
"Ada apa, Edna. Apa ada sesuatu yang ada di pikiranmu?" tanya Roy.
"Itu. Aku benar bener khawatir dengan keadaan Ren sekarang. Ini adalah jumlah sihir yang besar. Bahkan Elf seperti kita merasakan tidak enak ketika sihir tadi belum dilepaskan. Aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi dengan Ren disana..." kata Edna dengan tatapan menunduk.
Seketika, mata Roy terbelalak. Dia ingat, dan terkejut mengapa dia tidak memikirkannya selama ini. Sama dengan orang orang lain. Bedanya, orang di sekitar tidak percaya dengan Ren seorang manusia yang mengendalikan sihir.
"Tidak tidak tidak! Apakah ini semua perbuatan Ren itu? Itu tidak mungkin!" teriak salah seorang disana.
"Itu benar! Apalagi, ini adalah sihir besar yang luar biasa! Itu tidak mungkin dilakukan bahkan setelah kami semua menyatukan semua kekuatan sihir kita. Dan kau mau bilang itu semua perbuatan satu anak manusia?!!" tanggap yang lain tampak mulai emosi.
"T-tapi itu kenyataannya...." jawab Edna yang melemah, menerima tekanan dari sekelilingnya.
"Aku mengerti bahwa Edna menyayangi adiknya, tapi-"
"DIAM!!"
Teriakan Roy menggema di sana, bahkan bisa sedikit terdengar dari bagian kota yang lain. Dengan segera, itu membuat semua orang yang terlihat marah dan tidak terima itu diam seketika.
"Jika dia berkata mungkin, itu mungkin! Atau bisa aku anggap, kau meragukan anakku, hah?" tanya Roy dengan memberikan tekanan dalam setiap kata katanya.
Itu juga diberi beberapa niat membunuh, membuat beberapa warga dengan segera ciut nyali nya.
"T-tapi Guild Master... Ada batasan untuk sesuatu yang tidak mungkin!!" jawab kelompok tadi.
"Hufft...." Roy menghela nafas sesaat, karena bahkan setelah dia menggunakan paksaan sedikit pada mereka, para orang orang yang ini. Tapi tetap, harga diri para Elf itu tidak dapat menerimanya.
"Baiklah. Ini adalah perintah. Cari penyembuh di di seluruh kota, dan bawa ke pusat kota. Segera! Atau kau mau melawan perintah dari Guild Master?!" ucap Roy sedikit menyerah. Tapi tetap, terdengar sedikit nada kesal dari suaranya.
"G-guild Master?" orang yang dimaksud sedikit ragu, tapi wajahnya tetap menunjukkan wajah ketidaksukaan.
"Baiklah. Saya akan segera menyiapkan penyembuh ke pusat kota. Bagaimanapun, itu adalah perintah." ucap seorang Elf dengan nada yang kecewa. Tampak tidak suka dengan perintah ini.
Dengan begitu, beberapa orang mengikutinya, dan dengan segera berpencar melaksanakan perintah.
"5 Orang ikut dengan ku! Sisanya, umumkan ke seluruh kota untuk melakukan pengecekan dan evaluasi! Kita harus mengetahui berapa banyak korban dan kerusakan untuk bisa membangun ulang!" perintah Roy dengan tegas.
"Siap pak!" segera, orang yang mengikuti Roy ditetapkan, dan sisanya sesuai perintah berpencar ke empat bagian kota untuk menyebarkan perintah Guild Master.
Itu adalah keputusan yang cepat dan tepat, seperti yang diharapkan dari seorang Guild Master! Bahkan, Edna yang melihat itu semua bertanya tanya, bisakah dia menjadi seseorang seperti ayahnya?
Tapi semua pikiran itu dia abaikan untuk sekarang ini.
"Yang paling penting sekarang adalah Ren!" gumamnya pelan sambil perlahan berlari.
***
"MEGA FLARE!!!"
BOOMMMM!!!!
