
Aku berhasil melompat ke air, dan menjaga kepalaku tetap di atas air.
Dingin! Airnya cukup dingin karena ini sudah mulai masuk malam hari!
Tapi ini semua tidak ada bandingannya jika dibandingkan dengan air di atas yang ada di tempat penyiksaan ku.
Tapi yang jadi masalah adalah, arus airnya cukup deras, serta medan sungai yang menurun curam, membuatku sedikit khawatir.
Apalagi ada beberapa batu yang seperti siap menerimaku untuk menabraknya!
Tapi, ini adalah jalan tercepat menuju kota. Selanjutnya adalah mengganti identitasku. Praktis Aku tidak ingin identitasku terungkap pada saat ini.
Karena aku tahu itu akan membawa masalah saja.
Aku tahu seseorang yang bisa mengganti identitasku. Dia adalah manajer di "Tea Paradise".
Dia yang mampu mengganti nama Rumia, berarti dia memiliki ke yang dapat mengubah informasi menurutku itu adalah skill cheat, yang kemungkinan aku bisa mendapatkannya.
"Gahh!"Aku berusaha menjaga kepalaku tetap di atas, agar setidaknya aku tidak kehabisan nafas.
Aku sudah berhasil cukup baik hingga saat ini, aku setidaknya ingin ini semua tidak sia sia!
DUGG!
Jantungku kembali berdetak keras. Mungkin ini tandanya aku sudah melewati penghalang keluarga Larvest?
"Aku hanya harus bertahan sebentar lagi ya?!" Aku mengaduh pelan.
Walaupun aku bilang begitu, tapi nampak jelas di bawah sana yang menunggu hanyalah batu-batu yang besar. Yahh, walaupun setelah itu air mulai tenang, tapi aku harus melewati ini dahulu.
***
"Hufft!" Aku terengah engah ketika merangkak naik ke tepi sungai di pinggir kota. Jaraknya tidak terlalu jauh, dan aku hanya perlu berlari sebentar.
Ini salahku. Aku seharusnya naik sedari tadi! Tapi apa daya, arus sungai ini menyeretku hingga kemari.
Sriiing!!
Skill [Critical Perception] ku berbunyi keras!
Seketika aku tahu, ada yang mengincarku. Sepersekian detik kemudian, aku merasakan hawa dingin menyelimuti diriku. Aku tidak memiliki waktu untuk menoleh!
Aku refleks mengubah posisi berdiriku menjadi menghadap ke samping, kemudian menendang telapak tangan si penyerang, membuat pedangnya terlepas. Dia sedikit terkejut dan segera mundur.
"Siapa kau?!" Dia bertanya demikian.
"Seharusnya, aku yang bertanya begitu, sambil bersiap untuk serangan selanjutnya.
"Suara ini, jangan jangan? Ren?!" Aku mendengarnya menyebut namaku. kemudian, dia mulai membuka tudung di wajahnya.
"Rumia!" Aku sedikit terkejut ketika aku melihat wajah orang yang menyerangku tadi.
Astaga! Betapa beruntungnya aku!
"Sudah kubilang jangan panggil aku Rumia, bukan?" Dia menggerutu sambil mengambil pedangnya.
"Ah iya! Aku ingat untuk bertemu denganmu! Ayo cepat!" Aku segera menarik tangan Rumia dan mengajaknya pergi. Tentu saja tujuanku ke manajer Rumia.
"Tung-tunggu! Kau tarik kemana aku? Dan juga kenapa wajahmu begitu khawatir?!" dia sedikit protes terhadap perlakuanku.
"Hai bilang! Jangan bilang ada hubungannya dengan Suzu?!" Rumia berteriak ketika aku menariknya dengan kasar.
Tapi dia dengan cepat tanggap mengawasi ekspresi wajahku. Memang luar biasa, Rumia!
"Aku akan menceritakannya nanti di sana. Kau pasti juga akan mengerti!"ucapku sambil terus berlari.
Jalanan kota terasa sepi. Atmosfer di sekelilingku juga berbeda. Rasanya benar benar tidak menyenangkan! Bahkan aku juga tahu, pasti ada sesuatu.
Mirip rasa ketakutan, kegelisahan, dan kekhawatiran!
Ada kemungkinan bahwa berita pemanggilan Demon sudah tersebar sekarang. Atau mungkin, guild sengaja untuk mengumumkan nya.
"Kami pulang!" Rumia berteriak masuk sambil membuka pintu toko. Dan di dalamnya ada wanita paruh baya yang menunggu.
Perkiraanku dia berumur sekitar 30 tahun. Wajahnya bisa dibilang cukup cantik, tapi yang paling menonjol dari sifat keibuannya.
"Hah, Rury! Kenapa kau pulang membawa seorang anak laki-laki? Jangan bilang kau, shotacon?!" Kata wanita itu sampai setengah menjerit.
"Ti-ti-tidak! Tidak mungkin! Selain itu, yang memiliki urusan sepertinya Ren." Jawab Rumia setengah tergagap.
"Baiklah akan aku ambil alih dari sini." Aku mulai melangkah maju menghadap manager Rumia.
"Perkenalkan. Namaku Ren Larvest, putra ke-4 dari keluarga Larvest. Senang bertemu denganmu, manager!" Aku menundukkan kepala sambil menyilangkan tanganku dengan sopan, bermaksud memperkenalkan diri.
"Ah! Putra guild master ya? Perkenalkan, saya Ellen. Saya manager di sini." Jawabnya sambil mengubah nada bicaranya menjadi formal.
"Tidak perlu formal denganku. Dan juga, Aku ingin langsung ke intinya saja." Aku mulai menarik nafas.
"Sepertinya kalian sudah tahu, bahwa tujuan dari penculikan anak-anak yang terjadi akhir ini adalah untuk ritual pemanggilan Demon ke dunia ini. Itulah yang membuat atmosfer kota menjadi menakutkan dan sepi. Aku yakin kau sebagai manajer pasti sudah tahu bukan?" Aku mulai satu persatu mengutarakan keinginanku.
"Eh?! Apa ini?! Apabila benar semua orang sudah tahu?! Aku belum!" Teriak Rumia dengan raut wajah menyedihkan.
"Ya. Aku sudah mengetahuinya. Bagaimana dengan itu?" Manager, atau mungkin bisa kusebut Ellen mengangguk dengan tenang.
Tapi aku bisa tahu bahwa raut wajahnya sedikit berubah.
"Aku juga tahu bahwa kamu memiliki skill khusus, yang dapat mengubah nama dan penampilan orang." aku menghela nafas.
"Bagaimana jika aku mengatakan bahwa aku bisa menyelamatkan mereka, Tapi aku membutuhkan skill ini?" Aku langsung masuk ke tujuan utamaku.
"Apa maksudmu?!" Nada Ellen mulai meninggi.
Note: Maap Author lama menghilang. Author ada urusan sedikit di RL, dan yahh, Author sakit :v. Dan Author lagi renov rumah juga, jadi perlu waktu seminggu untuk balik. 😟
Tapi sekarang relatif lebih baik, jadi mungkin Author bisa update seperti biasa.
Apalagi, ceritanya lagi mulai seru nih!!!
Sekali lagi, Author minta maaf atas menghilang nya Author selama ini, dan silakan untuk bab nya!