Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 2: Bab 16 - Ultimate Skill



"Kalau begitu, berbahagialah! Karena ini adalah kali pertamanya ada yang menerima serangan ini. [Seven Gates of Despair]!" Aku menarikan pedang membuatnya lurus dengan kepalaku.


"First step. [Bladefield of Wind]!" Aku meneriakkan sihirku, membuat lingkaran di sekeliling naga itu. Disana, angin saling bersahutan, bergantian menyayat tubuh naga disana.


Angin itu bukanlah pisau belaka. Menurut penelitianku, angin adalah elemen yang paling tajam diantara elemen lain.


Jadi, kalimat "Angin dingin menyayat kulit" bukanlah hiperbola belaka.


Naga itu menjerit kesakitan. Seperti yang aku bilang tadi, ini adalah [Seven Gates of Despair] yang mana berarti tujuh gerbang keputusasaan.


Ini adalah hasil pemikiran ku sendiri, yang mana membuat ultimate skill dari masing masing elemen. Dan itu aku sebut gerbang masing masing.


Dan [Bladefield of Wind] atau Bidang Angin ini adalah tahapan pertama, elemen angin.


Naga itu panik, segera mengepakkan sayapnya. Berusaha untuk melarikan diri. Terlihat jelas ekspresi panik di wajahnya.


"Ups! Apa kau ingin melarikan diri? Second Step. [Lightning Root]!" Aku memutar kan pedangku lalu menancapkannya ke tanah. Sekejap kemudian, bentuk sihir warna ungu keluar di tanah tempat naga itu berdiri.


"A-apa ini? Aaarrrrgghg!!" Teriakan kesakitan mulai keluar dari naga merah itu. Tampaknya dia sudah tidak bisa menahannya lagi.


[Lightning Root]. Seperti namanya, itu mengeluarkan akar akar tanaman Dengan bentuk petir yang mengikat musuh, dan petir selalu menyambar musuh dengan petir skala tinggi. Kau tahu? Di jamanku dulu, setrum merupakan salah satu cara penyiksaan yang paling terkenal!


Itu adalah ultimate skill elemen kedua, petir.


"Apa kau sudah tidak kuat? Aku baru memulainya lho! Third Step. [Meteor Shower]." Aku mengangkat tangan kananku, menahannya sesaat, dan mengarahkannya ke naga itu.


Batu batu besar berdiameter 10 meter melayang, lalu menjatuhi naga itu, membuatnya terkurung.


Dengan begitu, elemen yang aku keluarkan sudah 3. Dan itu semua terus menyerang naga itu, sampai aku menghentikannya.


[Meteor Shower] seperti namanya, aku membuat batu raksasa, dan menghujamkannya ke musuh. Setelah itu, batu batu itu mengunci dan memperangkap musuh agar tidak bisa bergerak.


"Ups! Sudah saatnya ya?" Aku kembali meminum potion itu, membuat MP ku kembali pulih.


Aku juga sedikit penasaran, naga itu masih saja hidup setelah menerima itu semua ketahanan tubuh yang mengerikan!


Potion itu sangat luar biasa, dan itu mengisi penuh kembali MP ku. Masing masing skill ultimate ini memperlukan MP senilai 10.000 poin. Dan dengan kemampuanku yang sekarang, aku hanya bisa mengeluarkan maksimal 3.


"Kalau begitu, aku akan mengeluarkan sisanya. [Water Sword]!" Tapi sepertinya aku terlambat mengatakan itu. Akar petir terlepas, batu batu pun runtuh. Bersamaan dengan raungan hebat si naga.


"Aahhhh." Aku berlutut, menghela nafas panjang. Rasa sakit kurasakan di tubuhku. Aku juga merasa tubuhku berubah.


Naga itu mati, menjadi debu yang berterbangan dan meninggalkan beberapa item dengan suara berdentang keras. Item dari naga? Aku menantikannya!


Anda naik level!


Anda naik level!


Anda naik level!


Anda naik level!


.....


Aku merasakan pusing menyerang kepalaku dengan suara suara yang muncul di kepalaku.


"Sial! Sepertinya aku akan pingsan di sini." Seperti yang aku katakan, aku jatuh tak sadarkan diri, di sana sampai beberapa waktu.


***


"Ada apa ini?!" Roy berteriak teriak.