Suara ledakan besar terdengar dari balik Kubah pelindung, yang sepertinya di serang oleh sesuatu.
Dan tentu, tembakan itu tidak berhasil, dan justru memantul dan menembak tempat awal dimana dia berdiri, menghilangkan segundukan tanah, menyebabkan kawah sebesar 10 meter persegi dengan kedalaman 2 meter tercipta disana.
Sosok yang melepaskan sihir tersebut semakin kesal, melihat hal itu terjadi. Tampak seperti kapan pun dia akan meledak.
Orang itu tidak lain adalah Gordo.
Dia awalnya senang, ketika melihat sihir besar yang dilepaskan dari tengah kota. Gordo mengiranya ada seseorang dengan kemampuan yang luar biasa, jadi dia senang untuk melawan nya.
Siapa sangka sihir besar itu justru menjadi semakin mengerikan, dan sekarang malah membuat sebuah penghalang yang menghancurkan rencananya.
"SIAL SIAL SIAL!! APA APAAN DENGAN JUMLAH SIHIR ITU?!! KEPARAT MEREKA YANG ADA DI DALAM KOTA!!" Gordo masih berteriak sambil menembakkan beberapa sihir yang terlihat sangat kuat. Tapi sebanyak apapun dia mencoba, sihirnya tetap memantul ke arahnya.
"AARGGHGH!!! BAJINGAN!! YANG INI JUGA GAGAL KAH?!! KALAU BEGITU, TERIMA INI!!" sebuah teriakan putus asa yang diwarnai dengan amarah dan kutukan dalam setiap kata katanya terdengar menggema melengkapi suara ledakan tersebut.
"WAHAI KEGELAPAN YANG AKU KENDALIKAN SAAT INI! KERJAKAN TUGASMU DAN HANCURKAN SEMUA YANG ADA DI HADAPANKU! [ETERNAL DARKNESS] !!!"
Dengan amarah di setiap kata katanya, Gordo mengendalikan kegelapan yang telah dia kuasai, dan membentuknya menjadi sebuah ruang degan ratusan tombak serta pedang di belakangnya.
Dia mengayunkam tangan, mengarahkannya maju. Seketika, semua kekuatan bayangan itu menumbuk penghalang dengan kecepatan yang luar biasa!
Ledakan besar terjadi, bersamaan dengan asap yang mengepul tinggi.
Gordo mengira bahwa itu berhasil, sampai..
"Apa?! Itu bahkan tidak tergores?!!' teriak Gordo sedikit tidak percaya.
Tahu semua usahanya sia sia, Gordo mau tak mau menyerah, dengan tangannya yang terus menerus meninju sebuah pohon membuatnya miring dan tampak akan ambruk.
"Apa yang harus aku katakan pada Senior Dela tentang ini semua?...." gumam Gordo pelan.
"Tentang apakah itu?"
Sebuah suara lembut yang biasa didengar Gordo tiba tiba muncul di belakangnya. Segera, Gordo membelalakkan mata, dan segera berbalik menghadap sosok melayang tenang, dengan beberapa keanggunan yanga tergambar di seluruh tindakannya.
"Se-senior Dela...." Gordo tersenyum pelan ketika Dela datang, tapi juga tampak wajah bermasalah muncul diantara senyum tersebut.
"Tidak perlu berlama lama. Jangan bertele tele. Jelaskan dengan singkat." kata Dela sambil berjalan pelan, menuju penghalang tersebut.
Dia menyentuhnya, dan-
BZZZTTT!!!!!
Sebuah petir hitam nan kuat muncul di tangan Deal, menyeranh penghalang tersebut. Tampaknya sangat kuat, hingga membuat penghalang tersebut bergetar. Tapi, itu sia sia, karena...
Ledakan besar terjadi, ketika serangan Dela secara sempurna dibalikkan, membuat Gordo yang melihat itu terlihat panik, berusaha menyelamatkan dirinya dari petir yang menyanbar di sekeliling.
