Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 4: Bab 4 - Rematch



("Kedua serangan itu hanya tipuan untuk yang ini, ya?")


Ren sedikit tersenyum ketika dia merasakan dual keberadaan tipis yang menghampirinya dengan kecepatan yang luar biasa.


Tapi~


"Maaf saja, ya! Kabut ini membantuku untuk mengetahui posisi serangan itu, tahu! Walaupun kalian ingin mengincarku dengan kecepatan, itu percuma jika kecepatan kelian membuat kabut bergerak!" teriak Ren.


Dia melompat, menghindari puluhan serangan yang datang dengan cepat.


Itu adalah serangan dari sebuah skill yang dimiliki oleh beberapa anak, yang digunakan bersamaan untuk mempercepat gerakan mereka.


"Baiklah. Selanjutnya, ini adalah giliranku, bukan?" tanya Ren pelan sambil mulai berputar.


***


"Bahh!!!"


"Sial!! Aku tidak bisa melihatnya!"


"Bajingan itu sengaja menyerang mulutku! Kau lihat?!!"


Terdengar beberapa teriakan dan keluhan putus asa. Terutama dari Jill, yang terlihat bibirnya berwarna merah karena pewarna yang dioles di pedang Ren mengarah ke bibirnya.


"Humm. Terlihat bagus. Kau terlihat lebih feminin, Jill." jawab Dion sambil menahan tawa.


Kebanyakan dari anak anak itu juga menahan tawa ketika melihat wajah Jill yang sudah di dandani ulang oleh Ren.


"Kenapa, Jill? Kau jadi populer, bukan? Apakah kau menyukainya?" Ren muncul di sebelahnya ketika Jill sedang menggeran marah.


"Bukan populer seperti ini yang aku maksud!!" teriak Jill kesal.


Semua tertawa melihat itu, begitu juga dengan Suzu, Edna, dan Kurls yang turun dari bangku penonton.


"Ha ha ha! Kalian memang masih perlu banyak belajar dari nak Ren. Dia memang luar biasa, tapi kalian sudah cukup luar biasa dalam pertarungan kali ini." kata Kurls menyemangati semuanya, membuat semua mengangguk puas.


"Tapi, aku sungguh terkejut ketika kalian bekerja sama dengan baik. Ini jelas lebih baik daripada awal kalian menyerangku dulu." tambah Ren.


"Apakah kalian mendapat pelajarannya?" tanya Ren lagi.


"Ahh! Kau hanya bertarung melawan kami! Apa kau hanya berani pada anak kecil? Coba lawan guru atau senior Suzu, atau mungkin senior Edna? Apa kau berani?" teriak Jill tidak terima.


Ren tertawa keras mendengar itu, lalu melirik ke arah ketiga orang yang disebutkan oleh Jill tadi.


"Kalau begitu, biar aku tunjukkan bagaimana cara bertarung. Suzu, maukah kamu?" tanya Ren, yang segera membuat bingung semua orang yang mendengarnya.


"E-Ehh? K-Kau benar benar akan melakukan nya??" sela Suzu.


"Ya. Kenapa tidak? Sudah cukup lama sejak duel kita yang pertama. Dan kalau aku tidak salah ingat, kau kehabisan Fehl, bukan? Ehh, aku agak melupakannya!!" kata Ren sedikit memancing Suzu.


Suzu memang terpancing jika diingatkan bahwa dia kehabisan Fehl saat itu, membuatnya mengingat terbatasnya Fehl miliknya.


"Ohh, boleh saja. Kau tahu artinya itu, bukan?" tanya Suzu.


"Tentu. Tanpa aturan, bukan? Ahh, tapi aku ingin minta supaya pedang kayu ini diperkuat, agar tidak patah seperti dulu. Karena sekarang aku ingin mengalahkan Suzu!" jawab Ren dengan tengil.


"Ya ya ya. Silakan saja. Tapi jangan pikir kau akan menang dariku, Ren!" Suzu menyilangkan tangan, dan mengangguk puas.


***


Dengan begitu, pertandingan antara Ren dan Suzu akan langsung dilakukan di tempat itu juga.


"Akhirnya! Akhirnya aku bisa melihat bagaimana orang sombong itu kena batunya! Aku akan bertaruh untuk kemenangan senior Suzu! Seratus persen senior akan memenangkan pertandingan tanpa perlawanan!" kata Jill dengan semangat dari bangku penonton.


"Siapa yang tahu? Kemarin, ada seorang manusia yang katanya kakak senior sendiri yang bisa melawan senior dengan imbang, kau tahu!" komentar Dion, sambil membawa sebuah buku.


