
"Dasar kau sampah!! Kenapa kau tidak bekerja sebagai pel*cur saja? Dengan wajahmu, kau pasti akan menghasilkan banyak uang!!"
"Ahh jangan. Biar aku yang menikmati nya pertama kali. Apa kau bodoh?!"
"Kau juga! Pergi! Cari uang! Atau curi perhiasan atau yang lainnya! Kau pikir Beer tidak mahal?! Dasar bajingan tua!!"
"Apa masalahmu?! Kau pikir kau siapa bangsad?!"
...
...
...
Ahh... aku ingin mati....
***
Aku adalah Rina Yurina. Anak dari seorang pel*cur dan pemabuk, yang hidupnya tidak karuan. Dengan kata lain, kombinasi yang luar biasa dari sampah masyarakat.
Kata orang buah jatuh tak jauh dari pohonnya, maka aku tidak.
Seperti kemungkinan pohon ini berada di pinggir sungai, dan buah yang jatuh dibawa sungai ke air laut, hingga ke pulau seberang, aku tidak seperti orang tuaku.
Tidak, jangan samakan aku dengan mereka!
Aku hanya memandang jijik orang orang seperti itu! Mereka hanyalah sampah yang memberi luka lebih banyak pada dunia ini. Kalian tahu? Orang orang seperti itu tidak layak untuk hidup. Orang orang seperti itu tidak memiliki harga sama sekali.
Lalu kenapa aku tidak pergi?
Aku sedang menunggu adikku cukup besar untuk aku bawa pergi.
Ibuku sudah melahirkan anak perempuan lagi dalam beberapa tahun ini. Dan yang menyedihkan, anak perempuan itu tidak terlalu dirawat olehnya.
Benar benar j*lang.
Aku mampu hidup sendiri entah bagaimana sejak 9 tahun. Aku sedikit bingung kenapa aku masih hidup sampai di umur ke 9. Tapi sejak saat itu, aku bekerja keras untuk mencari uang, dan juga bersekolah.
Aku adalah seorang siswi SMP di sebuah kota di Amerika. Ini adalah kota yang berat untuk aku jalani.
Dengan pembullyan yang terjadi setiap hari karena aku adalah anak seorang pel*cur, dan seragam yang sudah jelek serta tas dan sepatu yang tidak karuan, itu adalah keseharianku.
Aku bisa bersekolah saja sudah bersyukur, karena ada beberapa orang yang menerima ku untuk bekerja di tempat mereka.
Lalu kenapa aku tidak meminta tolong pada mereka?
Tidak. Aku bukanlah seseorang yang tidak tahu Terima kasih. Hidup di kota ini sudah cukup sulit, dan menerima ku saja sudah membuat toko tempatku bekerja entah untung atau rugi. Aku tidak bisa meminta mereka menampung aku dan adikku lagi.
Aku tidak ingin hidup dengan kasihani orang lain.
Adikku sebentar lagi berumur 4 tahun. Itu adalah umur yang tepat untukku membawanya pergi dan memulai hidup baru. Tapi di saat yang bersamaan, aku akan mulai masuk SMA.
Namun karena ku pikir ulang, kesehatan adikku lebih penting daripada sekolah ku. Jadi aku akan mencoba pergi nanti.
Aku pulang dengan senyum di wajahku, tidak seperti biasanya yang pulang dengan rasa tidak senang. Karena sejak besok aku akan merasakan hari yang menyenangkan, dan terbebas dari mereka berdua.
Dan sambil membawa adikku, aku akan memberikan masa depan yang baik untuknya, dan pendidikan yang baik pula. Adikku tidak perlu merasakan rasa sakit seperti yang aku cerita selama ini.
Tapi aku pulang dengan keadaan aneh. Ada banyak barang pecah belah di depan pintu.
Tidak, bukan hal itu yang aneh. Itu sudah biasa, karena pasti mereka berdua bertengkar, dan menghancurkan barang barang, lalu mereka bertengkar, menghancurkan barang, mencuri untuk membelinya, dan bertengkar lagi. Itu adalah siklus biasa di dalam hidupku.
Tapi hari ini berbeda. Hari ini benar benar tenang, tidak ada teriakan teriakan marah, atau beberapa umpatan lainnya.
Aku berjalan berhati-hati melewati pecahan kaca dan beberapa hal lainnya yang bisa membawa luka. Aku sedikit demi sedikit mengintip ke ruang makan, tapi apa yang aku dapat tidak terduga.
Ayahku sedang membawa sebuah pisau, yang berlumuran darah. Sedangkan ibuku terbaring dengan beberapa tubuh yang berlubang dengan luka tusuk yang jelas di bagian dada!
Aku tidak bisa tidak terkejut karena ini, dan jatuh terduduk.
Itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku, yang mana itu menimbulkan suara, dan ayahku kemudian menoleh ke arahku.
Sial....
Semua pasti bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya.
Ya. Aku dibuat sebagai mainan oleh ayahku sendiri. Bahkan dia dengan sengaja mengeluarkannya di dalam, dan melakukannya hingga ber jam jam.
Satu satunya alasan aku masih bertahan tidak bunuh diri adalah adikku. Jika aku bunuh diri, itu sama saja dengan membunuh adikku. Jadi aku berusaha untuk bertahan tidak menggigit lidahku sendiri, atau memotong nadi ku dengan sekuat tenaga.