"A-ahh! Aku terlalu sibuk melarikan diri dan lupa dengan senior!!" teriak Gordo ketika ingat.
"Senior!!!" Gordo berteriak ke arah kepulan asap yang awalnya adalah tempat mereka berdua berdiri. Tidak mendengar jawaban dari Dela, Gerudo segera melesat, mengibaskan tangannya untuk menyingkirkan asap yang menghalangi pandangannya.
"Apa maksudmu memanggilku? Apa kau kira aku akan mati terkena serangan tadi?' tanya Dela sedikit tidak terima.
Dia membuka bola hitam pekat yang mengelilinginya, tampaknya melindunginya dari pantulan serangan tadi.
"Humm. Ini bisa memantulkan serangan, kah? Kalau begitu akan berbahaya bagiku untuk menyerang nya dari jarak dekat. Gordo, jelaskan semuanya!" kata Dela, sambil beranjak mundur.
Walau dia mundur, Dela tetap mengeluarkan sebuah tongkat dari balik jubahnya.
"Humm. Baiklah. Aku akan menceritakannya. Awalnya, aku sedikit curiga ketika melihat kereta yang meninggalkan kota ini dengan seorang anggota bangsawan kota di dalamnya, setelah itu...." dengan begitu, Gordo menjelaskan beberapa kejadian secara rinci kepada Dela.
Dela yang mendengarnya tidak merespons, justru terus menggumamkan sesuatu. Tidak hanya itu, tongkat dan rambutnya mulai memancarkan warna ungu gelap dengan semburat merah. Semua orang tahu, bahwa itu adalah hal yang buruk.
Walau begitu, Gordo tetap tidak berhenti bercerita, karena menganggap hal itu adalah hal yang normal.
"Jadi, begitulah kenapa sekarang terbentuk penghalang ini. Maafkan aku, Senior! Aku lagi lagi mengacaukan dan membuat masalah!!" teriak Gordo sambil menundukkan kepalanya dalam dalam.
Dela tetap tidak merespon, dan terus menggumamkan sesuatu.
"Baiklah! [Hell Storms]!!" teriak Dela tiba tiba.
Segera setelah Dela berteriak demikian, dia menyeret Gordo ke tempat yang lebih jauh, karena muncul sebuah benda hitam aneh yang ada di atas Kubah pelindung itu!
Itu adalah sihir yang diciptakan oleh Dela, meripaka sihir tingkat kota yang dapat menghancurkan kota besar dengan sekejap.
Bola hitam itu terus menarik udara, membuat semuanya berputar bagai datangnya badai yang menerjang hutan. Tidak hanya itu, awan awan mendung ditarik, dan bahkan pohon pohon pun dicabut dari akarnya karena sihir itu. Sampai akhirnya-
SRRIINNGG!!!
Semua material yang berputar mengelilingi Kubah pelindung itu tiba tiba berhenti bergerak, dan beru ab mengarah ke pelindung tersebut.
Benda benda seperti sihir hitam, kayu besar, dan bahkan beberapa batu itu melayang tenang, padahal angin menggiring debu untuk membuat sebuah pusaran terbalik dengan pelindung itu sebagai pusatnya.
"Serang!" teriak Dela.
Dia sekarang berada di atas langit mengendarai Wyvern yang dibawa Gordo, .mengamati senua yang terjadi dari sana. Tentu, di tangannya ada Gordo yang dengan susah payang mengendalikan Wyvern.
Dengan satu kata perintah dari Dela, semua material yang berhenti itu menyerang ke arah pelindung secara bertubi tubi.
BOMMM BOMMM BLASSSZZTTT BSXZTZTTT DOORRRR!!!
Suara suara mengerikan saling bersahutan bagaikan itu adalah medan perang yang sedang memanas. Padahal, itu adalah pekerjaan sihir dari satu orang saja.
