
"Dengan begini, ini yang ke 18." Aku menyeka bekas darah dengan mengayunkan pedang cakar naga ini.
Aku sedang membasmi monster jenis baru yang dilaporkan muncul dan menyerang ke kediaman kami. Mereka semua lemah bagiku, tapi bisa dibilang setingkat dengan adventurer Rank-B bawah.
Oh ya. Aku belum memberi nama pedang cakar naga ku ini.
"Humm, aku ingin memberinya nama yang cocok agar mudah memanggilnya." Aku mulai berpikir sejenak.
"Ahh, baiklah. Biar kunamakan Drac! Aku tidak pintar dalam mencari nama." Aku mengangguk puas, karena kupikir aku mendapatkan nama yang bagus.
Aku menyarungkan kembali pedangku, Drac kembali ke belakang punggungku. Kenapa aku tidak menggunakan Zadkiel saja?
Aku menghemat peluru yang dibutuhkan, karena aku tidak tahu berapa banyak monster ini berkeliaran.
Sekarang saja, aku sudah menemukan 18 buah, yang tersebar terpisah. Aku tidak bisa melacaknya jika tempat mereka muncul terlalu jauh.
Apakah ada Dungeon baru terlahir di sekitar sini? Sepertinya tidak. Aku pertama kali mencurigai itu, hanya saja kemunculan monster itu terlalu terpisah.
Jika mereka berjalan dari satu tempat, maka mudah bagiku mengikuti asal dari tempat monster itu.
Dan jika aku bisa melacak awal keberadaan Dungeon tempat monster ini ada, mungkin saja aku bisa menghancurkan Dungeon itu.
Tapi ini seperti mereka datang dari segala penjuru, dengan tujuan rumah kami.
Aku bukanlah detektif, tapi aku tahu ini disengaja. Kalau saja, aku bisa tahu kapan dan dimana monster itu muncul, mungkin ini semua akan terungkap.
"Sepertinya aku harus mencari lebih dalam lagi, ya?" Aku menghela nafas, mencoba menenangkan diriku lagi.
Dengan keadaan seperti ini, jujur saja aku menjadi sedikit khawatir untuk meninggalkan tempat ini.
Tapi begitu aku menceritakannya pada paman Childe, dia memarahiku dan justru mengatakan bahwa ini bisa dia atasi.
"Mungkin aku saja yang terlalu berlebihan, ya?"
?!
Aku merasakan sebuah gerakan asing muncul di sekitar sini!
Aku tidak tahu apa itu, tapi aku merasakan perubahan tidak mengenakkan di hutan ini. Aku kurang tahu berapa jaraknya, tapi yang jelas, ini tidak terlalu jauh.
Perasaan ini, ini bahkan lebih tidak mengenakkan dari aura yang dikeluarkan naga terakhir yang aku lawan.
"Benar benar aura yang menjijikkan. Sepertinya pengguna dark magic." Aku berbicara pelan, sambil mempersiapkan diri.
"[Serenity]!" Aku segera melacaknya, apakah dia benar bukan monster. Tapi, apakah ada orang yang bisa membuat aura seperti itu? Kalau ada mungkin itu hanyalah monster!
Aku melihat sesosok yang menggunakan tudung gelap, menitupi wajahnya. Walau begitu, aku tahu dia tersenyum puas.
("Apakah itu, manusia?!!") Aku terkejut tidak menemukan tanda tanda elf padanya, dan badannya sempurna jika aku menyebutnya manusia. Tapi, tidak mungkin manusia bisa mengeluarkan aura seperti itu, bukan?
Beberapa detik kemudian, dia tampak terkejut, lalu melihat ke sekeliling.
("Heh? Dia bisa merasakan ini?!") Aku hanya terkejut ketika dia tiba tiba waspada, dan membaca mantra aneh. Lingkaran hitam muncul di sebelahnya seperti udara yang robek, dan dia perlahan masuk ke dalamnya.
Aku harus cepat menggunakan [Evaluator] padanya!
("Tung-!") Aku hanya bisa berteriak dalam hati, karena dia sudah menghilang ke dalam sobekan ruang hitam itu.
Aku melepas [Serenity] ku, lalu terduduk diam mencoba menganalisa situasi.
"Dia bahkan memblokir [Evaluator] ku. Tidak itu mungkin skill ini untuk diblokir, bukan?" Aku bingung ketika melihatnya.
Bukannya ini diblokir, tapi data yang bisa kulihat kacau.
Ya. Aku sudah mencoba melihatnya menggunakan [Evaluator], tapi hasil yang ditunjukkan mengejutkan. Itu menampilkan beberapa data, dan itu sangat sedikit.
[Evaluator] ku adalah skill paling maksimal diantara skill lainnya. Jadi, aku percaya terhadap kemampuannya mengintip kemampuan orang lain, bahkan tanpa seizin musuh.
Tapi ini pertama kalinya [Evaluator] ku bisa dikacaukan.
Bagian namanya hancur, seperti beberapa kata yang dipisahkan kesana kemari. Juga ras bahkan Job nya, aku tidak bisa melihatnya karena pandangannya kabur.
Dan aku hanya bisa melihat itu serta title nya.
