Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 5: Bab 48 - Kebenaran...



"Jangan bilang, kan?" tanya Liu Xiu heran.


Tapi bagaimana pun Liu Xiu menyangkalnya, hanya ada satu sosok yang tetap dia ingat setelah melihat ini semua.


Sebuah segel, dengan warna kehitaman. Selain itu ada satu hal lagi yang memberikan sebua petunjuk yang sangat jelas.


Itu adalah nama segel, Wrath.


"Apakah ini ada hubungannya dengan Kei? Atau mungkin segel ini? Apa? Aku benar benar tidak mengerti!" teriak Liu Xiu sedikit kesal.


Tidak, dia bukannya tidak mengerti. Dia hanya menolak untuk mengerti. Pasalnya, jika dia tahu ini adalah segel dari kekuatannya, apa yang harus dia lakukan? Apakah dia harus menghancurkan nya? Apakah dia harus melakukan itu untuk mendapat kekuatannya kembali?


Liu Xiu tidak mau itu.


Dia sudah mengubur itu dalam dalam, sama saat dia mengganti namanya menjadi Liu Xiu. Dia mengubur kekuatan itu bersama nama Ren Larvest.


Dan sekarang tiba tiba dia bisa mendapatkan kekuatannya kembali?


"Itu... Itu sangat, menyedihkan kau tahu?" bisik Liu Xiu pelan.


?!!


Tiba tiba, [Critical Perception] milik nya berbunyi. Segera, Liu Xiu menghadap sekeliling, dan menyadari sebuah tombak hijau datang ke arah kepalanya, mengincar nyawanya dalam jarak beberapa centi!!


Kaget, Liu Xiu sontak melompat cepat, berpindah posisi dari tempat pertama dia berdiri, menghindari tonbak itu sejauh mungkin.


Tapi itu tidak berhenti sampai disitu. Di tempat Liu Xiu akan mendarat, ada sebuah tombak lagi, yang masih bersiap untuk menyambut nya.


Terpaksa, dia memutar tubuhnya, agar tangannya dapat menyentuh tanah segera, dan dengan sekuat tenaga mendoronh badannya agar berubah arah ke belakang.


Sayangnya hal yang sama masih terjadi, membuat Liu Xiu harus berputar ke belakang berkali kali, untuk terus menghindari serangan serangan tombak hijau yang terus mengincar nyawanya.


"Bajingann!!!" Liu Xiu sedikit mengumpat ketika dia masih berusaha keras untuk melompat ke kanan dan kiri untuk menyelamatkan hidupnya.


Ruangan itu luas, tapi tidak cukup luas untuk membuat Liu Xiu leluasa bergerak.


Diameter ruangan itu hanya 20 meter. Itu pun dengan pilar besar beserta pasak pasak yang ada di tengahnya. Semua itu jelas mengurangi tempat yang bisa membuat Liu Xiu bergerak bebas.


Tapi karena sudah cukup terlatih, Liu Xiu berhasil menghindari semua serangan tombak yang datang ke arahya.


Liu Xiu sedikit tersengal sengal ketika mengawasj sekeliling, mencoba melihat siapa yang menyerang nya tadi.


"Kau bertambah cepat, bukan?" suara tenang terdengar, dan seketika Liu Xiu mendelik.


Sesosok pria dengan rambut hitam, dan tombak hijau yang ada di tangannya. Dia melayang tenang, turun sambil tersenyum senang. Tombak hijau yang ada di tangannya benar benar terlihat mengerikan, bagaikan menelan orang yang melihat tombak itu ke dalamnya. Juga, tombak itu tampak menyatu dengan pemiliknya.


Liu Xiu benar benar terkejut melihat sosok itu. Dia seperti melihat sosoknya yang dulu, hanya saja berbeda dalam beberapa hal.


Tapi hanya ada satu orang yang cocok dengan semua deskripsi itu.


"Sudah kuduga itu kau, Kei." bisik Liu Xiu dengan suara rendah.


Keduanya saling menatap selama beberapa saat, sampai akhirnya Kei menyentuh tanah, dan sedikit memutar tombak, memancapkannya ke tanah.


Tapi setelah itu, Kei tidak mengatakan apapun, hanya diam sambil memandang Liu Xiu dengan senyum di wajahnya.


Merasa tidak ada gunanya untuk terus berdiam, Liu Xiu mulai mengajukan pertanyaan.


"Baiklah. Aku akan bertanya. Dimana ini? Kenapa kau ada di sini? Dan juga, kenapa kau menyerangku? Apakah semua itu ada hubungannya dengan kalung dan segel ini?!" teriak Liu Xiu dengan beberapa emosi memecah keheningan.


Kei tak kunjung menjawab, justru tertawa pelan sambil sedikit menutup wajahnya, terlihat geli dengan pertanyaan Liu Xiu.


"Apa yang lucu?!" teriak Liu Xiu cepat, menanggapi tawa Kei.


"Tidak tidak. Kau benar benar tidak tahu? Tidak, kau seharusnya tahu, tapi kau menolak untuk mengetahuinya, bukan?!" jawab Kei sedikit menekan Liu Xiu.


"Yahh, kalau kau bersikeras, aku akan memberi tahukan nya. Dan juga, biar aku jawab satu persatu pertanyaan mu. Aku akan menjawab dari yang paling mudah."


