Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 2: Bab 23 - Sebuah Hari yang Damai



"Jadi, bagaimana penelitianmu?" Paman Childe kini berada di kamarku, dengan cangkir dan teh di tangannya.


Aku sedikit bingung, apakah aku harus mengatakan apa yang aku temukan tadi malam pada paman atau tidak.


Mungkin aku harus mengatakannya?


Apa hanya akan membawa tambahan masalah? Entahlah. Pokoknya, aku harus mengalihkan pertanyaannya dulu.


"Lagi lagi, paman tahu bahwa aku malam tadi melakukan penyelidikan. Dan pagi pagi sekali paman sudah datang kemari. Ayolah. Lihat situasinya! Bahkan aku juga perlu istirahat, bukan?" Aku hanya cemberut sambil mengaduk teh pelan.


"Ahahaha! Jangan berkata begitu! Kau ini tidak perlu istirahat! Jangan berpura pura menjadi manusia!" Katanya sambil tertawa.


Heh? Kau kira aku apa? Kau kira aku adalah monster yang berwujud manusia dan berpura pura menjafi mereka? Jangan bercanda!


Aku memang bisa menahan keinginanku untuk tidur dan hanya tidur seperlunya, tapi aku masih 10 tahun lho! Aku masih perlu tidur untuk pertumbuhanku!


"Hufft. Mau bagaimana lagi. Aku hanya bisa menenangkan dan menghibur diriku sendiri dengan teh ini." Aku mengatakannya sambil meminum teh ku.


Dia mulai tersenyum. Senyum yang mirip dengan kak Ruly!


"Jangan bilang begitu! Ini juga permintaan dari Syila. Dia ingin bertemu denganmu, lho!" Kini matanya berubah.


"Heeeh, kini menggunakan anaknya sebagai alasan. Dasar orang tua tidak tahu malu. Kau memang yang terburuk." Aku menggunakan tatapan datar dan dingin.


Dia mengambil teh seteguk, lalu kembali berkata.


"Humm, kalau kau tidak percaya, kau bisa lihat ke jendela di belakangmu. Dia sepertinya penasaran." Childe tertawa.


Aku spontan saja menoleh, dan menemukan sebuah wajah yang aku kenal menempel ke jendela kamarku.


Memang benar bahwa kamarku berada di lantai satu, tapi jendelanya sudah aku buat agar tidak terlihat dari luar.


"Jujur saja, itu terlihat lucu. Tapi sekeras apapun dia berusaha, dia hanya akan melihat dirinya sendiri dari balik kaca itu. Aku menaruh penghalang." Aku menaruh cangkirku, mulai berdiri.


"Hou. Apa yang kau lakukan disini sampai tidak ingin terlihat dari luar, dasar anak remaja." Paman Childe berupaya menggodaku.


"Jangan ucapkan hal hal bodoh! Aku hanya menaruh beberapa antisipasi kecil! Aku benar benar tidak mau ada kebocoran informasi sedikitpun disini." Aku berjalan pelan menuju jendela, lalu membukanya cepat.


Itu tidak tahu jendela akan tebuka, dan dia terlalu menekankan kepalanya ke dalam, membuatnya ikut masuk ke kamarku. Dangan posisi terbalik kepala dibawah karena terjatuh.


"Adududuhh!!" benda "itu" mengaduh ketika dia sedikit berguling di kamarku, membuatnya seperti hewan kecil.


"Huwauuuwaa!" Dia, Syila yang sudah tertangkap basah membenarkan posisi tubuhnya lalu berdiri dengan gugup.


"Paman! Ada penyusup! Aku tidak mengenalnya! Apa yang harus kita lakukan?" Aku cepat mengambil pedang di sekitar lalu mengarahkannya ke Syila yang tersenyum.


Senyum itu hilang berubah menjadi tatapan penuh tanya.