"Setelah aku lihat lagi, pelatih Ren agak mirip dengannya. Apa dia benar benar kakak senior? Selain itu, pelatih juga adalah manusia, bukan?" lanjut Dion.


"Kau benar. Yang pasti, ini adalah pertandingan yang menarik!" seorang perempuan elf, Elli tiba tiba masuk dalam percakapan.


"Kalau begitu!" Kurls mengangkat tangannya.


"Mulai!!" teriak Kurls.


Tiba tiba, tanah di tempat Ren bergerak, dan membentuk lingkaran yang langsung mencoba menghancurkan Ren seperti menepuk sebuah nyamuk. Itu semua terjadi hanya dalam beberapa detik.


Tidak ada yang menduga serangan itu, karena pertandingan baru saja di mulai. Semua mata segera tertuju ke tempat Ren berada dengan wajah khawatir.


Tapi yang ada hanyalah Ren yang sedang berdiri tenang di atas tanah yang berusaha menepuknya tadi.


"Kau memang hebat ya, Suzu. Tapi~" suara Ren tiba tiba menghilang, dan asap berterbangan.


?!!


"[Absolute Shield]!!" Suzu segera meneriakkan sihir ketika dia merasakan keberadaan samar. Dia juga membuat sebuah tombak es di tangannya, membuatnya benar benar siap bertarung.


Sepersekian detik kemudian, tombak Suzu dihantam sebuah serangan, yang segera menghancurkan tombak itu kembali menjadi tongkat.


Tidak berhenti dengan itu, Ren berpindah lagi, untuk menyerang Suzy dari titik buta.


"[Wind Blow]!" teriak Suzu yang segera mengaktifkan perisai angin, dan mementalkan hampir semua yang ada di sekitarnya.


Itu jauh lebih kuat dari terakhir kali, karena itu bahkan menghancurkan bagian yang sudah Suzu buat tadi, dan merubah arena pertandingan.


Ren tidak bisa menghindar karena dia sangat dekat dengan Suzu, hanya bisa bertahan sambil menahan pedang di tangannya.


"Itu kekuatan penghancur yang gila!" teriak Ren, sambil sedikit mengayunkan pedangnya.


Tangannya terlihat sudah tergores, dan beberapa bajunya juga sudah robek karena batu batu yang melayang berkat sihir besar Suzu tadi.


"Aku juga terkejut, Ren. Bagaimana mungkin tombak es milikku tadi hancur. Aku benar benar tidak menyangka." jawab Suzu.


"Baiklah. Ini..."


"[Prison]!!!" Ren tidak sempat berbicara, Suzu segera menaikkan beberapa pilar, berusaha mengurung Ren.


Ren juga tahu, dirinya dalam bahaya. Dia tidak bisa terus terusan berlagak tenang. Ren dengan cepat keluar dari penjara milik Suzu, dan berlari lurus menuju ke arah Suzu.


"[Flood Time]!!"


("Gawat!!") Ren sedikit mundur.


"[Superconduct]!"


"[Frozen]" teriak Suzu mengeluarkan sihir besar besaran. Itu jelas menyedot MP nya, tapi itu semua adalah sihir skala besar yang bisa menangkap Ren dan menghancurkan nya seketika!


Ren juga sadar akan hal ini. Sihir dengan atribut air, dilanjutkan dengan serangan listrik yang bisa mengalir dengan cepat di air, lalu untuk mencegah Ren lari, Suzu menambahkan sihir atribut es untuk memperangkap Ren.


"Benar benar mengerikan!" Ren menendang batu besar berdiameter 1 meter, lalu melempar pedangnya. Tidak hanya itu, dia juga melempar satu batu lagi untuk tambahan.


Itu terlihat seperti serangan putus asa dari Ren.


Batu pertama dipecah oleh Suzu dengan mudah, lalu pedang yang datang dia tahan dengan sihir angin supaya tetap di udara, dan dia menggunakan sihir lain untuk menghancurkan batu kedua.


Tapi...


"Kena kau!!!"


Ren muncul dari balik batu kedua, dan segera menyambar pedangnya yang masih melayang di udara.


Suzu terkejut, dan segera mengubah tongkatnya menjadi tombak es. Tapi berbeda dengan sebelumnya, sekarang dia memilih untuk menyerang, dan mengarahkan tombaknya ke dada Ren.


Ren tahu itu, dan berhenti dengan pedang yang mengarah ke arah leher Suzu.


"Behenti!!" Kurls berteriak, dan pelindung di arena pun dilepas.