
"Ren itu," Edna mengelap tangannya yang berkeringat.
"Apa dia benar benar manusia?" Tatapannya menjadi datar, mengingat serangan sihir yang Ren keluarkan kala itu.
Wajahnya menjadi lucu, karena memberikan kesan tidak percaya, seperti merubah wajahnya menjadi 2 dimensi.
"Sepertinya aku hanya bisa menjawab, aku manusia, kak Edna." Ren muncul di belakangnya, menyembunyikan hawa kehadirannya sejak tadi.
Dia tersenyum hingga mata membentuk garis, jujur itu menakutkan.
("Yahh, sebenarnya aku sudah bisa dibilang bukan manusia. Aku tidak tahu aku apa!") Ren tampak benar benar dapat menangis kapan saja!
"Whaaa! Ren! Jangan menyembunyikan kehadiranmu!" Edna melompat mundur, memeluk tangannya sambil menyatukan kedua tangannya. Itu membuatnya tampak imut.
Suasana menjadi hening sesaat ketika Ren memperhatikan Edna.
"Ah! Kakak sedang berlatih? Mau berlatih bersama deanganku? Bukankah kau sudah meminta nya sendiri? Yahh, selain itu. Kau sudah mengetahui itu. Itu lho!" Ren mengerjapkan matanya.
***
Saat itu, Suzu yang bosan karena dia terlalu sering di interogasi, sedang mencari Ren.
Dia sedikit mendengar tentang Ren yang menyarankan penyelamatan itu. Dan dia juga mendengar dia yang bersikeras untuk ikut.
Walau dia mendengar itu dari beberapa rumor yang menjelek jelekkan Ren, tapi di telinga Suzu, semua itu menjadi baik.
"Sudah kuduga Ren akan menyadari ini semua dengan cepat." Suzu mendesah pelan, sambil menatap langit.
("Apa yang dia lakukan sekarang ya? Apa dia mengkhawatirkan ku? Jujur saja, itu membuatku senang!") Batin Suzu bernyanyi ketika dia melangkah maju dengan riang ke rumah.
"Tapi," Suzu teringat sesuatu. "Apa benar bahwa Ren akan ditunangkan dengan Syila?" Suzu menunduk sedih.
Dia tidak tahu, apa yang membuatnya sedih. Tapi dia merasa sesuatu diambil darinya. Dia juga tahu, bahwa Ren bukanlah miliknya, tapi mendengar itu rasanya menyedihkan.
"Mungkin aku harus bertanya ke Syila sendiri." Langkahnya menjadi berat.
Dia sedang berjalan jalan di kota saat itu. Saat ada rumor yang terbang di sekitarnya. Rumor tentang anak manusia yang ada di kota ini. Dan ada rumor dia dipukuli sampai ada orang aneh yang menyelamatkannya.
"Apa itu Ren?" Suzu khawatir.
Pasalnya, tingkat rasisme warga kerajaan Sierch ini, sama besarnya dengan kerajaan Kin. Mereka sangat membedakan manusia dan para manusia setengah hewan.
Banyak budak manusia hewan yang ada di kota Eldergale ini. Mereka dipilih sebagai budak karena sejatinya mereka adalah orang yang kuat.
Mereka memiliki tenaga seperti beast, tapi energi sihir yang lebih besar dari mereka. Tapi sayangnya, tidak ada yang tahu kebenaran itu.
Dan kebenaran bahwa mereka adalah ras campuran, membuat mereka tersingkir.
Suzu merasa tidak nyaman dengan beberapa rumor itu, memutuskan untuk berlari, menuju tempat kesukaannya.
Salah satu tempat yang membuatnya tenang.
"Selamat datang!" Suara pelayan yang ramah menyambut Suzu ketika masuk. Selain itu, dentingan bel yang digantung di pintu juga menambah keceriaan.
Tapi itu terbukti tidak berguna untuk orang yang sedang sedih, seperti Suzu.
"Kenapa nak Suzu? Apa ada masalah?" Pelayan itu mendekat. Dia Rumia, atau lebih dikenal Rury di sini. Dia adalah orang yang pernah terkena masalah dengan keluarga kerajaan.