"Benar, semua ini ada hubungannya dengan kalung dan segel yang kau miliki. Tentu, setelah kau melihat keduanya kau sendiri juga mengetahui nya, bukan? Aku tahu bahwa Ren Larvest bukanlah orang yang bodoh." jelas Kei sambil sedikit terkikik.


Liu Xiu tampak sedikit kesal, tapi dia hanya bersiap, tidak menyela untuk menunggu penjelasan Kei yang selanjutnya.


"Lalu, kenapa aku bisa menjaga tempat ini. Ya tentu, karena aku menjaga segel ini agar tidak rusak, bukan? Dan itu jelas berhubungan dengan pertanyaan yang lain, yaitu kenapa aku menyerang mu. Aku jelas tidak ingin kau membuka segel ini, jadi aku harus menghentikan mu dengan berbagai cara." lanjut Kei.


Liu Xiu terlihat bingung dengan itu, mencoba bertanya.


"Bagaimana mungkin kau bisa berasa di sini? Memang, sebegitu luang kah kamu untuk berada di sini selalu menjaga segel ini?" tanya Liu Xiu sedikit menyindir.


"Yahh, tunggu. Aku belum menjawab semuanya, bukan? Dengarkan dulu dan kau akan tahu semuanya. Lagipula, semua jawaban ini jelas berhubungan."


"Aku ada di sini karena segel itu. Dengan kata lain, aku memasukkan kekuatanku ke dalam segel ini, untuk berjaga jaga kalau hal seperti ini terjadi. Dan aku tak menyangka, ini akan terjadi secepat ini." tawa Kei, terlihat mengejek diri sendiri.


"Lalu, dimana ini?! Kenapa kau bisa masuk kemari?! Itu juga berlaku untuk ku!" teriak Liu Xiu.


"Aha ha ha ha! Kau benar benar tidak sabaran, bukan? Yahh, tunggu sampai ceritaku selesai. Aku tahu kau benar benar ingin tahu bahwa ini tidak mungkin, bukan?"


Liu Xiu hanya terdiam sambil sedikit meringis. Sedikitnya, dia tahu apa yang akan dia katakan selanjutnya, tapi Liu Xiu berusaha untuk tidak menerima itu.


"Baiklah. Aku tidak akan bertele tele lagi. Ini adalah hatimu. Atau bisa dibilang alam bawah sadar mu. Dan di situlah segel ini dipasang, yang memiliki petunjuk di kalung mu." Kei langsung mengungkapkannya.


Segera, Liu Xiu terkejut mendengar itu.


Hatinya, tempat yang berwarna hitam kelam, memang menggambarkan hatinya.


Adanya permata permata di sekeliling gua ini adalah kenangan, terutama kenangan yang tidak ingin Liu Xiu lupakan. Dan dengan mengetahui itu, Liu Xiu mendelik, mengingat apa yang dia lihat pertama kali di depan.


"Berarti, permata biru di depan?!"


"Ya. Itu adalah ingatanmu atas liontin biru ibumu. Selain itu, semua permata yang ada di sini mewakili beberapa ingatanmu yang lain." jawab Kei tenang.


Tapi Liu Xiu yang mendengar itu bukannya tenang, tapi justru mendelik. Dia mulai melihat ke sekeliling, dan menyadari ada beberapa kenangan yang ingin dia lupakan tersimpan di batu permata itu.


Terutama batu permata yang ada di ruangan itu. Liu Xiu tahu, bahwa di dalam sana ada ingatan tentang ibunya, kak Ruly, dan bahkan Ayahnya.


Sampai akhirnya dia melihat ke pilar yang ada di depannya.


Dia akhirnya sadar bahwa pilar itu juga terlihat mirip dengan permata permata lain, hanya berbeda ukuran saja.


Ada sekelebat bayangan yang muncul di dalam permata di pilar itu, sama seperti pilar yang lainnya. Dan Liu Xiu sedikit nya tahu siapa itu.


"Jangan bilang, pilar itu?!!" kata kata Liu Xiu bergetar, seperti tidak bisa melanjutkan nya lagi.


Gemerincing suara pedang terdengar, bagaimana dia benar benar bergetar hebat saat mencoba beberapa kemungkinan. Dan tak lama, pedang yang dia siagakan di belakang tubuhnya jatuh, dengan suara berdentang.


Kei yang melihat itu hanya tersenyum pahit, sambil sedikit berkacak pinggang.


"Benar. Seperti yang kau duga, itu adalah Syila. Dan semua orang di sekitar, ada lah keluargamu, dan orang-orang yang meninggal di saat kau gagal melindungi mereka." ucapan Kei benar benar membuat Liu Xiu melotot, sambil menarik rambutnya.


"Tidak, ini tidak benar." Liu Xiu mulai menggelengkan kepala nya cepat, tidak terima.


"Ini benar, Liu Xiu."


"Tidak! Tidak! Ini tidak benar! Kau menipuku! Sialan!!!"


"Ren. Kau tahu ini lebih dari siapapun. Kau benar benar membawa semua kematian mereka sebagai kesalahanmu, bukan? Lalu, kenapa kau sendiri yang mengatakan bahwa ini tidak benar? Justru sebaliknya, kau yang seharusnya mengatakan ini adalah kenyataan, bukan aku." jawab Kei.


Kata kata Kei bagaikan tamparan keras bagi Liu Xiu, yang mengembalikannya ke kenyataan.