"Hebat. Apakah ini kekuatan senior Dela?!!" tanya Gordo sedikit tertegun.
Seperti namanya, pusaran itu benar benar seperti neraka terlihat dari atas. Dapat dipastikan semua makhluk yang bernyawa akan segera meninggalkan nyawa mereka jika berada dalam jangkauan serang sihir itu. Tapi....
"TIDAK MUNGKIN?!!" Dela berteriak tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
Semua serangan yang dia lancarkan menancap di dinding pelindung, bahkan tidak mampu menembusa lapisan tipisnya!! Itu adalah hal yang sangat tidak mungkin melihat sihir yang dikeluarkan Dela sebelumnya benar benar luar biasa.
BSZZZTTTT!!! BLAZZTT!!!!
Bagai terkumpul, serangan serangan itu kembali ke sekitar, menghasilkan beberapa gelombang serangan yang bagaikan BOM atom, yang menghancurkan hampir 15 km persegi hutan yang ada di sekeliling kota!
"Gila. Benar benar gila. Itu bisa menahan seranganku barusan, bahkan bisa menbalikkannya?! Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan..." ucap Dela dengan nada bergairah yang menggoda.
"Maafkan saya, Senior! Ini karena saya tidak langsung menyelesaikan tugas!!" teriak Gordo masih merasa sangat bersalah.
Dela tidak menanggapinya, hanya membuka sebatang rokok, mengambil pemantik, dan menyesapnya, bagai tidak ada yang terjadi.
"Ahh! Tidak ada yang perlu kau katakan lagi. Aku sudah mengerti semuanya. Bahkan walau aku harus menghabiskan menghabiskan semua sihirku dalam satu kali serangan, itu bahkan tidak akan tergores. Sebaliknya, semua sihir akan membalik kepadaku." jelas Dela.
"Heh? Tidak mungkin!!" Gordo terkulai tidak percaya.
"Yahh, ini adalah sihir luar biasa yang dibuat dari kekuatan sihir cahaya yang benar benar kuat. Aku tidak tahu sebesar apa kemampuan sihirnya. Setidaknya, dia butuh 5 kali lipat total kekuatan sihirku untuk membentuk dan mewujudkan sihir. Belum masalah imajinasi, itu sangat sulit!" jelas Dela panjang lebar.
Dia terlihat tenang di luar, padahal hatinya sangat kesal karena tidak bisa menembus penghalang yang dibuat Ren.
"Itu berarti yang membuat penghalang ini benar benar kuat, bukan? Bagaimana menurut anda, Senior?" tanya Gordo memberi tanggapan.
"Humm. Bagaimanapun aku tidak akan bisa mengalahkan sosok yang ada di balik ini semua. Dan juga, bisa jadi ini adalah musuh yang akan menghalangi kita di masa depan nanti, jadi kita tidak bisa meninggalkannya begitu saja."
"Kalau begitu...."
"Haaahhh!!!" Dela menguap, kesal dengan semuanya. Tapi, dibalik itu, mulai muncul sebuah senyum menggurat di wajahnya.
"Kita hanya bisa menyerahkannya pada Dia. Aku serahkan semua disini padamu." ucap Dela, sebelum turun dari Wyvern yang dia tumpangi, melayang pelan ke bawah. Dan sesaat sebelum kakinya menyentuh tanah, dia melesat cepat, pergi hanya meninggalkan debu yang menutup tempat sekitar dia pergi.
Gordo hanya bisa menghela nafas senang, setelah dia menahan nafasnya selama ini. Tapi, wajahnya berubah sedikit tidak senang.
"Ahh, dia akan menghadapi ini, kah? Aku sedikit kasihan dengan mereka..." ucap Gordo.
"Dia..... Yang paling kuat di Kultus..." bisik Gordo sambil mengingat saat saat buruk ketika dia bertemu dengan orang tersebut.
"The Only One, The Strongest and The Destroyer."
"Peringkat pertama di Apostle, Horrelis."