
"Kenapa kau memanggilku? Dan juga, diantara mereka semua, kau yang paling aneh. Kau sepertinya sudah tahu apa yang terjadi, dan kau tidak perlu untuk menyinkronkan sihir denganku." kata Liu Xiu.
"Tapi tetap, kau terkejut ketika aku memainkan sihir di tubuhmu. Kau juga sudah bersiap setiap saat, dan memperhatikan setiap gerakan ku." kaya Liu Xiu.
("Dia benar benar berbahaya. Dia memiiki banyak kemampuan untuk mengendalikan otak meraka.") pikir Beast itu.
("Aku harus segera membunuhnya!!") hatinya berkata yakin.
Liu Xiu terlihat sangat lengah dan tanpa penjagaan. Beast itu secara perlahan mengambil pisau yang dia sembunyikan di belakangnya. Gerakannya sangat halus dan natural, membuat sangat sulit untuk orang biasa akan tahu.
Sementara itu, Liu Xiu hanya mendekati Beast itu pelan, seraya menatap langit jauh.
"Kau. Adalah Reinkarnator, bukan?" tanya Liu Xiu sambil berjalan melewati Beast itu. Seketika, Beast itu terkejut, dan menyarungkan lagi pisau yang dia pegang.
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Beast itu tetap waspada.
Liu Xiu tersenyum, karena dia tahu Beast itu akan membunuhnya. Tapi dengan memancingnya ke topik ini, dia akan mengurungkan niatnya. Secara, Liu Xiu akan menghindari pertarungan sebanyak mungkin.
"Yahh, itu bisa dibilang bukan hal yang baik untuk diketahui. Aku tidak tahu bagaimana kehidupan mu saat dulu. Dan aku juga tidak berhak untuk menceramahi mu."
"Tapi seharusnya kau sudah punya banyak pengalaman dalam hidup." kata Liu Xiu.
Mendengar itu, Beast itu menggertakkan mulutnya, merasa kesal. Dia juga mengepal kan tangan nya kuat, seperti mengingat masa lalu yang tidak ingin dia ingat.
"Karena itu, karena itu-" kata kata Beas itu terpotong.
"Kau memilih untuk tidak percaya pada orang lain, bukan?" tanya Liu Xiu.
Itu membuatnya terdiam, karena berpikir kenapa Liu Xiu bisa tahu semua yang dia pikirkan, kenapa Liu Xiu bisa tahu apa yang dia rasakan, seperti dia adalah dirinya.
("Apakah dia juga Reinkarnator?") tanya Beast itu dalam hatinya.
"Kau mungkin tidak percaya, tapi kau pasti sudah tahu sendiri bahwa menjadi manusia di dunia ini bukanlah hal yang mudah." Liu Xiu memulai ceritanya.
"Aku sudah mengalami banyak hal sebelum ini, jadi aku punya banyak cerita." kata Liu Xiu.
Kata kata Liu Xiu membuat Beast itu tertawa, lalu berkacak pinggang.
"Apakah kau kemari membawa banyak cerita? Apa yang kau pikirkan? Ingin adu nasib? Apa itu? Itu menggelikan." kata Beast itu sambil tertawa.
"Entahlah. Tapi aku punya sebuah cerita. Tentang manusia yang mencoba untuk meraih tahta yang tinggi. Tapi sebaik baiknya mereka semakin tinggi, tidak ada sayap yang bisa digunakan untuknya, maka dia akan jatuh semakin sakit." kata Liu Xiu lagi lagi menatap langit.
Dia lantas menceritakan sebuah cerita, dimana seorang anak laki laki yang dilahirkan di ras manusia, berusaha untuk menjadi lebih kuat.
Anak itu pantas belajar sihir, padahal manusia sepertinya tidak pada kodratnya untuk menggunakan sihir. Itu membuatnya memiliki kekuatan yang terlalu besar untuk anak sepertinya.
Dan akhirnya, anak itu berurusan dengan sesuatu yang tidak sepatutnya.
Dia melihat kota nya hancur. Dia melihat keluarga nya dibunuh di depan matanya, bahkan dia juga melihat orang yang dicintainya mati di pangkuan nya sendiri.
Anak itu marah. Dia dendam. Dia dendam pada dunia. Dia dendam pada dewa.
Dia bersumpah untuk membunuh dan membalas dendam pada orang yang menghanguskan kota nya. Dan dia mencari sosok itu dengan dendam yang terbakar di dadanya.