"Ada apa ini?! Ada apa ini ?!!" Suaranya semakin keras, menampilkan kebingungan sekaligus kemarahan.


Para staff kini semakin memucat. Tapi di satu sisi, mereka juga terlihat senang. Hanya saja, melihat atasannya menggila seperti ini bukanlah hal baik bagi mereka.


Childe terlihat serba salah. Rasanya ingin melakukan sesuatu, tapi sudah tidak ada yang bisa dilakukan. Bahkan kalau diperhitungkan, dia merasa ingin tertawa. Kenapa? Tentu saja kabar naga yang sudah menghilang membuat mereka goyah.


Beberapa saat yang lalu, setelah suara lolongan kebanggaan naga menghilang, itu berganti suara jeritan keputusasaan.


Terdengar jelas naga itu tersiksa, lalu beberapa ledakan besar terjadi. Banyak mengira bahwa ini adalah Medan perang, dan naga dengan roh di gunung Bolinn sedang bertempur.


Beberapa gempa kecil terjadi, dan aura membunuh yang dilepaskan naga melemah. Dan siapa yang menyangka, tiba tiba terdengar suara lolongan panjang, dan perasaan itu benar benar menghilang, begitu juga dengan gerakan apapun yang terjadi di tanah ini.


("Sebetulnya aku bingung apa yang terjadi. Tapi, syukurlah itu semua sudah berakhir.") Childe tersenyum tenang, mengetahui keadaan.


"Sudahlah Roy. Ada baiknya ini berakhir cepat. Ada kemungkinan aku membutuhkan 1 hari untuk mengakhiri ini." Childe mencoba menghibur Roy yang sudah seperti cacing terkena air garam.


"Lebih baik kau khawatirkan keluargamu atau penduduk kota. Ada baiknya kita menunggu kabar dari Ruly." Childe benar benar menahan tawanya sekarang.


"Hum. Kau benar Childe. Aku sebaiknya-" jawaban Roy terputus oleh ketukan pintu.


"Permisi!" Seseorang, sepertinya perempuan mengetuk pintu, lalu membukanya dengan segera. Disana Ruly yang masuk, bertemu dengan Roy yang pusing dan Childe yang sudah memakai peralatan lengkap untuk bertempur, didampingi oleh Syila yang agak keberatan di sebelah nya.


"Ah, um. Ruly. Bagaimana keadaannya?" Roy sedikit membenahi sikap dan ekspresinya.


"Bagiamana dengan yang lain?" Roy sedikit mengangkat alisnya.


"Yang lain? Oh! Suzu, Edna, dan Bors sudah berada di tempat yang semestinya. Yahh, dengan kata lain mereka sudah aman. Sedangkan untuk Ren, aku tidak tahu dimana dia sekarang." Jawab Ruly sedikit khawatir.


"Dasar bocah itu! Apa yang dia lakukan di saat saat seperti ini?" Roy kembali mengubah raut mukanya.


"Tunggu! Maksudmu, dia tidak ada di sini sekarang? Begitu?" Childe langsung menyambar dengan penasaran ada juga rasa senang di dalam hatinya.


"Y-ya. Mungkin terkesan dia lari, hanya saja sepertinya karena ini dia sedang berlindung sekarang." Jawab Ruly mencoba mencarikan alasan untuk Ren sekarang, walau hatinya mengumpat marah.


"Oh, begitu kah. Kalau begitu aku mengerti." Childe kembali tenang sambil tersenyum.


("Ah, Ren. Diakah yang melawan Naga itu? Dan dia menang? Apa yang dia lakukan sekarang. Ahh, aku sudah tidak tahu lagi apa yang akan terjadi nanti. Yang aku tahu pasti, dia akan menjadi legenda. Tidak ada anak 6 tahun yang bisa melawan naga. Bahkan untuk berdiri di depannya mungkin tidak akan ada yang bisa.") Childe membatin sambil tersenyum, juga menggeleng gelengkan kepala.


***


"Ugh, tubuhku. Mataku. Kepalaku, pusing." Aku mencoba bangun, melihat lagi ke sekeliling. Pedang Azantium masih berada di dekatku, tapi setelah aku perhatikan lagi, itu sedikit menghitam.


Selain itu, ada banyak gua yang runtuh, menampilkan kekayaan tambang yang sangat luar biasa. Azantium berlimpah, berlian, crystal, atau apapun ada disini. Kalau tanah tidak gosong, ini akan sangat luar biasa.