Dia mengerti apa yang terjadi. Selain itu, dia juga sering bertemu dengan Suzu, mudah baginya menebak isi hatinya.
"Apa ada sesuatu yang terjadi dengan teman temanmu, Suzu?" Rumia bertanya lembut.
Itu hanyalah pertanyaan untuk memancingnya ke topik utama.
Suzu menghela nafas. Dia duduk di salah satu kursi, dan merosot ke bawah. Rasanya seperti tidak bertenaga.
"Tidak. Aku bukan ada masalah dengan teman temanku. Semua cukup baik hingga sekarang. Yang menjadi masalah adalah apa yang aku dengar." Suzu mengeluh jujur.
Rumia mengerutkan dahinya, membuat wajah sedikit bersalah. Rumia sedikit bermasalah dengan apa yang dimaksud Suzu, karena memang itu juga tidak nyaman baginya.
("Jadi, masalah tentang Ren ya? Itu tidak mengejutkanku.") Rumia menggerutu dalam hati.
Karena sebenarnya dia tahu, bahwa Ren menyelamatkan mereka semua, dan sampai sekarang belum menghubungi Rumia.
Itu yang membuatnya agak kesal.
("Seharusnya Ren bisa kemari untuk melaporkannya sebentar, bukan? A-aku setidaknya ingin melihatnya!") batin Rumia berteriak.
"Apa kau tahu, kenapa ada rumor yang beredar seperti itu?" Pertanyaan Suzu memecah keheningan.
Itu membuat Rumia sedikit gelagapan, dan akhirnya berhasil mengembalikan fokusnya.
Tapi sebenarnya, Rumia adalah orang yang introvet, dia menutup diri dari orang orang, karena dia berusaha tidak dikenali.
Tentu saja dia tidak tahu berita terkini.
"A-anu, maaf. Aku tidak mengerti rumor apa yang kamu maksudkan, Suzu." Rumia terkekeh sambil menyatukan kedua tangannya, meminta maaf.
"Jadi kak Rury pun tidak tahu, ya? Sepertinya aku yang salah paham. Tapi aku ingin bercerita." Suzu berkata pelan sambil menunduk.
"Jadi, ada sebuah kabar yang mengatakan ada manusia yang berkeliaran bebas di sini. Dan tentu, kak Rury juga pasti sudah mengetahui tentang hal ini. Dan juga, kakak juga pasti tahu siapa yang aku maksud." Suzu terlihat sedih.
"Dan yang aneh, kabar ini menyebar dengan cepat. Dan juga, respon warga kota terlihat terlalu berlebihan." Suzu mulai menganalisa.
Rumia melihat itu segera menyadarinya. Ren adalah salah satu orang yang memberi semangat hidup padanya, dan dia ingin sedikit membantu Ren.
"Setelah dibilang seperti itu, sepertinya kau benar. Mungkin ada orang yang menarik tali di belakang ini semua." Rumia menduga.
"Ya. Kau sepertinya memikirkan hal yang sama denganku. Tapi, yang menjadi pertanyaan, siapa?" Suasana menjadi hening.
KRING!! Bel di pintu berdering nyaring menandakan adanya pelanggan baru yang masuk. Rumia menunduk, meninggalkan Suzu berpikir sendiri disana.
"Aku ingin memesan beberapa set teh yang indah di sini. Ah, Suzu! Kebetulan sekali!" Orang itu memeriksa keadaan sambil memandang sekeliling.
Suzu yang namanya disebut terkejut sesaat, memperhatikan orang yang memanggilnya.
Terlihat seorang laki laki setinggi sekitar 120 cm, dengan rambut hijau yang khas, dan mata serta mulut yang proporsional.
Badannya bisa dibilang kurus, membuat dia terlihat tinggi. Wajahnya bisa dibilang cukup tampan, tapi ada sebuah semburat kesombongan di matanya.
"Ah, uh. Kak Bors. Kebetulan sekali ya?" Suzu tersenyum terpaksa.