***
Di suatu tempat yang tidak terusik ruang dan waktu....
"Ah, selamat datang kembali! Bagaimana keadaannya?" Seseorang, mengangkat cangkir dengan suara lembut, khususnya itu adalah suara seorang wanita.
Dia membawakan satu cangkir lagi untuk pemuda yang terengah engah jatuh berlutut di dekatnya.
Jelas terlihat pemuda itu seperti kehabisan tenaganya, entah karena melakukan hal yang berat.
"Kau luar biasa, senior. Kau bisa melakukan semua dengan baik, bahkan sempat mempersiapkan ini. Apa tidak ada masalah apapun ketika menjalankan tugas?" Si pemuda itu tampak berdiri, menerima cangkir itu.
Walau begitu, dia masih berusaha untuk menenangkan dirinya. Mungkin ada beberapa bagian di dalam dirinya yang masih terkejut.
"Ahahaha! Aku hanya kebetulan mendapat bagian yang mudah. Selain itu, sepertinya ini akan menjadi sesuatu yang cukup lama. Lebih baik dinikmati saja." Dia menyeruput teh nya dengan senyum.
Senyum yang manis. Karena memang wanita itu sangat cantik, dan jika dia tersenyum, itu akan menambah kesan manis padanya.
Tapi orang yang berpengalaman tahu, itu hanyalah senyum yang akan membawamu ke kehancuran.
Pemuda itu agak bingung, tapi dia tampak seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Apa yang kau nikmati dari ini semua, senior?" Si pemuda itu mengambil tempat duduk di dekatnya, dan ikut menikmati teh nya.
"Heh.. kau selalu saja membohongi diri. Coba tanyakan pada dirimu sendiri." Wanita itu masih tersenyum.
"Tanyakan? Pada diriku sendiri?"
"Ya! Kau tahu? Melihat wajah orang orang menderita, melihat mereka putus asa, melihat harapan mereka dihancurkan, bukankah itu luar biasa? Aku senang dan menikmati pekerjaan ini, tahu!" Katanya sambil kembali tersenyum.
Walau begitu apa yang dia katakan bukanlah sesuatu yang bisa dikatakan mudah dengan tersenyum begitu saja.
"Ahh, seleramu agak kurang bisa kumengerti ya, senior. Tapi..." Pemuda itu tidak bisa melanjutkan nada bicaranya.
Dia memikirkan kejadian barusan, dimana ada seseorang yang berhasil melacaknya. Dia terkejut karena itu, dan akhirnya dengan buru buru di kembali ke ruang itu, menyebabkan beberapa energinya terkuras.
"Kenapa? Apa ada masalah dengan pekerjaanmu?" Wanita itu bertanya dengan nada khawatir.
"Ya. Aku punya sedikit masalah."
Air muka Wanita di depannya mulai berubah menjadi serius.
"Kalau tidak salah, kamu mengurus salah satu permintaan kecil dari anggota, bukan? Seingatku, namanya kota Eldergale! Ya! Kamu mengurus bagian sana, bukan?" Tanyanya sambil mengingat ingat.
"Ya. Aku merasa tidak berguna karena mendapat masalah hanya dari pekerjaan kecil. Aku jadi merasa tidak pantas untuk menjadi salah satu anggota [Ten Apostle of Demon God]." Si junior kini menunduk, dengan banyak ekspresi sulit di wajahnya.
"Bukan begitu! Kamu pasti sedang dalam masa sulit karena ini adalah tugas pertamamu. Selain itu, kamu bisa bercerita padaku jika ada masalah." Wanita disana terus menghibur juniornya.
"Ah, baiklah."
"Aku merasa seperti diawasi seseorang tadi. Saat aku mulai melaksanakan tugas, seseorang seperti melacakku dari kejauhan."
"Aku yang terkejut langsung melarikan diri." Junior itu kembali menundukkan kepala.
Kembali lagi, Wanita sang "Senior" itu menaruh perhatian lebih terhadap cerita Juniornya.
"Jadi, siapa "orang" yang mengganggumu ini?"
"Maaf. Aku tidak tahu. Hanya saja, jika ada orang berkemampuan seperti itu, maka dia harus menjadi fokus dari kultus, karena mungkin akan merepotkan di kemudian hari. Dan bisa jadi, dia menggagalkan rencanaku." Si junior kembali mengangkat cangkirnya, dan meminum teh.
"Ah, itu hal mudah. Kita lihat jika rencanamu berhasil, kita tak perlu memikirkannya, tapi jika rencanamu dapat digagalkannya, mungkin kita akan memperhitungkannya." Wanita itu menata beberapa camilan di meja.
"Dan aku yakin rencanamu akan bekerja lancar." Dia mengambil dan memakan satu.
"Walaupun gagal, aku akan mengajarkannya sesuatu tentang kenikmatan!" Dan kini dia tersenyum, bukan senyum yang manis namun senyum yang sadis di wajahnya.
Si junior mengangguk, tampaknya sudah mengerti dengan apa yang diceritakan oleh seniornya.
"Aku hanya perlu menghancurkan kota itu saja, bukan? Persetan dengan tugas, aku akan melaporkan bahwa ada musuh yang kuat di sana!"