"Kau benar, Ren. Aku tidak mengenalnya, tapi mungkin dia adalah monster jenis baru. Jangan mendekat atau kau akan mati!" Haha! Bisa juga paman Childe bermain drama seperti ini!


"Huh moo! Jangan bermain main denganku! Kalau Ren masih mungkin, tapi kalau ayah juga, kamu harus lebih tahu umurmu, yah!" Syila menyilangkan kedua tangan di dadanya.


Aku tak bisa tidak tertawa mendengar ini.


"Begitu katanya, kek. Pikirkanlah umurmu sekali lagi, kakek. Ah tapi aku bisa bermain lagi bersamamu lain kali." Aku tersenyum padanya.


"Ah, kau kejam sekali ya nak. Sepertinya kakek ini hanya mengganggu. Jadi, aku permisi." Childe mulai keluar ruangan dengan cepat. Dia ingi menggodaku, bukan? Ya! Jelas dia ingin menggodaku!


Aku menatap lekat lekat kepergian paman Childe dengan tatapan tajam, sebelum suasana menjadi benar benar hening sekarang.


"Jadi," aku mengalihkan pandanganku pada Syila yang sudah ingin berlari meninggalkan tempat ini.


"Ada apa, Syila?" Aku menoleh padanya. Aku tersenyum hingga membuat mata membentuk garis. Fu Fu Fu. Senyum khusus!


"A-a-ahh, benar. Mungkin aku mengganggumu, ya?" Dia sedikit merasa bersalah mungkin?


"Tidak tidak! Kau menyelamatkanku! Kau menyelamatkanku dari orang tua tadi." Aku harus dengan cepat meluruskannya.


Selain itu, dia benar benar menyelamatkanku ketika aku tidak harus menceritakan perihal "Apostle" ini pada Childe. Aku tidak tahu apa reaksinya, tapi aku merasa tidak ingin dia mengetahuinya.


"Ah, baiklah. Jadi..." Dia mengatakannya pelan dengan menyatukan kedua jarinya, membentuk pose imut.


Ahh, sepertinya aku tahu apa yang dia inginkan!


"Kenapa? Apa kau ingin minum teh? Atau kamu ingin pergi keluar?" Aku menyodorkan tanganku padanya. Yahh, ini seperti ritual karena setiap aku akan pergi selalu Syila akan mengajakku berjalan jalan pergi.


Dia menarik tanganku, berlari seperti senang dengan ini. Aku juga sejujurnya juga senang, karena aku bisa bertemu dengan orang sebaik dan secantik Syila. Uwaahh, hidupku sempurna.


Dia juga tidak mengharapkan apapun dariku, tapi aku tahu dia tulus padaku. Aku senang. Entah kenapa hanya karena itu aku merasa senang.


Sesuatu yang penting, sesuatu yang harus aku jaga.


Tunggu! Aku hanya membiarkan Syila menyeretku. Sebenarnya akan dibawa kemana aku ini?!


"Ren! Apa kau masih ingat?" Kata kata Syila memecah lamunanku. Aku segera menyadari, ini bukan di kota.


Tempat ini, padang rumput yang nyaman.


"Ahh, kenapa kamu membawaku ke tempat ini?" Aku agak bingung.


"Kamu ingat ini?" Kami berdua sampai ke sebuah pohon besar. Pohon rindang dengan padang rumput di sekitar. Ah, ini tempat saat kami 4 tahun lalu pertama kali bertemu, bukan?


Aku ingat membawanya ke sini 4 tahun lalu dan sedikit menjahilinya kala itu. Hasilnya, dia marah padaku beberapa hari.


"Yahh, aku ingat. Kenapa?" Aku spontan menjawab.


"Aku tidak tahu, tapi aku ingin mengunjungi tempat ini bersamamu lagi." Syila mengatakan itu sambil menundukkan kepalanya.


Huuu, sepertinya ini sangat yang tepat untuk menjahilinya lagi!