Aku merasa tubuhku sedikit berubah, selain itu banyak item berkilau yang terjatuh bekas aku mengalahkan naga tadi.


Aku juga naik level cukup banyak, tapi itu membuatku pusing. Aku menemukan hal itu sekarang. Kenaikan level yang signifikan akan menyebabkan pusing. Aku akan menyebutnya "mabuk level up".


Padahal aku memiliki penambahan jumlah exp yang dibutuhkan untuk level up hingga 3 kali. Jadi, jumlah exp ku sebenarnya sudah banyak, tapi jarak agar aku naik level meningkat 3 kali lipat.


Aku mencoba berdiri, merasakan kaki dan tanganku yang terasa hidup kembali.


"Aduh!!" Aku merasakan perasaan berbeda saat berdiri, membuatku sedikit terhuyung.


("Apa ini? Ada apa ini? Aku merasa agak aneh. Aku seperti kesulitan berjalan!") Pikiranku mulai menganalisis keabnormalan ini.


Pada akhirnya, aku berhasil berdiri, dan merasa pandanganku lebih tinggi.


"Begitukah?!" Aku berteriak.


"Aku bertambah tinggi!" Aku melompat kegirangan.


"Aku berevolusi karena pertarungan tadi, ya? Aku yakin ini adalah hal baik. Eh tunggu. Apa justru ini kabar buruk? Ya. Ini adalah hal yang baik di awal, tapi untuk jangka panjang pasti akan membawa hal buruk. Lebih baik aku tidak terlalu banyak melakukannya." Aku mengangguk, meyakinkan diriku sendiri.


"Baiklah. Bagaimana status kita setelah naik level, ya? Aku cukup penasaran berapa level aku naik." Aku berkacak pinggang, bersiap melihat papan statusku.


"Status!"


...Nama: Ren Larvest...


...Level: 28...


...Ras: Human...


...Job: Hero...


...Title: "Analyzer" "Imposter" "One who become one with nature" "Shadow Hero" "Dragon Killer" "Who Can be so Sadistic" (Dapat dipilih 2)...


...HP: 5.860 MP: 67.840...


...Strength: 78 Agility: 64...


...Deffence: 164...


...Skill: [Transmutation], [Evaluator], [Trap], [Fake], [Search], [Sharp Hearing], [Sharp eyesight], [Observer (Mimic)], [Seduce], [Interogate], [Healing field (small)], [Fehl Channeling], [Magic Damage Absorber], [Critical Perception], [All Map Exploration], [Change], [Replacement], [Sacred Weapon Authority], [Dragon Intimidate], [I am the Sadistic]...


...Magic: Elemental magic, Space magic, Dark magic, Light magic....


...Status Abnormal:...


...- 3 kali lebih cepat belajar...


...- 3 kali lebih banyak membutuhkan exp untuk level up....


"Uwaah! Ada title dan skill baru. Yang ini "Dragon Killer" sudah sepantasnya aku mendapatkannya. Tapi yang satunya lagi, "Who Can be so Sadistic". Tolong benarkan!! Aku tidak memiliki kecenderungan untuk itu!!" Aku hanya bisa berteriak melihat statusku yang mulai menggila.


Selain itu, ada tambahan deskripsi, yang menandakan ini lebih jelas. Dan di kolom skill ada 2 skill tambahan.


"Humm, mungkin aku sudah paham untuk [Dragon Intimidate], hanya saja untuk [I am the Sadistic]," aku mencoba menekannya untuk mencari informasi.


"[I am the Sadistic], ini adalah gelar khusus, bagi kalian master dalam dunia S&M! Ini membuat musuh-musuhmu tidak mati apapun yang terjadi, dan hanya meninggalkan 1 HP jika mereka terkena serangan mu! Jadi, siksa mereka sesuka hatimu, oke! <3"


"Berisik amat sistem bangsaaaaaatttt!" Aku hanya bisa mengatakan itu.


Tapi, apapun itu aku sepertinya lebih baik menikmatinya. Walau sistem ini memang benar benar menyebalkan, tapi bisa jadi di balik ini adalah dewa. Aku tidak ingin dilaknat oleh mereka.


"Yah, kita tunggu setelah ini saja."