberi tanda centang pada bukti.
"Saksi juga pasti banyak. Dan aku sudah punya orang berpengaruh untuk menghilangkan kekuasaan Weiss." aku sudah bisa membayangkannya.
Hanya membayangkannya saja sudah membuatku senang!
"Re-Ren, entah kenapa wajahmu terlihat menakutkan." Suzu mengangkat tangan sedikit sambil sedikit tertawa aneh.
"Ah, maafkan aku. Baiklah, kak Edna. Sebelum kemari, apa yang kita dapat?" aku memberinya petunjuk langsung.
"Makanan?" celetuk kak Edna.
Ayolah! Itu benar, tapi yang aku maksud bukan itu! Yahh, sudahlah.
"Bukan. Kita dapat kertas ini." aku mengambil barang yang aku maksud di dalam sihir ruang. Suzu dan paman Kurls sedikit terkejut melihat itu, tapi ibu dan kak Edna sudah biasa.
Kertas ini, kertas yang ditanda tangani langsung oleh walikota Furyuun.
"Sekarang, pasti kak Edna paham apa yang aku katakan sebagai koneksi itu penting." aku menimang nimang kertas itu.
Memang tidak ada yang tahu isinya selain aku, ibu, dan kak Edna. Jadi jelas paman Kurls dan Suzu tidak mengetahui apa ini.
"Baiklah. Dengan begini, kita sudah memiliki semua komponen untuk menjalankan rencana. Aku juga sudah membuatnya di dalam kepalaku."
"Aku akui, cara ini agak berat, mungkin bagi kak Edna atau Suzu. Tapi ini akan menjadi cara yang sangat efektif. Apakah masih ada pertanyaan?" aku kembali menjadi moderator dalam pertemuan ini.
"Baik. Aku kira tidak ada. Jadi aku akan langsung." aku menggebrak meja, lalu menggulung kertas.
Aku melihat sekeliling, terlihat sekarang semua orang menatap dengan serius.
"Humm, paman Kurls. Kamu adalah Assasin, bukan? Apakah kamu bisa menculik seorang anak?" aku bertanya sedikit pada paman Kurls.
"Tu-tu-tunggu! Apa maksudmu menculik seorang anak, Ren?" tanya kak Edna.
"Humm, ini adalah bagian dari rencana. Tenang saja. Kalau bisa, buat dia nyaman. Tapi jangan sampai dia tahu siapa yang menculiknya." aku tersenyum sedikit.
Kak Edna ingin mengatakan sesuatu, tapi menyerah dengan itu.
"Humm, saya bisa melakukannya. Jika itu adalah perintah." katanya menunduk.
Bagus. Dengan begini, aku bisa melakukan langkah kedua, sementara paman Kurls melakukan langkah pertama.
Dan yang lain akan menjalankan langkah ketiga, menciptakan panggung nya.
("Ini bagus! Ini benar benar bagus! Baiklah. Mari kita lihat bagaimana kau bermain di tanganku, Weiss!") aku tersenyum senang.