"Ah ya! Ini tempat pertama kali kamu menyatakan perasaanmu, bukan? Aku masih ingat apa yang kamu ucapkan waktu itu. Mau aku ulangi?" Aku mendekatkan wajahku, mencoba menggodanya.


"Jangan ingat ingat itu lagi, bodoh! Huummmm! Kau menjengkelkan!" Di menyilangkan tangan marah.


"Ahahaha! Kau ingat itu berarti benar, bukan?"


"Ya. Itu benar." He? Aku sedikit terkejut karena dia menurut.


"Ya. Itu benar, dan aku pernah berkata saat itu, bahwa aku menyukaimu, dan akan terus, bahkan bertambah dengan berjalannya waktu, bukan?" Dia tersenyum menghadap ke arahku.


"Syila?" Aku sedikit, tidak. Benar benar tersentuh dengan itu.


"Ya. Kau tahu? Itu benar benar terjadi sekarang. Memang mungkin aneh, tapi ketika kita dewasa, aku ingin kita bisa bersama. Yah, walaupun itu masih 5 tahun lagi." Dia menutup matanya pelan.


Aku benar benar tidak bisa berkata kata. 5 tahun lagi memang diputuskan sebagai tahun pernikahanku dengan Syila, yang mana itu diputuskan setelah perdebatan panjang.


Biasanya, pernikahan politik sering terjadi di umur 12 tahun, tapi karena kami tidak ingin itu terlihat seperti itu, kamu menundanya.


Setidaknya sampai kami berumur 15 tahun. Di sini, 15 tahun adalah umur yang biasa untuk menikah.


Tapi yang paling aneh, tidak ada jangka umur paling maksimal untuk mencari pasangan. Mungkin karena sistem umur tidak terlalu berpengaruh dengan elf.


"Ren, jika mungkin aku ingin mengadakan upacara itu di sini! Akan aku buat ini tempat yang istimewa!" Dia melompat, membuat rambut pendeknya berkibar, kemudian berputar dan terjatuh dalam posisi telentang.


"Ya. Kamu benar. Mungkin lebih baik begitu." Aku tersenyum tenang.


"Hei Ren! Kami curang!" Syila membalikkan posisi tubuhnya membelakangiku.


"Kalau kamu tersenyum seperti itu, aku menjadi malu sudah mengatakan itu semua tahu!" Katanya. Ugh! Itu menyenangkan sekaligus memalukan! Aku tidak bisa menahan refleks ku memalingkan wajah..


Suasana menjadi canggung sesaat. Aku benar benar tidak tahu topik apa yang harus aku mulai!


"A-ah, Ren! Aku ingat ada toko dengan makanan baru di kota! Ada makanan yang namanya crepes. Katanya, itu manis dan renyah. Dan itu dengan cepat terkenal di kota." Syila memulai pembicaraan lebih dulu.


"Uh, um. Kamu menginginkannya? Apa kita mau ke sana sekarang?" Aku segera berjongkok di dekat punggungnya.


"Tidak. Itu sangat ramai. Agak sulit untuk memesannya. Selain itu, aku ingin memakannya bersamamu." Jawabnya pelan. Syila, jika kau terus mengatakan itu, aku akan mati karena malu!


"Umm. Kalau begitu, mau menungguku? Mungkin 5 hari dari sekarang, dan mungkin juga, itu sudah semakin sepi." Aku menepuk pundaknya.


"Ah, kalau begitu, tolong, ya! Janji!" Dia membalik, menunjukkan senyumnya sambil menunjukkan jari kelingkingnya.


Aku sedikit bingung, lalu segera paham. Aku mengaitkan jari kelingkingku dengan miliknya.


"Ya. Setelah itu kita makan crepes. Kita akan melakukannya sampai kamu menjadi gendut." Aku mencoba sedikit bercanda.


"Ah. Aku tidak akan gendut hanya dengan itu!" Dia kembali memalingkan wajah, menunjukkan ekspresi marah.


"Ha ha! Aku hanya bercanda lho!" Aku tertawa lepas mendengar itu.