Anak itu menemukannya, dan membunuhnya. Tapi setelah itu bukan hal baik, dan dia justru harus membunuh ibunya sendiri, dengan pedang dan tangannya sendiri karena ibunya yang sudah berubah menjadi seorang monster.
Sampai akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke kodratnya, dan menjadi manusia biasa tanpa sihir.
"Jadi itulah akhir cerita. Apakah kau mendapat sesuatu?" tanya Liu Xiu sambil berbalik, tersenyum pada Beast itu.
"K-kau? C-cerita itu?" tanya Beast itu pelan.
Angin bertiup pelan, menggoyangkan rambut dan jubah Liu Xiu seperti dibuat mainan. Sementara Beast itu memiliki beberapa hal di kepalanya, dia memandang bingung Liu Xiu.
"Kau juga punya, bukan?" tanya Liu Xiu.
"Apa?"
"Kau punya rasa dendam, bukan? Rasa amarah? Aku tahu, aku bisa merasakannya. Itu sangat kuat, seperti sesuatu yang bahkan bisa keluar tanpa mengatakannya. Tapi, apa yang kau pelajari dari cerita tadi?" ujar Liu Xiu.
"Balas dendam bukanlah sesuatu yang baik?" tanya Beast itu.
"Kau hampir benar. Tapi tetap salah." kata Liu Xiu sambil menepuk pundaknya.
Sementara itu, Beast itu hanya mengkerutkan dahi nya, bingung.
"Balas dendam itu harus, tapi merencanakan semuanya itu lebih penting. Jangan sampai melancarkan itu semua tanpa rencana. Hanya orang bodoh yang menyerang tanpa rencana." kata Liu Xiu.
"Atau mungkin kau harus mulai melupakan dendam mu dan meredam nya dengan menulis buku harian." kata Liu Xiu sambil perlahan meninggalkan Beast itu.
Beast itu hanya diam, membisu dan menutup mata, seperti menimang nimang dan memikirkan sesuatu.
"Oh ya!!" Liu Xiu sepertinya ingat suatu hal, dan berjalan kembali.
"Kalau kau ingin membunuhku, lakukan dengan cepat, karena aku tidak akan menunggu" kata Liu Xiu sambil mengambil tangan Beast itu, dan memberinya sesuatu.
Beast itu melihat sesaat, lalu terkejut membelalakkan matanya.
"Ini?!!" dia kembali menoleh ke arah Liu Xiu, tapi Liu Xiu sudah menghilang.
Ya. Yang diberikan Liu Xiu pada Beast itu adalah pisau yang akan dia gunakan untuk membunuh Liu Xiu. Itu membuatnya bergidik ngeri. Kenapa bisa Liu Xiu mengambil pisau di belakang tubuhnya bahkan tanpa diketahui.
"Benar benar pria yang menakutkan." katanya pelan.
***
"Uwahh.... Entah bagaimana aku bisa menghindari pertempuran dengannya....." kata Liu Xiu sambil menarik nafas.
Dia awalnya ingin berlatih sesaat untuk hari ini, tapi sepertinya dia terlalu lelah. Bukan fisiknya, tapi lelah mentalnya. Bagaimanapun, hari ini benar benar menguras mental nya.
"Baiklah. Aku akan istirahat untuk hari ini." kata Liu Xiu.
Dia melompat ringan dari satu dahan ke dahan yang lain, sampai akhirnya kembali ke rumah Xi. Sepertinya Beast tadi belum kembali, tapi Liu Xiu tidak terlalu memikirkannya.
Liu Xiu berjalan pelan ke arah kamarnya, yang sudah disiapkan oleh Xi.
"Humm. Sudah gelap ya.. Apakah Xi dan yang lainnya audha tidur? aku sedikit penasaran. Dia mampu melihat dalam gelap. Apalagi cahaya bulan juga sedikit masuk menyinari rumah itu, membuat itu agak terang.
Liu Xiu mengambil minum sebelum tidur, dan masuk ke kamar tanpa ada sesuatu yang aneh.
Dia melepas semua perlengkapan nya sebelum tidur, hingga hanya tersisa celana pendek dan dia tidur telanjang dada. Tidak ada yang masuk ke kamarnya, jadi tidur tanpa pakaian pun tidak masalah untuknya.
"Baiklah. Saat ini, hal yang bisa aku lakukan hanyalan mengistirahatkan tubuhku." kata Liu Xiu sambil menarik selimut, menutup matanya.