Tampaknya aku pingsan setelah ber jam jam diperlakukan seperti alat oleh bajingan itu.... Tapi akhirnya aku bisa bangun.
Tapi aku tidak tahu, satu satunya yang aku ingat adalah ketika aku menemukan adikku dalam keadaan tidak bernyawa, dan berenang dalam kolam darahnya sendiri.
Sebuah kenyataan yang pahit, membuatku mengutuk Tuhan.
Kenapa selalu aku yang tersiksa?!
Sudah, aku tidak ada urusan untuk tetap hidup...
***
Entah bagaimana, aku mendapatkan sebuah kesempatan untuk bisa bereinkarnasi. Ini adalah kesempatan untuk memulai sebuah hidup baru!
Tentu aku bahagia itu terjadi, dan aku berusaha dengan keras untuk melakukan yang terbaik di dunia baru ini.
Aku harus bertambah kuat, bisa melawan bangsad bangsad yang banyak bertebaran di dunia ini. Aku sering melawan banyak bandit, dan melawan monster. Itu membuatku menjadi lebih kuat hari demi hari.
Tak lupa, aku adalah Ras Beast, yang merupakan salah satu Ras dengan fisik terkuat. Aku sengaja memilih Ras ini agar bisa terhindar dari segala kejahatan yang mencariku.
Ayahku adalah seorang pengurus kerajaan, yang juga seorang pedagang. Dia berdagang dengan jujur dan tidak mengambil untung terlalu banyak. Dan juga tidak mengambil uang rakyat ketika dipercayakan padanya.
Oleh karena itu, wilayah kami makmur dan menyenangkan.
Ibuku tidak bekerja, dan mengurus anak anak di rumah. Dan aku beruntung, aku punya seorang adik laki laki yang lucu.
Malaikat penjagaku membuat agar orang tuaku adalah orang yang baik, dan sangat perhatian dengan keluarganya.
Aku merasa hidupku kali ini sempurna.
Namun sekali lagi aku kecewa dengan pilihan Tuhan.
Tiba tiba, datang seorang petinggi dari ibukota yang datang singgah ke wilayah kami. Wilayah kami sejak awal hanya wilayah kecil, tapi orang orang iri dengan kemakmuran yang wilayah kami miliki.
Dan wilayah ini menerapkan kesetaraan antar Ras, dan menilai setiap orang berdasarkan kerja keras mereka.
Saat seorang anak petinggi sedang berjalan jalan di kota, dia melihat seorang manusia pekerja keras yang menjadi seorang chef di sebuah toko.
Toko itu ramai oleh pembeli, karena memang masakan orang itu benar benar enak. Warga juga tidak mempermasalahkan tentang Ras lagi, jadi mereka bisa hidup damai di kota ini.
Tapi sayang, itu menyulut sebuah perpecahan. Anak itu membenci Ras yang dia anggap lebih rendah darinya, hanya karena dia adalah seorang Priest.
Anak itu tidak suka ada manusia disini, dan mencoba mengusirnya.
Dia juga mengusir warga lain, seperti Dwarf dan Half, membuat warga sedikit tidak Terima dengan itu.
Melihat itu, orang orang yang iri dengan kesuksesan ayahku langsung bergerak, dan mulai menghasut petinggi untuk menjatuhkan kekuasaan ayahku. Ayahku tidak bisa apa apa, dan hanya bisa menerima keputusan mati.
Aku baru sadar, bahwa walaupun keluarga ku sempurna, masih banyak orang yang lebih sialan di sana.
Tapi itu tidak berhenti sampai disitu. Keluarga ku yang tersisa diburu oleh pembunuh bayaran, dan aku harus berusaha keras untuk melindungi ibu dan adikku. Aku juga terus berlatih agar semakin kuat.
Namun itu tidak berlangsung lama.
Sekuat apapun aku, aku hanya seorang Beast yang sendirian. Aku tidak akan bisa melawan jika dikepung dengan sihir.
Sial....
Lagi lagi!!
Lagi lagi keluarga ku mati di hadapanku!!
Aku tidak tahu.... Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Aku hanya jatuh tidak bisa bergerak ketika menyaksikan itu semua.
Kenapa?
Kenapa ini semua terjadi, lagi lagi padaku?
Apakah Tuhan tidak menyayangiku?
Apa salahku padamu? Apa salahku pada kalian? Apa salahku?!!
Dan sejak saat itu, aku merasa semua emosi ku hilang. Hanya ada rasa kebencian kepada para dewa, yang sudah mengatur ini semua. Aku ingin membunuh mereka. Aku ingin menghancurkan takdir ku.
Tapi aku tahu itu mustahil...
***
Aku berakhir di sebuah tempat mirip seperti laboratorium. Ingatan ku bermula saat seseorang mirip ilmuwan membeliku dari pasar budak, dan membawaku ke tempatnya.
Disini ada banyak orang lain, dan berbagai Ras yang dikumpulkan.
Mereka sebagian besar berumur sama seperti ku, 14-17 tahun. Dan mereka semua berada di tabung yang mirip sama, mungkin sama seperti ku. Dan setiap hari sejak saat itu, benar benar menjadi neraka untukku.
Aku tidak bisa tidak mengumpat untuk terus menyalahkan dewa atas apa yang terjadi padaku.
Walau begitu, setiap siksaan itu terus membuat kesadaran ku semakin memudar hari demi hari. Dan hanya satu hal yang terus aku tanamkan dalam kepalaku.
Aku membenci dewa.